Bunian

Bunian
BAB 67



Langkahnya ringan bagai kapas, gerakannya senyap tanpa suara dengan mata yang awas dan tajam mengamati setiap situasi yang terjadi dalam gedung tua tersebut.


Dia tidak peduli dengan semua pertempuran brutal antar dua kelompok yang sedang bertarung di dalam gedung tersebut. Walau darah sudah berceceran dimana-mana, tubuh sudah bergelimpangan disana-sini, entah mereka sudah mati ataupun pingsan, karena yang membuatnya peduli hanyalah seorang pemuda yang ikut terlibat dalam pertarungan maut tersebut. Dia harus memastikan pemuda itu baik-baik saja, memastikan keselamatannya.


Sosok itu adalah Hera a.k.a Angel. Bahkan dia sudah ada dilantai dua gedung tersebut sebelum Zaha dan pasukannya sampai disana. Sejenak timbul kecemasan dalam diri Angel begitu melihat siapa yang telah menunggu Zaha dan pasukannya di lantai atas tersebut.


Tidak berselang lama, Zaha dan pasukanya tampak masuk ke lantai atas tempat dimana Cakra dan anak buahnya sudah menunggu kehadiran mereka.


Dalam rombongan Zaha, yang terlihat masih bugar cuma Zaha dan Cak Timbul. Sementara Cak Nawi, Jarwo dan Mang Lipay sudah lumayan terkuras tenaga mereka akibat pertarungan dengan pemimpin pasukan kirinya Kelompok Timur. Yang lainnya? Hanya semangatlah yang membuat mereka masih dapat bergerak sampai disana. Melihat dari peta kekuatan yang ada, sepertinya peluang untuk menang bagi kubu Zaha sangatlah kecil. Tidak heran jika Cakra dan anak buahnya terkesan mencibir dan meremehkan Kelompok Selatan pimpinan Zaha.


Tapi, sepertinya Tuhan belum berkehendak pertempuran tersebut akan berakhir dengan secepat itu. Dari arah luar gedung tampak puluhan remaja yang masih berseragam sekolah datang dengan semangat membara dan berjalan terburu memasuki gedung dan langsung naik menuju lantai dua.


Melihat hal itu, Angel jadi sedikit tersenyum lega. Ia berbicara pelan melalui alat komunikasi kecil yang ada ada dikerah bajunya.


"Green, eksekusi plan C."


"Yellow dan Orange, bersiap di posisi."


Ujar Angel menginstruksikan pada rekan-rekannya.


Terdengar sedikit interupsi di seberang sana, "Plan B, apa masih perlu bantuan Kami, Bos?" Tanya seorang wanita dengan codename Red.


"Tidak usah. Cukup Aku sendiri yang akan mengeksekusi plan B."


"Baik Bos." Ujar mereka kompak dan bersiap dengan posisi masing-masing. Sementara wanita dengan codename Green sudah bergerak ke suatu tempat untuk mengeksekusi plan C sesuai perintah Angel padanya.


***


Walau kalah jauh dari segi jumlah, tapi tak membuat satu orangpun di kubu Zaha terlihat gentar. Apalagi saat itu terdengar derap langkah kaki yang sangat banyak menuju ke tempat mereka. Saat Zaha melihat siapa yang datang, Ia hanya tersenyum kecil.


"Adam." Sapa Zaha begitu puluhan anak STM itu sudah berkumpul di barisan belakangnya.


"Halo King! Kenapa tidak bilang-bilang jika ada pesta disini? Kami kan juga mau ikutan, hahaha." Ujar Adam dengan senyum penuh semangat, begitupun dengan puluhan remaja yang ada dibelakangnya.


Dibelakangnya tampak wajah garang dan serius dari teman-temannya Adam. Tidak terlihat rasa takut sedikitpun dari wajah mereka walau lawan yang mereka hadapi adalah sarangnya preman di Kawasan Timur. Kebiasaan mereka tawuran sepertinya akan tersalurkan hari ini.


"Hehehe, punya nyali juga kalian." Ucap Acera.


Walau Adam dan teman-teman sekolahnya adalah bajingannya STM, tapi dengan yang lebih senior mereka tetap hormat.


Sepertinya bantuan dari para bajingan STM itu belum cukup mampu untuk menambal ketimpangan jumlah di Kelompok Selatan. Di tengah ruangan, berdiri dua pemimpin pasukan Kanan Kelompok Timur dan dibelakangnya sudah ada sekitar 60-80 orang pasukan mereka. Sementara dibagian paling belakang, tampak Cakra duduk di sebuah kursi sambil menikmati cerutu kesayangannya dengan Rio disebelahnya, ditambah seorang pemuda asing berbadan tegap berdiri dibelakang Rio.


