Bunian

Bunian
BAB 58



Siang itu tampak seorang wanita berusia paruh baya keluar dari sebuah ruang VIP lantai atas sebuah hotel yang terkenal dengan bisnis esek-eseknya, Axelis Hotel. Dibelakangnya ada seorang laki-laki pelanggannya yang juga ikut keluar sehabis memakai jasanya. Hari masih siang, tapi sudah ada saja laki-laki hidung belang yang datang untuk mendapatkan servisnya. Usia wanita itu sendiri sudah hampir 45 tahun, tapi wanita yang mudanya pernah jadi biduan terkenal di ibu kota itu masih tampak cantik. Kecantikan seorang wanita dewasa yang sudah matang, sambil memaksakan sebuah senyum tipis, Ia melepas kepergian pria hidung belang yang menjadi pelanggannya tersebut, setelah sebelumnya sang pria memasukan beberapa lembar uang ratusan di sela pakaian atasnya yang sedikit terbuka.


"Eh, Bang Komar ?" Sapa wanita tersebut kaget begitu melihat seorang pria berdiri persis di depan pintu kamarnya. Begitupun dengan pria langganannya, yang langsung bergegas pergi begitu melihat pria itu menatapnya dengan tajam.


"Boleh Abang masuk, Leha ?" Ujar Komar dengan suara tenang. Walau Ia tidak senang dengan pekerjaan wanita yang ada didepannya tersebut, tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Bagaimanapun, Ia merasa bersalah dan menyesal karena tidak bisa menyelamatkan wanita cantik didepannya itu dan membuatnya terjerumus semakin dalam di tempat ini.


Tempat itu sendiri merupakan sebuah lokalisasi elit yang terdiri dari 10 lantai, dan mereka saat itu sedang berada dilantai paling atas, yang mencerminkan jika wanita yang bernama Leha tersebut dalah satu primadona bertarif besar.


"Eh, M-Masuk aja Bang." Leha bergeser kesamping untuk mempersilahkan Komar masuk ke dalam kamarnya.


Komar sendiri langsung masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu yang ada di sebelah kamar ruang VIP tersebut. Melihat dari caranya, Komar seperti sudah sangat familiar sekali dengan tempat disana.


"Diminum dulu Bang!" Ujar Leha lagi sambil menyodorkan minuman soda ke atas meja dan duduk di sebelah Komar.


"Tumben Abang kesini siang-siang begini ?"


"Langsung saja Leha.. Ini tentang apa yang Abang sampaikan tempo hari dan waktunya sudah semakin dekat. Abang harap, setelah ini Kamu bisa hidup normal seperti dulu.." Ujar Komar to the point.


Leha yang mendengar Komar bicara dengan tenang namun sangat serius, tiba-tiba matanya jadi berkaca-kaca.


"Hidup normal ? hikss.." Airmata leha tampak merebak, betapa ingin Ia untuk bisa hidup seperti itu. Tapi, jeratan Cakra membuat hidupnya seakan berada di Neraka. Kehidupan dulunya begitu indah, sampai akhirnya Cakra yang sudah begitu dipercaya oleh suaminya itu menghancurkan semuanya.


Dengan licik, Cakra membokong suaminya. Setelah mengalahkan dan membunuh suaminya, Cakra dengan begitu kejamnya memperkosa dirinya dan juga putri sulungnya. Untung saja, putri bungsunya tidak sedang bersamanya sehingga Ia masih bisa diselamatkan. Namun tidak dengan dirinya dan putri sulungnya, setelah Cakra puas memperkosa mereka, lalu dilanjutkan dengan anak buahnya. Tidak berhenti sampai disitu, mereka juga dijadikan pelacur di lokalisasi yang dulunya merupakan tempat milik mereka sendiri, yaitu tempat Leha bekerja saat ini.


Untung saja masih ada anak buah suaminya yang masih loyal, diam-diam anak buah suaminya berhasil mengamankan putri bungsunya dan berhasil menyelamatkan putri sulungnya. Salah satunya Komar, Dia merupakan orang kepercayaan suaminya waktu masih berkuasa dulu.


"Abang yakin ? Apa bisa mereka dipercaya ? Selama ini Kita berseberangan dengan mereka ?"


