
"Si-siapa Kamu sebenarnya ? k-kami tidak pernah ada urusan denganmu." ujar Ronal terbata.
"Tidak ada urusan katamu ?"
Baaammmmm
"Arrggkkhh.."
Kaki kanan Zaha menghantam kepala pria ketiga dengan sangat kuat, membuat kepala pria tersebut langsung terhempas kuat ke dinding yang ada dibelakangnya. Kepalanya langsung retak seketika, lalu Ia menggelepar dengan darah menggumpal keluar dari mulutnya. Tak lama Ia pun meregang nyawa, membuat Ronal, Roy dan Vina semakin gemetar ketakutan, karena mereka sadar kalau sebentar lagi merekapun akan bernasib sama dengan temannya itu.
Roy bahkan sampai kencing di celana saking ketakutannya, "To-tolong ampuni Kami. Apapun yang Kamu minta pasti akan dikabulkan oleh Orangtua Kami." Mohon Roy ketakutan.
Zaha menarik rambut Roy dan memaksa menegakan kepalanya, "Mana kesombongan yang lu banggakan sebelumnya ? hah ?" tanya Zaha sambil menatap tajam wajah penuh ketakutan Roy.
"Ka-kamu ?" Roy mulai menduga-duga siapa orang yang telah seberani itu bikin perhitungan dengan mereka. Namun sesaat, Ia juga menyangkal dengan apa yang sempat terlintas dalam fikirannya.
"Ti-tidak mungkin.."
Bughhhhhh
"Arrghhkkk.." Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Roy, membuat tubuhnya oleng dan terhempas keras ke lantai, namun Zaha kembali menegakkan duduknya kembali.
"Tidaaakkk... jangan sakiti Adikku." Teriak Ronal memohon.
"Tenang saja. Kalian tidak akan mati semudah itu, karena kalian adalah pertunjukan utamanya." Zaha tersenyum dingin dibalik topeng hitamnya.
"Ka-kamu.. hahh haahh.. Kamu salah kalau mencari gara-gara dengan Kami. Kaluarga Kami pasti akan memburumu dan semua orang yang dekat denganmu,, in.."
Crassshhhh
"Argghhkkkk..."
Ronal tidak sempat melanjutkan ucapannya, begitu kerambit ditangan Zaha merobek mulutnya, membuat pipinya robek sangat lebar dan langsung menampakkan isi dalam mulutnya, darah semakin banyak keluar mulutnya, membuat tubuh Ronal menegang.
"Banggg... tidaakk tidaakkkk.." Teriak Roy syok begitu melihat kondisi Kakaknya.
Vina sendiri hanya terduduk lemas menatap semua kengerian itu, jiwanya terlihat terguncang hebat dan membuatnya hanya bisa terpana dengan tubuh seakan membeku.
Zaha melihat jam ditangannya, sudah 2 jam berlalu sejak Ia masuk ke dalam rumah ini. Saatnya, pertunjukan puncak! Sebelum ada yang menyadari apa yang terjadi didalam rumah itu. Ia pun mendekati Roy yang duduk paling kiri.
Melihat Zaha yang menuju ke arahnya, membuat Roy coba meringsut menjauh. Namun, karena luka yang dideritanya cukup parah membuatnya tidak bergerak sama sekali, "Ti-tidak.. ja-jangan.. am-ampuni Gue!" Mohon Roy ketakutan.
Slaaasshh
Zaha mencabut Wakizashi yang masih terpancang di dinding, tubuh teman Ronal langsung tergeletak dilantai begitu pedang pendek tersebut terlepas. Selanjutnya, Zaha dengan dingin mencengkram leher Roy dan memaksa mengangkat tubuh yang sudah tidak berdaya itu.
"Orrgghkk.." suara Roy tercekat karena cengkeraman kuat Zaha pada lehernya.
Zaha menarik kedua tangan Roy ke atas, "tidak tidak,, Gue mohon. Ampuni Gue.. tidaakkk... Agghhkkk.." teriak Roy kesakitan, begitu tangannya yang sudah menyatu diatas kepalanya ditusuk oleh Zaha, tepat diatas kedua telapak tangannya. teriakannya benar-benar membuat siapapun akan menjerit pilu melihat penderitaan yang dialami oleh Roy.
"Tidaakk.. Rrroyy..." teriak Ronal dengan suara tidak jelas mengkhawatirkan keadaan Adiknya tersebut. Zaha sama sekali tidak memandang kasihan pada mereka, apalagi mengingat kejadian pemerkosaan terhadap Kakaknya yang mereka rekam dengan begitu kejamnya.
Apa Zaha berhenti menyiksa Roy sampai disitu ? ternyata tidak! Selanjutnya, dengan kerambit ditangannya, Zaha menusuk bagian ************ Roy.
Cessshhhhh
****** crottttt
"ARRGGHHHkkK..." Roy berteriak sangat kencang bahkan kedua matanya sampai melotot hendak keluar, bukan lagi air mata yang keluar dari matanya, melainkan darah akibat sakit yang luar biasa dideritanya.
Bagian yang putus akibat sayatan Kerambit tersebut, digenggam oleh Zaha lalu disumpalkan dengan paksa kedalam mulut Roy untuk meredam teriakannya.
"ANJINGG KAUU, ROYYY.. TIDAAKKK.." Pekik Ronal melihat penderitaan Adiknya.
"Bajingan! Kekejamanmu akan dibalas berkali lipat oleh keluarga Kami, ingat itu!". Ancam Ronal diantara kesakitannya.
"Kejam ? seharusnya kata itu Kamu tanyakan untuk dirimu sendiri. Apa yang telah kalian lakukan pada wanita-wanita yang kalian perkosa ?" setelah bicara begitu, Zaha mengangkat tangan kiri Ronal yang masih utuh, dan.
