
Jari-jari Anna masih bermain didada bidang Zaha, seakan Ia masih ingin mengingat setiap lekuk ditubuh Zaha yang baru. Meski tidak sekekar dan setebal dada Zaha yang dulu, tapi ruh yang mengisi tubuh baru ini adalah Zahanya.
Tubuh keduanya masih polos tanpa sehelai benangpun dibawah selimut, butir keringat tipis masih membasahi tubuh keduanya. Saat ini keduanya sedang mengistirahatkan tubuh mereka yang kelelahan setelah seharian bercinta.
Tiga hari terakhir mereka habiskan berdua dirumah Anna, mereka serasa berbulan madu kembali.
Setiap waktu mereka habiskan dengan saling memadu kasih, seolah itu adalah penebusan waktu beberapa tahun mereka yang telah hilang.
Baik Anna dan Zaha seakan dimabuk cinta kembali. Positifnya, keduanya terlihat lebih bersemangat karena cinta yang telah lama hilang, kini telah bersatu kembali.
Semula, Anna sendiri merasa asing dan harus membiasakan dirinya ketika bersentuhan dengan tubuh remaja Zaha. Tapi, cara Zaha menyentuh dan menatap Anna masih tetap sama. Karena itu Anna jadi cepat terbiasa dengan sosok asing dimatanya itu.
Meski hatinya sedang larut dalam bunga-bunga cinta, ada satu kekhawatiran dalam pikiran Anna.
"Apa jiwamu abadi dalam tubuh ini?"
Zaha hanya tersenyum kecil, sambil memainkan rambut Anna. Ia paling suka memainkan rambut hitam Anna sambil memeluknya seperti sekarang.
Sebuah kebiasaan dari dulu yang membuatnya senang dan betah berlama-lama mengerjakannya.
Anna sendiri tidak pernah protes dan malah menikmati perlakuan lembut Zaha dikepalanya. Ia terlihat seperti seorang anak kecil yang kesenangan ketika diusap kepalanya.
"Aku tidak tahu."
"Apa itu artinya, didalam tubuh ini ada dua jiwa sekarang?" Tanya Anna penasaran.
Ia khawatir jika suatu saat bercinta dengan orang yang salah.
Zaha terkekeh mendengar pertanyaan Anna, namun Ia bisa memaklumi apa yang menjadi kekhawatiran Anna. Ia pasti akan sangat marah jika tahu pria yang sedang mencumbuinya adalah orang lain.
Zaha paling tahu siapa Anna, Dokter cantik itu mungkin keras kepala, tapi justru karena itulah Ia tahu kesetiaan Anna terhadap dirinya, tidak perlu diragukan lagi.
"Aku juga tidak tahu."
Anna terkejut dan Ia bahkan sampai mengangkat kepalanya untuk menatap mata Zaha dan melihat kejujuran didalamnya. Tapi, Anna buru-buru paham, jawaban Zaha barusan karena dirinya benar-benar tidak tahu apa dia abadi atau tidak dalam tubuhnya yang sekarang.
Kecewa, tapi Anna pun tidak berdaya dengan kondisi itu dan memilih menerima apa adanya dan mensyukuri apa yang bisa dijalaninya hari ini.
Bisa bertemu dengan Zaha saja sudah sangat disyukurinya. Selanjutnya Ia serahkan pada takdir.
Wajah Anna berubah cemberut, "Tapi, kamu sangat jahat."
"Loh, aku jahat kenapa? Bukankah Aku sudah mengaku sekarang ini?" Tanya Zaha tidak mengerti.
"Iya, saat kamu sudah sadar. Kamu bisa melihatku dan tahu siapa aku. Tapi kamu membiarkan Aku menderita karena berita kehilanganmu. Aku bahkan sudah tidak peduli dengan hidupku lagi sejak mendengar berita tentang kematianmu. Jika bukan karena putri kita, sudah lama Aku berniat menyusulmu pergi." Ujar Anna mencurahkan beban pikirannya selama ini. Tapi tidak ada lagi kesedihan didalam hatinya, karena dirinya sudah dipenuhi oleh kebahagiaan dengan kembalinya Zaha kesisinya.
"Maaf." Komentar Zaha merasa bersalah.
Anna mengelusi wajah Zaha dengan lembut, sambil tersenyum lembut Ia berkata, "Aku tidak lagi marah. Karena Aku sudah memilikimu kembali saat ini. Aku mencintaimu."
