
Aku sendiri belum mengenal siapa Rival dari Cak Timbul tersebut, tapi bisa Kupastikan kalau Ia pasti juga orang hebat. Dan herannya, kenapa bukan Cak Timbul yang memimpin kelompok Selatan ? Seharusnya dengan kemampuan yang dimilikinya, Dia bisa mengimbangi Codet dalam duel 1 lawan 1. Kurasa dengan Karakternya, Cak Timbul justru akan lebih baik dalam memimpin Kelompok Selatan dibandingkan Codet. Atau, dulunya Ia pernah bertarung dengan Codet terus kalah ? Tapi, entahlah! Kurasa setiap orang memiliki prinsip hidup masing-masing.
Kulihat Yasir tampak sangat kesal, karena dalam beberapa jurus masih belum bisa melemahkan pertahanan Cak Timbul.
"Hmnn ternyata, singa tua mantan pengawalnya pendiri tidak ada apa-apanya." Ujar Yasir coba memprovokasi Cak Timbul agar mau melayani serangan brutalnya.
"Hehehe, kenapa Yasir ? Apa lu sudah mau nyerah ?" Jawab Cak Timbul dengan tenang, tidak termakan pancingan lawan.
"Saya kira, seorang Singa Tua seperti Cak Timbul begitu hebat seperti legenda. Ternyata bisanya cuma menghindar layaknya singa ompong yang sudah kehilangan tajinya." Ucap Yasir yang masih coba memprovokasi.
"Bukankah seharusnya lebih mudah bagi lu, menumbangkan singa tua ini, Yasir! Hehehe." Lagi-lagi ketenangan Cak Timbul membuat pancingan lawan seakan tidak berarti apa-apa.
Aku sendiri jadi ikut tersenyum simpul melihat respon tenang Cak Timbul yang justru malah membuat lawannya sendiri jadi emosi sendiri. Pancingannya tidak berhasil, malah membuatnya emosi sendiri.
"Ah, banyak bacot lu, Pak Tua anjing..."
"Hyaaatt.."
Yasir memberondong Cak Timbul dengan beberapa pukulan yang sangat kuat dan tajam. Kelihatannya Dia sangat bernafsu untuk menumbangkan Cak Timbul.
Dua serangan Yasir dihindari Cak Timbul dengan merunduk ke bagian bawah dan langsung mendekat ke arah sang lawan. Yasir tersenyum tipis, merasa lawannya akan jadi sasaran empuk serangannya.
Benar saja, Yasir langsung menurunkan sikutnya hendak menghantam punggung Cak Timbul. Aku sempat cemas sesaat, karena kalau terkena serangan tersebut dibagian punggung bisa berakibat fatal. Namun siapa sangka, Cak Timbul justru telah mengincar lawannya untuk melakukan serangan tersebut. Dengan gerak yang sangat akurat, Cak Timbul memutal pinggangnya kesamping dan menjadikan sikut lawan sebagai pegangan dengan membelitkan tangan kanannya kebagian dalam, terus dengan gerakan terukur Cak Timbul menaikan lututnya ke atas, dan tepat menghantam dahi lawan.
Baammmm
Membuat kepala lawan terdongak sampai ke atas, pukulan itu sendiri Aku rasa tidak cukup keras karena posisi naiknya yang tidak bisa memaksimalkan power serangan. Tapi, siapa sangka. Justru gerakan itu awal dari serangan berikutnya, begitu lutut Cak Timbul menghantam dahi lawan, Ia jadi lebih bebas dalam menggerakan bagian bawah tubuhnya. Alhasil, satu buah tendangan putar menghantam telak dada Yasir.
Baaammmmm
Yasir pun sampai terlempar beberapa kaki jauhnya dan langsung terhempas kelantai dengan kepala belakangnya menicum lantai terlebih dahulu.
Cak Timbul sendiri tidak langsung menyarangkan serangan susulan, tapi justru lebih memilih menetralkan pernafasannya terlebih dahulu. Rupanya, gerakan yang terlihat sulit barusan lumayan menguras tenaganya.
Yasir sempat terbatuk dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya, nafasnya tersengal dan terdengar berat. Bukannya beristirahat, justru Ia bangkit dengan wajah yang mengerikan. Rupanya, pukulan dari Cak Timbul barusan membuat harga dirinya tercoreng karena merasa sudah percaya diri dengan kemampuannya, justru menjadi orang pertama yang jatuh duluan,
"Bangsat! Jika hari, Gue gak bisa membunuh lu. Maka jangan sebut lagi nama Gue Yasir si Pembantai." Ucapnya dengan nada tinggi.