Kraaaaakkkkk
"Arggghhhhhhh..." teriak Ronal makin kesakitan menggema memenuhi seluruh ruangan, begitu Zaha mematahkan tangan kiri satu-satunya yang masih tersisa.
"Bunuh saja Kami,, Anjing.. uhkk.." Ujar Ronal putus asa.
"Hmnn, terlalu mudah kalau hanya untuk membunuh kalian. Sekarang! Kalian harus merasakan penderitaan seperti halnya setiap wanita yang menjadi korban kebiadaban kalian."
Bughhhhh
"Ahhkk.."
Zaha memukul perut Ronal dengan keras, membuat pemuda itu sampai meringkuk kesakitan.
Bughhhhhh
"Arrgghhkkk."
"Setiap kehormatan mereka yang telah kalian renggut..."
Bughhhhhhhh
"Arrgghkkk.."
"Setiap air mata yang keluar dari mata mereka..."
Bughhhhhh
"Arrgghhkkk."
"Berulang kali, mereka memohon ampun agar kalian lepaskan. Tapi, dengan kejamnya kalian merenggut kehormatan yang telah mereka jaga..."
Bughhhhhh
"Arrgghhkkk."
"BANGSAAAATTT..." Teriak Zaha melampiaskan emosinya.
Bughh bughh bughh bughh
Bughh bughh bughh bughh
Berulang kali pukulan Zaha masuk dengan begitu brutalnya ke tubuh Ronal, saat Ronal akan kehilangan kesadarannya, Zaha menahan kepalanya dan menegakan tubuhnya kembali.
"Ini... untuk wanita kusayangi, yang kehormatannya telah kalian renggut."
Ceesssshhhh
"ARGGGHHHHKKKK...." teriak Ronal panjang, begitu Zaha memotong sesuatu yang paling berharga baginya, sesuatu yang menjadi tanda kalau Ia adalah seorang lelaki. Kini, bagian itu telah terpotong. Lalu, Zaha menyumpalkan potongan daging tersebut dengan paksa ke dalam mulutnya.
"Ourrrgghhhh..." teriak Ronal tertahan dengan daging tersumpal di mulutnya.
Zaha menatap kedua Kakak beradik yang sudah sekarat itu, disudut matanya keluar setetes air mata. Air mata untuk penderitaan Kakaknya, yang kehormatannya telah direnggut oleh mereka yang telah mendapatkan balasannya malam ini. Padahal, Ia sudah bertekat untuk tidak kembali kedunia seperti ini, tapi demi membalas mereka yang telah berbuat keji pada Kakaknya, maka kedalam neraka sekalipun akan didatanginya. Bayangan akan pemerkosaan Kakak dan Ibunya dahulu membuat Zaha tidak lagi bisa menerima hal yang sama terjadi pada Kakaknya saat ini.
Dengan air mata kepedihan dan emosi yang menjadi satu, Zaha mendekati keduanya, lalu..
Slaassshhhh
"Arrgghhkk.."
Slassshhhh
"Arrgghhkk.."
Dengan gerakan santai, Kerambit yang sangat tajam itu memotong urat leher Roy dan Ronal bergantian. Keduanya mengejang beberapa kali sebelum diam dan tak bergerak lagi untuk selamanya.
Zaha mendekati Vina yang masih terpaku tanpa bersuara disudut ruangan. Begitu melihat Zaha mendekat ke arahnya, Vina hanya menggeleng ketakutan namun tanpa bisa bergerak sama sekali.
"Hiduplah dengan beban yang telah Kamu lihat hari ini." Ucap Zaha dingin, lalu Ia pun pergi meninggalkan rumah tersebut, berikut dengan kamera yang sedari tadi merekam semua aksinya.
Tidak lama, terdengarlah teriakan pilu dari dalam rumah tersebut. Jerit kengerian yang sangat keras dan membuat orang-orang jadi merinding karena ikut merasakan ketakutan, seperti yang dialami oleh wanita tersebut.
Saat Zaha keluar dari komplek perumahan tersebut, ternyata sudah ada sebuah mobil Jaguar F-Type warna hitam yang sudah menunggunya dijalan ujung gang. Mobil tersebut dikendarai oleh seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagi Zaha.
"Naik!" perintah wanita tersebut.
Tidak lama, keduanya pun menghilang dalam gelapnya malam meninggalkan kengerian akibat amukan amarah seorang Zaha. Sebuah pembalasan yang sangat kejam, namun sangat setimpal dengan apa yang telah berani mereka lakukan, karena telah berani membangunkan seorang monster yang bernama, Zaha!
***
Seorang pria tua dengan setelan jas serba hitam, tampak terduduk dengan muka merah padam melihat dua orang putra kesayangannya terbaring dengan kondisi yang sangat mengerikan.
"Bos, wanita yang bersama tuan muda masih belum bisa dimintai keterangannya. Dia mengalami gangguan jiwa berat. Tapi, Dia satu-satunya saksi kunci yang melihat langsung semua peristiwa malam ini." lapor salah seorang pengawalnya.
"Buat Dia sadar, bagaimanapun caranya."
"Panggil Cakra! Siapapun yang berani membuat Anak-Anakku seperti ini, harus merasakan balasan yang berkali-kali lipat." Perintah pria tersebut dengan suara berat yang menyiratkan dendam yang teramat dalam pada orang yang telah membunuh kedua putra kesayangannya.
"Beritahu juga Rio. Tarik Dia dari kesatuannya! Dia harus ikut memburu orang yang telah membunuh kedua Adiknya." Perintah pria tua itu lagi.
"Siap Bos." Angguk sang pengawal patuh.