Bunian

Bunian
BAB 56



"I.iya. Abang yang dulu ngantar Kita kan ya ?" Tanya Anna senang. Paling tidak ada yang Ia kenal, sehingga tidak perlu lagi terlalu cemas dengan para preman asing disana.


"Iya, Saya Bekti, Mbak. Mau ketemu King ya ?" Tanya bekti saat berdiri di depan keduanya.


Anna dan Silvi kompak mengangguk.


"King lagi gak dirumahnya Mbak."


"Loh kemana Zaha nya Bang ?" Tanya Anna.


"Hmnn.. aduh gimana yah ?" Bekti tampak ragu.


"Emang kenapa Bang ? Kak Zaha lagi keluar kah ?"


"Eh, gak gitu juga sih. Cuma gimana ya.." Ucap Bekti sambil garuk-garuk kepalanya.


Anna seakan tanggap dengan situasi, apalagi membayangkan keanehan sikap Zaha akhir-akhir ini.


"Ada masalah kah Bang ?" Tanya Anna hati-hati.


Bekti langsung menatap Anna, dia masih tampak gelisah.


"Duh gini aja deh. Saya bawa Mbak ke tampat King, tapi saya mohon jangan bilang saya yang ngajak nanti ya. Nanti Mbak tanyain aja langsung sama King, Saya gak berani ngomong, takutnya salah." Ujar Bekti pada akhirnya. Serba salah, kalau mengusir mereka, takutnya dikira kurang ajar, karena kedua wanita didepannya itu adalah temannya King. Padahal Ia sudah diwanti-wanti untuk tidak mengatakan dimana King berada saat itu oleh Zulham sebelumnya. Tapi yang datang teman-temannya King sendiri, daripada pusing, Bekti membawa keduanya ke tempat Zaha biasa latihan.


"Eh, kemana ini Bang ?" tanya Anna khawatir, karena Bekti membawa mereka melalui ke jalan sepi lewat area pinggir perumahan. Memang jalan itu akses cepat menuju stasiun lama.


"Katanya Mbak berdua mau menemui King."


Namun melihat Anna dan Silvi tampak ragu-ragu, "Jangan khawatir, Mbak berdua aman kok. Cuma King emang lagi ditempat yang Kita tuju saat ini." Mendengar itu, baru Anna dan Silvi berani melanjutkan langkah mereka.


Saat dijalan, Bekti menjelaskan keadaan disana sekaligus mengingatkan keduanya untuk tidak menganggu King sebelum Ia selesai latihan.


"Emang, Zaha latihan untuk apa Bang ?" tanya Anna penasaran.


Namun Bekti hanya menggelengkan kepala, tanda Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Anna barusan, atau tepatnya tidak mau lancang menjawab pertanyaan tersebut. Walau Ia sendiri sudah tahu permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Tidak lama, mereka sudah sampai di stasiun lama. Benar saja, disana tampak Zaha sedang latihan. Tidak hanya Zaha, tapi juga ada belasan pemuda lainnya yang juga sedang latihan bersamanya.


"Mbak disini dulu aja yah. Jangan kesana dulu sebelum King yang datang kesini menghampiri. Tar biar saya yang menyampaikan pada King kalau kalian mencarinya." Ujar Bekti sambil berlalu meninggalkan keduanya.


"Gila, itu beneran Kak Zaha yah Kak ?" Tanya Silvi kagum begitu melihat Zaha yang sedang menarik gerbong kereta yang sudah usang seorang diri.


"Latihan begitu, Kak Zaha mau berantem toh Kak ?" Tanya Silvi lagi.


"Eh, Kamu kok bisa menyimpulkan begitu ?"


"Kan biasa itu Kak. Lihat aja film IP Man, kan sebelum melawan musuh beratnya, Dia harus latihan dulu, buat meningkatkan kemampuannya."


"Ah, sok tahu Kamu, Dek." Ujar Anna coba menolak pendapat Adiknya. Tapi, Anna diam-diam jadi terpikir kembali, apa benar yang diucapkan oleh Adiknya itu ? kalau Zaha akan bertarung dengan musuh kuat. Apalagi melihat kekhawatiran di mata Bekti seperti tadi. Tidak seperti biasanya saat dulu Ia mengantar mereka ke rumah Zaha, ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Apalagi Zaha terlihat sangat serius dengan latihannya saat itu, begitupun belasan pemuda yang sedang latihan bersamanya. Seperti sedang latihan pasukan tempur yang biasa dilihatnya di televisi.


***


Keesokan siangnya.


