
Cuaca sangat dingin, burung-burung berkicau dengan penuh semangat terdengar dari kejauhan, menyambut pagi yang tampak cerah, di balut embun pagi membasahi perkampungan Arau tempat Ujang berada.
Arau, Sumatera Barat tanah kelahiran Ujang yang menjadi pusat wisata saat sekarang. Dia bergegas menuruni anak tangga dari dalam rumah gadang yang sudah hampir roboh, membawa travel bag untuk melakukan perjalanan menuju kota metropolitan, Jakarta.
Kota besar tempat dia singgah saat tiba dari Jepang melakukan transit menuju Padang. Ujang harus kembali, dengan segala kebingungan dan perasaan khawatir. Bagaimana tidak, Mori masih belum di temukan, dan dia harus meninggalkan kampung halaman, atas permintaan Sida sekaligus meminta pertolongan pada kedutaan Jepang untuk melakukan pencarian sang istri.
Sida menghela nafas panjang, saat Ujang kembali memeluk sang Bunda. Tubuh paruh baya yang sangat dia cintai, bahkan sangat dia sayangi. Wanita yang telah melahirkannya, memberikan kasih sayang yang terbaik walau hidup susah apa adanya.
Ujang memeriksa kembali, semua barang-barang bawaan, dan data Mori yang akan dia laporkan ke kedutaan. Walau tidak memerlukan banyak persyaratan karena Mori merupakan warga negara Jepang, namun istrinya dinyatakan hilang di kampung halamannya.
Ujang memeluk tubuh ringkih Sida sekali lagi, mengecup puncak kepala sang Bunda yang sedikit tercium bau busuk bahkan sangat menyengat, namun dia sebagai anak tidak ingin bertanya.
Ujang menyalami tangan kanan Sida yang penuh keriput, tampak pucat bahkan tidak berdarah.
Ujang menatap lekat wajah Sida kemudian bertanya, "Amak sakit?"
Sida menggelengkan kepalanya, dia tersenyum sumringah, mencium wajah Ujang, dan melepaskan sang putra kesayangan untuk meninggalkan kampung halaman.
Sida hanya melambaikan tangan, saat melihat Ujang berjalan semakin jauh.
Ujang senantiasa berusaha tampak bahagia walau masih kebingungan saat meninggalkan rumah gadang keluarganya. Perasaan sedih karena kehilangan Mori sang istri, dia hanya berfikir sepanjang perjalanan 'bagaimana caranya untuk menyampaikan pada Edogawa San (Tuan Edogawa), tentang Mori', batinnya sepanjang perjalanan.
Ujang berdiri di satu persimpangan, menanti sago atau angkutan umum dibawah kaki bukit, melihat kearah kampungnya yang sudah tampak jauh karena sudah menjalani jalan setapak selama 30 menit.
Ujang sedikit melirik jam dipergelangan tangan kanannya, bertambah bingung karena sangat lama untuk tiba di persimpangan tempat dia berdiri.
Ujang hanya bergumam dalam hati, "Sayang.... tunggu Abang untuk menjemput kamu di sini. Hingga Abang dapat membawa seseorang untuk mencari keberadaan sayang Abang!"
Saat Ujang tampak tengah menanti sago, pandangan matanya kembali di kejutkan dengan kehadiran salah seorang dari keluarga Amak-nya.
"Da Ujang....!?" sapa Lisa saat berpapasan dengan Ujang.
Ujang tampak tengah berfikir, tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran sago yang di teriakkan cingkariak atau salah seorang yang membantu sopir untuk mencari penumpang.
"Terminal.... terminal.... terminal....!!" teriak cingkariak sago.
Ujang tidak mengindahkan panggilan Lisa yang tampak kebingungan, karena melihat kehadiran sepupunya, namun tidak mau menyapa atau pun mampir ke kampung mereka.
Lisa melihat kepergian sago, tidak sempat menyampaikan sesuatu tentang kedua orang tua Ujang, "Kamanolah Uda tu, pulang kampuang tapi manga ndak singgah ka umah, Amai!" (Kemanalah Uda tu? Pulang kampung, tapi tidak mau singgah ke rumah Amai!) geramnya merasa kedua orang tuanya tidak di hargai.
Namun, Ujang tetaplah Ujang.... pria kaya yang berpura-pura miskin saat tiba di kampung halamannya atas permintaan Edogawa San, sehingga dia kehilangan Nohara Edogawa atau Mori.
