Bunian

Bunian
BAB 69



"Ayolah, bergerak..." Bathin Acera dengan sekuat tenaga coba memaksa untuk mengerakkan tubuhnya kembali, tapi tubuhnya seakan lambat merespon perintah otaknya. Akibatnya tubuhnya oleng ke arah kiri dan kebetulan disaat bersamaan pukulan kanan lawan menyasar kepalanya.


Wossshhh


Ketidaksengajaan tersebut berhasil menyelamatkan nyawa Acera dari pukulan maut lawan.


"AAAAA..."


Acera berteriak kencang dan berusaha keras mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir, hasilnya..


Baaaammmm


Pukulan tersebut tepat bersarang di dahi lawan. Membuat lawan terhuyung kebelakang.


Bughhh


"Haaahhh Haaahhh..."


Acera jatuh tersungkur di lantai dengan bertopangkan kedua lututnya. Dia coba menetralkan nafasnya kembali. Dia belum tahu seperti apa dampak dari pukulan terakhirnya barusan.


Acera mengangkat wajahnya dan melihat kearah lawan, begitu dilihat lawannya sudah jatuh telentang tidak jauh di depannya dalam keadaan sudah tidak bergerak, baru membuat Ia menghembuskan nafas lega dan Ia pun telentang diatas lantai sambil menatap langit-langit.


Entah berapa lama Acera beristirahat, rasanya baru sebentar. Suara yang semula ramai karena pertempuran kini mulai jauh berkurang. Sampai sebuah suara menyadarkannya.


"Sampai kapan lu akan tidur disitu ?" Ucap orang barusan sambil mengulurkan tangan untuk membantunya bangun.


"Anjing, gak bisa biarin orang istirahat aja lu, Sam." Jawab Acera dengan suara serak.


"Bagaimana hasilnya ?" Tanya Acera sambil memperhatikan keadaan Sam.


Ternyata kondisi Sam sendiri tidak kalah parah darinya, bahkan tangan kirinya tampak tertekuk karena patah pada sikutnya.


"Tuh.." Ujar Sam sambil melihat kerah depan mereka.


"Anjing." Ucap Acera spontan begitu melihat pertarungan yang masih berlangsung.


Cak Timbul bertarung seimbang melawat pemimpin pasukan kanan, Yasir. Komar yang ikut membantu mereka juga sedang bertarung hebat dengan mantan rekannya sesama pemimpin pasukan kanan, Rifat.


Dipasukan mereka, dari Kelompok Selatan yang masih tersisa tinggal Indra dan kulup yang masing-masing menghadapi 2 sampai 3 orang lawan sekaligus.


Tidak jauh dari mereka, ada Cak Nawi, Mang Lipay dan Jarwo menghadapi seorang pemuda dengan postur tegap. Ketiganya merupakan pemimpin senior di Kelompok Selatan, jelas tidak diragukan lagi kemampuannya. Namun pada kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Justru ketiganya tampak tidak berdaya menghadapi satu orang pemuda yang jadi lawannya. Pemuda itu adalah Rio. Seorang pasukan elit militer yang sangat terlatih, jelas saja kesenjangan kemampuan terlihat sangat jelas diantara mereka.


Pertarungan puncak seakan hanya menyisakan lakon utama dalam pertempuran besar tersebut, karena di sekeliling ruangan sudah dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang tergeletak tidak berdaya dari masing-masing kelompok. Anak-anak STM yang ikut membantu Kelompok Selatan sudah terkapar. Hanya menyisakan beberapa orang saja yang masih bergerak, termasuk Adam. Itupun dalam keadaan terluka cukup parah. Mereka tampak coba membantu kawan-kawannya yang terluka untuk dibawa kepinggir ruangan agar tidak menganggu pertarungan yang sedang berlangsung.


Disudut lain, Zaha aka King sedang bertarung melawan Cakra yang dibantu seorang pemuda yang belum mereka kenal sama sekali. Yang jelas, Dia adalah pemuda yang berdiri di belakang Cakra dan Rio sebelumnya. Melihat dari gaya bertarungnya, jelas jika pemuda itu juga bukan orang sembarangan. Gerakannya sangat terlatih dengan ditunjang kemampuan fisik tegap dan gerakan yang cepat. Membuat King beberapa kali terdesak.


