
"Sudah-sudah. Kamu beneran nyari Zaha kesini Chintya ?" Sela Anna menengahi suasana yang kembali memanas.
"Eh, itu.." Chintya tampak grogi.
"Bentar! loh Kakak gak tahu ? Tadi saat dikelas, Kak Zaha tiba-tiba keluar karena ada beberapa orang gak dikenal menyerang Sekolah Kita."
"Hah, sekolah ada yang nyerang ? Bagaimana kejadiannya ? Terus, kok Kamu nyari Zahanya kesini ? Zaha gak kenapa-napa kan ? Hari ini, Kakak gak masuk sekolah. Ini juga mau nyari Zaha kesini." Kata Anna panik.
"I-Iya Kak. Ada sekitar sembilan orang preman nyerang sekolah siang tadi, mereka nyariin Kak Zaha. Satpam 2 orang terluka lumayan parah kena tusuk, tapi Kak Zaha dan teman-temannya berhasil mengalahkan mereka. Saat diinterogasi sama pihak sekolah, mereka memang sengaja mencari Kak Zaha. Lalu, Kak Zaha langsung buru-buru pergi setelah itu. Tidak tahu kemana, ini Chintya kesini sekalian ngantarin tas sekolahnya Kak Zaha."
"Loh, kenapa gak kerumahnya saja ?"
"Belum tahu rumahnya Kak Zaha, Kak! Tahunya, Ibu Kak Zaha jualan disini. Siapa tahu saja, Kak Zaha mencemaskan Ibunya jadi langsung kesini. Tapi, sama mereka malah gak dibolehin masuk." Lanjut Chintya sambil menatap kesal ke arah para preman yang jaga.
Tanpa sadar bibir Anna menyunggingkan senyum tipis. Dalam hati Ia berpikir, paling tidak Ia selangkah di depan Chintya karena sudah pernah ke rumah Zaha dan selain itu, kecurigaannya di awal jika Zaha menghindarinya karena Chintya, tidak terbukti. Itu sedikit melegakannya.
Keributan sempat terjadi antara penjaga dengan ketiga gadis tersebut yang tetap memaksa untuk masuk ke dalam pasar, sementara para penjaga tersebut bersikukuh untuk tidak membiarkan ketiganya masuk. Sampai akhirnya seorang perempuan datang dan menghentikan perdebatan diantara mereka.
"Kalian ?"
"Eh, M-mbak.." Ujar Anna dan Chintya gugup karena kharisma wanita yang datang barusan. Selain itu, keduanya segan karena wanita itu pulalah yang dulu menjemput Zaha saat di Sekolah. Lain halnya dengan Silvi, yang hanya diam menatap ke Kakaknya dan wanita yang diperkirakannya sebagai saingannya itu sampai salah tingkah, secara Ia belum kenal dengan Virangel.
"B-bos..." Sapa para preman yang sedang jaga itu kompak, mereka juga tampak gugup. Takut dikira tidak becus menjalankan tugasnya dalam menjaga pintu masuk.
"Sudah-sudah. Mereka ikut sama saya." Kata Virangel setelah coba memahami situasinya.
"Kalian, ikut saya. Jangan bikin ribut disini! atau Saya sendiri yang akan menendang kalian bertiga keluar." Ucap Virangel tegas dan dingin, lalu berjalan kembali masuk ke dalam pasar. Ketiga gadis tersebut terpaksa mengikuti langkah Virangel dibawah tatapan heran para preman yang sedang jaga.
***
Dua kelompok besar saling berhadapan di depan salah satu gedung tua yang ada di Jakarta Timur. Gedung yang terdiri dari dua lantai itu sendiri merupakan peninggalan jaman Belanda yang kini beralih fungsi menjadi markas utama dari Kelompok Timur. Gedung itu sangat besar dan sanggup menampung ribuan orang di setiap lantainya, karena pada jaman dulu memang difungsikan sebagai gedung pertemuan untuk acara-acara besar.
Orang-orang disana mengenal gedung itu sebagai gedung hitam, karena semua transaksi gelap terjadi disana dan orang-orang biasa tidak akan pernah berani mendekati gedung itu. Jangankan orang biasa, aparat saja tidak berani mendekatinya. Kecuali mereka yang menjadi antek dan kaki tangan para petinggi dalam gedung tersebut.