Ujang tiba di terminal, mencari sebuah mobil rental untuk membawanya ke bandara internasional Padang. Dia berlalu, membawa kedukaan yang dalam karena tidak bisa menemukan keberadaan istri tercinta.
Kegundahan hati Ujang tampak mereda sejak dia makan siang di Lembah Anai. Rumah makan nan terkenal, ditambah seorang gadis kota yang ternyata satu mobil dengannya mendekati tanpa perasaan sungkan.
Gadis itu hanya tersenyum saat pertama kali melihat Ujang yang duduk sendiri di kursi meja restoran sambil menikmati bubur kampiun yang terkenal disana.
Ujang tertunduk malu, namun memberanikan diri untuk tersenyum tipis, karena berfikir bisa di jadikan teman selama di perjalanan menuju bandara Padang.
Sejenak Ujang tampak seperti menyapa gadis muda yang berkisar usia 22 tahun tersebut dengan sebuah senyuman yang dapat membius wanita muda yang duduk agar jauh.
Ujang yang berpenampilan menggunakan baju casual, tas tangan bermerek ada dalam genggaman, hingga jam tangan rolex yang melekat di tangan kanan pria hitam manis tersebut. Dia meminta gadis itu untuk duduk di hadapannya, hitung-hitung menambah teman sebelum berangkat ke Jakarta.
Gadis itu dengan sigap mendekati Ujang, tanpa perasaan canggung atau pun malu. Mengulurkan tangan halus yang putih dan mulus, menandakan gadis itu adalah wanita terawat dan bersih.
Ujang menyapa, menunduk hormat selayaknya orang Jepang memberi salam, "Haii.... kenalkan saya Ujang?" sambutnya pada tangan sang gadis.
Sang gadis menjawab dengan senyuman tipis, "Ya, kenalkan saya Desy. Desy Rusmalasari."
Ujang mempersilahkan Desy duduk di hadapannya dengan sangat ramah dan saling berbincang-bincang ringan. Perkenalan awal sangat hangat, sehingga melupakan mobil travel yang mereka tumpangi sudah sejak tadi menunggu dua insan baru mengenal saling bercerita.
Mereka bergegas meninggalkan restoran, karena sudah di panggil oleh sang supir untuk segera meninggalkan Lembah Anai Padang Panjang.
Sepanjang perjalanan keduanya saling bercerita, dan saling bertukar nomor telepon, sehingga saling menanyakan tujuan.
"Aaagh.... ternyata kita satu tujuan...! Jangan-jangan kita satu penerbangan lagi," tawa Desy saat sudah semakin nyaman dengan Ujang yang duduk di sampingnya.
Ujang memperlihatkan jadwal penerbangannya yang dia pesan beberapa menit lalu melalui aplikasi, "Nih.... Abang baru pesan tadi, siih!" ceritanya.
Desy menautkan kedua alisnya, "Kok, bisa sama yah? Duduknya juga bersebelahan? Atau, jangan-jangan kita jodoh nih....!!!" tawanya saat melirik keaslian jam tangan yang Ujang kenakan.
Mereka saling memperlihatkan jadwal penerbangannya, sebelum tiba di bandara internasional.
Sebelum saling mengenal, ternyata Desy sudah memperhatikan Ujang sejak awal bertemu di terminal. Namun karena melihat wajah pria yang tidak begitu tampan namun berkharisma itu enggan tersenyum, dia mengurungkan niatnya untuk melakukan pendekatan.
Penampilan Ujang yang sangat berbeda dari pria yang dia kenal, memberi kesan bahwa Ujang sosok pria idaman wanita di kota metropolitan.
Ditambah sosok Ujang yang tidak begitu ramah, karena terkesan dingin dan pendiam.
Mereka masih saling bercerita tentang kampung halaman Ujang yang menyebutkan salah satu tempat yang indah, di puncak perbukitan Arau yang di apit dengan tiga dermaga air terjun berbeda. Satu arah barat, satu lagi selatan dan satu lagi arah utara.
Desy terdiam, mendengar penjelasan Ujang tentang kampung halamannya. Wajahnya tampak kebingungan, karena dia juga berasal dari Arau, namun hanya bisa berfikir sendiri, "Bukankah kampung yang di sebutkan Ujang ini sudah lama terbakar api saat kejadian perebutan Datuak empat tahun lalu? Bagaimana mungkin dia tinggal selama tiga hari disana? Apakah dia makhluk Bunian?" tanyanya dalam hati mulai menjaga jarak dari Ujang.