
"Kalau Zaha bukan Zaha, terus siapa dia sebenarnya?" Sebuah pertanyaan telontar dari bibir tipis Nia. Namun dia sama sekali tidak memiliki jawaban yang pasti dalam pikirannya.
Kalau seandainya, Zaha bukanlah adiknya terus apa yang harus dilakukannya?
Ketika Nia memikirkan ini, tiba-tiba saja pernyataan Angel sebelumnya terngiang begitu saja dikepalanya, "Kalau Zaha bukan saudara sedarahmu... Berarti tidak masalah bagimu bercinta dengannya."
Flush.
Wajah Nia langsung memerah ketika memikirkan kemungkinan itu dan membuatnya jadi salah tingkah sendiri.
Angel paham, reaksi yang ditunjukkan oleh Nia pasti karena Ia menyadari jika Zaha bukanlah adiknya. Lebih jauh, Nia pasti memikirkan perasaannya pada Zaha dan itulah yang membuatnya menjadi salah tingkah.
"Jadi, siapa dia sebenarnya?" Tanya Nia tidak lagi menyebut nama Zaha. Tapi menggantinya dengan kata 'dia', itu artinya Ia mulai mengakui jika Zaha sekarang bukan adiknya melainkan orang lain.
Angel tertawa ringan, "Jangan tanya padaku, tanyakan langsung pada orangnya."
Setelah berkata seperti itu, Angel beranjak pergi meninggalkan Nia dengan wajah penuh kebingungan.
...
Suasana dalam kamar Anna benar-benar hening selama beberapa beberapa menit, hanya isak tangis Anna sebagai satu-satunya suara yang terdengar.
Zaha sendiri hanya diam mematung di depan pintu, tanpa tau harus berkata apa. Ia mungkin seorang ahli strategi tempur yang handal, namun ketika dihadapkan dengan yang namanya perasaan dan wanita, Zaha seakan menjadi seorang balita yang belum mengerti apa-apa.
Dia bersikeras untuk melupakan Anna dan semua masa lalunya untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya, namun disisi lain, Anna ternyata adalah wanita yang sangat nekat dan keras kepala. Bagaimanapun Zaha coba mengingkarinya, bisa membuat dokter cantik tersebut dapat berbuat nekat.
Bagaimana bisa Ia pergi begitu saja? Anna bisa saja melakukan apa yang telah diucapkannya. Mendengar Anna berada dalam bahaya saja sudah membuat Zaha sangat panik dan khawatir, apalagi jika dokter cantik itu benar-benar nekat mengakhiri nyawanya? Itu semua karena Zaha bersikeras mengingkari siapa dirinya didepan Anna.
Jika Anna mati karena dirinya, Zaha tidak akan sanggup menjalani sisa hidupnya dengan beban seberat itu.
Sebuah dilema yang lebih berat dari lagunya Andilau 'antara dilema dan galau.' Sekarang mungkin Zaha baru paham apa arti simalakama yang sesungguhnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Zaha merasa tidak berdaya sama sekali.
Betapa ingin Ia membuka pintu didepannya, lalu berlalu begitu saja dan melupakan semua yang ada dibelakangnya. Namun, Ia tidak bisa melakukannya.
Ia takut, begitu membuka pintu ini maka wanita yang dicintainya akan pergi untuk selamanya.
Akhirnya, dengan segala ketidak berdayaannya Zaha berbalik kebelakang dan menemukan Anna yang menatapnya penuh arti, serta wajah cantiknya yang sudah dipenuhi oleh air mata.
Bahkan setelah sekian lama dan Ia bahkan telah berganti raga, tatapan Anna tidak berubah sedikitpun memandangnya. Tatapan penuh cinta dan kerinduan. Satu-satunya tatapan yang membuatnya merasa sangat nyaman.
"Kamu... Kamu mencintai pria yang salah. Seharusnya kamu melanjutkan hidupmu dengan baik, membesarkan putri kita." Suara Zaha bergetar.
