
Cak Timbul sangat marah melihat tiga ketua Kelompok Barat yang terkenal karena sikap impulsifnya itu menantang ketuanya secara terbuka. Jika bukan karena Zaha yang mencegahnya untuk ikut campur, maka Cak Timbul sendiri yang akan maju untuk memberi pelajaran pada mereka.
Area tengah ruangan yang menjadi posko mereka, segera dikosongkan begitu Zaha menyanggupi tantangan bertarung dari tiga ketua Kelompok Barat.
Alex maju pertama kali untuk menantang Zaha. Ia terlihat paling penasaran dengan King dan dua kakaknya juga tidak keberatan dan mengijinkannya untuk menjadi orang pertama yang maju.
Tanpa menahan sedikit pun, Alex maju dengan mengandalkan kelincahannya. Untuk orang yang berumur 40 tahunan, Alex memilik gerakan sangat cepat diatas rata-rata.
Dengan beberapa gerakan andalannya, Ia menantang Zaha bertarung secara terbuka. Menganggap dirinya memiliki kecepatan dan terlalu percaya diri dengan hal tersebut, kali ini Alex dibuat berjuang lebih keras. Beberapa jurus telah dikeluarkannya, namun diluar dugaan, Zaha ternyata memiliki kecepatan yang tidak kalah darinya.
Alex tampak mulai berkeringat dengan nafas sedikit tersengal setelah bertarung hampir 10 menit lamanya.
"Kenapa senior? Apa anda mulai menyerah sekarang?" Tanya Zaha sambil bercanda. Ia masih tampak fresh, dari situ sudah bisa dilihat siapa yang lebih unggul sebenarnya.
Zaha dengan fisiknya yang masih remaja, jelas memiliki nafas yang lebih panjang. Dari segi kacamata seorang petarung, mereka memiliki perbedaan level satu tingkat. Jadi, sebenarnya Zaha hanya sedikit bermain dan tidak langsung menjatuhkan Alex agar tidak mempermalukan seorang senior seperti dirinya.
"Jangan sombong dulu anak muda. Aku masih belum kalah." Dengus Alex dingin yang tidak terima diejek begitu saja. Egonya yang tinggi tidak membuat dirinya bisa menerima kekalahan begitu saja.
Ia kembali melesat maju dengan gerakan lebih cepat dari sebelumnya.
Zaha hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat betapa ngototnya Alex untuk bisa mengalahkan dirinya. 'Sepertinya dia tidak akan berhenti sebelum ada salah satu dari kami yang jatuh duluan.' Pikir Zaha.
Zaha menyambut serius serangan yang diancarkan Alex. Melihat pertarungan mereka, seperti melihat dua petinju bertipikal outboxing. Keduanya begitu lincah bermain dengan jarak serang serta gerakan yang sulit untuk diikuti oleh mata orang biasa.
Wosshh Wosshh
Zaha sedikit berkelit dengan jarak yang sangat tipis, sebelum dua serangan balik yang lebih cepat dari serangan Alex dihujamkannya tepat mengarah ke tengah badan.
Baammmm Baaammm
"Urgghk.." Badan Alex sedikit meringkuk, begitu ulu hatinya terkena pukulan telak dari Zaha.
Alex ingin langsung membalas, namun akibat serangan itu langsung menyerang saraf kakinya dan membuat anggota tubuh bagian bawahnya menjadi sulit bergerak.
Sebuah tinju kuat mengarah ke arah kening Alex, tekanan udara yang dihasilkan pukulan seperti itu saja sudah membuat kulitnya seakan mati rasa, apalagi jika kepalanya terkena langsung. Otaknya bisa hancur, keringat dingin langsung mengalir keluar dari pori-porinya, membuat Alex cemas setengah mati.
"Aaaaa..." Alex sampai memejamkan matanya karena tidak siap menghadapi pukulan sekeras itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, kematian terasa begitu dekat menghampirinya.
Deg Deg Deg
1 2 3
Waktu seakan berjalan begitu pelan, detik demi detik.
Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya, namun pukulan yang sebelumnya tampak mematikan itu dan seperti bersiap mencabut nyawanya tidak juga kunjung mengenainya.
Alex membuka matanya perlahan, matanya langsung terbelalak melihat tinju tersebut berhenti tepat dalam jarak setengah centimeter dari keningnya.
"Haahhhh.." Alex baru bisa bernafas lega.
Wajahnya sempat memutih karena saking cemasnya, Ia merasa jika nyawanya benar-benar akan melayang beberapa detik yang lalu.
"Senior, anda kalah." Ujar Zaha dengan senyum tenang.
Alex masih merasa jika jantungnya masih belum stabil saat ini, namun Ia tidak lagi bisa berkomentar banyak. Zaha sudah terlalu baik dengan menghentikan pukulannya disaat paling kritis.
"Aku kalah." Kata Alex sportif mengakui kekalahan dirinya.
Melihat saudaranya telah kalah, berikutnya Samson langsung maju menggantikan posisi saudara bungsunya tersebut.
"Silahkan senior!" Seru Zaha dengan tenang. Meski begitu, matanya sedikit lebih mewaspadai Samson.
