Bunian

Bunian
BAB 83



"Kayak lu bisa melewati kita-kita aja. Orang licik macam lu, belum layak untuk menghadapi King." Ujar Hiukali menimpali dengan nada mengejek untuk memancing emosi lawan.


"Hahaha belum layak, atau King kalian itu yang lari bersembunyi dan gak berani menghadapi Kami ?" Balas Kobra merendahkan bos Kelompok Selatan.


"Cakra saja disamperin ke markasnya, apalagi menghadapi pengecut seperti kalian yang berani menyerang saat tahu Kami yang sudah kekurangan banyak kekuatan tempur, hehehe gak level Bung." Balas Hiukali yang dengan cerdiknya membalas ucapan Kobra.


Dan memang, tampak Kobra sangat tersinggung dengan ucapannya tersebut. Begitupun dengan anak buah dibelakangnya yang tampak geram dan tidak sabar untuk menyerang.


"Hiukali, sepertinya mulut lu masih aja berbisa seperti dahulu. Sayang, orang macam lu gak mau Gue ajak bergabung dahulu.."


"Gabung dengan pengecut macam kalian ? maaf, Gue juga gak sudi kali.." Sela Hiukali tertawa mengejek lawan.


Tampak wajah berang Kobra, "Baiklah, jangan bilang kalau Gue gak menghargai tetua macam kalian. Sebagai penghormatan, Gue akan biarkan separuh anak buah Gue yang akan maju melawan kalian. Berdoa saja, kalian gak koit duluan."


"Bacot, sekalian kau aja yang maju." Timpal Kobang dengan nada lantang.


"Keenakan buat lu Kobang, bisa mati cepat lu nanti. Biar anak buah Gue yang akan bersenang-senang dengan kalian semua." Kata Kobra tersenyum bengis.


"Kalian, maju. Ingat! Jangan kembali sebelum berhasil membantai mereka semua." Perintah Kobra pada anak buah terbaiknya, dimana dibelakang mereka sudah ada belasan bawahan yang tak kalah kejamnya.


"Siap Bos!"


Melihat pasukan musuh yang sudah bersiap menyerang, Cak Timbul dan kawan-kawanpun bersiap bertarung. Tidak ada rencana seperti kala menghadapi Kelompok Timur pimpinan Cakra, semuanya akan bertarung habis-habisan.


"MAJU SEMUA, HUUU YAAAAA..." Teriak Cak Timbul dengan suara lantang.


"HUUUU YAAAAAAA..." Ucap semua orang dibelakangnya menjawab seruan perang Cak Timbul.


Letusan pertempuran pun pecah antara kubu Kelompok Utara dengan Kelompok Selatan yang dikomandoi oleh Cak Timbul dengan dibantu oleh Komar dan beberapa orang anak buahnya.


Pertempuran yang tidak seimbang pun dari kedua belah pihak berlangsung dengan begitu sengitnya, walau kalah dari segi jumlah tidak membuat Kelompok Selatan surut sedikitpun. Satu orang dari Kelompok Selatan sampai menghadapi dua sampai empat orang sekaligus.


Cak Timbul dan Komar bahkan sampai menghadapi 6-8 orang secara bersamaan, namun ketenangan keduanya membuat para pengeroyoknya balik kewalahan. Begitupun dengan Hiukali dengan jurus silatnya, mampu merobohkan setiap lawan yang datang menyerangnya. Kobang sendiri mengamuk dengan golok andalannya. Tidak tanggung-tanggung, kali ini Ia benar-benar tidak memberi ampun sedikitpun pada lawan. Melihat cara lawan membantai anak buahnya dengan tidak mengindahkan perjanjian lama, membuat emosi Kobang memuncak sehingga Ia pun tidak menahan diri lagi seperti pertarungan sebelumnya dengan Kelompok Timur.


Kobang menggila dengan golok ditangannya, yang langsung menyerang titik vital lawannya. Beberapa kepalapun sampai menggelinding di lantai akibat tebasan golok tajamnya.


Praangggg


Sampai adanya dua benturan senjata tajam berbenturan kuat dan terdengar sangat keras memekakkan telinga siapa saja yang berada disekitarnya. Bunyi tersebut berasal dari dua golok yang baru saja saling beradu serangan. Rupanya salah seorang anak buah terbaik Kobra maju untuk menghadapi Kobang secara langsung.


tap tap


Keduanya sama-sama mundur beberapa langkah kebelakang.


Kobang sedikit mengibaskan tangannya akibat kebas yang ditimbulkan oleh kekuatan serang lawan. Lawannya pun melakukan hal yang sama, sepertinya benturan serangan barusan membuat mereka sama-sama mengukur kekuatan dan kemampuan lawan.


