Bunian

Bunian
BAB 78



Dokter Anna duduk termenung dalam sebuah ruangan dengan pandangan yang menerawang jauh, sejenak Ia sampai terlupa kalau statusnya adalah korban penculikan saat itu. Ada sebuah beban yang seakan menggantung dan membuatnya larut dalam alam pemikirannya sendiri. Bukan karena lelah telah melakukan operasi darurat selama 4 jam lebih sebelumnya, karena Ia sudah terbiasa dengan hal yang menjadi rutinitasnya tersebut. Lalu, apakah yang menganggu pikirannya sehingga dalam lelahpun tidak bisa membuatnya beristirahat dan justru larut kecamuk pikirannya sendiri.


Zaha! Ya, Semua itu karena Zaha. Entah apa yang membuat remaja yang bernama Zaha itu begitu dalam menganggu pikiran Dokter Anna sampai sebegitu jauhnya. Ini kali kedua, Dokter Anna harus mengoperasinya dalam keadaan terluka parah. Pertama, ketika remaja itu kecelakaan enam bulan yang lalu. Dan sekarang, remaja berkulit gelap itu kembali harus dioperasinya kembali dan itupun melalui penculikan dirinya. Melihat dari luka-luka yang diterimanya, sudah jelas semua luka itu disebabkan karena remaja itu dipukuli atau bahkan dikeroyok entah oleh siapa. Dan yang membuatnya heran, gadis yang mendampinginya waktu melakukan operasi tadi terlihat begitu sangat mengkhawatirkan Zaha. Entah ada hubungan apa antara keduanya, karena yang terlihat oleh Dokter Anna, hal itu sangat ganjil sekali.


Dari segi usia, wanita tersebut terlihat lebih dewasa dari usianya Zaha. Fisik apalagi, Hera a.k.a Angel terlihat begitu cantik jika harus disandingkan dengan Zaha. Justru kalau keduanya disandingkan, malah akan terlihat seperti sepasang tokoh terkenal dalam novelnya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve, yang berjudul beauty and the beast.


Sepanjang operasi yang menegangkan itu, Hera terlihat sekali begitu mencemaskan keadaan Zaha. Seakan-akan Ia sangat ketakutan jika sampai kehilangan remaja berkulit gelap tersebut. Meskipun begitu, Anna harus mengakui ketegaran yang ditunjukan oleh Hera. Dia seperti wanita yang siap memberikan segalanya demi keselamatan orang yang begitu berharga baginya. Ketika Anna meminta untuk transfusi darah karena Zaha begitu banyak kehilangan darah akibat luka-luka yang dideritanya, tanpa berpikir dua kali Hera langsung menawarkan darahnya. Melihat dari kesungguhan gadis cantik tersebut, mungkin jika seandainya Anna meminta nyawanya sekalipun untuk diberikan pada Zaha, mungkin akan langsung disanggupinya. Walau pada akhirnya, jenis darah Hera dengan Zaha ternyata berbeda. Hera dengan tenangnya langsung memerintahkan teman-temannya untuk mencarikan darah yang sesuai dengan golongan darah yang dimiliki Zaha. Bahkan tidak berselang lama setelah itu melalui teman-temannya, termasuk wanita yang menculik Dokter Anna sebelumnya, beberapa kantung darahpun berhasil didapat. Sehingga operasipun bisa dilakukan.


Namun, ada hal lain yang lebih ganjil. Kenapa melihat hal tersebut justru sangat menganggu pikirannya. Dokter Anna terlihat seakan tidak suka dengan kedekatan keduanya dan tanpa disadarinya, ada rasa cemburu yang tiba-tiba tumbuh begitu saja dalam hatinya. Itulah yang membuatnya gelisah dan membuatnya seakan tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Tidak mungkin Aku cemburu pada remaja yang pernah menjadi pasiennya, begitu kata yang terucap dalam batinnya berulang kali. Tapi, semakin Ia coba untuk menghalau pemikiran tersebut, justru rasa itu semakin kuat mendera perasaannya. Sehingga, 4 jam lebih 10 menit itu menjadi waktu yang terasa begitu menyiksa bagi seorang Dokter Anna.


Disamping itu, entah kenapa setiap luka Zaha yang disentuhnya seakan ikut menghadirkan rasa sakit yang teramat sangat dalam dirinya. Rasa itu pernah dirasakannya dan terasa sangat familiar, dulu.


