
Pertandingan sengitpun tidak terelakkan. Gerakan wanita tersebut sangat lincah, ringan namun sangat mematikan. Berulang kali serangan Rio bisa dimentahkannya dan bahkan sempat mendesak mundur Rio.
Beberapa jurus telah dikeluarkan keduanya, namun posisinya masih terlihat seimbang.
Baaamm Baaammm
Benturan terakhir membuat keduanya sampai mundur beberapa langkah sambvil mengatur napas beberapa saat.
"Bangsat, kenapa lu mencampuri urusan orang."
"Hehehe, kenapa kesal begitu? Justru pertarungan seperti ini sendiri sudah berjalan dengan tidak adil."
"Cuih, jangan mengada-ngada. Bahkan kalau bocah itu dalam keadaan fit pun dan bergabung dengan seluruh anak buah terbaiknya, tidak akan bisa mengalahkanku." Jawab Rio dengan sombongnya.'
"Yakin?" Pertanyaannya singkat namun bisa membuat Rio jadi terdiam.
"Seharusnya satu pukulan terakhir bocah itu sudah membuat Kamu sadar. Itu Dia baru berada dalam kondisi 50% kemampuan aslinya." Lanjut gadis itu dengan tenang.
Ucapan gadis bertopeng tersebut membuat Rio cukup kaget.
"Apa maksud lu ? Sebenarnya siapa dia ?"
Bukannya menjawab pertanyaan Rio, Gadis itu justru malah kembali menantang Rio untuk duel kembali.
"Kalau Kamu masih nekat menyakitinya lebih dari ini, maka Aku yang akan jadi lawanmu berikutnya."
Rio geram karena tidak bisa menuntaskan dendamnya hari ini, tapi kalau Ia nekat pasti akan berhadapan dengan gadis misterius di depannya. Belum lagi, Ia melihat Komar juga sudah mulai bangkit dan berdiri di sebelah Cak Timbul.
"Cuih.." Rio meludah ke lantai sekaligus memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Masih ada lain waktu, begitu pikirnya.
Selepas kepergian Rio, wanita bertopeng tersebut langsung bergerak cepat ke arah Zaha dan memeriksa kondisinya. Begitu menyadari kondisi Zaha yang sedang kritis, Ia cepat membopong tubuh Zaha, bermaksud untuk segera memberi pertolongan secepatnya. Namun langkahnya segera ditahan oleh Cak Timbul.
"Berhenti Nona."
"Kami berterimakasih karena telah menyelamatkan Ketua Kami. Tapi, Saya tidak bisa membiarkan Anda membawa King begitu saja."
"Ssshh.. Menyingkir! Saya akan menyelamatkannya. Kondisinya sudah kritis." Ucap wanita bertopeng itu kesal karena langkahnya dihalangi
"Saya tahu. Bagaimanapun Dia adalah King Kami. Kami yang aklan menyelamatkannya." Ucap Cak Timbul tanpa beranjak sedikitpun dari tempat berdirinya. Dia sadar, jika gadis tersebut mau, maka dengan mudah Ia membawa King pergi dan menumbangkannya. Tapi, bagaimanapun Zaha adalah ketua mereka. Ia tidak akan membiarkan orang yang tidak dikenalinya membawa King begitu saja. Walau Ia harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun, maka akan dilakukannya untuk menyelamatkan King mereka, begitu tekat Cak Timbul bulat.
Wanita bertopeng tersebut geram sendiri dibuatnya, waktu yang tersisa tidak banyak. Semakin lama Ia disana akan semakin membuat kondisi Zaha semakin kritis. Jelas Cak Timbul dan semua anak buahnya tidak akan membiarkan Ia membawa Zaha begitu saja. Kalau Ia memaksa justru itu akan memakan waktu lebih lama. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk berjalan dan mendekati Cak Timbul lebih dekat, singa tua Kelompok Selatan tersebut langsung bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan serangan.
Tapi Saat selangkah di depannya, gadis bertopeng tersebut justru membuka topengnya sebentar yang hanya bisa dilhat oleh Cak Timbul.
"Ingat wajahku baik-baik. Aku akan menyelamatkannya, sudah tidak ada waktu lagi. Semakin lama disini, justru akan semakin membahayakan jiwanya." Ucap gadis itu lirih.
Melihat kesungguhan dari mata gadis tersebut akhirnya Cak Timbul mempersilahkan wanita itu pergi setelah memasang kembali penutup wajahnya.
Tampak wajah penuh tanya dari yang lainnya, namun Cak Timbul mengangguk ke arah mereka jika Ia mempercayakan keselamatan King mereka pada wanita tersebut.
***
Wanita bertopeng tersebut mengendarai mobil Civicnya dengan kecepatan tinggi, seolah sedang berpacu dengan waktu. Disebelahnya terbaring Zaha dengan tubuh berlumuran darah.
"Bos, ada dua mobil mengikuti dari belakang." Ucap suara waniat dari HT yang terpasang di dashboard mobil.
"Yellow, Orange.. Lakukan tugas kalian berdua." Perintah wanita tersebut.
Tidak lama, dua mobil yang sama dengan sang penyelamat muncul dari arah pertigaan langsung menyusul disamping mobil yang mengikuti sang penyelamat Zaha. Dengan Skill tingkat tinggi keduanya berhasil menyalip dan mobil yang menguntit dibelakang mereka. Entah bagaimana caranya, kedua mobil Civic tersebut berhasil mengalihkan dua penguntit tersebut.
