
Cici menggendong membawa Mira keluar kamar menuju ruang tamu, ketakutan luar biasa setelah mengalami kejadian aneh selama berada didalam kamar.
Suasana tampak sepi, bahkan Cici tidak melihat siapa-siapa diruang tamu. Dia mencari keberadaan Oneng ataupun Nisa, yang menurut pikiran Cici masih berada dikediamannya.
Cici mengusap punggung Mira berkali-kali, masih mencari keberadaan Luqman ataupun siapa yang masih berada dirumahnya.
"Oneng....!"
Cici berjalan pelan, menuju dapur mencari keberadaan pembantu rumah tangga yang telah bekerja selama dua tahun.
Tak... tak... tak...!
Telinga Cici sangat awas, saat telinganya mendengar seperti sepatu kuda, yang semakin mendekat.
Cici menoleh kebelakang, betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita yang ada dihadapannya.
"Aaaaaaaa......!!!" Cici kembali berteriak keras, sekuat tenaganya.
Oneng menepuk pundak Cici, dari arah belakang, yang memeluk Mira dengan sangat kencang.
"Kak Ci...! Kakak kenapa?"
"Haaah... itu, ta-ta-tadi ada hantu....!!!"
Cici memeluk Mira seperti orang aneh, merasa ketakutan karena saat ini wanita cantik itu tidak menyadari diikuti makhluk tak kasat mata dari kelok sembilan.
"Hantu mana kak?"
Oneng tampak kebingungan, saat melihat raut wajah Cici yang tampak pucat, bahkan masih mengenakan handuk kimono dengan handuk kecil masih menutupi rambut hitamnya.
"Ooneeeeng...! Jangan takut-takutin Kakak!" Cici membentak Oneng dengan suara bergetar.
Oneng semakin kebingungan, mendengar bentakan Cici. Bergegas dia mengambil Mira dari pelukan Cici, agar sang majikan bergegas mengenakan pakaiannya.
"Kakak kekamar saja, biar Oneng teman kan."
Oneng yang masih kebingungan, merasa merinding saat berdiri didapur kediaman majikanya. Namun dia enggan bertanya, karena saat ini ingin menemani Cici sesuai perintah Luqman Abang kandung Cici.
Cici meminta Oneng untuk masuk kekamarnya lebih dahulu, karena masih dihantui perasaan takut bahkan masih membayangkan apa yang dia lihat didalam kamar mandi.
Saat Oneng membuka pintu kamar, dia mengerenyitkan keningnya. Aroma busuk bahkan amis, menyeruak dikamar Cici.
Oneng menghentikan langkahnya, dia memberikan Mira kembali kepada Cici, menoleh kearah majikan dengan bibir yang masih enggan untuk bertanya.
"Kenapa, Neng?" Cici bertanya penasaran melihat keadaan dalam kamar, mencium aroma tidak sedap dari dalam kamar pribadinya.
Tentu, itu menjadi aroma yang tidak sedap, karena untuk kedua kalinya dia cium setelah bangun tidur.
"Kok aroma kamar Kakak jadi nggak enak gini, Neng?" Cici menoleh kearah Oneng sedikit berbisik, namun hatinya semakin penasaran.
Oneng mengangguk, tapi dia tidak menjawab pertanyaan Cici, memilih membuka pintu kamar, dan memasuki kamar utama yang luas itu.
Cici meminta Oneng untuk segera mematikan air conditioner, dan membersihkan kamar peraduannya, agar tidak tercium aroma busuk yang sangat aneh.
"Kok bau gini kamar Kakak yah, Neng? Oya, baju yang kakak pakai tadi cuci dulu, karena baju itu yang bau banget!"
"Iya Kak."
Oneng hanya mendengarkan Cici, melakukan tugasnya sesuai perintah majikan.
Berkali-kali Oneng mengibas sprei katun berwarna merah dan putih itu, namun tidak menemukan apapun yang berarti.
"Bau apa ini? Kok tidak seperti biasanya?" Oneng hanya bergumam dalam hati, semakin penasaran.
Bagaimana tidak, aroma amis bahkan sangat busuk, berasal dari dalam keranjang yang hanya berisikan baju kotor Cici.
"Uweeeek...!"
Oneng berkali-kali memuntahkan semua isi perutnya yang bergejolak karena bau amis yang semakin menyeruak.
Cici yang mendengar suara Oneng yang seperti orang sesak nafas, yang tengah mengeluarkan semua isi didalam perut, bergegas dia mendekati pembantu rumah tangganya, dengan menutup hidungnya menggendong Mira dalam dekapan.
