
Vina sendiri seakan terpaku disudut ruangan dengan syok, nafasnya sesak bahkan untuk bersuara pun suaranya seakan tercekat. Tanpa sadar, Ia sudah kencing di celananya. Tubuhnya bergetar hebat melihat kengerian yang terjadi tepat didepan matanya, cahaya dari handphone mereka sudah tidak beraturan bergerak tanpa arah menyinari cipratan darah yang beterbangan ke semua arah. Sampai Ronal dan ke tiga temannya terhempas ke dinding ruangan, ditutup dengan Zaha yang mengangkat tinggi tubuh Roy ke atas, lalu membantingnya ke atas meja kaca ruang tamu.
Praaangggggg
"Arggghhkkk.."
Teriak Roy kesakitan diiringi dengan kaca meja yang pacah berhamburan. Entah ada yang masuk ke tubuh Roy atau tidak, yang jelas tubuhnya sudah penuh luka akibat serangan dari benda tajam. Kelimanya masih hidup, tapi dalam kondisi yang sudah kritis. Zaha sepertinya tidak akan berhenti dan berpuas diri hanya dengan luka yang telah diberikannya pada Ronal dan kawanannya.
Zaha menarik paksa tubuh mereka satu persatu, lalu dikumpulkan ditengah ruang tamu dengan menyanderkan tubuh mereka satu-persatu ke dinding.
"Uhuhhkk... a-apa yang Kau inginkan ? hukkkk." Tanya Ronal pasrah disela batuknya yang sudah mulai banyak mengeluarkan darah dari mulutnya, tangan kirinya sendiri berusaha menekan lengan kanannya agar darahnya tidak semakin banyak keluar dari potongan lengannya tersebut. Ruangan itu sendiri, sudah layaknya ruang penjagalan, karena darah yang sudah memenuhi setiap inci ruangan tersebut.
"Am-ampunii k-kami." Mohon teman Ronal lainnya.
"A-Apa salah kami padamu ?" tanya Roy menimpali dengan suara ketakutan.
Zaha tidak menjawab satupun dari pertanyaan mereka, hanya pandangan tajam dan penuh kemarahan. Walau Ronal dan teman-temannya tidak bisa melihat jelas wajah Zaha karena gelap dan penutup wajah yang dikenakannya, namun mereka bergidik ngeri begitu menyadari tatapan Zaha yang dingin dan tajam ke arah mereka, layaknya tatapan malaikat pencabut nyawa.
Zaha berjalan ke arah teman Ronal yang duduk paling kiri, lalu dengan dinginnya Ia menusukkan Wakizashinya tepat ke bagian tengah bawah, antara kedua pahanya.
"Aghhhhhkkkk...."
Pria itupun berteriak sejadi-jadinya karena kesakitan yang tidak terperi dibagian selangkangannya, matanya sampai terbelalak hendak keluar karena saking kesakitannya. Membuat keempat pria lainnya ikut bergidik ngeri dan ketakutan, walau tidak bisa melihat jelas secara lansung apa yang telah dilakukan oleh penyerang mereka. Jelas, apa yang dilakukan oleh orang bersetelan serba hitam itu sangat mengerikan sehingga bisa membuat teman mereka sampai menjerit sekeras itu. Sampai pada akhirnya, pria yang disiksa oleh Zaha itupun tidak bergerak lagi dengan banyaknya pendarahan yang keluar dari area selangkangannya.
"Janccookkk... APA MAUMU SEBENARNYA ? SETAANNN.." maki Ronal dengan putus asa, karena Zaha sama sekali tidak mengubris satupun pertanyaan mereka. dan, kini Ia lanjut dengan teman satunya yang duduk dibarisan kedua.
"Tidak.. tidak tidak, Gue mohon jangan bunuh Guee.. Gue akan turutin semua kemauan Lu, asal lu mau ngampunin nyawa Gue.." mohonnya ketakutan.
Cessssshhh
"Arrggghhhhhh... bangsaaattt.. argghhhh.." teriaknya penuh kesakitan, karena Zaha tidak langsung mengeksekusinya seperti pria pertama, melainkan menancapkan pedangnya ke pahanya dan tembus kebawah hingga ke tulang pahanya.
Belum hilang kesakitan yang dideritanya, kali ini Zaha langsung menusuk bagian selangkangannya. Tidak dengan cepat seperti pria pertama, melainkan dengan sangat pelan, sehingga derita yang ditanggungnya jadi lebih lama dan lebih menyakitkan.
"Bunuh.. BUNUUHHH saja gue, anjinggg." Teriaknya dengan putus asa. Matanya sampai memerah bukan lagi oleh air mata, tapi karena darah yang keluar dari matanya.
Crreessshhhh
"Aarrgghhhkk.." jeritan pria kedua pun langsung menghilang begitu Wakizashi nya Zaha menggorok lehernya, darah pun mengucur deras dari leher pria kedua yang terkoyak seiring nyawanya yang terlepas dari raganya.
"Aam-puunn.. j-jangan bunuh Guee." Pria ketiga menangis ketakutan.
