Bunian

Bunian
Ritual



Untuk menebus semua kesalahan yang dilakukan Akmal pada makhluk astral tak kasat mata di Bunian, ritual besar harus dilakukan demi kembalinya semangat pria hitam manis yang beristrikan Cici Permata.


Upik Raya, berdandan bak putri raja, kesayangan Datuk Rajo Omeh yang dibalut baju berbahan bludru berwarna merah menyala yang di padupadankan kuning keemasan. Suntiang berbahan emas 24 karat, melekat dikepala gadis cantik rupawan putri kesayangan dari Bunian.


Tampak Cici masih memeluk Akmal di dalam kamar pengantin, yang telah dipersiapkan Datuk Mangkuto Malin.


"Bi, Ami ikhlas... demi kita berkumpul kembali. Lagian jika Abi membawa Raya, tidak akan ada yang tahu termasuk keluarga, Ami," peluk Cici pada lengan Akmal yang menggunakan baju pengantin adat Minangkabau.


"Maafkan Abi, Ami! Abi yang salah. Semoga keluarga kita kembali utuh seperti dulu. Karena Abi, benar-benar tidak menyangka akan menjadi seperti ini," Akmal mengusap lembut kepala istrinya, mengecup lembut kening Cici.


Cici duduk diranjang sederhana, yang dihiasi bunga mawar merah, sesuai permintaan Raya sang putri kesayangan Datuk Rajo Omeh.


Hari delapan, menjadi hari terakhir bagi mereka berada disana menurut aturan perkampungan Datuk Mangkuto Malin, karena tidak boleh melewati hari kesembilan.


Luqman dan Dean, tampak kebingungan, hanya mampu berbisik-bisik karena tidak tahu adat istiadat yang berada disana.


"Ini acara pengembalian semangat Akmal yah! Syukurlah, Cici tidak merasa khawatir lagi, apalagi bersedih karena kehilangan suaminya."


Dean mengangguk setuju, atas apa yang dikatakan Luqman padanya. Bagaimanapun sudah hampir empat hari mereka berada dikampung yang aman dan damai, namun tidak memiliki banyak penduduk yang berlalu lalang.


Sangat berbeda hari ini, semua tamu menghadiri acara yang diadakan sangat berbeda, bahkan mereka membawa emas 24 karat yang diletakkan disebuah nampan berwarna kuning keemasan.


Pesta!? Bukan, ini merupakan ritual penyambutan Akmal untuk mengembalikannya ke dunia nyata, yang tidak dipahami oleh keluarga Cici.


Sambutan talempong, dengan alunan biduan yang sangat merdu, merupakan satu hiburan bagi Luqman dan Dean.


Sangat berbeda dengan Dony dan Cardo, mereka justru sedang disibukkan dengan mengaduk satu wajan besar kelamai dan rendang khas Sumatera Barat secara bergantian, di dua tungku yang mereka aduk sekuat tenaga.


"Ini pesta atau apa siih!? Kayak ritual besar mau naik pelaminan!" Cardo menatap Dony karena penasaran, sambil menyeka keringat yang bercucuran, karena hawa panas yang ditimbulkan dari tungku api yang menyala.


"Lakukan saja, tidak usah banyak tanya! Karena ini permintaan Datuak Mangkuto Malin, yang penting Akmal sudah kembali ke dunia kita," Dony menjawab berbisik, karena takut kedengaran para petua yang lain.


Cardo mengangguk mengerti, baginya melihat Cici kembali membawa Akmal, merupakan satu keajaiban yang sangat luar biasa untuk keluarga mereka.


Para petua tengah duduk bersila dirumah gadang, tampak dihadiri para Datuk yang sangat memukau pandangan Luqman dan Dean.


Wajah mereka semakin penasaran, karena ingin mendengarkan pembicaraan para petua yang tengah berbisik-bisik untuk mengumumkan satu kabar bahagia menurut alam mereka tersebut.


Akmal yang mendapat gelar Datuk Rajo Mudo, tampak keluar dari kamar, di dampingi oleh Cici sang istri yang memilih duduk disamping suaminya.


Terdengar dari kejauhan, suara tawa Mira yang tengah menikmati semangkuk mie goreng yang disuguhkan oleh Sunna untuk cicit istimewanya.


"Mak," Cici memanggil dengan suara berbisik, membuat Sunna menoleh sesaat.