Ya, dulu. Ketika Ia masih bersama kekasih yang teramat dicintainya. Kekasih yang telah meninggalkan seorang anak yang bahkan dia belum sempat mengatakan pada lelaki yang dicintainya tersebut, sebuah penyesalan yang mendatangkan luka tak tampak namun tidak akan pernah sembuh hingga detik ini.


"Zaha..." Tanpa sadar nama itu terucap lirih dari sela bibirnya.


Teringat, satiap kali pertemuan mereka dahulu pasti dalam keadaan yang hampir selalu sama. Dimana Zaha selalu penuh luka sepulang dari menjalankan suatu misi. Tapi, berangkat dari situ juga yang membuat kedekatan diantara keduanya.


Sampai pada saat malam purnama beberapa bulan lalu, dimana semua mimpi buruk itu bermula.


Hari itu seharusnya bukan jadwal kerjanya Dokter Anna, namun karena Dokter Faisal yang seharusnya bertugas saat itu sedang izin dan berhalangan hadir. Sehingga, mau tidak mau Anna terpaksa menggantikannya. Belum lagi, entah kenapa seharian itu Anna merasakan kegelisahan ganjil yang begitu menjengkelkan dirinya. Karena Ia merasa tidak ada kejadian aneh-aneh pada hari itu yang harusnya bisa membuatnya khawatir seperti saat itu. Ketika malam semakin beranjak naik, kegelisahan itu terasa semakin jelas menganggu dirinya.


Ditambah, malam itu Ia harus melakukan operasi darurat karena adanya seorang remaja yang menjadi korban kecelakaan. Sebenarnya Dokter Anna berniat untuk menolak melakukan operasi malam itu, karena kegelisahan tanpa sebab yang sedang menderanya. Namun, karena tugasnya sebagai seorang Dokter membuatnya tidak bisa mengabaikan pasien yang sedang kritis tersebut begitu saja, apalagi tidak ada lagi Dokter lain yang bisa melakukan operasi pada malam itu.


"Tau gak, malam ini purnama total loh.. jarang-jarang terjadi kan?" Bisik salah seorang seorang perawat sesaat sebelum melakukan operasi.


"Biasanya kalau malam purnama total itu suka ada kejadian mistis loh." Ucap perawat lain menimpali.


"Eh, beneran ?" Tanya temannya antusias.


"Udah, jangan aneh-aneh dung. Gue jadi merinding nih." Ucap perawat junior sambil mengangkat lengannya yang memperlihatkan bulu halus tangannya terlihat berdiri.


"Awas loh.. hihihi.." Timpal temannya malah menakuti.


"Eh, kalian jangan gosip yang aneh-aneh. Cek peralatan dulu sana! Dah lengkap apa belum ?" Tegur salah seorang perawat senior.


Sekilas, itu mungkin akan terdengar sebagai cerita angin lalu. Tapi tidak bagi Dokter Anna. Walau hanya mendengar sekilas, tapi celotehan itu sendiri seperti memberi pengaruh dalam dirinya, semakin meningkat kegelisahan yang membawa firasat aneh dalam bathinnya.


Diluar, Gerhana bulan semakin penuh dan semakin gelap karena cahaya bulan yang semakin tertutupi. Didalam ruang operasi suhu ikut beranjak semakin dingin. Padahal AC ruangan sudah di set dengan suhu normal. Keganjilan tersebut sempat dibahas oleh salah seorang asisten perawat yang membantu Dokter Anna.


"Kok Gue jadi merinding gini yah ?" Bisiknya pada teman disebelahnya.


"Hush..!" Hardik temannya tersebut pelan dan memberi isyarat untuk tidak bersuara lagi, yang bisa saja berakibat terganggunya konsentrasi Dokter Anna yang sedang melakukan operasi. Bukan karena Dia tidak memedulikan apa yang dirasakan oleh teman kerjanya tersebut. Tapi, semata-mata Ia juga ikut merasakan keganjilan yang terjadi malam itu. Sepertinya, teman-temannya yang lain juga begitu. Tapi mereka coba tak menghiraukannya dan lebih memilih berkonsentrasi untuk membantu Dokter Anna yang sedang fokus melakukan operasi.


Tepat saat gerhana bulan penuh total, Dokter Anna dibuat terkejut dengan sebuah penampakan yang terjadi tepat dihadapannya.