
Mereka sangat mewaspadai pemuda yang menyerang King terakhir kali. Dari gaya bertarungnya, jelas jika pemuda itu bukanlah orang sembarangan.
Andai saja King tidak terluka karena pertarungannya dengan Cakra, mungkin keduanya bisa bertarung seimbang. Tapi kondisi King yang sedang kepayahan karena ditusuk oleh Cakra sebelumnya, membuat Ia berhasil dilumpuhkan oleh Rio.
Lipay menghela nafas dalam, "Dia punya dendam pribadi dengan King, karena dua saudaranya, Ronal dan Roy dibunuh oleh King. Ini kesalahan kita juga sebenarnya..."
Lipay tampak merasa bersalah, "Seharusnya kita yang menyelesaikan masalah ini untuk King, sehingga King tidak ditarget secara khusus seperti sekarang."
"Waktu itu kita sudah mau bergerak, Mang. Tapi... King tidak mengijinkan kita untuk mengambil tindakan. King sendiri yang memutuskan untuk mengeksekusi Ronal dan teman-temannya. Kalau ada yang harus disalahkan, maka itu adalah saya karena tidak bisa menjaga keluarganya King." Imbuh Zulham dengan kepala tertunduk.
"Hahaha."
Mendengar tawa Padri yang duduk tidak jauh disebelahnya, membuat semua orang menatap heran pada satu dari tiga pimpinan Kelompok Barat ini.
"Bagus, bagus.. Dia layak disebut seorang pemimpin." Lanjut Padri dengan binar senang.
Ia merasa tidak salah menyetujui beraliansi dengan Kelompok Selatan. Ketika Cak Timbul menghubungi dan mengajaknya untuk beraliansi, Padri tidak langsung menyanggupinya. Sampai ketika, Cak Timbul menyinggung tentang King. Rasa penasaran Padri terusik, apalagi King yang dipanggil oleh Cak Timbul adalah seorang remaja belasan tahun.
Apakah itu mungkin? Bukankah itu sangat aneh?
Tapi, orang sekelas Cak Timbul tidak mungkin membual tentang ucapannya. Selain itu, Ia berhutang budi pada Cak Timbul dimasa lalu.
"Hutang keluarga, harus dibayar tunai oleh anggota keluarganya. Walau King adalah pemimpin Kelompok Selatan, tapi para bajingan itu telah menyakiti anggota keluarga King dan King membayarnya secara tunai. Sungguh sangat jantan sekali!" Puji Padri takjub.
Mereka baru mengetahui konflik antara King dan keluarga Abdi Batubara baru-baru ini, setelah pertempuran hebat beberapa waktu lalu.
"Andai King sudah siap menikah, aku akan menjodohkannya dengan putriku. Sayangnya putriku, malah memilih suami yang tidak bisa diandalkan sama sekali dan hanya bekerja dikantoran sehar-hari." Ujar Padri sambil menghela nafas.
"Hahaha, Padri jangan menuai semua keuntungan untuk dirimu sendiri. Bicara tentang gadis seusia King, mungkin putriku jauh lebih cocok dengannya, mereka sebaya. Bahkan putriku lebih muda setahun, mereka akan jadi pasangan serasi." Ucap pria lainnya dengan kharisma yang tidak kalah dengan Padri.
Siapa lagi yang berani bicara blak-blakan seperti ini, jika bukan Samson, ketua dua Kelompok Barat.
Kelompok Barat berbeda dengan tiga kelompok gengster lainnya, pemimpin mereka terdiri dari 3 orang bersaudara, Padri, Samson dan Alex. Pada pertempuran sebelumnya, Samson dan Alex tidak ikut membantu karena keduanya sedang berada diluar kota, karena itulah situasi cukup kacau saat itu. Andai trio ini bergabung dalam pertempuran, maka Kobra sudah bisa dipastikan akan tumbang saat itu.
Disisi lain, Alex tidak bisa berkomentar apa-apa. Karena Ia tidak memiliki anak perempuan yang bisa ditawarkan walau Ia juga terlihat ingin menawarkan hal yang sama, sehingga Ia hanya sebagai penonton yang baik ketika melihat dua saudaranya berdebat tentang keturunan siapa yang layak disandingkan dengan King.