Leha sendiri menghela nafas berat, Ia tahu apa maksud ucapan Komar. Kepercayaan ? Memang sebuah kata haram dan mustahil yang harus ada dalam dunia hitam. Suaminya sendiri sudah merasakan akibatnya, Ia begitu percaya pada Cakra dulunya. Dan lihat apa yang didapatnya ? Sebuah pengkhianatan yang sangat memilukan. Orang yang dipercayainya, menikamnya. Tidak hanya itu, keluarganya jadi hancur berantakan. Bahkan tanpa rasa bersalah sama sekali, Ia merenggut kehormatan Istri dan anak gadis dari orang yang memberi kepercayaan padanya.


Komar sendiri merupakan preman jalanan yang dulunya dibawa oleh suaminya Leha dan dijadikan anak buahnya. Mungkin karena bisanya hanya berkelahi sehingga Ia tidak pernah dilirik untuk mengisi posisi atas oleh sang ketua, justru Cakra yang pandai bersilat lidah dan bermanis mukalah yang menjadi tangan kanan sang ketua. Siapa yang menyangka, justru orang-orang seperti Komar lah yang masih memiliki kesetiaan yang tinggi.


Ia dan beberapa preman senior lainnya merasa tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Cakra. Bahkan sempat ada beberapa pemberontakan, namun Cakra dan para preman yang sudah membelot kepadanya berhasil meredam pemberontakan tersebut. Para pemberontak dihabisi dengan brutal, keluarga mereka yang wanita tak ubahnya bernasib seperti Leha, dijadikan pelacur dan keluarga laki-lakinya dihabisi dengan sangat keji.


Untung saat itu, Komar dan beberapa preman lain yang satu pemikiran dengannya belum bergerak, sehingga mereka selamat dari pembantaian tersebut. Kini mereka tersisa tidak beberapa orang dan hanya Komar yang memiliki posisi cukup tinggi dan berhasil menjadi salah satu petinggi di Kelompok Timur. Karena pengaruhnya itulah, Ia berhasil menyembunyikan Zulaikha dan Rani, kedua putri mantan ketuanya. Begitu melihat adanya gesekan yang timbul antara Cakra dengan Kelompok Selatan, Komar langsung bergerak cepat mencermati situasi. Tanpa sepengetahuan Cakra, Komar juga mengirimkan orangnya untuk mengamati perkembangan beritanya. Siapa sangka, justru salah seorang petinggi kelompok selatan mengetahui apa yang dilakukannya.


 "Terus, apa yang mereka minta sebagai balasannya Bang ?"


"Itu yang membuat Abang ragu. Mereka tidak minta apa-apa, karena pada dasarnya mereka hanya bermasalah dengan Cakra, bukan Kelompok Timur umumnya."


"Abang yakin jika mereka tidak akan meminta apa-apa nantinya ?"


"Hmh.. Kalau mereka meminta pun, Abang juga sudah gak peduli. Asal Kamu dan anak-anakmu bisa berkumpul kembali seperti dulu, Abang sudah puas, Leha! Paling tidak, rasa bersalah ini jadi sedikit berkurang." Ucap Komar menatap Leha dengan tatapan penuh penyesalan.


"Ssstt.. Abang jangan berkata seperti itu." Ujar Leha sambil memegang lengan Komar lembut.


"Apa yang Abang lakukan sudah sangat besar terhadap Kami. Abang sudah menjaga Leha dan juga telah menyelamatkan anak-anak. Leha sendiri tidak tahu bagaimana harus membalasnya."


"Itu tidak seberapa Leha, dibanding apa yang telah dilakukan Ketua pada Abang dulu. Jika bukan karena Beliau, mungkin Abang masih hidup dijalanan saat ini, atau bahkan sudah mati tidak terurus. Kamu bilang usaha Abang sudah besar ? Hufftt, Abang sendiri malu jika berkaca Leha. Abang gak akan berani menatap wajah Suamimu di akhirat kelak, karena tidak bisa menyelamatkan keluarganya. Seharusnya Abang sudah membunuh bajingan itu... Argghhh..." Geram Komar sambil meremasi kepalanya.


Teringat kembali bagaimana Ia menantang Cakra dalam duel satu lawan satu. Walau pertarungan mereka saat itu bertujuan untuk memperebutkan posisi Ketua dan Komar kalah saat itu. Sehingga Cakrapun berhasil menguasai dirinya sebagai konsekuensi atas kekalahannya. Walau diam-diam Komar masih menunggu kesempatan untuk bisa menggulingkan Cakra, dan begitu melihat ada kesempatan itu, Komar benar-benar memanfaatkannya.


"Sudah Bang. Jangan terus-terus menyalahkan diri Abang seperti itu. Leha ikhlas menjalaninya.." Ujar Leha sambil mengusap punggung Komar.