Bunian

Bunian
BAB 61



"Eh, tapi jangan bahas itu dulu. Terus sekarang Kita gimana dong, Deek ?" Ucap Anna mengalihkan.


"Entahlah Kak, sepertinya Kita harus cari tahu sendiri. Bisa jadi, Kak Zaha bersikap seperti itu agar Kita tidak terlibat dalam masalahnya." Ucap Silvi lirih coba menganalisa semua petunjuk yang ada dikepalanya. Dibanding dengan Anna, mungkin Silvi lebih berbakat untuk meneruskan profesi Ayahnya yang merupakan seorang perwira hebat dan sekarang dipercaya sebagai salah satu petinggi di Badan Intelelijen Negara itu.


Anna tampak gelisah dan cemas, "Gak tahu kenapa, sepertinya Kakak merasa Zaha akan kenapa-kenapa Dek."


Silvi tampak kaget mendengar Anna bicara begitu, Dia melihat kalau Anna benar-benar dalam keadaan tertekan dan mencemaskan sesuatu. Entah kenapa, melihat Anna seperti itu, Silvi ikutan jadi tegang dan cemas. Bisa jadi firasat Kakaknya berhubungan kuat dengan apa yang akan terjadi pada Zaha.


"Kakak coba ingat-ingat dengan Bekti yang kemarin mengantar Kita menemui Kak Zaha." Silvi coba kembali mengemukakan analisanya lebih lanjut.


"Yah biasa toh Dek, kan Dia emang anak buahnya Zaha."


"Bukan itu Kak! Kakak lihat ada yang aneh dengan sikapnya waktu mengantar Kita kan ?"


"Eh, iya juga sih." Jawab Anna baru mulai paham maksud pertanyaan Adiknya itu.


"Tuh dia Kak! Dia tampak mencemaskan sesuatu dan Dia tidak ingin menceritakannya pada Kita. Terus, Kak Zaha seperti sengaja menghindari Kakak. Kemudian, Kak Zaha dan para preman disana tampak sangat serius latihannya. Silvi yakin, itu bukan sekedar latihan buat beladiri atau sekedar olahraga biasa.."


"Maksud Kamu apa Dek, jangan muter-muter. Langsung poinnya aja." Cecar Anna tidak sabaran.


"Aisshh.. Siapa tahu, jika Kak Zaha memang sedang lagi ada masalah dengan kelompok lainnya Kak. Dan saat Kita kesana kemarin, Kak Zaha khawatir kalau musuhnya itu akan menjadikan Kita sebagai sandera, jika mereka tahu Kita dekat dengan Kak Zaha."


Deg


Anna baru paham maksud Adiknya itu, dan seketika wajahnya tampak tegang.


"Kalau begitu, apa Zaha akan tawuran ? Gitu maksudmu Dek?"


"Aisshh.. Memang Kakak kira Kak Zaha itu pemimpin geng sekolahan? pake acara tawuran." Ucap Silvi kesal.


"Lah, terus ?"


"Kakak gak lihat kalau Kak Zaha begitu dihormati di komplek perumahannya ? Padahal, daerah tempat Kak Zaha tinggal itu dipenuhi para preman. Tidak hanya itu, di pasar waktu Silvi ketemu Kak Zaha waktu itu, para preman disana saja terlihat begitu tunduk padanya. Bisa jadi, Kak Zaha itu pimpinan Gengster."


"Kamu berlebihan kayaknya Dek! Zaha mana ada tampang premannya. Zaha itu baik kok!" Ucap Anna membantah analisa Adiknya.


Silvi melirik sedikit kesal pada Kakaknya, tapi Dia juga tidak mungkin menyalahkan penilaian Kakaknya itu. Karena emang sifat Kakaknya seperti itu, selalu menilai semua orang itu baik. Sifat yang menurun dari almarhumah Ibu mereka.


"Kalau begitu Kita pastikan sekali lagi, Kita ke tempat Kak Zaha lagi yuk sekarang."


"Ya udah, yuk! Paling tidak, melihat Zaha bisa menghilangkan perasaan cemas ini sedari semalam. Kakak takut ada apa-apa dengan Zaha." Ujar Anna bersiap masuk ke kamarnya, namun langkahnya kembali terhenti tepat di depan pintu kamarnya.


"Tapi, kalau nanti Zaha ngusir Kita lagi, gimana Dek ?" Tanya Anna jadi terlihat ragu.


"Pikirin nanti aja Kak, sekarang Kita ke tempat Kak Zaha dulu aja.." Ujar Silvi greget menanggapi sikap plin-plan Kakaknya.


