
Apa yang tampak didepannya tersebut, membuatnya sampai terhenti beberapa saat. Bagaimana tidak, didepannya tampak bayang-bayang Zaha, kekasihnya yang seakan sedang tersenyum padanya. Bayangan tersebut lalu memudar dan seakan-sakan menyatu dengan sosok remaja yang tengah dioperasinya.
Fenomena tersebut seakan begitu sulit dipercaya, Dokter Anna menggeleng-gelengkan kepala seakan Ia pun tidak bisa mempercayainya dan menganggap bayangan tersebut hanya halusinasinya semata.
"Dok.. Dokter Anna ?" Sapa perawat disebelahnya menyadarkan dirinya, karena cukup lama Dokter Anna terdiam. Begitupun dengan perawat lain yang menatapnya dengan heran.
""Eh ya ?" Ujar Dokter Anna tergagap.
"Anda tidak apa-apa Dok ?" Tanya si Perawat kembali.
Dokter Anna melihat kembali kearah remaja yang sedang dioperasinya untuk memastikan kembali apa yang barusan dilihatnya. Ternyata tidak ada perubahan apa-apa dan membuat Dokter Anna berkesimpulan kalau apa yang dilihatnya barusan itu hanyalah halusinasinya semata.
Namun yang sempat mengejutkannya adalah respon remaja yang memiliki nama yang sama dengan kekasihnya tersebut. Sosok remaja tersebut seakan terkejut ketika sadar dan bertemu dengannya untuk pertama kali, seakan Ia sudah mengenal Dokter Anna sebelumnya. Dan tatapan itu, jelas itu adalah tatapan kerinduan dari seseorang yang sudah lama tidak dijumpainya. Tapi, kenapa ? Bahkan Dokter Anna sendiri tidak pernah kenal dengan sosok remaja tersebut.
Keanehan demi keanehan membuat Dokter Anna seakan merasa begitu dekat dengan remaja tersebut terus saja berlanjut. Mulai dari kejadian di rumah sakit, sampai ketika semaja tersebut melakukan terapi dikliniknya.
Bagaimana bisa seorang remaja bisa berpikir layaknya seorang dewasa ? caranya menatap bahkan sampai nada bicaranya juga terasa sangat familiar bagi Dokter Anna.
Ketika Zaha remaja bertemu dengan Zanna, putrinya di Klinik waktu itu dan juga reaksi keterkejutannya begitu Dokter Anna menyebut siapa nama putrinya, membuat pertanyaan dan rasa penasaran Dokter Anna semakin menumpuk tentang siapa sosok Zaha yang sebenarnya.
"Zanna."
"Zaha dan Anna.."
Dokter Anna sampai tersentak kaget begitu Zaha mengucapkan dua kata tersebut, walau hanya dalam bentuk gumaman saja. Tidak mungkin remaja tersebut sekedar bergumam kosong tanpa isi sama sekali. Atau katakan saja Ia bermaksud menggodanya seperti kebanyakan pasien pria yang tertarik pada dirinya, ekspresi Zaha remaja saat itu masih terbayang jelas dalam ingatannya, Ia terlihat begitu serius dan ekspresi terkejutnya ketika Ia menyebutkan nama putrinya.
Anna coba mencecarnya dengan pertanyaan waktu itu, tapi remaja tersebut terus berkilah dan mengalihkan pembicaraan. Sampai Anna memutuskan tidak lagi mengejarnya dengan pertanyaan, dikarenakan adanya asistennya waktu itu.
Puncak dari semua itu, sore tadi ketika Ia pulang dari rumah sakit. Tanpa disadarinya, Ia sudah dibuntuti semenjak keluar dari gedung rumah sakit dan begitu Ia hendak masuk ke dalam mobil, Dokter Anna dibekap oleh seseorang hingga jatuh tak sadarkan diri.
Ia begitu ketakutan saat itu dan coba memikirkan apa motif dari orang-orang yang menculiknya. Ia dibawa dengan penutup kepala, sehingga saat Anna sadar ketika diperjalan tidak tahu dimana posisinya berada dan juga hendak dibawa kemana.
Semula, Dokter Anna berpikir kalau penculiknya atau bahkan orang yang menyuruh penculiknya tersebut adalah orang yang mengerikan dan berniat untuk mencelakakan dirinya. Siapa yang menyangka, ketika pertama kali penutup kepalanya dilepas justru yang ditemui adalah kondisi seseorang yang sedang kritis. Anehnya, justru Ia diminta untuk menyelamatkan seorang remaja yang sedang kritis tersebut dengan kondisi badan penuh luka, remaja itu tak lain adalah Zaha.