Melihat Anna yang sepenuh hati mencintainya, Zaha langsung teringat dengan bayangan wajah Angel. Gadis itu juga sangat mencintainya dan bahkan Ia telah merenggut kegadisan Angel. Memikirkan itu, Zaha tiba-tiba menjadi galau. Melihat tatapan Anna yang penuh cinta ketika menatapnya, membuat Zaha merasa bersalah karena perasaannya sudah mulai bercabang.
Sadar jika dalam hubungan tidak boleh ada kebohongan, Zaha pun menceritakan situasi yang sebenarnya pada Anna.
"Ya, sayang?"
"Sebenarnya..."
Bip Bip Bip
Disaat Zaha mau berbicara jujur pada Anna, ponselnya malah berbunyi. Dan nama wanita yang hendak disebutnya dan dikuinya pada Anna, menghubunginya.
'Angel?'
Anna sedikit cemberut ketika melihat ponsel Zaha berdering. Padahal Ia sendiri sengaja mematikan ponselnya, agar waktu kemesraan mereka tidak terganggu oleh siapapun. Tapi, justru ponsel Zaha sendiri yang berdering disaat mereka sedang intim seperti ini.
Meski begitu, Anna tidak bisa memarahi Zaha dan justru dengan tersenyum dan menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut. Selama tiga hari mereka bercinta, tidak ada satupun panggilan telpon yang masuk ke ponselnya.
"Angkat saja! Siapa tahu penting." Dorong Anna agar Zaha menjawab panggilan tersebut.
Sebenarnya Zaha juga penasaran kenapa Angel menghubunginya saat ini? Seharusnya dengan seorang Intel wanita yang sedang memantaunya tidak jauh dari rumah Anna, Angel pasti sudah tahu apa yang sedang dilakukannya bersama Anna. Karena itu, Angel tidak sekali pun menghubunginya dalam tiga hari ini.
Sekarang Angel tiba-tiba menghubunginya, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Semula, Zaha berniat mereject panggilan tersebut dan menghubungi Angel kembali nanti. Tapi karena Anna sendiri yang mendorongnya, Zaha pun tidak punya alasan untuk tidak menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ya?"
"Pulang sekarang! Ada sesuatu terjadi, kalau kamu tidak pulang sekarang, maka kamu akan menyesalinya."
Tut tut tutt.
Zaha dibuat kagok, bahkan hpnya masih menempel ditelinganya. Kata-kata Angel begitu singkat, satu kalimat dalam satu helaan nafas. Sadisnya, kata-katanya sangat dingin dan menunjukkan kalau Angel sedang marah pada dirinya.
"Telepon dari siapa?" Tanya Anna penasaran melihat Zaha bengong sampai sekian lama, sementara orang menelponnya sudah memutus panggilannya.
"Hmn.. dari teman." Jawab ZAHA sedikit gugup.
Baru saja Ia hendak mengaku jujur pada Anna, tapi sekarang Ia sudah harus berbohong. Tampak kalau sejatinya, Zaha sama sekali belum siap membicarakan tentang Angel pada Anna.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Anna sekilas mendengar suara wanita yang menelepon Zaha. Dari namanya dan durasi waktu wanita tersebut yang sangat singkat, Anna hanya menduga ada sesuatu terjadi diantara mereka. Namun sebagai wanitanya Zaha, Ia tidak ingin menyurutkan Zaha seperti wanita yang sedang cemburu buta.
Ia mempercayai Zaha sepenuhnya, ZAHA pasti akan bercerita jika memang ada sesuatu diantara mereka.
Wajah Zaha juga terlihat bingung, jelas ia begitu penasaran dengan telepon Angel barusan. Kalau masalahnya sederhana, Angel pasti bisa mengurusnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya, ada suatu masalah yang sedang terjadi." Kata Zaha tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Anna pun sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, Ia pun hanya tersenyum simpul, "Seperti sejati rasanya. Dulu kamu juga suka tiba-tiba pergi saat kita sedang bersama."
"Maaf." Kata Zaha tidak berdaya. Ia merasa tidak enak pada Anna saat ini. Ia masih saja mengulangi keadaan yang sama, justru disaat ia tidak tugas di militer lagi dan bahkan dalam kehidupan keduanya ini.
Anna tersenyum penuh pengertian, "Pergilah! Mungkin dia membutuhkan tenagamu disana. Satu kupinta, kamu jaga diri. Sekarang bukan hanya Aku seorang yang menunggui, ada juga Zanna, putri kita."