
"Benar! Dia telah mengundurkan diri dari militer khusus demi misi ini, karena dicurigai kalau Zaha terlibat dalam kematian dua saudaranya, Ronal dan Rio."
Brigjen Endris bekerja sebagai senior di Badan Intelijen Negara dan lebih banyak mengurusi pekerjaan di luar, sehingga tidak terlalu update dengan perkembangan kasus kriminal lokal. Sehingga Ia cukup terkejut dengan laporan adiknya.
"Bagaimana bisa bocah bernama Zaha itu terlihat dalam kematian keduanya?"
"Saya belum bisa mengkonfirmasi kebenarannnya, karena berita ini memang tidak diekspos ke publik. Dari info intel kita di lapangan, Ronal dan Roy terlibat dengan kasus penculikan beberapa wanita. Korban diperkosa sebelum diperjual belikan atau dimasukan ke lokalisasi. Menurut informan kita, salah satu korbannya adalah saudara perempuannya Zaha, Zana Kirania Putri. Alasan kita belum mengkonformasi kebenaran berita ini adalah kakaknya Zaha tiba-tiba menghilang tidak alam setelah itu. Setelah pertempuran itu, Zaha yang menjadi target mata-mata operasional kita juga menghilang, hingga sekarang."
"Tidak bisa dilacak sama sekali?" Tanya Brigjen Endris heran.
"Iya, Bang. Seolah Dia hilang begitu saja. Sepertinya ada orang kuat yang ikut berperan dibelakang ini semua." Lanjut AKBP Erik murung.
"Bagaimana kalau kamu salah membuat kesimpulan, Dik?"
"Salah bagaimana Bang?"
"Ini baru asumsiku saja. Bagaimana kalau orang kuat yang kamu maksud bukan orang dibelakang layar, tapi justru Zaha itu sendiri?"
Pernyataan Brigjen Endris yang begitu tiba-tiba, jelas membat kerutan dikening AKBP Erik semakin banyak.
"Dia masih remaja, apa itu mungkin Bang?" AKBP Erik tampak sulit mempercayainya.
Brigjen Endris sendiri tidak buru-buru menjawab, tapi coba merangkai kembali semua peristiwa terkait yang disampaikan oleh adik sepupunya tersebut, "Apa kamu sudah menyelidiki menyeluruh tentang pemuda bernama Zaha ini?"
AKBP Erik mengeluarkan sebuah file dan meletakannya diatas meja. Disana ada foto-foto Zaha ketika kecelakaan setengah tahun yang lalu, lalu foto ketika Ia sekolah.
"Tidak banyak yang kami temukan, karena anak ini sepertinya cukup tertutup dan tidak menggunakan media sosial apapun. Sebelumnya, Zaha dikenal sebagai anak yang pendiam dan bahkan sering dibully. Latar belakang keluarganya juga biasa-biasa saja." Terang AKBP Erik sambil menunjukan data Ibu dan juga kakak Zaha.
"Perubahan besar terjadi setelah dia selamat dari kecelakaan 6 bulan yang lalu."
"6 bulan yang lalu.. Tanggal dan bulannya?" Brigjen Endris seolah teringat akan sesuatu.
"13 Februari 20xx, kenapa Bang? Ada yang aneh?"
Jantung Brigjen Endris seakan berdetak lebih cepat.
"Jamnya?"
"Jam 11.55 tengah malam Bang."
Brigjen Endris seakan mendengar suara petir di siang bolong sekarang, 'apa ini hanya kebetulan semata?'
"Tidak ada, hanya merasa aneh saja. Apa mungkin seseorang bisa terlahir kembali?" Ucap Brigjen Endris tersenyum getir tapi tidsak mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
Tapi AKBP Erik memiliki kesimpulan yang sedikit berbeda dengan apa yang dpikirkan oleh kakak sepupunya, "Dilihat sekilas, Zaha ini menjadi orang berbeda setelah kecelakaan itu. Menurut dugaanku, memang seperti inilah karakternya yang sesungguhnya. Selama ini, Ia bersikap tertutup untuk menutupi dirinya yang sebenarnya."
Brigjen Endris hanya menghela nafas dalam mendengar pendapat adiknya, itu juga ada benarnya. Lagian apa yang dipikirkannya belum bisa diambil titik terangnya dan lebih terdengar seperti hal yang irasional. Dia juga tidak memiliki bukti untuk mendukung kesimpulannya saat ini.
