Bunian

Bunian
Aku disini....!



Ujang, laki-laki memiliki tubuh tinggi, hitam manis, berusia 27 tahun, memilih meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan uang di negara impiannya sejak kecil, Jepang. 


Lima tahun berlalu, Ujang meninggalkan Sida dan Uman, di tanah kelahirannya Arau-Sumatra Barat. Betapa bahagianya dia saat pertama kali melihat rumah gadang dan menghirup udara segar saat turun dari mobil yang dia rental dari bandara internasional Minangkabau Padang.


Membawa serta Nohara Edogawa biasa disapa Mori, yang Ujang nikahi beberapa bulan lalu, membuat kehidupannya berubah menjadi lebih baik dan sangat di hargai karena telah menikah dengan wanita kaya di Hiroshima.


Ujang memutuskan membawa Mori biasa disapa, untuk kembali ke kampung halamannya agar kedua orang tuanya merasa bangga dengan kabar pernikahannya, yang telah berhasil menaklukkan hati wanita kaya di negara matahari terbit tersebut.


'Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih', mungkin pepatah itu yang pantas untuk Ujang saat kembali ke kampung halaman setelah mendengar teriakkan Mori siang itu.


Ujang kini berdiri di tebing yang tinggi, merasa khawatir mencari keberadaan Mori sang istri, yang berteriak keras kala dia melepas rindu dengan Sida sang Ibunda tercinta.


"Mori..... Moriii....!!!" teriaknya dari atas tebing yang tidak jauh dari rumah gadang Keluarga Ujang.


Sida dan Uman sibuk mencari warga negara asing tersebut, karena sama sekali mereka tidak menemukan apa-apa sejak awal pencarian mereka.


"Kamano Upiak tu pai nyo, Da? Beko urang kecek, 'haaah.... lah lari lo manantu Sida tu.... dek muncuangnyo bacirik kanai tingga anak bujang nyo, kan? Buek malu urang kampuang awak se'!" (Kemana lah perginya wanita itu ya, Bang? Nanti orang bilang, 'haah, udah pergi pula menantu Sida, karena mulutnya beta'i, kenak tinggal anak bujang nya. Buat malu orang kampung kita saja'!) celoteh Sida sepanjang perjalanan.


Uman tak menghiraukan ucapan sang istri, dia terus mencari-cari keberadaan Mori, yang tidak begitu jelas wajahnya sejak awal bertemu tadi.


Uman, hanya bisa mengingat kulit putih mulus, bibir merah, rambut lurus hitam berkilau sebahu, dan memiliki mata sipit.


Sangat berbeda dengan mereka yang memiliki kulit lebih gelap dan lebih mendekati kata hitam.  


Ujang terus berteriak keras memanggil nama istrinya, hanya terduduk di sebuah batu pegunungan yang terletak di atas kaki bukit karena merasa bersalah dan putus asa.


Kemana Mori? Mengapa dia berteriak? Jika terjadi sesuatu padanya, pasti semua yang ikut mencari keberadaan Mori akan menemukan nya. Walau dia terjatuh ke jurang, atau terjun di dasar lembah arau ini, pasti akan menemukan keberadaan nya. Mori.... kamu dimana? Batin Ujang sambil menutup wajah dengan telapak tangan kekarnya.


Penyesalan mulai terasa, saat Ujang meninggalkan sang istri begitu tiba di kediaman keluarga.


Ujang menangis sejadi-jadinya, tidak menyangka akan kehilangan Mori secepat ini, "Mori..... kamu dimana, sayang? Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tua mu! Jelas-jelas mereka tidak menyukai aku, karena kemiskinan keluarga ku! Mori..... aku mohon, bersuara lah.... kamu dimana?" teriaknya menggema, hingga terdengar di perkampungan.


Benar saja, kepulangan Ujang membawa wanita Jepang sebagai istri, menurut mereka adalah sebagai penjajah masa lalu yang menjelma untuk kembali menjajah dengan cara berbeda di saat sekarang.


Mindset yang terdengar sangat lucu, karena banyaknya orang kampung disana, setelah merantau mereka menggunakan ilmu Malin Kundang tidak pernah kembali, dari pada harus mendapatkan cemoohan dari warga setempat, karena menikah di rantau, dengan orang yang tidak mengenal adat istiadat daerah sana.