"KING.." Teriak Acera tertahan dan wajah pucat. Ketika pada suatu momen, dimana King yang sedang teralihkan oleh rekan Cakra, justru tidak sempat memperhatikan ketika Cakra mengeluarkan sebuah pisau kecil dari pinggangnya. Saat Zaha lengah dan disibukkan dengan lawannya, Cakra yang memang pada dasarnya bersifat licik berhasil menikam pinggang Zaha dari belakang.


"Argghhh..."


Buughhhh.


Zaha sempat melayangkan sebuah pukulan kiri dan tepat menghantam wajah Cakra dan membuatnya oleng. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Zaha untuk menjauh beberapa kaki dari kedua lawannya.


Teriakan Acera yang lumayan keras sempat mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang bertarung, tidak terkecuali Cak Timbul. Reflek Ia pun meringsek ke arah Zaha, bermaksud untuk membantunya.


Baaammmm.


"Urgghh.."


Kehilangan fokus sekali saja dalam pertarungan dengan instensitas tinggi bisa saja berakibat fatal dan itu berhasil dimanfaatkan Yasir. Begitu fokus Cak Timbul teralihkan Ia berhasil menghantam dadanya, beruntung Komar yang saat itu bertarung disebelah Cak Timbul cepat menutupi celah yang ada. Sehingga cidera yang dialami Cak Timbul tidak bertambah parah dengan serangan susulan dari lawan.


"Kita selesaikan mereka dulu Cak. Baru setelah itu membantu ketua-mu."


"Haahh.." Walau masih nampak wajah tidak terima dan juga mengkhawatirkan King, tapi saran dari Komar tidak bisa diabaikannya. Dia tidak akan bisa membantu Zaha jika lawannya masih ada.


"Uhukkkk.." Darah segar menyembur dari mulut Zaha.


Zaha memperhatikan sejenak pinggangnya yang tertusuk pisau, ternyata lukanya cukup dalam. Pelan Zaha menarik pisau tersebut keluar, begitu pisau berhasil dicabut keluar tampak darah segar mengalir cukup banyak keluar dari bekas luka tusukan. Untungnya, pemuda yang membantu Cakra sebelumnya tidak langsung menyerang Zaha saat itu. Sehingga Zaha ada sedikit waktu untuk memulihkan kondisinya. Sepertinya Ia tipikal petarung yang sportif, tampak wajah tidak senang darinya begitu Cakra menikam Zaha sebelumnya. Mungkin karena didikan militer membuat Ia menjunjung tinggi sportifitas.


Zaha dengan cepat melepas kaos yang dipakainya dan merobeknya menjadi dua bagian. Sobekan pertama ia lipat menjadi kecil seukuran lingkar luka dipinggangnya dan digunakan untuk menekan luka dan mencegah pendarahan lebih banyak lalu bagian kedua digunakan untuk mengikat pinggangnya.


POV Zaha


Flash back pada kejadian beberapa saat sebelum penusukan.


Aku sendiri tidak menyangka bisa mencapai perjalanan sejauh ini. Penyerangan yang tanpa rencana dan persiapan membuat kondisi Kami terlihat pincang. Apalagi menyerang komplotan preman, langsung di sarang mereka. Jelas ini bukan rencana yang baik, mungkin karena Aku terlalu percaya diri dengan kemampuan orang-orang yang ada bersamaku, membuatku menafikan kekuatan yang dimiliki oleh musuh.


Benar saja, baru saja sampai di lantai dua sarangnya Kelompok Timur. Kekuatan tempur yang Kami miliki mungkin hanya tersisa separoh, dengan banyaknya yang cidera. Beruntung, ada bantuan dari Kelompok Timur yang masih memiliki kesetian pada Ketua terdahulu dan bersedia membantu Kami. Jika seandainya mereka memilih menjadi lawan Kami, maka sudah jelas penyerangan hari ini akan berakhir dengan kekalahan telak Kelompok Selatan.


Ketika mendengar Mbak Virangel bercerita tentang peta kekuatan Kelompok Timur di rumahku tempo hari, membuatku cepat memikirkan rencana ini. Sejak itu, Aku intens mengirimkan orang-orang Kami untuk melacak dan menghubungi siapa saja yang bisa Kami ajak bekerjasama untuk rencana hari ini.