Bunian

Bunian
Kebisuan yang menjadi misteri



Dony menjambak rambutnya sendiri, "Ya Tuhan, itu ada rombongan wanita keluar dari sini. Katanya ada Datuk disini, mereka takut! Aku pikir, Datuk mana?" ceritanya dengan wajah semakin bingung.


"Datuk.....!? Datuk mana!?"


Cici mengerti apa yang di maksud oleh Dony, sementara Akmal hanya mengangguk mencoba memahami apa yang disampaikan sahabatnya, namun dia lebih memilih menenangkan.


Akmal berdiri menepuk pundak Dony yang masih tampak kebingungan, "Duduklah, jangan lupa minum teh yang telah di persiapkan Sarah. 


Sony, sejak awalnya memiliki seorang putra yang memiliki selisih usia hanya berjarak satu tahun dari Mira.


Namun, semenjak mereka kembali dari kelok sembilan beberapa waktu lalu. Dia mesti kehilangan putra kesayangan untuk selamanya karena mengalami demam tinggi yang tidak dapat diberi pertolongan oleh pihak rumah sakit.


Semua musibah terjadi begitu cepat, bahkan tanda-tanda itu sama sekali tidak pernah terpikir oleh mereka yang menetap di kota besar.


Dony menuruti perintah Akmal, dia memilih duduk dibawah, karena sofa di isi oleh beberapa rekan sekantornya.


Saat mereka tenga berbincang-bincang, Sony keluar dari kamar untuk menemui para sahabat yang berkunjung di kediamannya.


Wajah Sony tampak lebih cerah dari yang dilihat oleh Akmal pertama kali.


Semua rekan kerjanya menghampiri Sony yang kini menggunakan tongkat, jalan terpincang-pincang mendekat pada Akmal dan Dony.


Ini merupakan hal yang sangat tidak masuk akal bagi Sarah istrinya. Karena selama berbulan-bulan suaminya tidak pernah keluar dari kamar, bahkan tampak sangat memilukan.


Sarah tersenyum menatap Sony, mendekati Cici untuk mengucapkan terima kasih. Kepedulian Akmal pada suaminya saat ini, mampu memberikan kekuatan baru bagi Sony.


Lebih dari dua jam mereka berada di sana. Saat hari mulai gelap dan petir menggelar seperti akan turun hujan, mereka pamit untuk pulang ke rumah.


Tentu, tidak lupa menitipkan amplop yang mereka kumpulkan untuk Sony.


Mereka berpisah, meninggalkan kedua Sony, menuju kediaman mereka masing-masing.


.


Akmal dan Cici, kembali ke kediaman mereka, disambut oleh Mira sang putri satu-satunya. Wajah cantik Mira nan lucu itu kini ada dalam pelukan Oneng yang sangat telaten menjaganya.


Mira memeluk erat tubuh Cici, saat melihat sang Mama telah kembali. Saat akan memasuki kamar, Cici melihat sosok wanita cantik berselendang merah tenga duduk diranjang kingsize milikinya.


Cici menelan salivanya, bulu kuduk kembali meremang, menatap wanita cantik itu kini kembali ke kediamannya. Dia berucap, "Raya...!?"


Mira memeluk Cici erat, merasakan sesuatu yang aneh kala itu. Sementara Cici terus mendekap tubuh mungil putrinya.


"Manga ndak di buka yang ambo agia? Apokah awak indak nio manarimo ambo sabagai madu?" (Mengapa kamu tidak membuka pemberian ku? Apakah kamu tidak mau menerima aku sebagai madu?) ucapnya tanpa menoleh.


Cici baru teringat pada kotak kecil yang dia letakkan di dalam lemari. Kotak pemberian wanita bunian saat pernikahan Akmal dan Raya beberapa bulan lalu.


Cici menurunkan Mira dari gendonganya, meletakkan putri kesayangan di lantai kamar. Bergegas dia mengambil kotak pemberian Raya, mendekati wanita cantik itu yang masih duduk di atas ranjang.


Cici menatap Raya dan bertanya, "Bukankah kita sudah lama tidak bertemu? Mengapa kamu datang kekamar ku? Bukankah kamar mu sudah aku persiapkan di sebelah kamar putriku?"