Benar saja, ketika Samson memulai serangannya. Tekanan yang diberikannya begitu menyesakkan, seakan satu pukulannya seberat gunung dan sanggup memecahkan bongkahan batu raksasa sekalipun.
Zaha sempat terdesak dan dipaksa untuk mengubah gaya bertarungnya. Jika sebelumnya Ia menitik beratkan kecepatan sebagai andalannya, sekarang Ia mengurangi sedikit tempo namun menambah daya serangnya. Meski, tidak mutlak bertukar serangan secara langsung. Karena Zaha sadar, jika Samson memiliki kekuatan satu level diatasnya. Sehingga cara paling efektif untuk menghadapi serangan sekuat itu adalah dengan mengambil serangan diantara serangan lawan.
Tapi, bukan Zaha namanya jika bisa takluk dengan lawan yang memiliki keunggulan kekuatan diatasnya.
Disisi lain, Komar yang menyaksikan pertarungan itu secara langsung dibuak takjub. Ini adalah kali kedua Ia melihat pertarungan King secara langsung. Setelah sebelumnya di markas Kelompok Timur.
Satu hal yang membuatnya takjub dan mengakui kemampuan King, bukan karena King yang terlihat seperti sedang menari menghadapi serangan demi serangan Samson saat ini. Melainkan karena bakat mengerikan yang dimiliki oleh King.
Tidak banyak orang yang bisa berkembang hanya dalam waktu begitu singkat, kecuali mereka yang memiliki bakat langka dan juga disertai fisik yang mumpuni. King baru satu-satunya orang yang bisa membuat Komar mengakui kelebihannya yang satu ini.
Dibanding pertarungan King terakhir kali melawan bekas ketuanya dan juga Rio, King yang sekarang terlihat lebih tenang dan gerakannya lebih tajam dan sangat mematikan. Jika orang biasa yang melihat pertarungan King dan Samson sekarang, akan melihat Samson begitu mendominasi dengan kekuatan serangannya yang mematikan dan bahkan bisa membuat orang yang menyaksikannya menahan nafas.
Tapi, Komar tahu jika King bukan sedang kepayahan. Justru Ia terlihat menikmati pertarungan mereka dan hanya masalah waktu bagi King untuk menumbangkan Samson.
Benar saja, saat kesempatan itu datang. Itu hanya 1 dari seperseribu peluang yang ada, King bisa memaksimalkannya.
Baammm Baammmm
Dua pukulan tajam menyasar ulu hatinya, membuat gerakan Samson langsung berhenti diudara. Seakan ada seseorang yang sedang menekan tombol 'pause'.
Tubuh bagian bawah Samson seakan berhenti merespon perintah otaknya, tampak ketidak percayaan di raut wajah Samson. Ia yang bangga dengan kekuatannya, hari ini dipaksa menerima kenyataan kalau Ia baru saja dihentikan oleh seorang remaja yang masih berusia belasan tahun. Kekalahannya hampir sama persis dengan yang dialami oleh Alex, adiknya. Lagi, serangan ke ulu hati menjadi titik kunci kekalahan mereka.
Serangan balik Zaha ternyata tidak berhenti sampai disitu, sebuah pukulan uppercut datang dari arah bawah dagu Samson.
Baammmm
Otaknya seakan dihantam palu besar dan membuat tubuh besar Samson akhirnya tumbang ke arah belakang dan jatuh terhempas ke lantai.
Nafasnya sesak dengan tatapan berkunang, beruntung Zaha tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya. Jika tidak, bisa saja Samson saat ini bisa pingsan atau bahkan tewas.
Semua orang menatap tidak percaya, mereka menatap ke arah King dengan tatapan penasaran sekaligus penuh kekaguman. Bagi mereka yang berada di Kelompok Selatan, tentu ini adalah sebuah kebangaan yang tidak ternilai, memiliki ketua yang sangat luar biasa.
King sudah menumbangkan dua dari tiga ketua Kelompok Barat, siapa yang pecaya?
Prok prok prok
Disaat semua orang tercengang, Padri justru bertepuk tangan. Tidak ada lagi ekspresi dingin diwajahnya, Ia tersenyum senang.
"Hahaha, salut-salut. Kamu memang layak menjadi King disini."
"Padri, jangan bilang kalau kamu tidak berniat maju? Setelah dua saudaramu dikalahkan?" Sahut Komar menyindirnya sekaligus menantikan pertarungan Padri yang sebelumnya begitu yakin menantang King.
Padri yang menerima sindirian dari Komar, bukannya tersinggung malah tertawa seolah itu bukan suatu hal yang perlu membuatnya merasa malu. Ia berkata, "Mau bagaimana lagi, dua saudaraku telah kalah secara adil. Jika aku maju dan meski menang, tetap saja skornya 2:1. Kenyataannya, Kami tetap saja kalah."
"Pertarungan ini bukan bermaksud untuk tidak menghargai King, melainkan karena kami ingin seorang yang pantas untuk memimpin kita semua." Kata Padri dengan pintarnya memainkan kata-kata.
Meski kalimatnya terkesan hanya untuk menyelamatkan harga dirinya, namun semua orang tampak puas dengan kalimat terakhir Padri. Itu artinya, mereka bertiga sudah mengakui King sebagai pemimpin.