Bunian

Bunian
BAB 80



Tidak banyak dari Kelompok Selatan yang bisa kembali ke markas mereka di Pasar Tanah Kuda pasar terbesar di daerah Selatan. Sebagian besar terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Diantara yang berhasil kembali saat itu, dari elit senior hanya Cak Timbul, sementara Jarwo, Mang Lipay dan Cak Nawi terpaksa di larikan ke IGD karena terluka parah akibat bertarung dengan Rio sebelumnya. Dari Elit Junior hanya Indra yang masih bisa bertarung, sementara yang lainnya tidak bisa melanjutkan pertarungan dan segelintir anak buah mereka. Itupun dengan dengan kondisi terluka. Beruntung ada Komar dari kelompok Timur ikut serta saat itu dengan ditemani 5 orang anak buah kepercayaannya.


Hiukali dan Kobang yang menunggu mereka dekat gerbang dibuat terkejut melihat keadaan Cak Timbul dan pasukannya. Keduanya pun sengaja tidak membahas bagaimana pertarungan dimarkasnya Kelompok Timur, karena ada hal lebih genting yang harus mereka hadapi saat itu. Karena alasan yang sama juga, membuat Cak Timbul yang masih terluka terpaksa harus kembali ke markas mereka untuk memberi dukungan mental pada para juniornya.


"Jadi, bagaimana keadaan King saat ini, Cak ?" Tanya Hiukali saat mereka berjalan ke bagian dalam pasar.


"Saat ini,.. Kita hanya bisa mempercayakan King pada wanita itu." Ujar Cak Timbul dengan nada berat sambil menghela nafas dalam.


Bagaimanapun Ia merasa paling bersalah karena terpaksa membiarkan King harus dibawa oleh Hera waktu itu. Padahal Cak Timbul sendiri tidak mengenal Hera atau informasi apapun mengenai dara cantik tersebut. Tapi, Ia sadar mempertahankan Zaha pun ketika itu sangat tidak mungkin bagi mereka. Melihat dari kemampuan bertarung Hera yang bisa mengimbangi Rio, yang bahkan bisa menumbangkan ketiga juniornya. Tapi, melihat dari tatapan mata dan keseriusan gadis misterius itu, Cak Timbul merasa bisa mempercayakan keselamatan King yang sedang kritis saat itu. Dan bahkan mungkin Hera lah satu-satunya peluang yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan King aka Zaha yang sedang sekarat.


"Sebenarnya siapa wanita yang Cak bilang ditelpon tadi ?" Tanya Kobang ikut menimpali juga penasaran.


"Aku sendiri belum tahu siapa Dia. Tapi, Aku yakin dia akan segera menghubungi Kita. Kita tunggu saja!" Jawab Cak Timbul coba meyakinkan semua orang juga pada dirinya sendiri.


"Sekarang berapa lama mereka akan datang kesini ?" Tanya Cak Timbul mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun, sekarang hanya dialah pemimpin senior yang bertanggung jawab terhadap Kelompok Selatan, disaat pemimpin mereka tidak ada.


"Paling lama setengah jam lagi Cak.."


"Astaga, Pamaan.." Ujar seorang wanita sedikit histeris dan memotong ucapan Hiukali.


Wanita yang tidak lain adalah Virangel berjalan terburu dan menubruk Cak Timbul sambil memeluknya cukup erat.


"Kayak Kamu baru pertama kali lihat paman terluka begini saja aja sih, Ra!" Ujar Cak Timbul menenangkan.


Virangel sendiri menghela nafas dalam coba untuk menangkan dirinya. Sudah lama sekali, Ia tidak pernah lagi melihat paman yang merawatnya sedari kecil itu bertarung. Dan ketika melihat Cak Timbul yang terluka kembali, membuat hatinya sempat goyah dan khawatir.


"Oya, King bagaimana Paman ?" Tanya Virangel ketika mengurai pelukannya. Karena melihat hanya beberapa diantara mereka saja yang kembali pada saat itu.


"Nanti Kita bicarakan, saat ini ada hal yang lebih genting yang harus Kita hadapi."


"Jadi, berapa kekuatan Kita yang tersisa ?" Lanjut Cak Timbul manatap Virangel.


"Ditambah rombongan Paman, saat ini kekuatan kita hanya tertinggal 30 persen saja." Jawab Virangel dengan nada berat.