"Kamu kenapa, Neng?" Cici benar-benar kaget, saat berada didalam kamar mandi melihat Oneng seperti orang mabuk, bahkan pembantunya tengah duduk meringkuk di closet duduk.
"Ya Tuhan... Oneng, kamu kenapa?"
Cici melihat keringat Oneng bercucuran seperti derasnya air shower.
Oneng yang kondisinya belum stabil, hanya bisa mengangkat tangannya, memberi kode bahwa dia baik-baik saja.
Cici membawa keranjang baju tersebut, untuk dia letakkan di luar rumah, karena aroma bau menyengat itu memang dari dalam keranjang.
Saat Cici meletakkan keranjang baju kotornya di teras depan rumah, matanya sangat awas memeriksa lingkungan perumahan yang tampak sepi siang itu.
Cici kembali mendekati Oneng dan membawa pembantunya untuk keluar dari kamar mandi. Perasaan Cici masih kalud, bahkan masih tampak seperti orang kebingungan, walau masih menggendong Mira yang tampak tenang, bahkan sesekali dia tersenyum sumringah sendiri.
"Neng, Kakak rasa ini ada sangkut pautnya sama kehilangan Bang Akmal. Kita cari ustadz yuk? Rumah ini nggak benar auranya!"
Cici membawa Oneng keluar dari kamar mandi, meletakkannya di atas ranjang kingsize milikinya, meletakkan Mira di pangkuan Oneng, untuk membersihkan sisa muntah dikamar mandi yang belum begitu bersih.
Oneng masih belum bisa menjawab, tubuhnya melemah, bahkan sangat melelahkan. Pikiran semakin kacau, karena seumur hidupnya tidak pernah mencium aroma busuk seperti itu. Aroma busuk menyengat, seperti bau mayat, yang bersimbah darah dan sangat amis.
Setelah Cici membersihkan kamar mandi, dia menuju tempat Oneng duduk yang memangku Mira, melihat jam dinding kamarnya. Dia mengenakan pakaiannya, dibalut baju kaos oblong dan celana traning panjang, Mengambil kunci mobil membawa Oneng mencari ustadz diarea perumahan mereka.
Tenaganya semakin berkurang karena kurang asupan makanan, yang Cici konsumsi semenjak pulang dari kelok sembilan. Wajah pucat, tangan selalu bergetar ketakutan, bahkan berdandan pun dia tidak suka.
Apa itu karena Cici kelelahan? Ya, Cici saat ini mengalami peningkatan emosi yang sangat berlebihan. Pikiran kalud, karena kehilangan suami tercinta, melihat putri kesayangannya Mira berinteraksi sendirian seperti gadis kecil yang aneh.
Kesal kepada pihak kepolisian, dan Tim SAR yang ikut mencari keberadaan suaminya Akmal, namun tidak menemukan titik terang.
Bagaimana Cici akan baik-baik saja, yang dia rasakan adalah kehilangan belahan jiwa yang tidak tahu kemana rimbanya dan apa penyebab pasti atas kehilangan Akmal. Semua masih misteri membuat Cici harus berjuang melawan rasa takut yang menghantuinya selama beberapa hari.
Cici duduk disamping Oneng dipinggir kasur kamarnya, perlahan bau busuk itu menghilang.
"Kita pergi sekarang? Oya, Bang Luqman berangkat jam berapa, Neng?" Cici menoleh kearah Oneng.
Oneng melihat jam dinding, "Jam sepuluh, Kak. Karena jemput Bang Dean ke bandara, langsung ke kelok sembilan."
Cici mengangguk mengerti, perlahan dia melihat Mira yang masih tampak tenang dipangkuan Oneng, mengalihkan pelukan Mira pada dirinya.
"Yuk, kita ke mesjid depan perumahan saja. Kakak mau minta tolong sama pak ustadz. Biar aura negatif pergi dari rumah kita."
Cici berdiri menggendong Mira, menuju teras rumah, disusul kemudian oleh Oneng dari belakang.
Saat Oneng tengah mengunci pintu utama, Cici yang baru menyadari keranjang baju dia letakkan diluar, melihat isi dalam keranjang.
"Neng.... baju Kakak disini tadi mana!? Kok hilang?"
Oneng dan Cici saling menatap, wajah mereka berdua sangat ketakutan, kaki semakin bergetar hebat. Pikiran sama, kemana baju Cici yang didalam keranjang?
"Cepat masuk ke mobil... nanti Kakak telpon Cardo untuk menemani kita malam ini! Yang penting kita cari ustadz dulu!"