Bunian

Bunian
BAB 72



Dasshhh


Dengan gerakan yang cukup cepat, Aku berhasil membloknya dengan kedua tanganku. Tapi, gerakan tersebut membuat pertahanan bawah jadi terbuka cukup lebar. Alhasil, gerakan Cakra yang terlihat seperti kepiting tadi, menendang dengan gerakan seperti kait dan menghantam telak tulang keringku.


"Argghhh.."


Rasa sakit di tulang kering barusan membuat tubuh sedikit membungkuk dan membuatku jadi sedikit lengah, tanpa Kuduga pukulan tangan kiri Cakra kembali masuk menghantam rahang kananku.


Wajahku sampai oleng ke kiri karena saking kuatnya pukulan Cakra.


Tapi, sepertinya Cakra benar-benar tidak ingin memberiku jeda sedikitpun. Gerakan-gerakan anehnya membuatku hanya bisa bertahan.


Bughhh Bughhh Bughhhh


Berulang kali Ia coba menyerang titk vitalku.


Gila! Aku benar-benar dibuat terdesak oleh serangan Cakra yang bertubi-tubi. Untung latihan berat yang Aku lakukan sebelumnya sudah membuat kondisi fisikku meningkat cukup drastis, jika tidak mungkin pertahananku sudah tembus.


Eh, bicara tentang pertahanan membuatku jadi teringat akan gaya bertarungnya Cak Timbul tadi.


Dari sekian banyak pukulan Cakra, pada satu kesempatan Aku sengaja membiarkan masuk satu pukulannya. Itu satu dari pukulan yang mulai bisa Kutebak arah serangannya.


Baammmmm


Mataku sempat sedikit berkunang karena serangan tangan kirinya, walau sudah kuprediksi gerakannya tapi tetap saja sangat sakit jika terkena pukulan tersebut secara langsung. Membuat posisi tubuhku jadi sedikit merendah. Saat oleng seperti, Aku jadi menyadari suatu hal yang sempat luput Kuperhatikan sebelumnya. Ternyata gerakan beladiri anehnya Cakra memiliki satu kelemahan.


Gerakannya sulit Kuprediksi karena sedari awal Aku hanya fokus pada serangannya, dan luput memperhatikan suatu hal yang penting yaitu ada bagian kakinya terlihat pasif saat Ia melancarkan serangan dengan dua tangannya.


Kesempatan itupun Aku manfaatkan, saat Cakra melihat tubuhku oleng dan hendak mau jatuh kelantai Ia kembali menyerang bagian kepalaku.


Wosshhh


Baaammm


Kraaaakkk


Saat hendak jatuh ke arah depan, Aku melihat posisi kaki kanan Cakra yang berada paling dekat denganku. Dengan cepat Aku memanfaatkan arah jatuhku, dan melesakkan serangan kaki kiriku untuk menghantam kanannya Cakra.


Sempat Kudengar bunyi tulang yang patah dan serangan Cakra jadi terhenti. Aku sadar itu jadi kesempatan emas untuk serangan balik. Dengan sedikit meniru gerakan Cak Timbul sebelumnya, bedanya Aku melakukan dengan posisi tegak dengan menarik tangan Cakra yang telah terjulur kedepan, saat tubuhnya terhuyung ke arahku, lututku langsung menghantam dahinya, lalu kususul dengan gerakan setengah salto untuk melesakan tendangan kaki kiri yang tepat menghantam dada Cakra dengan cukup telak.


Bughhhhhh


"Arggghhh.."


Tubuh Cakra sampai terlempar beberapa kaki dan terhempas ke dinding ruangan. Dirinya sempat terdiam beberapa saat, tampak tatapan penuh dendam dari wajahnya. Mungkin Dia tidak menduga akan dibuah jatuh olehku sebelumnya.


Aku sendiri menetralkan nafas dan memulihkan tenagaku yang cukup terkuras karena menahan serangan Cakra sebelumnya.


Aku tidak tahu, apa ini terlalu cepat atau sudah terlalu lama. Tapi, yang jelas suasana mulai terasa hening dilantai dua gedung ini.


Rupanya yang masih kuat tidak berapa orang.


Tidak saatnya memikirkan yang lain, Aku percaya pada teman-temanku jika mereka pasti bisa mengalahkan lawan-lawannya. Yang jelas Aku harus fokus pada lawanku saat ini, karena Aku tidak tahu seperti apa kemampuan dua orang yang ada disana. Hmnn, keduanya sudah berdiri dan mengamati diriku.