"Bajingan si Kobra itu. Dia tahu kalau kekuatan kita akan jauh berkurang karena pertempuran hari ini. Cuih..." Geram Kobang yang tampak tidak senang dengan aksi culas lawan yang sengaja memanfaatkan kondisi mereka.


"Hmnn kalau tidak begitu, bukan snake julukannya." Ujar Hiukali.


"Tapi, maaf sebelumnya. Kenapa harus ke markas Kelompok Selatan, bukannya menyerang markas Kami ? Bukankah itu akan jauh lebih mudah bagi Kelompok Utara?" Tanya Komar menyela.


"Itu semua karena warisan pendiri Kita."


"Maksud Cak, warisan ketua pertama ? Klan Naga ?" Tanya Komar terkejut.


"Iya, dulu..."


"Cak.... haahh haahhh," Ucapan Cak Timbul terpaksa terpotong begitu ada anak buahnya yang datang dengan nafas tersengal dan terburu membawa sebuah berita penting.


"Ada apa le ?"


"Itu Cak.. hahhh, di-di depan Kelompok Utara menyerang kita."


"Tenang le... berapa orang mereka ?"


"Tidak tau berapa persisnya, kayaknya lebih dari seratus orang Cak."


"Bangsat! Aku akan maju duluan. Biar Ku pancung kepalanya si Kobra licik itu." Ujar Kobang yang memang gampang naik pitam.


"Tenangkan dirimu, Kobang! Kita tunggu mereka disini. Jangan ada yang berpencar dan bertindak sendiri, biarkan mereka masuk. Kita akan hadapi mereka habis-habisan disini." Ujar Cak Timbul tenang, yang memang kaya pengalaman bertarung. Kobang masih terlihat emosi dan ingin cepat bertemu dengan Snake, pimpinan kelompok Utara tersebut.


"Benar kata Cak Timbul, kalau Kita menghadapi mereka sendiri-sendiri justru akan menguntungkan mereka yang akan dengan mudah menghabisi Kita. Peluang terbaik Kita adalah menghadapi mereka bersama disini. Mungkin Kita akan tetap kalah, tapi paling tidak Kita bisa menguras kekuatan mereka. Syukur-syukur salah satu dari kita bisa menghabisi Kobra nantinya." Sela Komar yang ikut membenarkan pendapat Cak Timbul.


"Jangan melihatku seperti itu Paman. Aku tidak akan mundur selangkahpun dari sini, mati satu mati semua. Aku sudah menahan diri untuk tidak ikut menyerang sebelumnya, kali ini aku tidak akan mundur sedikitpun." Ucap Virangel tegas begitu melihat tatapan pamannya yang seolah-olah mengkhawatirkan dirinya. Sepertinya, keyakinan gadis itupun tidak akan mudah tergoyahkan lagi. Tekadnya sudah bulat untuk berjuang bersama-sama.


Cak Timbul hanya tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala melihat keponakan yang sudah seperti anaknya tersebut.


"Bukan Kamu yang Paman yang khawatirkan. Tapi, ketiga gadis yang ada dibelakang sana." Ujar Cak Timbul sedikit bercanda.


"Astaga! Aku lupa kalau ada mereka disini. Biar ku urus mereka dulu, tapi Aku tidak bisa menjamin keselamatan mereka." Kata Virangel sambil berlalu menuju ketiga gadis remaja yang masih berada disana.


Tampak Virangel bicara beberapa saat dengan ketiganya, ada ekspresi kaget dan ketakutan di wajah ketiganya. Lalu dengan diarahkan oleh Virangel, ketiganya dibawa kebagian terdalam pasar, ke tempat yang lebih aman. Karena sebentar lagi disana akan terjadi pertempuran besar. Seperti kata Virangel sebelumnya, Ia sendiri tidak bisa menjamin keselamatan ketiganya. Dengan menempatkan mereka disana paling tidak mereka sedikit lebih aman, soal selamat tidaknya tergantung nasib mereka sendiri.


Tidak lama setelah Virangel pergi, Cak Timbul bicara pada semua rekannya dan juga Komar.


"Mungkin sekarang, saat ini.. Ketua tidak bersama Kita disini. Tapi, perlu untuk kalian ketahui, King lah yang membawa kemenangan pada Kita dengan mengalahkan Cakra hari ini. Sekarang, giliran Kita untuk menjaga markas ini. Jangan biarkan ular busuk dari Kelompok Utara mengacak-acak markas kebanggaan kita.." Ucap Cak Timbul berapi-api, membuat semangat anak buahnya ikut melonjak naik dan membara.