Bunian

Bunian
BAB 45



Bukannya mengikuti Zaha, Anna malah menarik tangan Zaha untuk mengikuti langkahnya.


"Eh.. ?" Zaha kaget dengan aksi berani Anna yang menarik tangannya begitu saja dibawah tatapan aneh dari siswa-siswa yang melihat ke arah mereka.


"Anna.." Panggil Zaha, tapi gadis cantik itu seperti tidak mengubris panggilannya sama sekali dan tetap saja menarik Zaha untuk mengikutinya. Akhirnya, Zaha hanya diam dan memilih untuk mengikuti mau gadis tersebut.


"Anna.." Panggil beberapa teman ceweknya, tapi gadis cantik tersebut tidak menghiraukan sama sekali panggilan mereka. Anna terus saja mengenggam tangan Zaha dan menariknya hingga sampai di taman samping lapangan basket, tempat Zaha duduk waktu Anna dan teman-temannya membicarakan dirinya tempo hari.


"Kenapa kesini, Na ?" tanya Zaha pelan sambil melirik tangannya yang masih digenggam oleh Anna.


Anna jadi salah tinggkah sendiri karena kenekatannya menarik Zaha sedari tadi, tanpa disadarinya tangan mereka telah saling berpegangan cukup lama. Mungkin karena itu, teman-temannya coba memanggil namanya tadi. Sadar akan hal itu, Anna jadi merunduk malu dengan muka memanas.


"Ada apa, Na ?" tanya Zaha sekali lagi mengingatkan, biar gadis tersebut tidak larut dalam perasaan malunya.


Anna menatap wajah Zaha sejenak, "Kita harus bicara. Anna gak mau kalau Zaha menjauhi Anna begini." Ucap Anna memberanikan diri.


Zaha menghela nafas sejenak, "Rupanya karena ini, Anna sampai nekat menariknya kesini." Bathin Zaha.


"Aku gak bermaksud menjauhi Anna." Ucap Zaha lirih.


"Terus kenapa Zaha gak pernah mau lagi bicara dengan Anna ? Kenapa Zaha seolah menghindar terus kalau bertemu Anna ? Kenapa juga, kemarin Zaha gak mampir dulu waktu mengantar Silvi ke rumah ? Apa Zaha benci dan marah sama Anna ?" Anna langsung memberondong Zaha dengan berbagai pertanyaan yang selama ini menyesak di dadanya.


"Za, jawab dong." Ucap Anna kesal melihat Zaha yang hanya diam dan malah menatap lucu ke arahnya.


"Kamu tanyanya banyak banget, sampe bingung Aku harus jawab yang mana dulu." Ujar Zaha santai.


"Bodo'.. terserah mau jawab yang mana, yang penting jawab." Anna tampak semakin merengut kesal.


Zaha hanya tersenyum dan geleng-geleng melihat reaksi Anna seperti itu.


"Aku gak pernah bermaksud menghindari Anna, maaf kalau Anna menganggapnya seperti itu." Ucapan Zaha sukses membuat Anna kembali berpaling melihat ke arahnya, dia menunggu cowok tersebut untuk jujur padanya, karena memang pada kenyataannya Ia yang salah karena telah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan Zaha, karena Ia tidak menyadari jika Zaha duduk disebelah mereka saat itu.


"Aku hanya menuruti ucapan Anna waktu itu. Aku gak mau Anna jadi malu kalau dekat dengan cowok sepertiku, itu saja.."


"Za... hiksss.." Anna memegang lengan kanan zaha dengan kedua tangannya.


"Ma.maafin Anna, Za.. hiksss." Anna jadi menangis begitu Zaha bicara seperti itu.


"Sudah jangan nangis." Ucap Zaha tidak enak hati melihat Anna yang tiba-tiba menangis, apalagi sambil memegang tangannya, khawatirnya orang-orang akan menduga kalau Ia yang membuat Anna menangis nantinya.


"Iya, tapi Kamu maafin Anna ya Za. Anna sudah keterlaluan waktu itu, Kamu pasti tersinggung dengan ucapan Anna yah Za ? makanya Kamu selalu menjauhi Anna akhir-akhir ini ?" tanya Anna lagi di sela tangisnya.


"Gak kok. Kan dah Aku bilangin, kalau Aku hanya mengikuti apa yang Anna ucapin waktu itu."