Aku tidak boleh lama-lama, kalau bisa menyelesaikan Cakra secepat mungkin.


Cakra pun sudah mulai berdiri, walau dengan agak kesusahan. Kaki kanannya benar-benar patah akibat tendanganku sebelumnya. Hmn, Ini bisa jadi kesempatanku untuk bisa menumbangkannya lebih cepat.


Niatku untuk bisa menaklukan Cakra secepat mungkin harus tertunda, begitu pemuda yang berdiri di sebelah Rio maju dan berdiri di sebelah Cakra.


Terlihat Cakra memprotesnya dan seperti menolak untuk dibantu. Namun, pemuda itu terlihat santai dan tidak mengindahkan perintah Cakra. Melihat dari sikapnya,  bisa Kupastikan kalau Dia tidak dibawah perintah Cakra.


"Hem, masih bisa sombong lu. Sudah Gue duga, gaya bertarung lu emang unik, Cakra. Tapi, itu tidak akan ada artinya jika yang lu hadapin adalah orang yang terlatih di militer."


Deg.


Bagaimana bisa dia..?


Semua tanyaku terjawab sendiri begitu pemuda itu bicara padaku.


"Lu bocah yang menarik. Sebenarnya gue gak mau mengambil job ini, membunuh seorang bocah tidak ada tantangannya. Tapi, begitu melihat cara bertarung lu, pikiran gue jadi berubah, hehehe."


Hmn, jadi Dia ini bukan anak buah Cakra dan sengaja dibayar untuk menghabisi diriku. Karena itu juga, Ia tampak cuek dan tidak menghiraukan ucapan Cakra. Berarti yang membawanya kesini adalah Rio.


"By the way, lu belajar gerakan bela diri ala militer seperti itu darimana?"


Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali. Dia orang yang pintar, dan mungkin bagian pasukan elit juga di militer. Salah bicara, justru akan membuka jati diriku yang sebenarnya.


"Hehehe rahasia ya. Yah lagian gak penting juga sih. Karena setelah ini, lu  hanya akan mengingat gue di alam kubur." Ujarnya sambil tersenyum bengis karena tidak kunjung mendengar jawaban dariku. Setelah bicara begitu, ia membuka jaket hitam dan kaosnya sehingga bertelanjang dada.


Ia seperti sengaja memamerkan tubuhnya yang terlihat berotot dan kekar, tampak juga beberapa bekas luka yang menyiratkan seberapa keras kehidupan yang telah dijalaninya.


"Bersiaplah. Jangan bikin Gue kecewa karena telah menghadapi lu." Ucapnya sambil berjalan pelan ke arahku.


Langkahnya terlihat tegap dan bertenaga.


Ketika Ia sudah berada dua langkah di depanku, Aku memilih untuk menyerang duluan.


Baaammm


Pukulan kananku bisa ditangkis dengan sigap. Lalu dengan tidak kalah cepat Ia membalas dengan sebuah jab kiri.


Dassshhh


Aku menangkis dengan telapak tangan kiri. Sambil melayangkan tendangan lurus kedepan, kearah perutnya.


Baaaamm


Rasanya tendanganku cukup kuat, tapi seperti tidak berefek apa-apa padanya. Justru Ia berhasil menyentak tubuhku sampai mundur selangkah kebelakang.


Ia tampak tersenyum senang hanya karena jual beli 2 pukulan barusan.


"Not bad."


Sesaat sebelum Kami memulai pertarungan lagi,  sekilas kulihat Cak Nawi, Pak Jarwo dan Mang Lipay menuju ke arah tempat Rio berdiri. Sepertinya mereka bertiga telah berhasil menumbangkan lawan-lawannya dan berniat langsung menghadapi Rio.


Semoga saja duet ketiganya mampu mengalahkan Rio. Jadi untuk sementara Aku bisa fokus menghadapi lawan yang ada didepanku ini dan tentu saja juga Cakra.


Wosshh


Baru saja kakiku hendak bergerak ke arah lawan, tiba-tiba Ia sudah melancarkan serangan terlebih dahulu ke arahku. Beruntung Aku berhasil merunduk tepat waktu untuk mengindari serangannya. Lalu dengan sebuah uppercut Aku coba mengcounter serangannya.