
POV Author.
Tidak jauh dari sana, dilantai satu gedung sekolah, Chintya memandang dengan tatapan cemburunya. "Kak Zaha itu milik Gue, gak akan Gue biarin siapapun memilikinya selain Gue." Lirihnya pelan.
***
POV Zaha.
Saat jam istirahat.
Sebenarnya Aku lebih memilih untuk istirahat saja dalam kelas. Tapi begitu mengingat bahaya yang akan datang mengancam, terpaksa harus memaksa kembali tubuh ini. Selain itu, Aku lagi coba menghindari untuk tidak dekat dengan Anna ataupun Chintya sementara ini. Aku tidak mau dengan kedekatanku dengan mereka, akan membahayakan nyawa keduanya atau bahkan menjadikan mereka sebagai alat ancaman bagi musuh untuk menekanku nanti.
Area belakang sekolah disamping gudang jadi tempat yang ideal untuk latihan ringan saat jam istirahat, tempat ini biasanya juga dipakai oleh para siswa nakal untuk merokok ataupun sekedar nongkrong para badboy di sekolah ini.
Baru saja, sampai disana. Aku melihat ada sekitar 9 orang yang sedang duduk sambil merokok disana. Dua diantaranya adalah cewek di kelasku, Gea dan Sri, termasuk 4 orang yang pernah mengurungku di WC tempo hari, Rully, Gedy, Adul dan Gondes, (Cek. Change Chapter 2. Memulai dari Awal). Tiga orang lagi dari kelas lainnya. Aku tidak menyangka, ternyata ada juga yang kebagian peran sebagai bad girlnya. Padahal mereka termasuk cakep untuk ukuran siswi di kelasku loh.
Mereka terlihat asik merokok sambil sesekali meremas tubuh dua orang cewek, Siska dan Sri yang duduk ditengah-tengah mereka.
Aku berjalan dengan cuek disamping mereka, begitu sadar kehadiranku. Apalagi saat Rully dan 3 anak buahnya melihatku, begitupun dengan Siska dan Sri. Sontak mereka langsung mematikan rokoknya dan hendak bubar seketika itu juga. Mungkin mereka masih trauma dengan kejadian tempo hari. Namun 3 orang lainnya yang masih terlihat biasa, malah cenderung memandang remeh kepadaku.
"Lu kenapa sih Rul ? Kayak takut gitu sama si Ceking ?" Tanya Bondan. Dia ini anak 3 IPS 3, dan dua orang lagi, Dimas dan Irul Kebo dari kelas 3 IPS 2. Mereka terkenal karena rusaknya di kelas masing-masing, kelakuannya 11-12 lah sama Rully dan kawan-kawannya. Mungkin mereka bertiga masih menganggapku sama dengan Zaha yang dulu, entah mereka pernah membully juga dulunya.
Melihat mereka, Aku jadi dapat ide untuk sekedar melatih ketahanan tubuhku.
"Iya Rul, santai aja. Kayak lihat hantu aja." Ucapku santai sambil berdiri dekat mereka.
"Asikk, gak pendiam lagi ternyata kacung lu, Rul." Ucap Dimas sambil tertawa mengejek.
Rully sendiri dan teman-teman kelasku yang lain malah terlihat agak pucat melihatku, sambil melirik Bondan, Dimas dan Irul Kebo.
"Apaan sih lu! Gak ngerti gua kode-kodean lu. Kalian kenapa pada takut pada nih bocah ?" Ujar Irul kebo sambil berdiri dan menunjuk mukaku.
"Oe Rul.. hmnn.." Rully tampak salah tingkah. Tapi tidak berani menatap mataku langsung.
"Gak apa-apa, santai aja Rul. Aku main-main dulu dengan mereka yah." Ucapku santai.
"Anjing, bacot banget congor lu." Ucap Irul Kebo tidak senang dengan ucapanku yang terlalu santai dan cenderung meremehkan mereka. Irul langsung mencengkram kerah bajuku dan mendorong tubuhku ke dinding gudang.
Sebelum sampai terhempas ke dinding, Aku dengan cepat mengayunkan lututku, tepat mengenai selangkangannya.
"Ughhhhh.."
Irul Kebo jadi menunduk kesakitan, saat itulah Aku langsung membenturkan kepalaku sekuatnya tepat mengenai keningnya.
Bughhhhhh baaammm
Irul Kebo langsung terhempas ke lantai, kedua tangannya tampak memegangi bawah perutnya sambil menahan sakit, tapi tatapan matanya tampak nanar karena benturan sangat keras di kepalanya membuat Irul hampir hilang kesadaran.
