Bunian

Bunian
Menunggu berita



Setelah melakukan pencarian sepanjang hari, bahkan sejak diketahui kehilangan Akmal yang masih menjadi misteri. Pihak kepolisian memberikan perintah pada Cici selaku pihak keluarga untuk meninggalkan kelok sembilan agar segera kembali ke Riau.


Tentu itu merupakan satu keputusan yang sangat berat bagi Cici, harus menunggu kabar keberadaan suaminya, dengan hati tidak tenang.


Cardo terus menguatkan Cici, dan meminta pihak kepolisian untuk segera memberi kabar secepatnya pada Cici, ataupun dirinya selaku keluarga dekat.


Mereka meninggalkan kelok sembilan Sumatra Barat, tepat pukul 22.00 WIB. Cici kembali hanya karena memikirkan kondisi putri kecilnya Mira.


Sepanjang perjalanan menuju Pekanbaru, Cici hanya bisa mengenang semua kisahnya saat bersama Akmal. Ucapan yang masih terngiang dari bibir suaminya, menitip putri kesayangan agar dirawat dengan sangat baik, menjadi satu pertanda bahwa Akmal akan pergi meninggalkannya.


"Kenapa Abang meninggalkan Cici!"


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya, sepanjang perjalanan menuju Pekanbaru.


Rakan kerja Akmal, ikut kembali ke kota minyak itu. Mereka mengurungkan niat melakukan perjalanan dinas, karena kehilangan sosok seorang Akmal, sekaligus sahabat mereka yang sangat ceria.


Sementara Sony telah dibawa kembali lebih dahulu, karena mengalami kecelakaan saat pencarian Akmal, yang mengalami patah tulang.


Keanehan-keanehan yang terekam jelas dalam benak Dony, dapat dikaitkan dengan makhluk tak kasat mata yang mencoba untuk menyakiti Pak Sukoco dan Sony.


Pak Sukoco yang tidak pernah merasakan sakit lutut, bahkan asam urat, karena kejadian itu membuat sang pemimpin harus mengalami kondisi yang sangat buruk.


Begitu juga dengan Sony, tiba-tiba terjerembab ditumpukkan batu yang tidak ada lobang, tapi bisa mengakibatkan kaki kanan Sony patah tulang, setelah menemukan topi milik Akmal.


Sepanjang perjalanan, Dony hanya memikirkan nasib Cici dan juga Mira, "Bagaimana mungkin Cici harus kehilangan Akmal? Aku harus membantu Cici, dan terus menanyakan perkembangan kepada pihak kepolisian dan Tim SAR."


.


Tepat pukul 03.00 dini hari, Cici dan Cardo tiba dikediamannya. Cici turun dari mobil, melihat keberadaan Abang kandungnya Luqman sudah ada dikediamannya. Cardo memberitahu pada pihak keluarga tentang hilangnya Akmal, tentu menjadi satu kekhawatiran bagi Abang kandung Cici.


"Assalamualaikum...!"


Cici memasuki rumah, setelah Luqman membuka pintu ruang tamu dengan lebar.


Luqman menjawab salam adik kesayangannya, membawa dalam pelukan sang Abang yang selalu ada buat Cici.


"Abang kapan sampai?"


Cici melepaskan pelukan Luqman, membuka sepatu dan merebahkan tubuhnya disofa yang ada diruang tamu.


"Tadi, begitu dapat kabar dari Cardo, Abang langsung terbang kesini. Mungkin Bang Dean akan kesini besok pagi, karena kami akan ikut melakukan pencarian ke kelok sembilan. Kalau enggak ada keluarga kan susah. Nanti mereka bilang dalam pencarian, ternyata enggak mencari." Luqman duduk disebelah Cici, agar bisa menenangkan adik tercinta.


Cici mengangguk mengerti, wajah lelahnya hanya bisa tersenyum tipis, namun hatinya penuh dengan rasa tidak percaya atas kehilangan suami tercinta.


Oneng yang menjadi pengasuh Mira, keluar dari kamar utama, saat mendengar sang majikan kembali setelah melakukan pencarian Abi Mira.


"Kak Cici, bagaimana? Sudah ada kabar dari kepolisian atau Tim SAR?" Oneng tampak khawatir memilih duduk dibawah kaki Cici.


Cici menggelengkan kepalanya, air matanya kembali berlinang.


Cardo mengusap lembut kepala kakak terbaiknya, "Sabar Kak, kita harus menunggu berita, Bang Luqman juga akan membantu pencarian kesana."


Isak tangis Cici kembali terdengar, "Kita disuruh menunggu berita, tapi mereka tidak menentukan sampai kapan, Do...! Gimana kalau tiba-tiba Abang Akmal benar-benar pergi, tapi tidak ditemukan jasadnya!"