Dokter Anna tidak lagi memikirkan kondisinya yang saat itu merupakan korban penculikan, nalurinya sebagai seorang dokter membuatnya berkonsentrasi penuh dan berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasiennya.
Disitulah, awal mula puncak rasa penasarannya. Setiap luka yang disentuhnya dari tubuh Zaha remaja, membuat perasaan yang sudah lama tidak pernah lagi dirasakannya itu seakan keluar begitu saja.
"Tidak.. Orang didepanku ini adalah orang lain, bukan 'Dia'!" Bathin Anna coba menyangkalnya.
Tapi, kenyataan seakan berkata lain.
Berulang kali gadis cantik disebelahnya itu bergumam lirih dan penuh kekhawatiran serta diiringi air mata kesedihan yang membasahi kedua pipi mulusnya, " Za, Kumohon jangan mati lagi. Aku tidak bisa kehilangan dirimu lagi.."
Deg.
"Apa maksudnya ?"
Gumam Anna mengulang apa yang diucapkan oleh Angel saat Ia mengoperasi remaja tersebut.
"Oh tidak, jangan bilang kalau..." Satu kalimat terakhir membuat Anna tersentak dengan satu kesimpulan yang seakan sulit dipercayainya.
Tapi, semua kepingan pertanyaannya selama ini seakan membenarkan apa yang dipikirkannya saat itu.
"Tapi, siapa gadis cantik itu ? Apa karena gadis itu Zaha pergi meninggalkanku ?" Lanjutan pertanyaan dialam pikirannya itu membuat Anna syok memikirkan kemungkinannya.
"Tidak.. tidak.. Aku harus membuktikannya sendiri." Gumam Anna pelan.
Lalu Dia pun berdiri dan berjalan pelan keluar ruangan dan menuju ruangan dimana Zaha dirawat. Anna sudah membulatkan tekat untuk membuktikannya sendiri.
Pintu kamar tampak sedikit terbuka, namun Anna jadi urung melangkah kedalam begitu terdengar ada suara seorang wanita dari dalam kamar. Posisi wanita tersebut membelakangi dirinya sehingga Ia tidak melihat kehadiran Dokter Anna yang berdiri didepan pintu.
"Za, Aku tahu kamu bisa melewati semua ini.."
Sama-samar terdengar ucapan sang wanita dengan Zaha yang masih belum sadarkan diri diatas tempat tidur. Rasa penasarannya membuat Anna tidak langsung pergi saat itu, Ia menunggu dan menguping pembicaraan si wanita. Ia yakin akan menemukan jawaban yang dicarinya belakangan ini.
"Kamu ingat.."
"Kamu pernah janji, tidak peduli seberbahaya apapun. Walau sekaratpun, Kamu akan berusaha kembali.."
Anna mulai tegang mendengarnya, Ia seakan cemas menunggu kata-kata berikutnya. Cemas jika apa yang ada dalam pikirannya saat itu benar-benar menjadi kenyataan. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Kamu telah membuktikannya Za! Kamu bahkan berhasil kembali dari kematian.. Walau dalam raga yang berbeda..."
Deg deg deg,
Nafas Anna seakan sesak, Ia bagaikan terhempas jatuh dari atas langit begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Hera.
Tidak! Ia tidak salah dengar.
Jadi, selama ini 'Zaha'nya hidup dalam raga remaja tersebut. Tapi, kenapa Ia tidak berterus terang kalau Ia adalah 'Zaha'nya ?
Dan, selama ini remaja itu adalah 'Zaha'nya dan Ia sama sekali tidak mengenalinya, hiks!
Tidak-tidak, bukankah 'Zaha' sudah berulang kali memberi sinyal itu padanya, tapi Ia yang tidak peka menangkap sinyal tersebut. Dan fenomena malam gerhana itu ? Berarti Ia tidak salah lihat malam itu.
Kepala Anna seakan menjadi sakit memikirkan semua itu dan Ia pun berjalan tertatih ke dalam kamarnya. Belum lagi Ia harus menahan sesak didalam dada, perasaanya seakan berkecamuk dan berperang hebat dalam dirinya.
"Zaha, kenapa ?" Gumam Anna tertahan dengan air mata yang mulai berlinang membasahi pipinya. Tidak kuat, akhirnya Anna pun jatuh tertidur kelelahan.