Para petinggi kelompok selatan sedang berkumpul di sebuah ruko yang masih belum selesai. Tampak para petinggi senior seperti Cak Timbul, Cak Nawi, Hiukali, Jarwo, Kobang, Mang Lipay, dan para junior yang sudah mulai memiliki anggotanya masing-masing, ada Virangel, Alex, Acera, Hari, Sam, Indra, Kulup, Inggek, Rio dan Arman (mantan anak buahnya Codet dulu, yang memilih bergabung dengan kelompoknya Zaha, setelah dikalahkan oleh Zaha, keduanya memutuskan setia pada Zaha) dan terakhir Zulham yang mewakili preman di komplek Zaha tinggal, walau ada preman senior lainnya, tapi Zulham dipilih memimpin daerah sana karena faktor kedekatannya dengan Zaha dan keluarganya.


"Cak, cerita dong tentang pemimpin pertama di Kota ini sebelum terpecah seperti sekarang ?" Tanya Acera pada Cak Timbul begitu mereka selesai rapat siang itu.


"Memang dulu Kita gak terpecah-pecah kayak sekarang Bang ?" Tanya Inggek, salah satu preman yang paling muda diantara mereka saat itu.


"Iya, dulu kabarnya kota ini di kuasai oleh satu orang. Dia itu legend, Gue pun dengarnya dari cerita babe aja. Cak Timbul noh yang pernah jumpa, makanya Gue jadi penasaran dan nanya langsung sekarang, mumpung ingat, hehehe." Jawab Acera.


"Beneran Cak ? Cerita ke Kami dong Cak." Ucap yang lainnya penasaran.


"Benar tuh, apa yang dibilang sama Acera. Gue aja yang dah seumuran gini, gak sempat ketemu sama orangnya. Gue gabung saat 'Ia' sudah tidak lagi memimpin. Dan tidak lama setelah itu, Kota ini jadi terpecah jadi beberapa kelompok seperti sekarang." Sela Mang Lipay sambil menghisap cerutunya.


"Aisshh cerita lama itu, Gue sendiri juga sudah hampir lupa." Ucap Cak Timbul sambil menghela nafas dalam.


"Cerita aja Paman, mungkin Kita yang muda-muda ini bisa belajar dari kisah legenda itu." Ujar Virangel sedikit manja sambil mengelus lengan kanan Pamannya itu.


"Hahaha, Kamu paling pintar kalau soal membujuk orang yah Vi." Tawa Cak Timbul sambil mencubit pipi ponakannya itu gemas.


"Dia orang paling mengerikan sekaligus paling penyayang yang pernah Gue kenal." Ujar Cak Timbul mengawali ceritanya tentang sang legenda penguasa pertama di Kota ini.


"Dia bukan asli orang sini, dia berasal dari daerah Sumatera sana. Gue juga kurang tau Sumatera nya dimana. Orangnya biasa-biasa saja, bahkan ketika pertama datang kesini, Kami mengenalnya hanya sebagai pedagang biasa, jualan di Tanah Abang sono. Dulu, keadaannya jauh lebih parah dari sekarang. Lu kalau gak disukai sama orang-orang sini, bakalan langsung dibunuh atau bahkan disiksa dulu hidup-hidup. Hukum yang berlaku saat itu hanya hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang berkuasa."


"Saat itulah, nama orang itu tiba-tiba muncul kepermukaan. Dia muncul berdua dengan Adik angkatnya, namun Nama'nya' lebih dikenal orang. Hanya mereka berdua bisa menaklukkan para preman kelas kakap waktu itu. Waktu itu, paling terkenal Cak Sami'un. Siapa yang tidak kenal dengannya, siapa yang dinginkannya untuk mati, pasti akan mati hari itu juga. Begitupun kalau Ia suka dengan perempuan, tinggal tunjuk, maka para anak buahnya akan mendapatkan gadis tersebut, bagaimanapun caranya. 'Dia dan Adiknya' berhasil mengalahkan Cak Sami'un berikut dengan kaki tangannya. Tapi, kuat dan hebat tidak membuat 'dia' jadi sombong dan menindas semaunya seperti halnya Cak Sami'un. 'Dia' malah hadir sebagai penyeimbang dan membawa kedamaian bagi seluruh orang di Kota ini. Sejak itu, tidak adalagi tindak kejahatan di Kota ini. 'Dia' menjadi idola bagi banyak pemuda, termasuk Gue pada saat itu. Kami sampai bermimpi untuk menjadi kuat dan membela yang lemah seperti halnya 'Dia'."


"Dia ? Siapa namanya Paman ?" Tanya Virangel mewakili rasa penasaran yang lainnya.