Bunian

Bunian
BAB 106



Zaha mengusap keningnya yang mulai sedikit pusing dengan adanya juragan Chintung dan juga istrinya yang terus memohon-mohon agar Ia dapat menyelamatkan putri mereka. Oleh sebab itu, Zaha hanya dapat berkata singkat untuk menenangkan keduanya, "Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal untuk kalian berdua. Tapi, Aku akan menyelamatkannya. Sekarang, kembalilah!"


Setelah mendapatkan penegasan dari Zaha, baik juragan Chintung dan juga Tyara istrinya, tampak sedikit lebih tenang. Juragan Chintung dalam lain hal, tampak menunduk malu dan tidak berani menatap mata Zaha saat ini.


Teringat dengan perbuatannya dimasa lalu, juragan Chintung merasa lebih malu lagi. Orang yang coba disakitinya dimasa lalu, justru adalah orang yang akan menolongnya saat ini.


"Nak Zaha.. Ma-maaf, maksud saya King. Terimakasih, kami akan mengingat jasa ini seumur hidup kami." Jawab hampir hendak berlutut dihadapan Zaha.


Zaha melambaikan tangannya dan berkata acuh tak acuh, "Tidak usah dipikirkan."


Selanjutnya, Zaha meminta salah seorang anggotanya untuk mengantar juragan Chintung dan istrinya pergi. Jika tidak begitu, Ia tidak akan bisa mengorek informasi lebih lanjut dari Jafar dan Anke. Dengan waktu yang semakin terbatas, Ia harus bergegas membuat rencana untuk menyelamatkan Chintya.


Sehingga, begitu juragan Chintung dan istrinya telah pergi. Zaha langsung beralih pada Jafar, "Sekarang katakan! Apa rencana Abdi Batubara, jangan ada yang disembunyikan. Atau... Aku tidak akan bisa menahan orang-orangku disana untuk menyakiti keluargamu."


Mendengar itu, wajah Jafar tampak memucat. Bagaimana Ia masih berani berbohong? Jika nasib keluarganya sedang dipertaruhkan.


Melihat King yang begitu teliti dan tegas dalam bersikap, Ia tidak akan ragu sedikitpun untuk memerintahkan anggotanya yang sedang mengawasi keluarga Jafar untuk dieksekusi.


Tanpa menyembunyikan satu apapun, Jafar menceritakan segala rencana yang telah disiapkan oleh kelompok Abdi untuk menjebak Zaha. Termasuk dengan tindakan mereka yang sengaja menyamar sekaligus menjalankan perintah Abdi Batubara dari dalam organisasi yang dipimpin oleh King.


Setelah mendengar paparan Jafar, Zaha mengangguk kecil sekaligus dengan cepat menganalisis rencana musuh.


Selanjutnya, setelah cukup waktu untuk Zaha membaca rencana musuh. Ia mulai memetakan beberapa peluang untuk menyelamatkan Chintya sekaligus menumpas Abdi Batubara, Ryo putranya serta orang-orang yang berada dibelakang mereka.


Dari beberapa rencana, Zaha coba menimbang peluang kerbehasilan paling besar dan selanjutnya mengeksekusi rencananya dengan teliti.


Zaha beralih pada Jafar, "Siapa diantara kalian yang ditugaskan untuk mengantarku ke tempat mereka?"


Anke dengan ragu-ragu mengangkat kepalanya dan mengaku kalau dialah yang bertugas untuk mengiring Zaha ke dalam markas Abdi, agar menghindari kecurigaan semua orang. Jadi, Jafar bertugas sebagai penerima paket dan didalam paket tersebut Abdi sudah menegaskan kalau Zaha hanya bisa membawa satu orang sebagai pengecualian. Namun orang yang dibawa tidak boleh petinggi ataupun orang yang memiliki peranan penting dalam organisasi. Sehingga, Anke akan sangat cocok untuk memainkan peran tersebut.


"Baiklah, kalau begitu kamu silahkan tanyakan pihak Abdi waktu pertemuan dan tempat mereka? Kita ikuti rencana mereka." Jawab Zaha dengan tenang.


Para petinggi langsung menyampaikan keberatannya, "King, mereka sudah jelas menyiapkan rencana ini untuk menjebak anda. Tidak mungkin anda akan mendatangi mereka seorang diri kesana." Cak Timbul adalah orang pertama yang mengajukan keberatannya dan diikuti oleh para petinggi lainnya.


Bahkan para pemimpin Junior, seperti Virangel, Acera dan yang lainnya juga ikut menyuarakan ketidak setujuan mereka.


Zaha yang melihat keberatan semua orang, bisa memakluminya. Bagaimanapun itu adalah bentuk proteksi mereka terhadap dirinya, disisi lain Zaha merasa terharu dengan besarnya kepedulian semua orang terhadapnya.


