Bunian

Bunian
Menikah di Bunian



Tak menunggu lama, suara Datuak Rajo Omeh, kembali menggegerkan istana tua yang tampak megah bagi mereka, namun tidak untuk pandangan mata Cici. Membuat beberapa orang keluar dari dalam istana dengan wajah yang sangat menyeramkan.


"Naaak..... copek, lariiii...!" (Nak, cepat lari!!!) 


Cici yang sudah mengikat kuat tangan Akmal menyatu dengannya. Menggenggam erat jemari suaminya, berlari lebih kencang sekuat tenaganya.


Akmal hanya mengikuti langkah Cici yang benar-benar berlari dengan cepat tanpa mengeluarkan suara.


"Abi, terus lari... jangan sampai kita menjadi tumbal disini!"


Teriak Cici terus membawa Akmal bersamanya.


Beberapa kejadian aneh yang semakin menakutkan, saat Cici melihat segerombolan orang telah berdiri dihadapannya dengan wajah hancur bahkan sangat menakutkan.


"Datuak Rajo Mudo... Datuak Rajo Mudo...! Inyo laki Upiak Rayo... jan sampai paja tu mambaok Datuak awak yang baru....!" (Datuk Rajo Mudo, Datuk Rajo Mudo! Dia suami Upiak Rayo, jangan sampai dia membawa Datuk kita yang baru!)


Mendengar itu, Cici meyakini bahwa dia dapat menerobos kerumunan itu dengan satu kekuatan yaitu keyakinan.


Cici menarik nafas panjang, kembali mengayunkan tangan dan langkahnya, dengan satu pukulan tangan dia yang menyatu dengan Akmal, yang terlilit sehelai kain berwarna keemasan, namun mampu menerobos kerumunan itu untuk kembali memasuki cahaya merah menyala, seperti kembali memasuki dunia yang lain.


"Abiii.....!!!!!"


Cici berteriak keras, meraih Akmal yang tertinggal dibelakangnya, karena merasa ada sesuatu yang menarik kakinya untuk memasuki alam lain itu, terlihat senyuman Mira yang melambai kearah mereka berdua, sekuat tenaga Cici kembali meraih pundak Akmal.


"Amiii.... Mira...!!!"


Akmal tersadar saat pundaknya disentuh oleh Cici, melihat sosok Mira yang sangat dia rindukan beberapa waktu lalu, menerima tangan istrinya yang menarik dengan sangat kencang.


Cici membawa Akmal masuk kepelukannya, sehingga tubuh seolah-olah terbang melayang, bahkan sangat menenangkan bagi seorang istri seperti Cici yang sangat memperjuangkan suaminya.


Saat tubuh tengah memeluk erat, menembus awan pekat menuju alam nyata yang berbeda seketika.


BRAAAK....!!


BHUUUUG...!!


Tubuh mereka terlempar dihalaman luas. Halaman yang sangat asri, bahkan keluarga mereka yang sudah menunggu beberapa hari disana dengan perasaan bimbang, karena dihantui perasaan takut yang teramat sangat.


Ya, mereka terhempas dihalaman rumah Datuak Mangkuto Malin.


"Aaa... aaa... aaa.... aaa?!"


Mira menunjuk kearah luar, meminta Oneng menggendongnya.


Membuat keempat saudara Cici yang juga menunggu kedatangan mereka, terlonjak kaget luar biasa mendengar suara benda jatuh dengan sangat keras, seperti dari atas langit turun ke bumi.


"Datuk... itu Cici adikku...!"


Teriak Luqman berlari kencang dan panik, menghampiri sepasang suami istri yang tidak sadarkan diri.


Datuak Mangkuto Malin memberi perintah kepada keempat keluarga Cici, "Capek baok masuak anak awak kadalam umah... Sunna... Sunna... urang tu lah tibo...!!" (Cepat bawa masuk anak ku kedalam rumah. Sunna.... Sunna... orang ini sudah sampai!)


Datuak Mangkuto Malin memberi perintah pada saudara kandung Cici, untuk mengangkat tubuh kedua pasangan suami istri itu masuk kedalam rumah.


Sunna berlari dengan cepat, membuka pintu kamar, berucap syukur atas kembalinya Cici, yang telah berhasil membawa Akmal kembali bersamanya.


"Latakkan disitu... kalian istirahat dulu, alah duo hari kito ndak lalok dek mananti adiak kalian, jo ipa kalian!" (Letakkan disitu, kalian boleh istirahat, sudah dua hari kita tidak tidur, karena menanti adik dan ipar kalian!)


Dony dan Cardo mengangkat tubuh Akmal untuk diletakkan diatas dipan yang sama.


Wajah Mira tampak bahagia, melihat Abi dan Ami-nya kembali walau belum sadarkan diri.


Saat kedua insan itu masih tidak sadarkan diri, disaat itu Datuak Mangkuto Malin, melakukan ritualnya dengan Datuak Rajo Omeh.


