
Kali ini, Zaha tidak berkomentar apapun dan hanya mengangguk pelan menyetujui rencananya Cak Timbul. Zaha sadar, perlu menjaga staminanya se optimal mungkin untuk menghadapi musuh utama nantinya.
"YASIR, RIFAT, habisi mereka semua!" Perintah Cakra dengan suara lantang disertai senyum angkuhnya. Seolah dengan pasukan yang dimilikinya, Ia sudah merasa yakin duluan bisa menumbangkan Kelompok Selatan.
Mendengar sang pemimpin memberi perintah, kedua pemimpin pasukan kanan langsung menyerbu ke arah Kelompok Selatan. Zaha, tidak kalah tanggap. Ia pun langsung memberi perintah untuk menyerbu.
"Semuanya, MAJUUU..." Teriak Zaha lantang.
Mendengar itu, seluruh pasukannya dan juga pasukan tambahan dari anak buahnya Komar dengan semangat menggelora serentak menerjang kearah lawan. Pertempuran sengit dari dua kelompok yang berseteru pun pecah dengan dahsyatnya.
Pasukan yang dipimpin Komar bertarung dengan tingkat intensitas yang tinggi, mereka memiliki kemampuan tarung yang sudah teruji dan jelas diatasnya para petarung pernah yang dihadapi oleh Kelompok Selatan sebelumnya. Tidak salah jika mereka masuk bagian dari Pasukan Kanannya Kelompok Timur.
Pasukan Kelompok Selatan yang dipimpin oleh para pemimpin junior seperti Zulham dan yang lainnya, tampil menggila. Sadar jika itu adalah pertarungan puncak, mereka mengerahkan semua kekuatan yang mereka miliki untuk menumbangkan lawan sebanyak mungkin. Walau kondisi mereka sendiri sudah hancur-hancuran dan kelelahan akibat akumulasi pertarungan sebelumnya, namun tidak mengendurkan semangat mereka sedikitpun. Karena pertarungan hari ini adalah pertarungan harga diri dan pembalasan.
***
BAAAMMMM
Sebuah hantaman kuat mengenai punggung Acera yang saat itu sedang sibuk menghajar dua lawan didepannya, sehingga tanpa disadarinya ada seseorang yang menyerangnya dari arah belakang.
Acera jatuh tersungkur ditengah ruangan, kesadarannya sempat hilang beberapa saat. Sehingga Ia coba menggoyangkan kepalanya beberapa kali untuk memaksa kesadarannya tetap ada.
"Arrgghh BANGSAAATT.." Teriaknya kesal karena aksi culas lawan yang berani menyerang dari titik butanya.
Tapi, lawan yang membokong seakan tidak peduli dengan tindakan curang yang dilakukannya. Sehingga, Ia pun langsung meringsek maju ke depan untuk menyudahi Acera yang sudah terlihat tidak berdaya.
Bughhhhh
Tinggal selangkah jarak antara dirinya dengan Acera sebuah pukulan kuat menghantam dadanya, walau sempat Ia tangkis tapi tetap saja membuat tubuhnya sampai terjejer dua langkah kebelakang karena kuatnya pukulan dari orang barusan.
Didepannya sudah berdiri Mang Lipay dengan tatapan mata yang tajam ke arah orang tersebut. Kondisi Mang Lipay sendiri terlihat cukup kepayahan, tapi tidak mengurangi tajam sorot matanya. Justru keadaannya yang sudah terlihat kepayahan itu, membuat tatapannya terlihat sangat mengerikan.
Mang Lipay mengulurkan tangannya, untuk membantu Acera berdiri.
Semula, Mang Lipay hendak menghadapi lawan yang telah membokong juniornya tersebut. Tapi, Acera dengan cepat meraih bahunya dan mencegahnya untuk maju.
"Seumur-umur Gue paling gak suka jika ada lawan yang beraninya menyerang dari belakang.." Ucapnya sambil menyapu darah yang keluar dari mulutnya dengan tangan kanan sambil menatap bengis pada lawan.
"Kesannya kayak banci penggemar lubang *****.." Lanjutnya lagi sambil melihat darah ditelapak kanannya yang juga sudah bercampur dengan darah lawan-lawan sebelumnya.
"Hehehe bajingan.." Mang Lipay jadi terkekeh mendengar ucapan santai namun sangat mengancam dari Acera.