***


Anna dan Silvi cukup kaget begitu malihat komplek perumahan tempat Zaha tinggal jadi ramai. Dimulut gang sebelum masuk saja, tampak beberapa orang preman berjaga, bahkan mereka sempat ditanya macam-macam sebelum masuk ke dalam komplek. Menimbulkan banyak tanya dibenak keduanya.


Rasa penasaran pun seakan semakin besar begitu melihat pos ronda tempat para preman biasa nongkrong disana terlihat hancur berantakan. Disana juga terlihat beberapa preman lainnya sedang berjaga.


"Kak.." Panggil Silvi lirih sambil memegang lengan Anna.


"Om, Zaha mana ?.."


"Apa yang terjadi dengannya ?"


 "Kenapa tempat ini bisa begini ?"


Berbagai pertanyaan Anna dan Silvi, tidak ada satu orangpun diantara mereka yang mau menjawabnya. Mereka seakan kompak diam seribu bahasa. Akhirnya Anna dan Silvi nekat masuk ke dalam komplek perumahan, menuju rumahnnya Zaha.


Melihat itu, beberapa orang preman disana mengikuti langkah keduanya, seakan menjaga keduanya dari bahaya yang tidak diinginkan. Itu karena Anna dan Silvi sudah dikenal mereka. Sehingga tanpa diperintah, para preman disana merasa berkewajiban untuk menjaga keduanya selama berada di dalam daerah mereka.


Hasilnya pun nihil, rumah Zaha tertutup rapat. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Para tetangga disekitar itupun tidak ada yang tahu kemana Zaha saat itu. Mereka pun seakan ikut merahasiakan apa yang terjadi, apalagi begitu melihat beberapa orang pemuda yang mengikuti Anna dan Silvi dari kejauhan.


"Dek, perasaan Kakak kok semakin gak enak begini yah ?" Kata Anna pelan mengungkapkan kecemasannya.


"Coba Kita samperin ke pasar Tanah Kuda aja Kak, tempat Ibunya Kak Zaha jualan. Siapa tahu Kak Zaha disana menemani Ibunya jualan."


"Eh, ya sudah ayuk.." Ucap Anna bersemangat kembali, seakan mendapat secercah harapan keberadaan Zaha.


***


Pasar Tanah Kuda yang biasanya ramai mendadak berubah menjadi mencekam, ketika pasar dipaksa tutup siang itu. Disetiap gerbang masuk ke dalam Pasar dijaga oleh preman bertubuh kekal dan berwajah sangar. Bahkan setiap akses jalan menuju ke Pasar juga dijaga ketat oleh beberapa orang preman. Mereka tampak sangat awas dan memeriksa setiap orang yang hendak masuk ataupun keluar dari pasar.


Siang itu, saat Anna dan Silvi sampai di Pasar tersebut. Tampak seorang gadis sedang ribut-ribut di depan gerbang masuk Pasar. Alasannya sederhana, karena gadis cantik tersebut tidak diijinkan masuk ke dalam pasar oleh para preman yang sedang berjaga.


"Cih, cewek itu lagi.." Lirih Anna tampak kesal.


"Loh, Kakak kenal ?"


Anna tidak menjawab pertanyaan Adiknya dan langsung menghampiri gadis yang sedang adu mulut dengan para preman tersebut.


"Chintya, ada apa ?" Tanya Anna datar.


"Eh, K-Kak Anna.." Kata Chintya kaget.


"I-ini Kak. Aku mau belanja ke Pasar, tapi pasar di tutup sama mereka nih." Ujar Chintya sedikit gugup.


"Tuh kan, lu berani bohong lagi. Gak anak, gak Bapak, sama saja." Ujar Preman paling depan sambil geleng-geleng kepala.


Wajah Chintya langsung memerah, karena alasan konyolnya jadi malah membuat malu dirinya.


"Lu mau nyari King kan ? Udah Gue bilang dari tadi, King kagak ade.. Masih aja nyolot lu. Udah balik sana, tempat Babe lu." Ujar Preman lainnya dengan kasar.


"Kalian.." Tunjuk Chintya dengan wajah memerah, tidak terima dengan ucapan para preman itu.


"Jangan nyesal tar kalian! Gue lapor babe, baru tahu rasa kalian." Ancam Chintya.


"Hahaha, lapor saja sana. Kita mah gak takut. Dulu Ia bisa semena-mena. Sekarang, disini bukan daerah kekuasaannya lagi." Ledek preman lainnya.


"Kalian.."