Raya tersenyum tipis, matanya tertuju pada kotak yang masih dalam genggaman Cici, "Bukak lah..."


Cici tidak sanggup untuk berkata-kata apalagi bertanya, dia tertegun. Kembali menatap kearah Raya, berusaha tenang atas apa yang dia terima. Emas apa ini? Apa maksudnya?


Raya kembali menjelaskan menggunakan bahasa yang digunakan Cici sehari-hari, "Ini merupakan ucapan terima kasih ku padamu. Karena telah menjaga suami ku dengan baik. 100 itu, merupakan hari pertama ku berada disini."


Cici kembali menautkan kedua alisnya. Jujur, dia semakin tidak mengerti apa maksud semua ini.


"Ya, aku akan hadir disini setiap malam Jum'at setelah 100 hari pernikahan ku dengan suamimu. Terimakasih kamu telah menjaganya dengan baik, dan aku menyukai suamimu karena kebaikan dan tanggung jawabnya pada keluarga," tambah Raya.


Seketika Cici tersenyum, "Tapi aku kehilangan suara putriku Mira. Apakah ini penyebab pernikahan ini?"


Raya mengangguk pelan, seketika dia menghilang dari hadapan Cici.


Entahlah, Cici hanya terdiam dan menatap kearah emas batangan tersebut bergumam dalam hati, "Ini benar-benar emas? Atau bohongan? Tampaknya seperti asli... hmm..."


Cici meletakkan kembali kotak tersebut didalam lemari, dia hanya tersenyum lega. Baginya, harta yang paling berharga adalah Akmal dan Mira, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun termasuk emas batangan yang ada dalam genggaman.


Cici mendengar suara pintu kamar terbuka lebar, terdengar Akmal tenga menerima telepon dari salah seorang rekannya.


Cici memberikan kode, bahwa dia menitipkan Mira harus dalam pengawasan. Dia berlalu, setelah mendapatkan anggukan dari Akmal.


Bergegas dia beranjak menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Hanya beberapa detik Akmal menutup panggilan teleponnya, meletakkan handphone diatas meja rias. Menggendong Mira, membawanya keatas ranjang.


Setelah beberapa menit berlalu Cici keluar dari kamar mandi, tentu menjadi pandangan yang menyejukkan bagi seorang suami.


Namun, Cici kembali mengingatkan pada Akmal, "Raya sudah kembali. Dia menunggu Abi. Ami... sudah bertemu dengannya," ucapnya seraya menundukkan kepala.


Akmal mengangguk, baginya ini merupakan hal baru yang sudah dia ketahui sejak awal. Dia duduk di pinggir ranjang, memeluk Cici sambil berkata, "Abi akan berbicara pada Raya. Mengenai Mira, dan putra Sony. Kenapa kita tidak mengetahui atas musibah yang menimpa kerabat kita. Yang pasti, Abi akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Ami. Terimakasih Ami, Ami selalu ada buat Abi."


Cici mendekap tubuh suaminya, jika ingin dia memutar waktu kembali, mungkin akan melarang Akmal ke kelok sembilan kala itu bersama Sony. Inilah takdir yang harus dia hadapi, dan harus dia syukuri karena suaminya tidak pernah berubah apapun yang terjadi.


Namun, yang menjadi beban pikiran untuk mereka adalah kebisuan Mira. Putri kesayangan harus menerima kenyataan atas kembalinya Akmal.


Bagaimana Cici harus menghadapi kenyataan yang masih misteri dan menjadi beban baru baginya dan Akmal?


"Abi, kita harus kuat dalam mendidik Mira! Ami nggak sanggup melihat anak kita seperti ini," tangisnya dalam pelukan Akmal.


________ The end


BATU BERDARAH


Kisah wanita Jepang yang menghilang dari kampung suaminya, dengan kodisi yang sangat aneh.


Semua warga mencarinya, sehingga beberapa tahun kemudian menemukan keberadaan jasadnya di sebuah batu yang terletak di jalan lintas Riau-Sumatera Barat.


Simak kisahnya, di Batu Berdarah.


Episode 27, Kisah Lain (Batu Berdarah)