"Hehehe, akhirnya bisa juga bertemu Kobang si golok pembantai dari Kelompok Selatan. Hari ini Kita buktikan, golok siapa yang lebih jago.."


Begitupun dengan para petinggi Kelompok Selatan lainnya, masing-masing dari mereka saat ini berhadapan langsung dengan petinggi dari Kelompok Utara.


***


Diluar gedung, beberapa kompi pasukan Polisi yang dibantu oleh pasukan TNI tampak sudah bersiaga penuh. Bahkan beberapa orang sniper sudah bersiap dibeberapa titik.


"Semua sudah berada diposisi, siap menunggu perintah Anda, Pak." Ujar salah seorang snipernya melalui alat komunikasi kecil ditelinganya.


AKBP Erik mengumpulkan beberapa anak buahnya dan juga salah seorang komandan TNI untuk memberi arahan sambil mengembangkan gambar peta bangunan yang barusan diberikan oleh anak buahnya.


"Pasukan elit masuk terlebih dahulu melalui titik ini, untuk mengamati situasi. Usahakan jangan sampai ketahuan, amati situasi didalam dan terus laporkan." Mulai AKBP Erik memberi arahan. AKBP Erik yang sudah kenyang pengalaman sewaktu masih aktif di lapangan dulu, membuatnya dengan cepat bisa membaca situasi. Sehingga langkah seefektif mungkin bisa dengan cepat diambilnya, tanpa harus menimbulkan konfrontasi terbuka.


"Sebisa mungkin hindari kontak dengan kelompok mafia yang sedang berseteru, saat ini fokus Kita menyelamatkan warga sipil yang sedang terjebak didalam."


"Tapi, Anda tahu sendiri saat ini Kita sedang berada di markasnya Kelompok Selatan, salah satu mafia yang berkuasa di kota ini. Mustahil masuk tanpa ketahuan di markas mereka." Ujar salah seorang komandan TNI yang sudah faham betul seperti apa kekuatan kelompok mafia tersebut.


"Justru itu, pasukan elit akan masuk terlebih dahulu untuk mempelajari situasi yang terjadi di dalam saat ini. Untuk itu saya mohon bantuan TNI untuk membantu Kepolisian nantinya, jika situasi memuncak dan tidak bisa dikendalikan." Mohon AKBP Erik serius.


Sang Komandan TNI pun hanya mengangguk, menyanggupi permintaan Sang Kapolres.


Selanjutnya, AKBP Erik memerintahkan salah seorang bawahannya untuk memberi instruksi teknis dan extra plan untuk menghadapi setiap situasi yang terjadi diluar perkiraan mereka nantinya.


***


Ditempat lainnya, Rio yang tidak berhasil membunuh Zaha tampak melampiaskan emosinya di dalam salah satu kamar dalam Vilanya. Tubuh kekarnya tampak penuh tenaga bergerak naik turun diatas tubuh putih mulus yang ada dibawahnya.


Siapapun yang melihatnya, itu bukan lagi terlihat seperti orang yang sedang bercinta. Melainkan seperti pemerkosaan, geliat tubuh indah dibawah tubuh Rio bukan lagi karena gairah menjemput kenikmatan malainkan kesakitan. Namun, apa dikata Ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman tubuh kekar diatasnya. Berulang kali bibir sensual itu mengerang kesakitan. Bagian intimnya terlihat sudah memerah dan sedikit mengeluarkan darah karena kuat dan kencangnya benda tumpul yang keluar masuk menggempur liang kenikmatan tersebut.


"Akhhh sakit, ampunnn.. periihhhh.." Isaknya.


Tapi, pria yang sedang menggenjotnya sama sekali tidak menghiraukannya. Dalam matanya saat itu, yang terbayang adalah kegagalannya membunuh Zaha.


Bughhhhh


"Aaahhhkkkkkk.."


Rio semakin kuat menghentakkan pinggul dan menyodokkan senjata tumpulnya lebih kuat dengan ritme yang cepat seperti piston, sehingga benda panjang berurat tersebut menghentak semakin dalam dan kuat kedalam liang peranakan si wanita, membuat lawan bercintanya tersebut semakin tersiksa dengan rasa sakit dan perih yang diterimanya.


Plok plok plokkk


"Ahkkkkkk.."


Plok plok plokkk


"Ahkkkkkk.. Hentikan mas, perihhh.." Ucap wanita tersebut memohon dengan wajah memerah menahan sakit di bagian kelaminnya.