Anak buah dari pasukan kanan sendiri, jelas bukan orang sembarangan. Apalagi mereka adalah pasukan elitnya dari Kelompok Timur.


Dua ? Tunggu dulu, bukankah menurut keterangan Darko, Pasukan Kanan terdiri dari tiga pemimpin. Terus dimana satu orang pemimpin lainnya ?


Pertanyaan itu terjawab, begitu pintu samping ruangan yang mengarah dari arah samping gedung terbuka. Tidak lama, tampak Komar dengan diikuti anak buahnya yang berjumlah lebih kurang 20 orang masuk ke dalam ruangan, mereka berjalan dan ikut berbaris di samping Kelompok Selatan. Itu semua sudah menjelaskan pada siapa mereka berpihak.


Langkahnya sangat tegap dan penuh percaya diri. Tidak heran jika dia menjadi satu dari tiga pimpinan pasukan kanan. Jika dibandingan dengan pasukannya Zaha, mungkin hanya Cak Timbul yang bisa menyamai kharismanya.


Kedatangan Komar sendiri, membuat keriuhan sedikit terjadi dalam barisan pasukan lawan. Tampak anak buah dari dua pimpinan Kelompok Timur mulai resah. Bagaimanapun Komar merupakan salah satu pimpinan elit di kelompok mereka, dengan berpalingnya Komar pada Kelompok Selatan, jelas akan membuat kekuatan tempur mereka jadi jauh berkurang. Namun, hal itu seperti tidak ada pengaruh sama sekali bagi Cakra. Tampak Ia masih terlihat santai, begitupun dengan Rio yang duduk di sebelahnya.


Komar sendiri dan pasukannya langsung bergabung dalam barisan pasukannya Zaha. Tampak Komar berbicara pelan pada Cak Timbul, setelah itu Ia membungkuk hormat pada Zaha yang berdiri di sebelah Cak Timbul.


Suasana yang tampak hangat itu, jadi terhenti begitu salah seorang pemimpin kanan bersuara lantang menyindir kehadiran Komar saat itu, "Akhirnya terwujud juga keinginan lu, Komar! Kesetiaan lu pada ketua terdahulu patut di acungi jempol."


"Tapi, keputusan lu hari ini akan membuat lu ikut bergabung bersama bangkai junjungan baru lu itu, hahaha.." Tawanya disertai orang-orang disekelilingnya.


Komar sendiri tampak tenang, tidak termakan banyolan mantan rekannya di pasukan kanan tersebut.


"Hmnn Gue justru heran sama lu, Yasir, Rifat." Ujar Komar sambil menatap pemimpin pasukan kanan yang bicara sebelumnya dan juga rekan yang sebelahnya.


"Dulu itu, kalian bagai singa. Entah kalian dikasih makan apa sama si Cakra sampai jadi anjing penurut begini."


"Hehehe, sekali-kali bicara. Ternyata mulutmu masih pedas aja, Komar. Tapi, saya ragu. Apa kemampuanmu juga sepedas mulutmu." Ujar pemimpin Kanan Rifat.


"Gimana kalau Kita buktikan aja." Ujar Komar langsung melempar tantangan pada Rifat.


Suasanapun langsung memanas begitu Komar selesai mengucapkan kata tantang tersebut. Kedua kubu tampak saling bersiap dan seperti sudah memilih lawan masing-masing.


Zaha sendiri cukup awas dan cermat melihat setuasi. Otaknya sudah bisa menganalisa keadaan dengan cepat. Mungkin Ia bisa menyerahkan dua pimpinan pasukan kanan Kelompok Timur pada Cak Timbul dan juga Komar. Tapi, Zaha sedikit gamang ketika melihat ke tempat Cakra yang berada dibagian belakang. Disana tampak Cakra duduk tenang ditemani oleh seorang pemuda berbadan tegap, dari perawakannya Ia seperti pasukan militer terlatih. Belum lagi pemuda yang berdiri dibelakang mereka.


Sepertinya apa yang dipikirkan oleh Zaha, senada dengan pikiran Cak Timbul, "King, Kami akan maju dulu. Saya tahu, kalau King sudah tidak sabar untuk masuk ke medan tempur nanti. Tapi, Kita perlu waspada pada Cakra dan dua orang yang ada bersamanya." Bisik Cak Timbul pelan.