
Zaha memandangi dirinya di depan cermin dan menatap aneh bayangannya sendiri. Ia tidak tahu apa harus tersenyum senang melihat penampilannya saat ini atau harus bersedih, karena set pakaian yang dipakainya terlihat begitu modis dan berbanding terbalik dengan warna kulitnya yang gelap.
Meski sekarang fisiknya sudah mulai terbentuk, otot-otot tubuhnya sudah mulai menonjol keluar. Tapi tetap saja itu tidak membuatnya otomatis ganteng. Wajahnya masih tetap standar dengan kulit berwarna gelap, kelebihannya cuma bentuk tubuhnya lebih padat dari sebelumnya.
Melihat wajah Zaha yang tampak muram ketika bercermin, Anna justru terlihat begitu bahagia.
Ekspresi Anna justru menjadi beban bagi Zaha, Ia khawatir Anna bahagia melihat dirinya yang jelek dengan pakaian yang bagus. Ini seperti the beast yang dipaksa mengenakan pakaian kaisar. Bukankah itu terlihat sangat kontras?
"Ganteng juga." Puji Anna mengangkat jempolnya.
Zaha tersenyum getir mendengarnya, 'Apa Anna hanya berniat menyenangkanku?' Pikir Zaha tidak berdaya.
"Kapan kamu menyiapkan ini?" Tanya Zaha penasaran. Selama tiga hari terakhir mereka tidak pernah keluar dan hanya menghabiskan waktu di rumah Anna. Jadi Zaha cukup heran kapan Anna membelikannya pakaian dan pakaian itupun terlihat pas ditubuhnya.
"Kamu lupa? Kan kemarin kamu sendiri yang menerima paket dari kurirnya."
"Oh, kamu membelinya online? Kenapa gak bilang dulu?" Tanya Zaha terlihat protes.
Anna tertawa geli, "Kenapa? Kamu gak suka?"
"Hmn, suka." Jawab Zaha dengan senyum yang agak dipaksakan. Meski kalau dibiarkan memilih, Ia lebih memilih pakaian lebih sederhana yang sekiranya pas dengan pembawaannya..
Bukan karena seleranya yang jelek, tapi fisiknya yang sangat tidak support mengenakan pakaian bagus seperti ini.
"Syukurlah kalau kamu suka." Komentar Anna dengan binar senang.
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu yah!"
Anna mengangguk dengan berat hati, bagaimanapun Ia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Zaha. Tapi, Ia juga tidak kuasa untuk mencegah Zaha pergi.
"Aku menunggumu."
Zaha hanya mengangguk kecil seperti kebiasaannya dulu. Ia tidak pernah menjawab ucapan Anna, karena Ia tidak tahu apa bisa kembali dengan selamat.
Dulu, misinya sangat identik dengan resiko tinggi. Karena itu, Ia begitu takut untuk menjanjikan sesuatu yang tidak sepenuhnya diyakininya.
Pengalaman terakhirnya adalah ketika Ia merencanakan pembunuhan atasannya dua setengah tahun yang lalu dan memang semenjak saat itu Ia tidak pernah lagi kembali ke sisi Anna hingga Ia berakhir tewas di dalam jurang.
Kebiasaan itu berlanjut setiap kali Anna mengucapkan kalimat yang sama padanya.
Anna pun juga tidak terlihat menuntut Zaha untuk menjawab perhatiannya, karena Ia tahu Zaha pasti akan kembali padanya jika Ia masih hidup. Oleh sebab itu, Ia selalu melepas kepergian Zaha dengan senyum yang seindah mungkin agar Zaha pergi dengan perasaan yang tenang.
Setelah kepergian Zaha, Anna baru tampak termenung. Air matanya tiba-tiba mengalir dipipinya yang putih. Dalam hati Ia berdoa, "Kumohon kembalilah."
...
Zaha kembali kerumah Angel, namun kedatangannya disambut dengan wajah masam Angel ketika membukakannya pintu.
Zaha maklum kenapa reaksi Angel seperti itu, pasti alasannya karena Anna. Karena itu Ia tidak berani berkomentar apapun.
Saat Zaha masuk ke dalam rumah, ada kakaknya yang saat itu berada dalam ruang keluarga. Berkebalikan dari sikap Angel, Nia justru terlihat begitu hangat menyambut kedatangan Zaha.
Nia tersenyum manis menyambutnya, namun ada kesan malu-malu dalam dirinya.
"Sebentar, Aku bikinkan minum dulu yah, Za."
Zaha mengernyitkan kening heran melihat perubahan kakaknya. 'Apa yang terjadi dengan Kak Nia?' Pikirnya. Tidak biasanya Nia memanggilnya dengan sebutan nama, biasanya dia memanggil dengan sebutan 'dek'.
Tidak lama, Angel kembali dari dalam kamarnya dan langsung duduk begitu saja di dua kursi sebelahnya. Kali ini Ia hanya mengenakan sebuah hotpant sepaha, serta tanktop pink ketat dengan tali tipis dipundaknya.
Glek.