"Tapi.. hikss Anna menyesal pernah mengucapkan itu. Anna gak mau kalau Kamu jauh lagi dari Anna. Hikss.." Sifat Anna yang manja tanpa sadar keluar begitu saja di depan Zaha, membuat cowok tersebut jadi heran dan bertanya-tanya dalam hati, "Apa sepenting itukah dirinya bagi Anna ? sehingga Anna tidak mau kalau dirinya sampai jauh darinya."


"Benar Anna gak mau jauh dari Zaha ?" tanya Zaha tersenyum geli.


"Iya, tapi senyumnya jangan ngeledek gitu juga kali." Ucap Anna sambil mendorong pelan pipi Zaha.


"Nah gitu kan manis." Ucap Zaha begitu melihat Anna sudah tersenyum kembali.


"Apaan sih. Tadi kan Anna nangis gara-gara Zaha juga." Ucap Anna merengut manja sambil membersihkan air matanya dengan sapu tangannya.


"Terus, kenapa kemarin gak mampir dulu ? kalau memang masalahnya karena ucapan Anna."


"Oh itu, kan sudah malam. Gak baik, cowok malam-malam mampir ke rumah cewek. Apalagi kalian cuma bertiga dirumah, kata Silvi orang tua kalian lagi keluar kota kan ?" Ujar Zaha beralasan.


"Iya sih. Eh, sebentar.." Ucap Anna teringat sesuatu.


"Silvi kok bisa sama Kamu pulangnya, Za ? Bukannya, Ia bilangnya mencari buku di pasar tanah kuda siangnya ?"


Anna jadi terpana menatap Zaha.


"Loh kenapa ?" tanya Zaha heran.


"Kok bisa kebetulan begitu yah ?" tanya Anna heran.


"Kebetulan kenapa ?"


"Dulu, pas Aku digangguin mereka, Kamu yang nolongin. Pas sama Adikku, Kamu juga yang nolongin, dan kebetulannya yang gangguin kelompok mereka juga."


"Yah biasa saja kali Na. Gak usah heran begitu, namanya juga kebetulan." Zaha menanggapi biasa.


(kebetulan yang direncanakan author, wkwkwk)


"Ihh bukan begitu. Dengerin dulu.. Apa jangan-jangan ini tandanya jodoh." Ucap Anna tersenyum menggoda.


"Maksudnya, Aku berjodoh dengan Adikmu, begitu ?" tanya Zaha membalas godaan Anna, membuat gadis cantik tersebut kembali merengut kesal.


"Masa Kamu jodohnya sama Adikku, dasar gak peka. Pedopil yah!" Ucap Anna kesal.


"Hahaha, habis analisanya kok aneh begitu." Canda Zaha.


"Za.." Panggil Anna pelan saat suasana diantara mereka sudah lebih cair dari sebelumnya. Tangannya masih memegang lengan kanan Zaha, malah sudah seperti mengandeng lengan Zaha dari samping.


"Janji ya.."


"Untuk ?"


"Janji untuk tidak menjauhi Anna lagi yah?" Ucap Anna memandang Zaha dengan tatapan penuh rasa.


"Asal, Anna tidak malu aja kalau dekat denganku." Ucap Zaha singkat.


"Iya, Anna janji. Jangan ungkit itu lagi. Pokoknya Anna mau Zaha jangan jauh-jauh lagi dari Anna." ucap Anna manja.


"Jadi kacung Anna dong Aku." Ledek Zaha.


"Tuh kaann, malah diingatin lagi." Ucap Anna sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahaha, gak deh. Oke, Aku janji."


"Janji.." Ucap Anna sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Mereka pun saling menautkan jari kelingking sebagai pertanda sudah membaiknya hubungan antara keduanya.


"Yuk balik." Ajak Zaha begitu menyadari jika Sekolah sudah mulai sepi karena banyak Siswa yang sudah pulang.


"Ayuk, tapi jalan bareng lagi kayak dulu yah." Ajak Anna senang.


"Oke, ayok lah."


Saat keduanya berjalan keluar dari gerbang sekolah, ternyata Chintya sudah menunggu Zaha tidak jauh di depan gerbang sekolah.


"Kak Zaha, jadi pulang bareng kan ?" tanya gadis tersebut to the point. Wajah Anna langsung berubah begitu melihat gadis yang tadi pagi mengantar Zaha tersebut, ternyata sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.


Keduanya saling bertatapan.


Suasana hangat yang sempat dirasakan oleh Zaha sebelumnya, langsung berubah panas seketika.


Kedua gadis tersebut saling memancarkan hawa permusuhan, seolah saling berebut Zaha untuk bersama dengan mereka.