Bunian

Bunian
BAB 90



Suasana semnpat hening sejenak, sebelum Brigjen Endris kembali bersuara, "Dik, entah ini kebetulan atau bukan. Tetap jaga perhatianmu pada remaja yang bernama Zaha tersebut. Kalau memungkinkan coba upayakan dia untuk masuk ke militer. Aku punya harapan besar padanya. Disamping itu, Aku akan mendekatinya melalui Anna."


"Baiklah, kalau Abang sudah menilainya seperti itu, saya tidak akan meragukannya sama sekali. Walau ini adalah misi yang cukup berat, karena ini sama halnya kita meminta Iblis untuk menjadi Malaikat."


"Nanti akan saya laporkan jika ada perkembangan selanjutnya pada Abang." Tambah AKBP Erik.


"Terimakasih, Dik."


Setelah itu keduanya berpisah dengan rencana masing-masing yang saling terkait pada sosok, Zaha.


***


Hera keluar mandi dengan wajah sedikit ditekuk, Ia menatap kesal ke arah Zaha.


Dilain sisi, Zaha yang baru saja melihat Hera keluar dari kamar mandi dibuat tak berkedip. Bukan karena tatapan kesal yang dilayang Hera padanya, melainkan karena apa yang dikenakannya. Dalam kondisi biasa, Hera mungkin sangat layak untuk menjadi seorang supermodel dengan bentuk tubuh yang padat dan begitu proporsional.


Apalagi saat ini, dengan hanya mengenakan selembar handuk putih yang tidak sampai sepaha. Siapa yang bisa tahan untuk memalingkan wajah dari keindahan tubuhnya. Bahkan butir-butir air tampak enggan untuk menguap begitu saja dan meninggalkan kulit yang super mulus itu.


Glek.


Melihatnya saja, sudah membuat bagian tubuh Zaha seakan diserbu oleh banyak semut.


"Punya mata yang nakal tapi sayang gak punya keberanian." Sindir Hera ketus.


'Jadi dia beneran menunggu tadi.' Pikir Zaha sedikit menyesal.


Melihat Zaha yang hanya menatapnya terdiam, Hera langsung mendekatinya dan langsung menerkam tubuh Zaha.


"Kamu harus bertanggung jawab.." Ujar Angel dengan mata sayu sambil menginggit bibir bawahnya, sungguh pemandangan yang begitu erotis.


Tatapan Angel membuat Zaha tak berkutik dan justru semakin berdebar-debar.


Apakah keduanya akan kembali enak-enak kembali seperti sebelumnya?


Diluar, Nia yang baru saja datang dengan diantar oleh salah seorang anggota Hera.


Dia melangkah terburu dengan perasaan bahagia dan rindu yang sudah tertahan begitu lama, karena sebelumnya Hera aka Angel telah menjanjikan padanya untuk bertemu dengan adiknya. Setelah disembunyikan sekian lama dirumah Hera, membuat mobilitas Nia begitu terbatas. Dia sudah sangat rindu dengan keluarganya, terutama adiknya.


Setelah pertempuran terakhir Zaha dengan Kelompok Timur dan juga Rio, kondisi relatif cukup tenang. Kebetulan Zaha juga berada dalam salah Vilanya, sehingga masih dalam pengawan Hera. Karena itu Hera pun memberi ijin Nia untuk bisa bertemu dengan Zaha di Vilanya.


Selama masa persembunyiannya, Nia dan Angel sudah cukup dekat layaknya saudara. Sehingga Nia pun tidak lagi canggung dalam bersikap, Ia sudah menggap Hera layaknya seorang kakak.


Nia berjalan begitu santai mengarungi setiap ruangan untuk mencari Hera dan Adiknya. Tapi karena tidak menemukan mereka dilantai bawah, Nia naik ke lantai atas.


Dilantai atas hanya terdapat dua kamar, karena pertama kalinya datang ke Villa itu, Nia langsung menuju salah satu kamar utama.