Gedung itulah yang akan menjadi saksi sebuah pertempuran besar hari ini. Zaha diikuti oleh puluhan anggotanya dari Kelompok Selatan. Di depan gedung tua itu sendiri sudah berdiri beberapa petarung pilihan Kelompok Timur, lengkap dengan puluhan orang anak buah yang berdiri dibelakang mereka.
Indra, Kulup dan Inggek maju ke depan.
"King, biarkan Kami yang menghadapi mereka terlebih dahulu untuk pemanasan." Ujar Indra meminta ijin.
"Halah, cuma 3 coro. Padahal Gue pengen langsung libas bosnya." Ujar salah seorang pemimpin lawan yang berbada paling besar.
"Tapi, gak apa-apa juga lah. Lumayan juga buat pemanasan." Ujar pemimpin preman satunya dengan gaya congkaknya.
Indra dan dua temannya terlihat santai dan tenang, tidak terpancing dengan ucapan lawannya.
"Kalian bertiga pemimpin distrik 7, 8 dan 9 Kelompok Timur yah ?" Tanya Kulup dengan santai.
"Heh, tau juga nih bocah daerah Kita, men." Ujar pria ketiga dengan senyum meremehkan.
"Kalau Gue boleh tahu, Suhendar, Mimin dan Raiju pada pindah kemana ?" Tanya Kulup lagi santai, menanyakan ke tiga pemimpin distrik sebelumnya. Kebetulan Dia kenal mereka bertiga, karena mereka rivalnya dan pernah beberapa kali adu kekuatan sebelumnya.
"Pindah ? Hahahaaa..." Pria kedua tertawa terbahak-bahak.
"Kau salah bertanya bocah. Mereka sudah Kami bikin mampus. Sepertinya Kau kenal mereka rupanya. Tapi, tenang aja! Karena sebentar lagi kalian akan Kami buat menyusul mereka, hehehe.." Kata Pria pertama dengan sombongnya.
Kulup sedikit kaget mendengarnya, lalu Ia melirik Indra dan Inggek sambil tersenyum bengis, "Padahal Gue sudah janji ke Mimin dan Suhendar! Jika ketemu nanti, Mereka akan melihat Gue yang baru. Mereka berdua lawan Gue sendiri, tapi sepertinya mimpi itu gak akan terwujud."
Wajah pria kedua dan ketiga tampak sedikit terkejut begitu mendengar jika Kulup bertarung 1 lawan 2 dengan mantan pemimpin yang susah payah mereka kalahkan itu.
"Karena yang merusak janji Kami itu kalian, maka kalian akan merasakan langsung perubahan yang telah Gue capai selama ini." Lanjut Kulup dengan santai.
Dengan dipimpin oleh Indra ditengah, Kulup di bagian kiri dan Inggek disisi lainnya.
"Saatnya bersenang-senang kawan. Seperti sebelumnya, BANTAAAIII.." Komando Indra dengan suara lantang. Mereka yang semula terlihat santai langsung berubah serius dengan tatapan tajam dan mematikan langsung menyerbu ke arah musuh dengan diikuti oleh puluhan anggota ketiganya dari belakang.
Pertempuran pembukapun pecah antara kedua belah pihak, kedua kubu tampak sangat beringas dan membabi buta saling melumpuhkan satu sama lain.
Satu hal yang sedari tadi tidak luput dari perhatian Zaha, sehingga Ia bertanya pada Cak Timbul yang berdiri persis disebelah kanannya, "Cak, kenapa tidak ada yang pakai senjata ?"
"Kelompok Selatan dan Timur masih menjunjung tinggi aturan lama King, pertarungan tangan kosong. Itulah harga diri pendiri Kita terdahulu, beda halnya dengan kelompok barat dan tengah. Tapi, Kita juga menyiapkan senjata untuk jaga-jaga, jika mereka berani melanggar aturan tersebut." Jawab Cak Timbul sambil melirik orang-orang dibelakang mereka. Benar saja, ternyata mereka sudah menyelipkan senjata masing-masing dipunggung dan pinggang. Itu menjawab keheranan Zaha, kenapa tidak ada yang bertarung menggunakan senjata. Walau itu tidak masalah sama sekali baginya, karena tekadnya cuma satu, yaitu membalas perbuatan Kelompok Timur yang sudah berani menyerang teman-temannya di markas mereka sendiri sekaligus membantai Cakra, karena menjadi ancaman untuk keluarganya.
"Aaaaaa..."
Dua orang anak buah kelompok timur serentak menyerang Indra dan Inggek tanpa mengukur dulu kemampuan mereka.
Baaaammmm Bugghhhhh