"Terus apa yang aneh tentang operasi di Pasar Tanah Kuda?"
"Hmn, seharusnya ini hanyalah konflik antara kelompok selatan dengan kelompok timur yang disokong Abdi Batubara. Jika seandainya kelompok utara terlibat dan mengambil manfaat dari perseteruan ini, mungkin akan terasa masuk akal. Tapi.."
"Sepertinya ada tangan yang tidak terlihat yang telah merencanakan semua ini dengan begitu rapi."
"Maksudmu?"
"Iya, sepertinya kelompok selatan sudah menduga hal ini akan terjadi dengan membuat Kelompok Barat sebagai sekutu mereka. Kelompok Barat datang membantu mereka, seolah mereka sudah menunggu hal ini akan terjadi. Bukankah itu suatu hal yang aneh menurutmu Bang?" AKBP Erik sudah lama menganalisis tentang ini, karena itu Ia sampai pada kesimpulan yang membuatnya buntu seperti sekarang. Itu pula alasan yang membuatnya secara khusus mengundang Brigjen Endris untuk mendiskusikan hal ini.
"Apa lagi yang kamu pelajari dari kasus ini?" Tanya Brigjen Endris oba menggali penemuan AKBP Erik.
"Keberadaanmu dua putrimu, Bang. Walau menurut Anna dan Silvi, mereka bisa berada disana karena mengkhawatirkan teman mereka yang bernama Zaha. Untuk mengatakan ini suatu kebetulan, rasanya sangat aneh. Mereka seperti sengaja diarahkan untuk datang kesana, sehingga memancing reaksi Abang dan juga saya." Kalimat terakhir terdengar keraguan.
"Kamu sendiri meragukan kesimpulan terakhir, apa itu bukan berarti seseorang sudah berhasil dengan rencananya?"
"Maksud Abang, orang yang merencanakan ini sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang, termasuk bagaimana reaksi kita? Bukankah itu suatu hal yang mustahil? Bahkan untuk seorang dewa strategi sekalipun!"
"Tidak ada yang mustahil, Rik! Dulu aku memiliki seorang junior dengan bakat mustahil seperti itu. Puluhan bahkan ratusan misi dilewatinya tanpa satupun kegagalan, apakah kamu percaya? Dan itu semua adalah misi kelas A."
Pernyataan Brigjen Endris membuat AKBP Erik tercengang. '100% persen berhasil dalam misi kelas A, bukankah itu suatu hal yang mustahil?'
"Mungkin kamu menganggap ini adalah hal yang mustahil, tapi itulah faktanya. Sayang usianya singkat." Ada penyesalan dan kesedihan ketika Brigjen Endris mengingat sosok yang dimaksud.
"Maksud Abang, orangĀ itu adalah Agen khusus, Zaha?"
Brigjen Endris mengangguk sedih, "Iya, itu dia. Aku dulu melatihnya ketika di Akdemi dan Aku menyadari bakatnya yang istimewa, karena itu aku merekomendasikannya di tim elit. Dan benar saja, dengan kemampuannya Ia berhasil masuk dan menjadi pimpinan tim agen khusus. Sayang Ia dibutakan dengan dendam dan membuatnya berkonflik dengan atasannya."
"Ia keluar dari kesatuan dan memiliki satu misi terakhir untuk dirinya sendiri, yaitu membunuh komandan tertinggi. Saya tidak pernah mengenal orang yang paling berkompetensi melebihi dirinya."
"Membunuh atasannya sendiri di markas besar pasukan elit tertinggi Negara? Pft, suatu hal yang paling mustahil, tapi dia berhasil melakukannya. Walau untuk itu Ia harus menukar dengan nyawanya sendiri. Tapi, saya rasa itulah hal yang diinginkannya. Kami pernah bertemu sekali, sehari sebelum dia memutuskan mengundurkan diri dari kesatuan. Zaha mengatakan padaku, jika dia sudah lelah dengan kehidupannya. Dia ingin pensiun untuk selamanya, tapi sebelumnya masih ada satu misi yang harus diselesaikannya... Sayang waktu itu, Ia tidak mengatakan apa misi terakhirnya padaku. Kalau tidak, saya pasti akan mencegahnya dengan segala cara... Kehilangan bakat langka seperti dia adalah kehilangan besar bagi militer dan juga Negara kita." Brigjen Endris tampak berkaca-kaca, Ia tidak bisa menutupi kesedihannya karena kehilangan mantan murid yang begitu dibanggakannya itu.