
Bunyi benturan dua senjata tajam silih berganti, si pemuda salah milih lawan kali ini. Beda dengan kawannya yang menghadapi Hiukali barusan. Pertarungan ini tanpa ada kata-kata sama sekali, hanya pertarungan brutal.
Ceesssssshhhhh
Serangan menyamping dari lawan berhasil dihindari Kobang dengan sedikit memundurkan tubuhnya kebelakang, walau itu beresiko mengenai perutnya dan benar saja, ujung senjata lawan kembali melukai perut Kobang. Tapi, Kobang yang bertipikal petarung brutal dengan cepat langsung mengayunkan goloknya secara vertikal.
Crassshhhhh
"Arggghhhh..."
Sepersekian detik dari jerit sekarat lawan, darah pun mengucur deras keluar dari lengannya yang putus akibat tebasan golok Kobang.
Tidak cukup sampai disitu,
Bughhhhhhh
Kobang menghantam dada lawannya, membuat sang lawan jatuh telentang diatas lantai. Tanpa memberi jeda sedikitpun, golok Kobang kembali meninggalkan luka yang cukup dalam pada musuh.
Crasssshhhhhh
"Arggghhhhh.."
Teriak kesakitan lawan, begitu golok Kobang menebas pahanya. Walau tidak sampai membuat putus kakinya. Reflek lawannya melayangkan pukulan dengan tangan kirinya yang tersisa, namun...
Crassshhhhh
"Argggghhhhh.."
Teriak lawan lagi semakin kesakitan, karena golok Kobang dengan cepat menebas lengannya. Akhirnya, satu-satunya tangan yang tersisapun ikut putus.
"Hukkk hukksss.." Darah segarpun keluar dari mulut lawan.
"Berani-beraninya Kau menyerang kesini. Dan Kau tahu apa kesalahan terbesarmu ? Hah.." Kata Kobang sambil menjilati darah yang ada di goloknya.
Namun lawannya seakan sudah tidak mampu lagi bicara dan hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Kobang padanya, nafasnya tersengal dan putus-putus.
"Kesalahan terbesar yang Kau lakukan adalah menginjakan kaki disini dan kesalahan besar lainnya, Kau menggorok anak buahku di depanku." Ucap Kobang dengan bengis.
Selesai bicara begitu, Kobang menarik paksa rambut lawannya dan menegakkan tubuhnya.
"KALIAN SEMUA.." Teriak Kobang sambil menatap bengis pada anak buah musuh yang saat itu masih sibuk bertarung, sampai perkelahian berhenti dan mereka semua menatap ke arahnya.
Kobang dengan dinginnya menyilangkan goloknya ke leher lawan.
"Aaarghh..gghhhh." Erangan terakhir dari lawannya sebelum lehernya putus dan bahkan golok Kobang membuat kepala lawan terpisah dari badannya. Semua itu dilakukan Kobang dengan sangat santai sambil tersenyum seperti Ia menikmati setiap momen dimana goloknya membelah setiap lapis daging dan urat dari kepala lawannya. Suasana langsung sunyi dan mencekam.
Melihat itu, nyali seluruh pasukan musuh langsung menciut. Tubuh mereka gemetar, bahkan sampai ada yang terkencing di celana.
"Bantai semua, jangan biarkan hidup satu orangpun." Perintah Kobang dengan kejamnya.
"HUUU YAAAAA.." Teriak anak buah Kobang dengan semakin membara. Dengan mudah mereka berhasil menumpas musuh yang sudah kehilangan nyali untuk bertarung, tanoa memberi ampun sedikitpun.
***
Kembali ke gedung tua daerah Timur yang saat itu sedang terjadi pertempuran antara Kelompok Selatan dan Kelompok Timur. Keadaan menjadi sangat kacau, disana sini banyak tubuh bergelimpangan. Entah pingsan ataupun sudah mati.
Yang masih kuat berdiri, tinggal beberapa orang saja. Pasukan Kiri Kelompok Timur hanya tinggal 4 orang saja, satu sudah berhasil ditumbangkan oleh Cak Nawi, pemimpin senior Kelompok Selatan. Sementara dua orang dari mereka yang memutuskan bergabung dengan Kelompok Selatan sudah tumbang duluan oleh Pasukan Kiri lainnya.
Pemimpin Junior Kelompok Selatan berhasil mengalahkan semua pemimpin Distrik Kelompok Timur, tapi mereka sudah sangat kelelahan. Sehingga memutuskan beristirahat ke pinggir ruangan untuk mengembalikan stamina.