Tidak terkecuali Zaha, setiap lelaki pasti akan meneguk saliva ketika memandang tubuhnya yang terlihat seksi sempurna. Dua kaki jenjang yang putih dan mulus membuat mata siapapun sulit beranjak ke arah lain. Apalagi ditambah dengan dua gundukan yang membulat sempurna, jika seandainya Zaha tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, sudah bisa dipastikan akan terjadi petumpahan keringat saat ini.
Berusaha untuk mengalihkan hasrat kelelakiannya yang mulai tergoda, Zaha bertanya pada Angel, "Apa yang terjadi dengan Kak Nia? Kenapa sikapnya begitu?" Tanya Zaha sambil matanya sekali-kali melirik kebagian bawah.
Angel menahan senyumnya dengan tetap memasang ekspresi jutek diwajahnya. Dia tahu alasan perubahan sikap Nia adalah karena gadis itu sudah mengetahui identitas Zaha yang sebenarnya. Namun, dia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Zaha dan membiarkan Zaha untuk mencari tahu sendiri.
"Mana Aku tau. Kamu tanya saja sendiri sama orangnya."
"Aneh! Tidak biasanya kak Nia begini. Apa jangan-jangan kamu memberitahu Kak Nia tentang diriku?" Tanya Zaha menebak.
'Yah, itu mungkin adalah alasan yang paling logis kenapa Kak Nia bersikap aneh. Tidak mungkin Kak Nia tau sendiri tanpa ada orang yang memberi tahunya.'
Tersentak dengan pemikiran itu, Zaha menatap curiga ke arah Angel. Sebaliknya, Angel malah bersikap acuh tak acuh. Seolah Ia tidak tahu apa-apa.
"Memberi tahu tentang apa, Za?" Tanya Nia ketika Ia meletakan segelas teh hangat di meja depan Zaha.
"Hmn, tidak apa-apa. Tadi kami hanya sedang membicarakan sesuatu." Ucap Zaha cepat mengalihkan. Jika dugaannya benar dan Nia tau tentang siapa dirinya, itu akan menjadi masalah yang cukup pelik nantinya. Biarlah dia bersikap seperti biasa daripada harus direpotkan dengan memberi penjelasan pada Nia.
Masalah antara dirinya, Anna dan Angel saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi jika harus ditambah dengan Nia.
"Jadi, ada masalah apa?" Tanya Zaha pada Angel.
"Teman Zaha, Chynthia diculik oleh taipan, Abdi Batubara." Jawab Angel singkat dan padat tapi membuat Zaha sampai melotot tajam melihatnya.
Bagaimana tidak?
Angel terang-terangan menyebutkan kata 'teman Zaha' tepat didepan Nia. Itu semakin menguatkan keyakinan Zaha, kalau Angel pasti sengaja melakukan itu semua.
Meski tidak suka dengan penggunaan kalimat Angel, mendengar Chynthia diculik jelas saja membuat Zaha terkejut. Apalagi penculikan itu karena dikaitkan dengan dirinya.
Ia tidak menyangka jika musuh akan menggunakan cara kotor seperti itu untuk memancing dirinya keluar.
"Kapan kejadiannya? Terus disana mereka mendekapnya?" Tanya Zaha geram.
"Kemarin siang saat Chynthia pulang dari sekolah, dijalan menuju ke rumahnya. Orangnya Abdi sendiri yang merilis videonya dan mengirimkan pada anggota geng-mu dipasar tanah kuda. Dimana mereka menyekapnya, mereka masih merahasiakannya untuk saat ini."
"Satu jam setelah anggotamu menerima video itu, Cak Timbul memimpin empat kelompok besar menyerang rumah utama Abdi Batubara di Bilangan, JakPus. Tapi, rumah itu sudah kosong."
"Sepertinya, Abdi sudah memperkirakan kalau anak buahmu akan menyerang mereka. Sadar jika mereka kalah kekuatan, jadi mereka telah pindah ke suatu tempat."
"Kemungkinan tempat itu sudah mereka persiapkan untukmu. Jadi dalam akhir video yang mereka kirimkan, Rio, pria yang menyerangmu terakhir kali, menantangmu secara langsung. Tidak boleh ada empat kelompok besar dibawahmu yang terlibat, atau... mereka akan membunuh Chintya."
"Zaha bisa dalam bahaya kalau nekat menemui orang seperti itu." Sela Nia dengan suara tinggi.
Jelas sikapnya itu, karena dirinya mencemaskan Zaha. Zaha telah berkorban terlalu banyak untuk dirinya, Angel sudah menceritakan padanya apa yang telah dilakukan Zaha pada Roy dan Ronald untuk membalas perbuatan mereka terhadap Nia.
Karena alasan yang sama, Zaha sampai terlibat konflik berdarah dengan keluarga taipan, Abdi Batubara yang mengompori Kelompok Utara untuk berseteru dengan Kelompok Selatan pimpinan Zaha.
Sekarang, Abdi Batubara dan anaknya menculik Chyntia untuk memaksa Zaha keluar. Jelas saja itu adalah jebakan.
Bagaimana Nia bisa membiarkan Zaha memasuki jebakan seperti itu?