"Makasih Mang.. Tapi, Dia bagian Gue." Tunjuk Acera pada sang lawan
"Hehehe bangsat.. Ambil dah, Kalau itu mau lu. Cuma pastiin bokongnya ancur se hancur-hancurnya tar.." Ujar Mang Lipay terkekeh.
"Anjing.. Ngapain juga gue ngancurin bokongnya Mang. Dikira gue 'Karina' apa ? mereka tuh yang perlu Mamang hancurin bokongnya.." Dumel Acera dengan napas tersengal sambil menunjuk ke arah lawan yang masih banyak.
"Kalau gitu, Kita lomba aja. Siapa yang bisa jatuhin musuh paling banyak." Tantang Mang Lipay pada juniornya itu dengan mata menyala sambil mengarahkan kepalan tinjunya.
Tampak senyum bengis tersungging dari keduanya.
Keduanya pun langsung menyasar musuh-musuh yang ada di depan mereka.
Bugghhh bughhhhh
Baammmmm
Dua kali sudah, Acera terhempas mencium lantai menghadapi orang yang sama. Tampak sejenak Ia tidak bergerak dengan nafas yang tersengal.
"Sudah jangan bangun lagi. Lu dan seluruh teman-teman lu gak bakalan bisa menang. Pertarungan ini sia-sia, Kami sudah pasti jadi pemenangnya." Sombong lawan, tapi ada sedikit rasa cemas terpancar di wajah dan disudut bibirnya ada darah yang merembes, satu pukulan Acera sempat menyasar wajahnya. Ditambah Acera yang seakan tidak kenal kata menyerah dan selalu bangkit dengan kondisinya yang sudah kepayahan seperti itu.
Benar saja, Acera yang semula tergeletak diam mulai menggeliat dan bangkit perlahan.
"Arggghhhh..." Teriak Acera yang tiba-tiba bangkit dengan amarah membumbung tinggi, entah dapat kekuatan darimana yang bisa membuatnya masih bisa bangkit seperti itu.
"Sudah gila dia." Bathin lawan yang terperangah kaget seakan tidak percaya melihat Acera masih bisa bangkit dengan emosi seperti itu.
Acera yang baru bangkit mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan seakan mencari sesuatu dan begitu melihat sosok lawan yang telah dua kali merobohkannya, matanya jadi menatap tajam dan langsung begitu saja menerjang ke arah lawannya tanpa basa-basi.
Lawan yang seakan kaget dan tidak percaya, jadi terlambat bereaksi.
Bughhh Bughhhh
"Arggghhh.." Serangan membabi buta Acera membuat lawan tersudut dan beberapa kali kena serangan telak.
"Mati lu, mati mati lu, mati lu... Arrgghhh..."
Acera melancarkan pukulan membabi buta ke arah lawan secara beruntun. Musuhnya yang seakan tidak mau terkena pukulan ngasal seperti itu, membalas dengan pukulan tak kalah gilanya.
Bughhh Baammm Bughhh Baammm
Bughhh Baammm Bughhh Baammm
Akhirnya jual beli pukulan pun tidak terelakan antara keduanya, siapapun pasti akan bergidik ngeri memandang pertarungan brutal mereka. Belum lagi jika melihat darah yang muncrat kemana-mana akibat sengitnya jual beli pukulan antara keduanya.
Walau secara fisik, Acera sudah jauh berkurang akibat akumulasi pertarungan yang sebelumnya. Namun, kekuatan tekadnya menjadi penentu arah pertarungannya.
Bughhh Bughhhhh
Pukulan terakhir membuat keduanya oleng dan sama-sama mundur selangkah. Napas keduanya terlihat berat, wajah keduanya pun sudah tidak jelas karena sudah banjir tertutupi oleh darah.
Sang lawan yang sempat merasa jumawa karena sudah bisa merobohkan Acera dua kali seakan tidak terima jika justru keadaannya sekarang malah terlihat imbang dan dirinya sampai terluka separah itu. Kesal, Ia pun coba mengumpulkan seluruh kekuatannya dan meringsek maju ke depan lagi.
Acera sendiri sebenarnya sudah merasa kehabisan nafas dan sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Kelopak mata kirinya bahkan sudah bengkak dan menutupi penglihatannya. otomatis Ia hanya melihat dengan mata kanannya, itupun hanya sebagian karena sudah tertutupi oleh darah yang mengalir dari kepalanya. Sekilas Ia melirik dibelakang lawannya, tampak teman-temannya yang masih berjuang sekuat tenaga. Melihat itu, membuat Acera tidak mau menyerah begitu saja.