Praktis ditengah hanya tinggal Cak Nawi, Lipay dan Jarwo melawan 4 orang pasukan Kiri Kelompok Timur yang masih tersisa. 3 VS 4, sekilas terlihat tidak adil dan terkesan berat sebelah. Namun kenyataan dilapangan tidaklah demikian, karena baik Cak Nawi dan dua petarung tua lainnya, tidak terlihat gentar sekalipun.
"Hehehe, ini seperti masa lalu saja." Tawa Jarwo bersemangat.
"Iya, seperti masa lalu." Sambung Cak Nawi.
"Saya tidak tahu masa lalu mana yang kalian ingat. Yang jelas satu hal, kita wajib MENANG." Imbuh Lipay membakar semangat dua rekannya.
"Pastinya. Karena saat ini hanya tinggal Kita yang jadi pertunjukan utamanya, jangan sampai memberikan tontonan yang memalukan buat para junior." Timpal Jarwo sambil mengkode untuk melihat ke sekeliling mereka.
"Anjing, baru sadar Saya. Kenapa pada tepar saja kalian!" Ujar Lipay dengan suara sedikit dikeraskan pada para juniornya itu.
"Istirahat dulu Mang. Kalau Mamang butuh pemain bantuan, tar Kami bantu back up dah." Ujar Acera berseloroh dengan nafasnya yang masih tersengal.
"Kepalamu pemain bantuan, kirain main bola apa. Baru gitu aja sudah loyo! Kalian menonton saja dari sana, akan Kami ajarkan bagaimana bertarung yang sebenarnya." Umpat Mang Lipay.
Acera dan teman-temannya hanya bisa mengangkat jempol untuk menyemangati. Karena untuk bicara pun mereka sedang terlihat kesusahan.
"Tenang saja King! Kami jika bertarung 1 lawan 1 mungkin tidak akan sehebat Codet. Tapi akan berbeda jika Kami bertarung sebagai tim." Kata Cak Timbul menjelaskan, sambil matanya tidak luput sedikitpun memperhatikan pertarungan yang sedang berlangsung.
Benar apa yang dikatakan Cak Timbul barusan. Melihat Cak Nawi dan dua orang rekannya bertarung, mengingatkan Zaha akan pertarungannya dengan Arman dan Rio dulu saat mereka masih mendukung Codet, pemimpin Kelompok Selatan sebelumnya. Namun bedanya, kali ini teknik bela diri kombinasi itu dilakukan oleh tiga orang sekaligus.
Jika dua orang seperti Arman dan Rio saja, bisa membuatnya keteteran dan jikalau tidak dibantu oleh Zulham ketika itu, entah Zaha bisa mengalahkan mereka atau tidak. Benar saja, 4 orang Pasukan Kiri dari Kelompok Timur yang memiliki kemapuan diatas rata-rata itu dibuat kewalahan oleh kerjasama ketiganya.
Baaaaaammm Baaammmm Baaammmmm
Baaaaaammm Baaammmm Baaammmmm
Baaaaaammm Baaammmm Baaammmmm
Dengung pukulan kuat dan benturan akibat jual beli pukulan terdengar menggema silih berganti didalam ruangan yang sangat luas tersebut.
Dalam hati, Zaha sempat bergidik ngeri. Entah karena memang sudah takdir yang mengatur jalannya seperti saat ini, karena jika saat itu yang mengawal Codet di rumahnya juragan Cintung adalah para petarung senior ini, mungkin akan lain ceritanya.
Ditengah pertarungan, keempat musuh yang sudah mengepung Cak Nawi dan rekannya masih belum bisa melumpuhkan satupun diantara ketiganya. Saat satu keteteran dan terdesak, maka dua lainnya langsung menggantikannya. Saat posisi satu kosong maka yang lainnya segera datang mengisi, begitu terus sampai keempat lawannya kelelahan karena situasinya seperti berputar-putar terus seperti itu dari awal. Mereka sadar jika kemampuan mereka setara dengan Cak Nawi CS, karena itu mereka akan memanfaatkan keunggulan dari jumlah mereka.
Mereka tidak menduga sama sekali jika kombinasi ketiganya justru membuat mereka kepayahan menghadapinya, walau dari segi jumlah mereka lebih unggul.