Suasana tampak suram, bahkan sangat mencekam, saat tempat itu kembali gelap dan hanya ditemani cahaya lampu semprong jaman dahulu.


Beberapa bentakan yang keluar dari bibir Datuak Mangkuto Malin, membuat Luqman dan Dean benar-benar tampak ketakutan. Bagaimana tidak, seumur hidup mereka tidak pernah berada dalam posisi ini.


Hal-hal yang selama ini mereka anggap tidak nyata, ternyata saat ini nyata berada didepan mata. Kecanggihan teknologi membuat mata mereka dibutakan dengan hal mistis yang mengandung banyak misteri.


Jika mungkin Cici mengikuti arahan pihak kepolisian, mungkin mereka tidak dapat berkumpul lagi. Akmal akan dijadikan Datuak Rajo Mudo yang akan di angkat dihari kesembilan untuk persembahan kepada alam semesta.


Mereka menunggu Cici dan Akmal selama dua hari, namun Mira sama sekali tidak pernah khawatir ataupun bertanya tentang Ami dan Abinya. Dia hanya menangis, dan tertidur. Semua yang diberikan oleh Sunna padanya, sangat enak dan menyenangkan saat berada disana bagi gadis sekecil Mira.


Mereka bahkan sudah pasrah, bahwa Akmal tidak bisa diselamatkan. Karena tidak kunjung datang dihadapan mereka. Hanya cinta dan keyakinan seperti Cici yang mereka tanamkan dalam hati, bahwa Akmal akan kembali menghangatkan keluarga.


Semua mata tertuju pada Datuak Mangkuto Malin, saat dia menyentuh kepala Cici yang masih terlelap, wajah tenang dan senyuman yang indah, terpancar jelas diwajah wanita tangguh itu.


Perlahan tangannya bergerak, sehelai selendang berwarna keemasan itu kembali bergerak.


Cici membuka mata perlahan, mencari keberadaan Akmal saat matanya menatap kearah seorang wanita, wanita cantik berselendang merah menyala, menunggu kembali sadarnya Akmal yang ada disamping Cici.


"Upik Raya!?"


Cici menatap penuh keteduhan kearah wanita berselendang merah, yang benar-benar tampak cantik itu dengan penuh tanda tanya.


"Tananglah Nak, inyo kasiko untuak mancaliak lakinyo," (Tenanglah nak, dia kesini untuk melihat suaminya)


Penuturan Datuak Mangkuto Malin, sontak membuat Cici membelalakkan kedua bola matanya, mengangkat kedua alisnya, meraih pinggiran dipan agar bisa duduk.


"Suami!? Apakah suami Ci sudah menikah dengan hantu seperti ini Datuk!? Jawab Ci, Datuk! Menikah bagaimana maksudnya? Bang Akmal suami Ci...!!!" Cici menoleh kearah wanita cantik, yang sangat sempurna.


Upiak Rayo yang merupakan anak gadis dari Bunian, putri cantik Datuak Rajo Omeh dari Kerajaan Omeh tersebut.


Kerajaan Omeh tidak pernah didengar, karena telah terkikis oleh perkembangan zaman, sehingga mereka tumbuh dan berkembang dialam yang berbeda dengan satu kaum.


Kejadian-kejadian mistis yang sering terjadi dikelok sembilan, merupakan satu permintaan. Terkadang karena memang sudah ajal, terkadang karena melanggar larangan yang ada di sana.


Akmal, laki-laki penyayang yang melakukan larangan disana, beberapa bulan lalu, membuat Upik Raya jatuh hati pada sosok seorang pria hitam manis yang mampu mencuri perhatiannya.


"Ini nggak benar Datuk!!! Ci nggak mungkin membiarkan Abi Mira memiliki istri dimanapun," kembali terdengar suara isak tangis Cici dikediaman Keluarga Datuak Mangkuto Malin.


Sunna mendekati Cici, "Sabalah, nak! Tunggu laki kau jago lu, kini kalian buliah saling mengenal! Inyo Upiak Rayo," (Sabarlah, nak! Tunggu suami mu bangun dulu, sekarang kalian boleh saling mengenal. Dia Upik Raya)


Sunna mengusap lembut punggung Cici, sesekali melirik kearah Datuk suaminya, juga Upik Raya yang masih duduk dihadapan istri sah Akmal didunia nyata dengan wajah cantik alami, yang tidak pernah berubah menjadi buruk.


"Apakah dia, wanita yang mendatangi ku sebelum Abi Mira berangkat!? Berarti dia memberi tanda, bahwa akan mengambil suamiku!!"


Cici kembali menatap kearah Upik Raya, berbisik dalam hati, "Jika benar Abi menikahi wanita ini! Apakah aku akan kehilangan suamiku lagi!? Abi... bangun, Bi...!"


Cici mengusap lembut punggung Akmal, yang sudah tidak sedingin awal mereka bertemu.