"Lah, kalau kenyataannya, jadi sebaliknya. Apa harus Gue panggil lu Yasir.. hmmnn apa yah baiknya! Yasir si pecundang cocok kayaknya." Tukas Cak Timbul sambil terkekeh membuat lawan jadi semakin emosi.
Tanpa membalas ucapan Cak Timbul, Yasir langsung maju dengan kekuatan penuh.
Wosshhh Wosshhh
Cak Timbul sendiri bukannya tidak sadar dengan keadaan lawan yang sudah sangat serius dibanding sebelumnya, karena sekarang gerakan preman paling senior di Kelompokku itu juga terlihat lebih berhati-hati. Setiap gerakan dari Cak Timbul sangat efektif, walau kalah cepat dari lawan tidak membuat lawan otomatis bisa menekannya dengan mudah. Justru keadaan kembali seperti semula, ketenangan dan pengalaman Cak Timbul membuat lawan semakin frustasi karena tidak mampu melemahkannya.
Asik dengan pertarungan di depan, tidak membuatku lupa untuk memperhatikan ke arah Cakra. Seperti dugaanku sebelumnya, Ia pasti akan turun juga pada akhirnya. Apalagi setelah melihat keunggulan jumlah pasukannya yang semakin lama semakin berkurang dan bisa disamakan oleh kelompok Kami yang berjuang dengan semangat pantang menyerahnya.
Terlihat wajah kesal Cakra, dan Ia pun mulai berdiri dan langsung menuju ke arahku. Sepertinya Ia akan langsung menantangku.
Aku tidak khawatir dengan duel dengan Cakra nantinya, tapi Aku belum yakin dengan dua orang yang ada bersamanya. Di Kelompokku, yang tertinggal cuma Aku yang masih bugar karena belum turun laga sama sekali dari awal. Entah bagaimana caranya nanti kalau harus menghadapi ketiganya jika mereka turun sekaligus.
"Hehehe, rupanya seorang Cakra bersedia juga turun dari singgasananya untuk menghadapi seorang bocah sepertiku." Ujarku menyambut Cakra yang sudah berdiri beberapa kaki di depanku.
Tampak Ia menatapku tajam seperti mempelajari diriku dari rambut hingga ujung kaki.
"Hmn, ternyata si Codet bisa dikalahkan oleh bocah sepertimu. Apa ketua Kelompk Selatan memang begitu lemahnya." Ucap Cakra tertawa sinis.
"Yah mungkin Saya lagi beruntung saja. Bagaimana kalau Kita buktikan saja, biar seorang Cakra bisa tahu seperti apa 'bocah' yang telah dihadapi oleh Codet." Jawabku santai.
"Boleh juga nyali lu bocah." Ucap Cakra tersenyum bengis.
Begitu selesai berucap begitu, tanpa basa-basi Cakra langsung menyerangku.
Baaammmm
Serangan pembuka Cakra terlihat sangat aneh, tapi langsung menyasar dadaku. Untung gerak reflekku tidak kalah cepat. Aku berhasil memblok serangannya, tapi karena kuatnya tendangannya Aku sampai munduru dua langkah kebelakang. Tanganku terasa cukup perih karena menahan serangannya.
"Hehehe boleh juga gerak reflek lu bocah."
Cakra seakan tidak memberikanku waktu untuk berpikir sedikitpun, karena setelah berucap begitu Ia kembali melancarkan serangan berikut.
Semula Aku mengira, gerakan anehnya diawal adalah gerakan tipuan untuk mengevoh mata lawan. Tapi, kali ini Aku benar-benar kesulitan untuk menebak arah gerakannya yang aneh tersebut. Langkah kakinya berjalan menyamping layaknya kepiting, gerakannya bisa berubah tiba-tiba.
Wossshhh Baammm
Aku sedikit terhuyung kesamping, karena serangan tangan kanan Cakra. Padahal Aku menduga kalau Cakra akan menggunakan tangan kirinya untuk menyasar kepalaku, siapa sangka dalam waktu hampir bersamaan pukulan tangan kanannya menusuk dari arah sebaliknya. Walau aku cepat menaikan pertahanan, tapi tetap saja pipi kananku terasa panas akibat menahan serangannya, walau sudah kutangkis dengan tangan kiri.
Aku meloncat kesamping untuk mengambil jarak aman sambil membaca serangan lawan. Tapi rupanya, Cakra kembali menempel gerakanku dengan mengikuti arah lompatanku.
Woshhh
Aku merasakan kibasan angin yang cukup kuat dari arah atas begitu Cakra berada didepanku. ****! Dia mengincar kepalaku.