
"Aaaaagh.....!!!"
Teriak Mori terdengar sangat keras, saat tubuhnya didorong sangat kuat di bebatuan yang terletak tidak jauh dari air terjun rumah gadang tua keluarga suaminya.
Membuat Ujang tersentak akan istrinya, "Mori....!!!"
Ujang terlonjak seketika, berlari kencang mencari dari arah mana suara pekikan barusan, sehingga membuat dia baru menyadari bahwa dirinya tidak menghiraukan istrinya sejak tiba kediaman keluarganya.
"Mori..... Mori....!!!" teriak Ujang panik mencari keberadaan istrinya.
"Morii.....! Mak, Pak, kemana istri Ujang tadi?" tanyanya tampak khawatir.
**
"Mak....! Amak....!! Ujang pulang....!!"
Ujang berteriak dari bawah tangga memanggil Sida yang tengah sibuk memasak di dapur.
Suara putranya terdengar sayup-sayup sampai dari arah depan rumah gadang yang terus memanggil Sida.
"Amak.... Ujang pulang, Mak!" teriak Ujang.
Sida menghentikan aktivitasnya di dapur, berlari menuju depan melewati dua kamar yang tampak sangat berantakan karena onggokan kain kotor dan bersih bercampur aduk.
Terdengar langkah kaki Sida dari arah dalam rumah yang berlantai kan kayu vanyl yang mengkilap. Dia mencari keberadaan suaminya Datuk Uman yang sejak tadi tidak terlihat puncak hidungnya.
"Kamalah Uda ko!" (Kemana lah Abang ni!) ucap Sida saat melewati kamar mereka.
Sida melangkah keluar, menuruni anak tangga yang berlantaikan tembok tanpa cat terlihat sangat lusuh, yang menjadi topangan rumah gadang yang tampak akan roboh jika terlihat dari luar.
Mata Sida tertuju pada sosok wanita cantik, putih mulus dan bersih. Wanita oriental yang berdiri di hadapannya berusia 24 tahun, menoleh sambil tersenyum.
Sida menautkan kedua alisnya, menatap lekat gadis cantik yang berdiri di hadapannya, sambil bertanya, "Sia kau piak?" (Siapa kamu gadis?)
Wanita cantik itu mengambil baik tangan Sida, mencium hormat punggung tangan yang terasa kasar dan mengkerut, sambil tersenyum ramah.
"Kenalkan, saya Nohara Edogawa. Panggil saja saya Mori, Istri Ujang anak Ibu," ucapnya sopan.
Sontak saja kehadiran wanita cantik tersebut yang mengaku sebagai istri anak bujang nya dia tolak dengan sangat kasar.
Wajah Sida yang awalnya akan tersenyum sumringah, karena merasa bahagia setelah mendengar kabar dari beberapa kerabat mereka yang mengabarkan bahwa anak bujang nya akan kembali beberapa hari lagi membuat dirinya menjadi kecewa.
Sida terduduk di kursi kayu reot yang terletak di teras rumah gadang, hanya memandang kearah wanita yang tengah berdiri menunggu keberadaan Ujang.
"Mano anak den?" (Kemana anak saya?) tanya Sida dengan suara lantang.
Mori tampak gugup, karena melihat Sida yang menunjukkan ketidaksukaannya. Dia tertunduk, menunggu kehadiran Ujang yang meninggalkannya untuk mencari keberadaan sang Ayah.
Sida kembali menatap kearah Mori, kembali bertanya, "Sia namo kau tadi?" (Siapa namamu tadi?)
Mori kembali menjawab dengan menundukkan kepalanya, "Nohara Edogawa, Ibu. Panggil saja saya, Mori."
Sida menghela nafas panjang, menggerutu dalam hati, merutuki Ujang yang merupakan anak semata wayang bagi keluarganya.
Wajah Sida yang sudah tidak muda lagi, memperlihatkan garis keriput yang sangat miris. Hidup sangat pas-pasan sebagai seorang petani di daerah perbukitan nan luas, bahkan seperti perkampungan yang tertinggal.
Arau, nama kampung Sida yang sangat jauh dari kota memiliki keindahan alam luar biasa, air terjun, bahkan di kenal dengan berbagai macam mistis dan misteri. Dari siluman harimau, hingga beruang madu yang keluar dalam waktu-waktu tertentu.