Klik


Nia tidak sadar apa yang sedang terjadi di dalam kamar dan langsung nyelonong masuk.


Deg.


Ia terkejut begitu mendapati apa yang sedang terjadi diatas tempat tidur.


Nia langsung gugup, Ia tidak melihat seharusnya apa yang tidak perlu dilihatnya. Tubuhnya seakan membeku sesaat, bagaimana tidak? Diatas kasur, Ia mendapati Hera sedang duduk diatas tubuh seorang pria dengan hanya mengenakan selembar handuk.


Apalagai yang mereka lakukan, jika bukan sedang begituan.


"Ma-maaf, A.aku salah masuk."


Ucap Nia panik, lalu buru-buru keluar dan menutup pintu kamar.


Jantungnya seakan meledak dan begitu keluar, Nia baru bisa menarik nafas lega.


'Astaga, apa yang kulakukan? Aku masuk saat kak Hera sedang begituan. Hadeehh, Kak Hera pasti marah nih.' Pikir Nia cemas.


'Sebentar, kenapa pria tadi terlihat sangat familiar yah?' Pikir Nia berikutnmya setelah Ia berhasil menenangkan diri.


Ia teringat, hari ini tujuannya datang ke Vila ini adalah untuk bertemu dengan adiknya, Zaha.


Nia tidak berhasil menemukan Zaha disudut manapun di Vila ini, 'Lalu, laki-laki tadi?'


Lalu Nia teringat dengan kejadianb beberapa waktu lalu, dimana Zaha menerima begitu banyak hadiah bermerk, mulai dari pakaian hingga jam tangan mewah hingga uang yang tak terbatas, dengan itu juga Zaha melunasi semua hutang keluarga mereka pada juragan Chintung tempo hari.


'Oh, tidak! Jangan-jangan Zaha itu sebenarnya simpanan Kak Hera?' Pikir Nia syok.


'Ini tidak bisa dibiarkan, Zaha masih remaja. Dia belum cukup umur untuk... untuk..' Nia menjadi panik sendiri karena itu dia berpikir harus mencegah adiknya.


Dengan mengunmpulkan keberanian, Nia membuka pintu dibelakangnya kembali.


"Adiiikkkk.."


Maksud Nia hendak menghentikan adegan panas yang sedang terjadi, namun siapa yang menyangka situasinya sekarang seang terbalik, dengan posisi Zaha berada diatas tubuh Hera. Sementara simpul pengikat handuk Hera sudah terlepas, walau handuknya masih terpasang namun sudah sangat berantakan dan mempertontonkan tubuh mulus Hera dibawahnya.


"Adiikk.. Ka-kamu memperkosa Kak Hera?"


Wajah Zaha langsung memucat, "I-ini bukan seperti yang Kak Nia lihat. Ka-kami tidak..."


Zaha sangat gugup, bagaimana harus menjelaskan kondisinya pada kakaknya? Sementara kondisinya memang persis seperti apa yang disangka kan kakaknya. Bahkan jika Nia tidak datang barusan, mungkin tindakan mereka akan jauh lebih intim.


Sebelumnya Zaha bermaksud untuk menyingkirkan tubuh Hera dan menghentikan apa yang sudah mereka mulai, siapa yang menyangka jika kakaknya itu akan kembali masuk kedalam kamar dan membuat kesalahpahaman semakin meruncing seperti sekarang.


"Apa yang tidak? Kamu.. kamu tega memperkosa Kak Hera, dek. Dia lah yang telah menyelamatkan Kakak, masa kamu tega..." Nia benar-benar marah dengan apa yang dilihatnya, sampai-sampai dia tidak tahu harus memuntahkan kata apalagi untuk melampiaskan kemarahannya selain itu juga ada rasa tidak terima melihat adiknya seintim itu sama wanita lain.


"Aku tidak.. melakukannya, Kak. Aku cuma..."


"Kami sedang bercinta, bisa beri kami waktu sebentar." Sela Angel dengan cueknya.