Crassshhh...
"Arrgghhhkkkk.." teriak kesakitan pria tersebut kencang. Karena tusukan Zaha tepat menembus bagian tengah lengannya, antara tulang pengumpil dan tulang hastanya, dan tembus sampai ke dinding. Sehingga lengannya menggantung ke atas.
"Argghhkkkk.."
"Aamppuunnn.. Gue mohon jangan bunuh Gueee.. tolong ampuni nyawa Gue. G-Gue mohon.. haahh haahhh." Mohonnya ketakutan diantara isak kesakitan yang keluar dari bibirnya.
Zaha mendekat kerahnya, lalu membisikan sesuatu padanya, "Apa Kamu mengampuni wanita yang Kamu rekam siang tadi ketika Ia memohon ampun pada kalian ?"
"Apa Kamu memberi belas kasihan ketika Ia meminta dikasihani ?"
"Ketika Ia memohon untuk tidak diperkosa ? Tidak, Kamu malah asik merekamnya. Merekam jerit pilu kesakitannya. dan menikmati penderitaan gadis itu." Bisik Zaha dengan suara yang menahan keperihan mendalam dan membuatnya ingin melampiaskan semua rasa sakit yang diderita oleh Kakaknya pada mereka semua yang telah menyakiti Kakaknya tersebut.
Pria ketiga terbelalak ketakutan mendengar bisikan Zaha yang sangat menakutkan itu, "Ka-kamu ?.."
Bughhhhh
"Arrgghhhkk.." belum sempat Ia bersuara lebih lanjut, Zaha memukul keras tenggorokannya dengan keras.
"Si-Siapa sebenarnya Kamu ?" tanya Ronal.
Namun, lagi-lagi Zaha tidak mengindahkannya. Ia berjalan ke dalam ruangan tempat Ronal dan kawan-kawannya memperkosa Nia siang tadi. Didalam sana, ternyata masih ada dua wanita yang sedang dalam keadaan terikat dan sepertinya baru saja diperkosa oleh Ronal dan kawan-kawannya. Zaha hanya menarik nafas dalam, melihat kebiadaban yang telah dilakukan oleh Ronal dan teman-temannya. Ternyata bukan hanya Kakaknya saja yang jadi korban kebejatan mereka, itu membuat Zaha semakin membulatkan tekat untuk menghukum mereka semua.
Zaha melepaskan ikatan mulut si Wanita, "to-tolong lepaskan kami.." ucap keduanya lirih memohon pertolongan begitu penutup dimulutnya terlepas. Lalu, Zaha melepaskan ikatan keduanya.
"Pakai pakaian kalian dan segera pergi dari sini." Perintah Zaha. Membuat keduanya seakan tak percaya jika masih ada orang yang akan menolongnya setelah keputusasaan yang mendera mereka. Tanpa memperhatikan keduanya, Zaha mengambil kamera yang ada didalam ruangan tersebut, lalu berjalan keluar ruangan, diikuti oleh kedua wanita korban perkosaan tersebut.
Begitu sampai diluar ruangan, langkah keduanya terhenti begitu melihat kengerian yang ada di ruang tamu. Keduanya menjerit tertahan, bahkan tubuh keduanya seakan membeku dan tidak bisa bergerak.
Zaha meletakan kamera ditengah ruangan, lalu Ia menshoot ke tengah ruangan tepat ke arah Ronal dan yang lainnya.
"Kalian pergi dari sini. Ajak juga dua orang wanita yang ada dalam kamar itu." perintah Zaha menyadarkan kedua wanita korban perkosaan itu dari kebekuannya. Mereka membuka pintu kamar satunya, yang didalamnya sudah ada dua wanita korban perkosaan lainnya yang sudah berdiri saling berpelukan ketakutan. Keempatnya berjalan meninggalkan ruang tamu, namun sebelum keluar, salah seorang menatap Zaha, "Te-terima kasih." Ucapnya terbata.
"Lupakan kejadian disini. Lanjutkan hidup kalian." Seru Zaha lagi. membuat keempat wanita tersebut hanya bisa menghembuskan nafas lega, karena bagaimanapun keempatnya telah terlepas dari jerat Ronal dan kawan-kawannya. Walau, kehormatan mereka sudah terenggut! Namun, paling tidak mereka masih hidup dan masih bisa melanjutkan masa depannya.
Setelah kepergian keempat wanita tersebut, Zaha kembali mengalihkan perhatiannya pada keempat targetnya yang masih hidup. Vina, walau tidak terluka, namun karena syok dan ketakutan yang teramat sangat membuat tubuhnya seakan lumpuh dan tidak bisa bergerak dari sudut ruangan.
"Kita lanjut yah!" Ujar Zaha santai, namun tekanan suaranya membuat ketiga pria tersebut semakin gemetar ketakutan. Ronal sendiri sudah tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Zaha, semua keberanian dan nyalinya seakan menciut begitu melihat kekejaman Zaha yang tanpa rasa kasihan sama sekali, menyakiti dan membunuh teman-temannya.