"Pisahkan mereka," Bisik salah seorang dari mereka. Tampak 3 rekan lainnya mengangguk tanda setuju dengan rencana rekannya.
Tapi, belum sempat mereka menjalankan rencana tersebut. Jarwo yang terkenal dengan kelincahanya, sudah menyerang terlebih dahulu. Sasarannya orang paling kiri, yang terlihat dalam kondisi cukup parah diantara keempatnya.
Kraaakkkkkk
Belum hilang keterkejutannya, ternyata Mang Lipay sudah menyarangkan pukulan susulan. Saat pukulan Jarwo masuk pada lawan, Mang Lipay langsung bergerak kebagian bawah, disaat tubuh lawan oleng Ia masuk dari bawah dan langsung membanting musuh kelantai dengan posisi kepala duluan, dan leher Pasukan Kiri itupun langsung patah seketika karena saking kuatnya bantingan dari Mang Lipay.
Baaaaaammmmm
Sempat teralihkan, tanpa disadari pukulan Cak Nawi menyisir orang disebelahnya. Namun dengan cepat berhasil ditangkis lawan, tapi tetap saja membuatnya terkejut sehingga dua rekannya menjauh beberapa langkah.
"BANGSAT!!" Maki mereka emosi begitu melihat temannya yang tergeletak tanpa nyawa.
Cak Nawi bukannya mundur, malah langsung meringsek maju tanpa menunggu dua rekannya terlebih dahulu.
Sekilas terlihat seperti serangan bunuh diri yang tanpa perhitungan, karena Ia meringsek maju seorang diri.
Dua orang musuh yang berada agak jauh langsung maju, coba mengeroyok Cak Nawi. Tanpa mereka sadari, justru itu gerakan tipuan pengalih perhatian dari Cak Nawi. Karena setelah itu dua serangan kuat langsung menyisir titik vital lawan. Satu pukulan andalan tangan kanan Jarwo masuk terlebih dahulu, menghantam kepala lawan. Satu lainnya, tendangan terukur dari Mang Lipay tepat menghantam dada lawan.
Buggggghhhhh Bughhhhhhh
"Arrrggghhh..." Teriak keduanya terhempas kelantai.
Orang pertama yang tadi diserang oleh Mang Lipay jadi teralihkan konsentrasi karena dua rekannya terhempas tepat disebelahnya. Namun hanya sesaat, karena berikut yang pasti akan diinggatnya adalah sebuah tendangan kuat dari Mang Lipay yang tepat menghantam jantungnya.
Bughhhhhhhhhhh
Baaammmmmmm
Ia terjatuh disebelah rekannya, dengan kondisi yang sangat menggenaskan. Tendangan dari Mang Lipay sangat fatal, mengenai tepat dibagian jantungnya. Membuatnya menggelepar kesakitan yang teramat sangat, sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Dua rekannya yang sekaratpun dengan mudah dihabisi oleh Jarwo dan Cak Nawi.
Begitu sudah berhasil memastikan kemenangannya, ketiganya mengangkat tangan ke atas, "HUU YAAAAAA.." Teriak mereka lantang.
Semua orang dari Kelompok Selatan yang masih sadar, ikut mengangkat tangannya ke atas dan menjawab teriakan penyemangat dari senior-senior mereka tersebut.
"HUUUUU YAAAAAAAA."
Zaha langsung berdiri dan berjalan didepan mereka semua. Melihat itu, semua orang dari kelompok selatan yang masih sadar ikutan berdiri mengikuti pemimpin mereka. Kelompok Timur yang membantu mereka sebelumnya, hanya tersisa Darko dan Badak.
"Selanjutnya tinggal Cakra dan setelah ini, Kita akan pulang mengabarkan kemenangan ini pada keluarga Kita yang mereka sakiti. Untuk keluarga Kita.." Ujar Zaha sambil menatap semua anggotanya.
"HUUUU YAAAAAAA..." Teriak Zaha lantang.
"HUUUU YAAAAAA." Teriak semua anak buahnya.
Kelompok Timur yang belum mengerti arti teriakan itu, reflek malah mengikuti teriakan pembakar semangat dari Kelompok Selatan itu.
"Untuk King, untuk Kelompok Selatan dan untuk keluarga kita yang telah berani mereka sakiti. MAJUUU.." Tambah Cak Timbul.
Dengan dipimpin Zaha, mereka semua beranjak ke lantai atas, dimana Cakra dan pasukan kanannya sudah menunggu.