"Lanjuiklah, Amak disiko. Makanannyo barasiah! Oneng yang mambuek-an." (Lanjut saja, Mamak disini. Makanan ini bersih, Oneng yang membuatnya.)


Cici tersenyum tipis, kembali menoleh kearah Datuak Rajo Omeh yang juga menatapnya.


"Kok, tiba-tiba terdengar suara talempong saja?" Dean menatap kearah Luqman yang sama dengannya.


"Uda, jan duduak disitu. Rancak kawanan kami balagu disiko!" (Uda, jangan duduk disana, bagusnya menemani kami bernyanyi disini!)


Panggil biduan cantik pada Luqman dan Dean.


Saat mereka akan menaiki pentas, saat itu pula langkah mereka terhenti, karena ditahan oleh Sunna.


"Minum sajo kopi disiko, jan duduak disiten!" (Minum saja kopi disini, jangan duduk disana!)


Mendengar kalimat yang sampaikan Sunna, membuat Luqman dan Dean mengurungkan niat mereka berdua, memilih duduk didekat keponakan kesayangan.


Ada keganjilan yang dirasakan oleh Luqman, namun dia hanya diam, tidak ingin membahas apapun tentang pesta besar yang diselenggarakan dikampung itu.


Emas, menjadi tanda bahwa ritual besar yang merupakan hanya orang kaya yang sanggup membawa emas seperti itu.


"Ini seperti pesta pernikahan! Siapa yang menikah? Apakah Cici menikah kembali sesuai adat istiadat yang seperti ini?" Tanda tanya besar yang enggan dia ucapkan selaku Abang tertua bagi Cici permata.


Ya, mereka berdua hanya saling memandang, tersenyum tipis memandang kearah Sunna yang tengah sibuk menemani Mira.


Acara ritual dimulai.


Upik Raya keluar dari kamar yang berbeda, berdandan sangat memukau perhatian Cici, mengagumi kecantikan wanita yang berada disamping Akmal dengan sangat takjub.


Mas kawin yang ternyata benar-benar emas murni, dan sangat menyilaukan penglihatan Cici sebagai seorang wanita sederhana yang hanya bisa menahan diri untuk memiliki kemewahan seperti yang tampak dihadapannya saat ini.


Datuk Mangkuto Malin, memberi petatah petitih untuk menjadi menantu bunian yang sangat kental dengan larangan dan harus dilakukan sebagai bentuk kehormatan telah membawa putri mereka kedunia nyata.


"Kok iyo Datuak Rajo Mudo nio mambaok Upiak Rayo, sabagai bini. Kami salaku urang tuo baru untuak anak kami, malatak-an modal Samo Datuak Rajo Mudo dalam mamulai hiduik nan baru manjadi suami elok nan manjago harkat dan martabat salaku urang baru Keluarga Datuak Rajo Omeh." (Kalau iya Datuk Rajo Mudo mau membawa Upik Raya, sebagai istri. Kami selaku orang tua baru untuk anak kami, memberikan modal pada Datuk Rajo Mudo dalam memulai hidup baru, menjadi suami baik, yang menjaga harkat dan martabat selaku orang baru Keluarga Datuk Rajo Omeh)


Akmal mengangguk mengerti, menyambut tangan Datuak Rajo Omeh untuk kedua kalinya dihadapan para petua dan istri tercinta.


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Cici, saat mendengar Akmal menyebut nama wanita lain untuk diucapkan dalam sakralnya pernikahan, walau dialam yang berbeda.


Air mata Cici tak terasa menetes di telapak tangannya, merasa sesuatu yang sangat sakit, perih bahkan seperti teriris sembilu.


Raya yang duduk disebelah Akmal, mengusap punggung Cici perlahan.


'Kok cinto nan ditanyo, mungkin indaklah bisa dikecek-an salaku padusi'. (Kalau cinta yang ditanya, mungkin tidaklah bisa diungkapkan sebagai wanita baik)


Ijab kabul telah dikumandangkan. Datuk Rajo Omeh telah merelakan putri kesayangannya masuk ke dunia Akmal, yang sudah resmi menjadi suami, membawa sebuah asa yang akan menjadi kehidupan baru bagi Cici dan Raya selaku istri di dua alam yang berbeda.


"Mira...!?"


Akmal dan Cici kembali menoleh kearah putri kesayangan mereka, berharap tidak akan pernah mengetahui apa yang terjadi saat ini, suatu hari nanti.