Sampai si wanita misterius tersebut benar-benar memastikan tidak ada lagi kendaraan yang mengikutinya. Dia membelokan mobilnya menuju arah puncak, menuju suatu bangunan yang selama ini sangat jarang disinggahinya. Namun demi rencana yang telah di susunnya hari itu, terpaksa Ia kembali ke tempat tersebut. Tempat itu sendiri lebih menyerupai rumah tinggal daripada disebut Villa, karena dari luar hingga masuk ke dalam ruangan utama rumah terlihat biasa dan sudah berdebu karena jarang ditempati. Tapi siapa sangka didalamnya justru terdapat fasilitas medis yang sangat lengkap, bahkan dalam ruang lainnya terdapat perlengkapan perang yang cukup untuk menghancurkan sebuah pulau Jawa sekalipun.
Ia membaringkan Zaha diatas Hospital Bed yang terdapat ditengah ruangan. Walau terlihat tenang, tapi justru gadis itu yang paling cemas memikirkan keadaan Zaha. Berulangkali dadanya berdebar cukup kencang karena melihat kondisi Zaha nyang sedang kritis, bahkan tanpa sadar air matanya sudah mengalir dipipi putihnya yang mulus.
***
Dua orang wanita dengan langkah terburu membawa seorang wanita yang sudah ditutup seluruh bagian wajahnya dengan kain hitam. Apakah Ia korban penculikan ?
Wanita tersebut didudukan dalam sebuah ruangan, dimana ruangan itu sendiri dilengkapi peralatan medis yang sangat lengkap. Dua wanita yang menculik pergi meninggalkan ruangan, kini tinggal si wanita yang tadi mereka culik bersama dua orang lainnya.
Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya saat penutup wajahnya dibuka oleh wanita lain yang ada dalam ruangan tersebut.
Deg deg deg
Sesaat si Wanita sempat mengira Ia akan disiksa atau akan diperjual belikan, padahal Ia selama ini Ia merasa tidak punya musuh sama sekali. Namun, saat Ia dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, ada dua orang berpakaian serba hitam yang membekapnya saat diparkiran. Suasana sore yang lengang memudahkan aksi penculiknya, tanpa meninggalkan satu orang pun saksi.
"Ja-jangan siksa saya.. Mohon.. haahh haahhh.." Nafasnya terasa sesak ketakutan karena sempat mengira wanita yang barusan membuka penutup wajahnya itu akan menyiksa dirinya.
"Hai, Dok! Tenang." Ucap Wanita itu.
Saat itu baru disadarinya, jika wanita cantik yang membuka wajahnya barusan tampak sedang tegang, tubuhnya penuh darah. Eh, darah ?
"Ini bukan darah Saya Dok. Maaf jika rekan saya terpaksa menculik anda. Saya butuh bantuan anda." Ucap Wanita itu lagi seakan mengerti arti tatapan wanita yang diculik rekannya barusan.
"M-maksud Anda ?"
"Saya mohon tolong selamatkan Dia." Kata Wanita itu lagi sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang terbaring bersimbah darah diatas meja operasi.
"Ta-tapi.."
"Saya mohon Dokter. Saya tahu ini adalah bidang Anda, Kita tidak punya banyak waktu lagi atau Saya akan kehilangan Dia untuk selamanya.." Ucapnya memohon sekaligus agak memaksa si Dokter berdiri dan berjalan ke arah pemuda yang dimaksudnya.
Walau berada tekanan dan perasaan yang masih campur aduk, namun jiwa media si Dokter langsung tergerak begitu melihat pemuda yang sangat parah. Bahkan kasur yang menjadi alasnya saja sudah merah oleh darah yang keluar dari tubuhnya.
"Dia ?" Ucap si Dokter yang merasa familiar dengan wajah pemuda yang sedang tidak sadarkan diri itu.
"Dok.. Waktu Kita tidak banyak, apa yang anda butuhkan ? Akan Saya siapkan." Ucap Wanita disampingnya mengingatkan.
Dokter wanita tersebut merupakan ahli medis yang cukup terkenal di Kota itu. Pengalamannya pun tidak sedikit, tapi entah kenapa ketika melihat pemuda yang sedang sekarat didepannya itu seluruh tubuhnya seakan kaku. Kilasan bayangan masa lalu yang lama hilang dari ingatannya kembali berputar dalam ingatannya, ini seperti Dejavu. Kedua tangan Dokter malah gemetar ketika memegang pisau bedah, tanpa disadarinya air matanya jatuh dengan sendirinya. Padahal Ia sadar sesadarnya jika pemuda yang ada didepannya itu orang yang berbeda, tapi perasaan itu ? Perasaan yang sedang dirasakannya saat ini, terasa sama dengan waktu itu.
"Dok.." Panggil wanita disebelahnya cukup keras, menyadarkan si Dokter dari kenangan masa lalunya.
***
Dalam sebuah gedung tampak seorang pria dengan celana hitam dan bertelanjang dada, serta sebuah tato ular cobra di bagian dadanya tertawa terbahak-bahgak, seolah Ia sedang bersuka cita atas kabar yang barusan didengar dari anak buahnya.
"HAHAHA..."
"Akhirnya tiba juga waktunya bagiku.. HAHAHA."
"Kalian semua bersiaplah! Kita serang markas Kelompok Selatan."
"SIAP KETUA." Teriak puluhan orang yang ada dalam ruangan tersebut, belum lagi ratusan orang lainnya yang juga sudah bersiap di luar ruangan.