Deg Deg Deg


Zaha seakan tertembak petir begitu mendengar komentar Angel yang membuat keadaan semakin runyam diantara mereka.


Nia juga tercengang mendengar betapa santainya Hera mengucapkan kalimat tersebut.


"A..Aku.. hmn.." Nia jadi salah tingkah.


"Angel, kamu..." Tegur Zaha panik.


"Hmn kamu masih punya tanggung jawab memuaskanku." Tambah Angel yang membuat Zaha seakan langsung mimisan darah.


Kring kring kring.


HP Zaha berbunyi disaat suasana diantara ketiga terlihat aneh.


"Aku harus mengangkatnya dulu.." Ujar Zaha coba mengalihkan.


"Hft, ya udah cepat." Jawab Hera tapi tak mengubah posisinya dan malah menelentang pasrah dibawah tubuh Zaha.


"Za... tolong aku." Terdengar suara panik seorang wanita dari seberang telpon.


Praanngggg.


Disusul dengan suara kaca pecah. Membuat Jantung Zaha berdetak cepat.


"Anna?"


"I..iya, ini Aku, Za. Tolong, kamu harus cepat kesini. Aku takuuutt..." Ternyata yang menelpon adalah Dokter Anna. Suaranya penuh dengan kepanikan dan napas yang memburu.


"Tenang, kamu ada dimana?" Tanya Zaha berusaha terdengar tenang, namun jelas tidak bisa menutupi ketregangan dalam dirinya. Anna dalam bahaya, bagaimana Ia tidak panik?


"Aku.. Aku ada di rumah.. Kamu kesini sekarang Za.. aaa.." Teriak Anna ketakutan.


Tuutt tuuutt..


Tiba-tiba sambungan komunikasi mereka terputus.


Zaha terkesiap dan coba menelpon Anna kembali, namun nomornya tidak lagi bisa dihubungi membuat Zaha semakin cemas dengan keadaan Dokter Anna.


Zaha buru-buru berdiri dan bersiap, "Ada apa?" Tanya Angel melihat perubahan sikap Zaha.


"Aku harus pergi, Anna dalam bahaya."


"Aku ikut."


Zaha melirik Kakaknya sekilas, "Tidak bisa! Aku akan mengurusnya sendiri, kamu jaga Kak Nia disini." Perintah Zaha tegas. Kalau benar Anna berada dalam bahaya saat ini, bisa jadi musuh sudah tahu tentang kelemahan Zaha. Tidak tertutup kemungkinan musuhnya akan mengincar kakak atau ibunya, karena itu Zaha keberatan Hera mengikutinya.


Hera paham dengan kekhawatiran Zaha, karena itu Ia tidak berniat untuk menentang perintahnya, "Baik, kamu hubungi Aku jika terjadi apa-apa ataupun butuh sesuatu."


"Dek, kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Ibu?" Tanya Nia yang juga khawatir melihat rauyt wajah serius dari adiknya. Sangkanya, Ibu mereka dalam bahaya. Karena Ibu Zaha berada dalam Vila yang sama dengan Nia. Nia datang seorang diri ke tempat Hera saat ini, otomatis Ibunya tinggal sendirian dan hanya dijaga oleh salah seorang anggota Hera yang lainnya.


"Tidak, Kak. Salah seorang temanku dalam masalah. Nantri Aku kabari yah, kakak disini dulu. Jangan kemana-mana, ikuti semua intruksi dari Hera ya." Ujar Zaha sebelum pergi. Walau terasa aneh dengan panggilan Zaha yang memanggil nama Hera langsung, tapi suasana sedang tidak memungkinnya untuk bertanya lebih lanjut. Bahkan Ia tidak memiliki kesempatan untuk mengintrogasi adiknya karena kejadian barusan.


Zaha mengebut sekencang mungkin dengan motor R6nya Hera. Ia seolah sedang berpacu dengan waktu, karena keselamatan Anna-nya sedang dipertaruhkan. Raut wajahnya berubah menjadi dingin dan siap membunuh.