Sida masih menunggu kehadiran putra kesayangannya, tanpa memberi ruang untuk Mori, karena tidak mengizinkan wanita asing tersebut masuk kedalam rumah gadangnya.
Tidak lama mereka saling berdiam, Ujang membawa Uman yang hanya menggunakan kemeja robek, bahkan menggunakan topi lusuh, yang sangat kotor, memanggul cangkul dan sabit yang terikat di pinggangnya dengan lilitan tali rapia.
Sida melihat wajah Ujang dari kejauhan, berdiri kemudian berlari menyambut sang putra kesayangan dengan penuh kerinduan.
"Ujaaang anak sayang Amak....!!!" teriak Sida sambil memeluk erat tubuh putranya.
Ujang memeluk tubuh Sida, mengecup kening sang Bunda dengan penuh kasih sayang dan kerinduan teramat sangat. Bagaimana tidak, sudah hampir lima tahun dia tidak kembali meninggalkan keluarga untuk merantau di negara orang.
Sida mencubit kecil perut Ujang yang semakin padat, bahkan tampak lebih tampan dari sebelum dia pergi merantau ke Jepang.
"Amak kiro ang lah lupo jo, Amak! Supo Malin Kundang. Lah kayo ndak takana jo Amak!" (Amak pikir kamu sudah lupa sama, Amak! Seperti Malin Kundang, udah kaya lupa sama Ibunya) ucap Sida berbisik-bisik.
Ujang tertawa kecil, mendengar celotehan Sida, kemudian mendekati Mori yang sejak tadi berdiri di depan kediaman rumah gadang keluarganya.
Ujang memperkenalkan Mori pada Sida, sambil tersenyum tipis, "Kenalkan, Mak. Ini Istri, Ujang. Wanita Jepang asli dari Hiroshima," ucapnya.
Sida tersenyum lirih, tidak menyambut ataupun memberikan tangannya kembali pada Mori.
"Masuak lah anak bujang Amak! Tapi jan padiaan batino ko masuak ka umah awak! Rorak lo umah ko beko di bom dek cimori ko!" (Masuklah anak bujang Amak! Tapi jangan biarkan perempuan ini masuk ke rumah kita, roboh pula rumah kita nanti karena di bom oleh Cimori ini) ucap Sida membawa putranya masuk kedalam rumah nya yang sudah terlihat sangat tua.
Mori hanya menunggu Ujang suaminya yang membawanya masuk ke dalam rumah, tanpa mau berbasa-basi atau menyapa orang yang lalu lalang melewati kediaman Sida dan Uman, karena melihat orang baru yang berdiri di depan rumah gadang keluarga tersebut.
Mata Mori tertuju pada sosok seorang yang sangat aneh, memandangnya dari balik tembok, terlihat sejak tadi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Siapa dia? Kenapa dia seperti maling? Ini lah aku malas jika datang ke daerah baru yang tampak tenang namun horor. Bagaimana aku bisa tenang jika suasana seperti ini?" batin Mori masih duduk menunggu kehadiran suaminya.
Mori bernyanyi kecil dalam hati, melihat-lihat perkampungan yang menjadi tempat tinggal keluarga suaminya, dan keindahan alam yang sangat sejuk bahkan sangat tenang.
Kembali mata Mori merasakan seseorang yang mengikutinya, bahkan terasa semakin dekat sehingga membuat bulu kuduknya merinding.
"Aaagh.... kok aku ngerasa dari tadi ada yang mengikuti. Ada apa? Apakah disini banyak hantu? Hmm, mana ada hantu itu. Palingan juga orang iseng yang ingin menarik perhatian ku. Atau jangan-jangan orang gila yang tidak pernah bertemu dengan wanita seperti aku!" tawa Mori, sedikit menghibur diri sendiri.
Mori berjalan kaki menapaki jalan yang tidak jauh dari kediaman Ujang, mendengar suara aliran air sungai yang terdengar dari kejauhan, dan sangat menarik perhatiannya sebagai pendatang baru disana, "Hmm.... sepertinya kampung halaman suamiku sangat menyenangkan, dan membuat aku betah berada di sini."
Betapa terkejutnya Mori saat melihat keindahan air terjun yang sangat menyegarkan, membuat dia semakin betah berada disana.
Namun, Mori tanpa sengaja menoleh kebelakang seketika....
______
Terimakasih atas kunjungannya...
Selamat membaca, jangan lupa like dan komentar... agar cetar membahana.
Salam Othor Pemes...ðŸ¤ðŸ˜‚