Melihat itu, Dimas dan Bondan langsung berdiri dan bersiap hendak menyerangku.
"Tunggu!" Ucapku menahan mereka.
Keduanya yang sudah terlanjur emosi saling melirik satu sama lainnya, mungkin bingung dengan maksudku untuk menahan mereka.
"Jujur, Gue lagi malas untuk berkelahi hari ini. Sebagai gantinya, Kalian berdua gue ijinin buat mukul Gue sepuas hati kalian. Tapi dengan syarat.." Aku menatap keduanya dengan tajam, membuat keduanya heran sekaligus semakin greget untuk melampiaskan emosinya padaku.
"Mau berantem saja, pakai syarat segala lu. Cuih.." Ucap Dimas.
Bondan tampak lebih realistis dan lebih hati-hati dibanding Dimas, mungkin karena melihatku dengan mudahnya melumpuhkan Irul Kebo yang badannya lebih besar dariku dengan mudahnya.
"Apa syarat lu ?" Tanya Bondan.
"Syaratnya gampang, kalian boleh memukul badanku sepuas kalian." Ucapku sambil menunjuk perut dan dadaku.
"Hanya itu, keluar dari area itu, Aku akan membalas kalian beberapa kali lebih keras dari pukulan yang bisa kalian keluarkan."
"Cuih, jangan salahkan Gue kalau lu sampai mampus nanti yah. Rul, lu gak mau ikutan ?" Tanya Dimas melihat ke arah Rully dan kawan-kawannya.
"Iya Rul, lu gak mau ikutan juga gak ?" Tanyaku menyindirnya.
Rully yang pernah berhadapan denganku, hanya menggelengkan kepala, "Kalian aja. Gua gak ikutan." Ujar Rully mengangkat tangan cari aman.
"Ayok Dan." Ucap Dimas bersemangat.
Aku bersiap mengencangkan otot perutku, sekalian menguji sejauh mana hasil latihanku selama ini.
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bughh bughh bughhh bugghhh
Dimas dengan membabi buta memukul bagian perutku, melihat Aku yang benar-benar tidak membalas sama sekali, Bondan pun ikutan maju dan memukul perutku dengan kuat.
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bughh bughh bughhh bugghhh
Bunyi pukulan mereka silih berganti memukul tubuhku. Aku tidak ingat sudah berapa lama keduanya memukulku, perutku sudah mulai terasa kebas dan sedikit keram karena pukulan kuat keduanya.
"Haahh.. Haahh..Haahh..Haahh.."
"Haahh.. Haahh..Haahh..Haahh.."
Tidak terhitung sudah berapa puluh atau bahkan ratusan kali mereka memukul.
Nafas keduanya mulai terasa berat, bahkan tubuh keduanya sudah mulai basah oleh cucuran keringat.
"Anjirr, kok bisa keras begini perut nih bocah." Gumam Dimas disela-sela pukulannya ke tubuhku, tampak mereka mulai kelelahan memukul badanku.
"Aaaaaaaa..." Irul berteriak nyaring.
Baaammmm
Sebuah pukulan kanan dari Dimas tepat mengenai rahang kiriku, membuat kepalaku sedikit oleng ke kanan.
Aku mengusap rahangku, sambil melemaskan otot leherku dan menatap tajam ke arah Dimas, "Bukannya Gue dah ngasih persayaratan untuk jangan keluar dari area yang Gue tentukan."
"Cuih, persetan dengan syarat taik lu." Maki Dimas lalu menyarangkan pukulan kanannya kembali dan menyasar wajahku.
Wosshhhh
Baaammm
Dengan sedikit menggeser tubuhku kesamping, Aku berhasil menghindari pukulan Dimas lalu dengan cepat memasukan pukulan kuat ke perutnya.
"Arrgghhh.." Tubuh Dimas sampai sedikit terangkat ke atas, membuat Dimas membelalakan matanya karena sakit diperutnya.
Dengan cepat Aku menarik rambut Dimas dan mengangkat kepalanya ke atas, lalu Aku benturkan kepalaku menghantam keningnya dengan keras.
Baaaammm
"Argghhkk.." Dimas terhempas dan menggelepar di lantai.
"Lu, mau lanjut Bondan ?" Tanyaku dingin sambil menatap Bondan yang hanya bisa terpana seakan tak percaya menatap ke arahku.