Para petinggi di Kelompok Selatan hanya bisa terpana melihat perdebatan dua petinggi Kelompok Barat, mereka tidak berani menyela mengingat posisi mereka. Cuma yang tidak mereka duga, bagaimana tidak bermartabatnya dua pemimpin kelompok barat tersebut ketika menawarkan putri-putri mereka agar bisa disandingkan dengan King mereka.
"Apa yang kalian perdebatkan? Bahkan King saja tidak tahu ada dimana saat ini, bagaimana cara kalian menjodohkan anak-anak kalian dengan King?"
Semua orang mengalihkan pandangan pada asal suara, siapa lagi yang berani menyela kesenangan kedua petinggi itu jika tidak memiliki level yang sama.
"Tapi si Komar tidak memiliki putri. Kecuali dia telah punya anak haram duluan dengan simpanannya." Sela Padri blak-blakan sambil terkekeh.
Para pendengar, seperti Zulham dan pemimpin junior lainnya hanya bisa mengusap keringat dingin ketika mendengar ucapan para petinggi ini, bahkan mereka sudah membayangkan akan terjadi pertempuran yang tidak diinginkan saat ini.
"Siapa bilang aku tidak punya putri?" Balas Komar ketus.
"Ah, jangan bilang kalau kamu mau menjodohkan putri mantan bosmu dengan King?"
Komar hanya tersenyum kecil dengan kebanggaan terpancar jelas diwajahnya.
"Kalau putri tirimu itu secantik Juleha waktu muda, maka itu bisa jadi sesuatu." Puji Alex terbayang Juleha, mantan istri ketua kelompok timur yang terkenal kecantikannya waktu muda dulu, bahkan mungkin hingga sekarang.
Komentar Alex membuat semua orang menatapnya dengan heran, "Hai, ada apa dengan tatapan menjancukan kalian semua? Saya bicara apa adanya. Jangan karena saya memilih tidak berkeluarga bukan berarti saya tidak normal, saya tau mana yang cantik dan mana yang abal-abal."
"Ohh.."
"Bajingan! Reaksi macam apa itu." Kutuk Alex melihat reaksi orang sekelilingnya yang seolah merasa lega melihat dirinya ternyata masih normal.
"Maaf! Bukan karena saya ingin menyela kesenangan para senior semua. Masalahnya, King sampai saat ini belum jelas dimana keberadaannya." Sela Virangel menyentak keasadaran semua orang. Sedari tadi mereka sedang sibuk membahas King akan dijodohkan dengan siapa, sementara orang yang mereka bicarakan belum jelas dimana rimbanya.
"Jadi masih belum ada petunjuk dimana King berada?" Tanya Komar terkejut.
"Komar dan kalian bertiga.. dari tadi bukannya Virangel sudah mengatakan belum menemukan keberadaan King. Kalian malah asik memperebutkan King untuk kalian sendiri-sendiri." Kata Cak Timbul kesal.
Membuat para petinggi itu tersenyum masam.
"Kenapa tidak memulainya dari wanita misterius yang menculik King waktu itu?" Tanya Padri.
"Menurutmu, jika kami sudah tau siapa wanita itu, mengapa King tidak berada bersama kita saat ini?"
"Hmn, benar juga! Cak, apa putra sulung si Abdi Batubara benar-benar sekuat itu?"
"Seharusnya begitu, karena diantara kita semua, hanya wanita itu yang bisa bertarung seimbang dengan pemuda itu. Bahkan para juniorku sampai tidak berdaya menghadapinya yang hanya tinggal seorang diri. Jika bukan karena kehadiran wanita misterius waktu itu, mungkin hari ini kita hanya akan berkumpul di depan makamnya King." Ujar Cak Timbul tertunduk. Dia merasa malu dan bersalah disaat bersamaan.
"Tolong ceritakan bagaimana mereka menyelesaikan pertarungan terakhir itu, Cak?" Tanya Samson penasaran. Mereka semua adalah petarung jalanan, mendengar ada petarung yang lebih kuat tentu saja membuat mereka sangat tertarik.
"Itu pertama kalinya, Aku melihat King bertarung langsung dengan kedua mataku. Gaya bertarung Rio dan juga wanita misterius itu, sama-sama tajam dan terlatih. Saya rasa, pondasi beladiri mereka berasal dari militer. Tapi, gerakan si wanita bertopeng terlihat ada kesamaan dengan gerakannya King." Komar yang juga melihat pertarungan terakhir waktu itu, ikut berkomentar.