Suatu hal yang tidak pernah dirasakan dalam kehidupan masa lalunya, karena itu Zaha bisa tersenyum hangat dan berkata, "Siapa bilang Aku akan menyerahkan kepalaku begitu saja pada mereka."


"Hahaha, tentu saja. King adalah orang yang sangat cerdas dengan banyak rencana, King pasti sudah menyiapkan rencananya untuk menghadapi orang-orang pengecut seperti kelompoknya Abdi ini. Perintahkan saja, King. Kami siap melakukan apapun yang anda perintahkan." Padri adalah orang yang bersemangat. Setelah mendengar satu patah kalimat dari King, Ia tahu pasti King telah menyiapkan rencana sendiri untuk mengcounter rencana licik Abdi. Tidak seperti yang lain, Padri justru terlihat lebih tenang dan menunggu King untuk mengatakan rencananya.


"Senior Padri, sangat mengerti apa yang kupikirkan." Puji Zaha, lalu Ia menambahkan kembali, "Saat ini, cukup minta Jafar untuk menghubungi kelompoknya Abdi dan memberitahu jika rencana mereka telah berhasil. Katakan padanya, kalian sempat dicurigai tapi kalian berhasil menyakinkan semua orang. Toh pada akhirnya, Aku akan datang berdua bersama Anke kesana. Yang lain cukup menantikan kabar baik dariku."


Beberapa pimpinan junior hendak mengajukan protes, namun keburu mendapat lirikan tajam dari Hiukali. King sudah mengucapkan tekadnya diawal kalimatnya. Mereka yang sudah berpengalaman pasti tahu jika King tidak ingin mengungkapkan rencananya saat itu, dimana masih ada Jafar dan Anke. Atau bahkan bisa saja ada pengkhianat lainnya dalam kelompok mereka.


Hebatnya Zaha, dia sudah mengantisipasi hal itu dengan hanya mengungkapkan samar tentang maksudnya. Apa jadinya, jika King membuka kartunya sekarang dan ada yang mengetahui rencana tersebut. Maka semua usaha mereka akan berakhir dengan sia-sia.


Setelah mendengar instruksi dari Zaha, Jafar segera menghubungi Abdi Batubara langsung dan melaporkan tepat seperti apa yang telah instruksikan King padanya. Sempat Ryo mengintrogasi Jafar, tepat seperti yang diduga oleh Zaha sebelumnya. Karena Zaha telah mendikte apa yang perlu dikatakannya, Jafar bisa menghindari kecurigaan terlalu jauh dari Ryo.


Selanjutnya, pihak Abdi memberitahu kapan Anke harus membawa Zaha bersamanya dan memastikan kalau yang datang hanya Zaha bersama Anke saja berdua.


Ditempat Abdi saat ini.


Begitu mereka selesai melakukan panggilan dengan Jafar, Abdi langsung bertanya pada Ryo anaknya.


"Nak, menurutmu rencana kita sudah terbongkar?" Tanya Abdi penasaran. Ia mendengar percakapan antara Ryo dan mulai curiga jika rencana mereka terendus oleh King dan yang lainnya.


Ryo hanya tersenyum sinis, tapi Ia terlihat begitu tenang dan berkata, "Kalau itu hanya pemimpin Kelompok biasa seperti Kobra, maka ada kemungkinan mereka akan memainkan rencana cadangan. Tapi, setahuku King yang mereka banggakan itu adalah orang yang lurus dan masih berusia remaja. Rencana bagus apa yang bisa disiapkan oleh seorang remaja seusianya?" Ujar Ryo meremehkan.


"Kalaupun para tua bangka dalam keompok mereka telah menyiapkan rencana lain, Aku juga telah menyiapkan neraka untuk menyambut mereka semua." Lanjut Ryo dengan percaya diri. Ia menepuk tangannya dua kali dan tidak lama, 10 orang berbadan tegap dan mengenakan seragam khas militer masuk ke dalam ruangan.


Melihat itu, Abdi langsung bertanya, "Siapa mereka?"


Ryo dengan bangga memperkenalkan sepuluh orang yang dibawanya.


"Mereka adalah para sniper handal. Mereka adalah rekan seperjuanganku ketika di militer, kali ini mereka semua akan membantu kita untuk menghancurkan siapapun yang ikut membantu King, bahkan tanpa mereka sempat menyadarinya."


Mendengar itu, wajah Abdi dan semua orang didekatnya langsung sumringah dan bersemangat, "Bagus, bagus... Kalau begini, kita tidak lagi perlu khawatir berapapun banyaknya bantuan yang akan dibawa oleh King. Karena mereka semua akan kita buat tumbang, hahaha."