Namun, sangat berbeda dengan pemikiran Ujang. Dia kembali membawa Mori ke kampung halaman untuk memperkenalkan pada kedua orang tuanya, dengan tujuan membenahi rumah gadang dan berpesta tujuh hari tujuh malam agar mendapatkan gelar Rajo, karena telah berhasil di rantau orang, dan membangun rumah gadang yang sangat mewah untuk kedua orang tuanya.


Seketika harapan itu pupus, karena hilangnya Mori di kampung mereka dan belum ditemukan keberadaannya.


Langit tampak gelap, Ujang masih duduk di batu besar sambil menunggu keajaiban kembalinya Mori.


Sejak kehilangan Mori, Sida tidak melihat senyuman Ujang karena kekhawatiran yang sangat jelas terlihat dari wajah sang putra.


Ujang berusaha tersenyum, menatap wajah Sida dan kembali memeluk pinggang sang Bunda. Kembali dia menangis dipelukan Sida, tak membayangkan bagaimana nasib rumah tangganya yang tampak indah di awal mesti berakhir tragis di tanah kelahirannya.


"Mak, gimana ini? Apa yang harus aku katakan pada keluarga Mori?" tanya Ujang dalam dekapan Sida.


Sida hanya mengusap pelan punggung putranya, "Tananglah.... bisuak wak cari sampai dapek!" (Tenanglah, besok kita cari sampai ketemu!) tegasnya agar Ujang kembali tenang.


Ujang kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap kearah wajah Sida, kembali bertanya, "Bagaimana caranya, Mak?"


Sida menghela nafas panjang, menjawab asal pertanyaan Ujang, "Mungkin Cimory di baok dek urang Bunian yang ado di siko. Bisuak wak mintak tolong ka Datuak Sati, untuak mancaliak an! Bia ado bayangan wak mancari Cimory tu!" (Mungkin Cimory dibawa oleh makhluk Bunian yang ada disini. Besok kita minta tolong pada Datuk Sati, untuk membayangkan dalam pencarian Cimory).


Ujang menuruti apapun yang dikatakan Sida, baginya Ibunda adalah sosok wanita yang selalu menguatkan nya disaat-saat seperti ini. Apalagi jika kehilangan sang istri.


Mereka kembali ke kediamannya, yang tidak jauh dari tebing yang mengisyaratkan ada hal misterius disana saat sore menjelang malam.


Saat Ujang meninggalkan batu tersebut, entah kenapa dia kembali menoleh kearah batu besar hitam yang sejak dulu berada disana. Matanya seperti melihat Mori yang tengah meregang nyawa, bahkan tangan putih bersimbah darah yang melambai ke arahnya.


Bulu kuduk Ujang meremang, menelan ludah sendiri dengan asal, kembali menoleh kearah yang sama. Namun, hanya kehampaan yang berada disana.


Ujang berbisik dalam hati, "Apa yang harus aku sampaikan pada Tuan Edogawa. Bahwa putri mereka hilang di negara ku? Dikampung halaman ku....!!" dia beranjak dari sana, menuju kediamannya.


.


Cuaca yang mulai terasa sangat sejuk, Ujang tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam, buatan Sida di belakang rumahnya. Dia termenung tidak sabar menanti esok hari. Rasa khawatir yang berkecamuk di kepala membayangkan bagaimana nasib istrinya.


Jika memang di bawa oleh orang Bunian, pasti meninggalkan jejak. Kenapa ini tidak ada tanda-tanda sama sekali. Kemana dia? Atau kah Mori kembali ke Jepang tanpa mau memberitahu dia? Pikirannya berkecamuk, bercampur aduk, bahkan lebih tepatnya khawatir karena begitu cepatnya semua ini terjadi.


Ujang meremas kasar kepalanya, wajah manis yang tampan tampak kusut karena kehilangan sang istri. Hingga dia tertidur di kursi kayu yang terletak di samping pintu belakang dengan pintu terbuka lebar.


Kedua matanya yang merah tertutup rapat, wajah kaku seketika terlelap dalam tidur masuk kedalam alam bawah sadarnya.


"Sayang.... tolong aku....!! Sayang, aku disini....! Tolong aku, sayang....!!"


Terdengar sayup-sayup sampai suara wanita meminta tolong.


Membuat Ujang yang tertidur dengan kepala mendongak keatas, bibir tebal terbuka lebar, keringat bercucuran membasahi wajahnya yang kusam, seketika terlonjak kaget.


"Mori....!! Mori....!! Mori...!! Dimana dia? Pasti dia ada di sekitar sini!!"