Luqman membawa adiknya dalam pelukan, "Sabar, lagian hilangnya Akmal itu di kelok sembilan. Orang yang hilang disana, pasti ditemukan, apapun keadaannya. Sekarang tugas kita hanya mencari, dan berdoa."


Cici menggeleng, "Nggak Bang, nggak benar semua itu! Bagaimana kalau Abang Akmal dibawa hantu disana? Kan disana masih banyak setan!"


Jawab Cici asal, karena perasaan frustasi yang semakin membuatnya asal bicara.


Luqman menghela nafas panjang, "Kamu mandi dulu, habis itu istirahat. Mira dari tadi rewel, manggil-manggil Abi-nya."


"Tuh kan, Mira rewel, Ci ditakut-takuti dengan sosok aneh. Tapi Ci, nggak tahu itu apa!" suara Cici kembali serak menjawab asal perkataan Luqman.


Luqman memijat pelipisnya pelan, melirik kearah Cardo dan Oneng bergantian.


Sifat kalud seorang wanita, saat merasakan kehilangan, itu merupakan hal yang lumrah terjadi pada seorang istri yang tidak merasa puas, jika belum menemukan keberadaan orang tercintanya.


Cici mengikuti semua perintah Luqman, dia memilih tidur disamping putri kesayangan, tanpa mengganti pakaian, dan mencuci tangan atau wajah terlebih dahulu.


Benar saja Cici, masuk ke alam mimpi, seperti melihat sosok wanita cantik, yang menggunakan kemben merah seperti yang dia lihat pertama kali saat akan melepaskan suaminya dalam perjalanan dinas menuju Bukittinggi.


Sosok yang menggunakan selendang merah, tersenyum sumringah kearahnya, sambil memperlihatkan dia mencium mesra suaminya.


Ciuman yang semakin mengerikan, dengan darah bercucuran di bibir dan leher Akmal, membuat Cici tersentak ketakutan.


"Abiii....!!!"


Keringan Cici bercucuran seperti air mengalir deras dari puncak kepalanya, sehingga air conditioner yang menyala, tidak terasa dingin.


Cici mencium bau amis pada baju yang dia kenakan, terlihat ada setetes darah yang sangat bau. Bahkan lebih bau dari aroma darah biasanya.


"Astaga, pasti karena aku tidak mengganti pakaian, makanya mimpi buruk. Kenapa mesti melihat sosok wanita itu lagi? Enggak-enggak mungkin Abi diculik wanita itu. Ini hanya mimpi, tapi kenapa baju ku bau sekali?"


"Uweeeek....!!!"


Cici merasa mual seketika akan mengeluarkan semua isi perutnya. Bergegas dia memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya, lalu melemparkan baju yang dia rasa bau kedalam keranjang.


Setelah selesai membersihkan diri, Cici membungkus rambut panjangnya yang hitam menggunakan handuk kecil, mengusap embun air di cermin yang ada didalam kamar mandi.


Dengan santai, Cici ingin melihat wajahnya di cermin.


Tapi, dia dikagetkan dengan penampakan sosok wanita dari pantulan kaca yang berdiri dibelakangnya. Cici menoleh kebelakang, itu tidak ada siapa-siapa.


Dia kembali berbalik kearah cermin, dan ternyata sosok wanita cantik sebelumnya berubah menjadi buruk dan berwajah sangat menakutkan.


"Aaaaaagh.......!!"


Cici berteriak keras, berlari membuka pintu kamar mandi dengan wajah ketakutan.


Nafasnya terasa sesak, tubuh yang masih menggunakan handuk kimono juga bergetar dari kepala sampai kaki.


'Pok ami-ami, belalang kupu-kupu....'


'Siang makan nasi, kalau malam main-main sama kau...'


Baru saja Cici ingin menenangkan hatinya, suara alunan lembut dari bibir Mira kembali terdengar.


Melihatnya, Cici menemukan Mira sedang bernyanyi dan berbicara dengan seseorang.


"De... Ade main sama siapa, Nak?"


Mendengar suara Cici, Mira menghentikan nyanyiannya, lalu menoleh tersenyum dan tertawa sumringah kearah Cici.


"Ade lagi main Ami, sama teman baru!"


Saat berbicara, wajah cantik mungil Mira dengan polos menunjuk ke suatu tempat yang ada di depannya.


Tempat yang di tunjuk oleh Mira itu kosong.


Cici masih tidak berpikir dan bertanya, "Cici, disana tidak orang--"


Belum selesai berbicara, satu bola mainan di depan Mira bergerak sendiri dan melayang terbang.


"Ya, Tuhan..."


Cici ketakutan dan spontan memeluk Mira membawanya berlari keluar kamar.