Zaha tahu, Ia tidak lagi bisa menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Anna, itu karena Zaha tidak ingin Anna menjadi nekat dan melukai dirinya sendiri.
Anna terperangah, hatinya terasa hangat dan melonjak bahagia sekaligus. Tidak salah lagi, orang didepannya itu benar adalah Zahanya.
Waktu bagi Anna terasa berhenti berputar, Ia menangis tapi ini adalah tangis bahagianya untuk pertama kalinya setelah ia menerima berita Zaha-nya telah tiada.
Bahkan jika ini adalah mimpi, maka Anna rela untuk tidak bangun selamanya. Matanya menatap penuh cinta dan kerinduan.
"Bersamaku hanya ada penderitaan dan kematian. Aku bahkan tidak tahu jika kamu mengandung anak kita, Aku adalah lelaki terburuk."
Zaha tersenyum getir, "Aku hanya datang padamu ketika terluka, dan kamulah yang selalu merawat semua luka-lukaku selama ini."
"Tidak peduli seberapa banyak luka yang telah kamu sembuhkan, namun yang kulihat hanya dendamku. Tanpa sadar, aku telah mengabaikan dan menyia-nyiakan malaikat sesempurna dirimu. Aku... Aku bukanlah pria yang pantas untuk mendampingimu. Kenapa kamu memaksa? Aku hanya bisa memberikanmu air mata."
Anna menggeleng sambil terisak, Zaha sudah mengungkapkan apa yang menjadi pikirannya. Secara tidak langsung Ia telah mengakui siapa dirinya.
Tidak tahan, Anna pun bangkit dan tanpa menghiraukan pakaiannya yang sangat terbuka, Anna menghambur kedalam pelukan Zaha.
Anna memeluk Zaha dengan begitu erat. Ia menangis sepuasnya dalam pelukan Zaha, seolah semua perasaan yang selama ini dipendamnya ditumpahkan saat itu juga.
Zaha yang semula pasif, menerima semua lampiasan emosi terdalam Anna, akhirnya membalas pelukan erat Anna.
"Maaf." Ucap Zaha getir. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal karena telah membuat Anna menderita dan mencintai pria pendendam seperti dirinya.
"Bodoh!" Kata Anna terisak.
"Aku memang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu."
"Tidak peka."
"Maaf." Jawab Zaha tidak berdaya.
"Tapi... Aku mencintaimu.. hiks hiks."
"Seharusnya kamu mencintai pria yang lebih baik dariku."
"Bodoh... Seorang wanita hanya memiliki satu cinta sejati dalam hidupnya dan cinta sejatiku... adalah kamu."
"Aku tidak pernah menyesalinya. Bahkan jika Aku dilahirkan kembali kedunia ini, Aku masih tetap akan memilihmu dan Aku tetap tidak akan pernah menyesalinya karena Akulah yang memilih untuk mencintaimu."
Hati Zaha merasa hangat. Ia tidak pernah menyangka akan dicintai oleh seorang wanita sampai sedemikian rupa. Sementara Ia hanya fokus pada dendamnya dimasa lalu dan sama sekali tidak mempedulikan semua orang yang sudah tulus menyayanginya.
Pertama ada Angel yang dulu menyatakan perasaannya, sekarang Anna. Mereka begitu tulus mencintainya bahkan saat Zaha sama sekali tidak menoleh atau bahkan membalas cinta keduanya. Zaha tertunduk malu.
Memikirkan itu, Zaha tiba-tiba merasa menjadi orang yang begitu kejam dan tidak berperasaan sama sekali.
Anna mengangkat wajahnya dan menatap Zaha dengan penuh cinta, walau wajah Anna basah oleh air mata namun Ia terlihat begitu bahagia saat ini.
Anna mengusap wajah Zaha dengan lembut, Ia seolah sedang merekam setiap detail wajah Zaha-nya saat ini.
"Kamu jahat..." Ucap Anna cemberut.
"Kamu telah melihatku dan juga tahu, kalau kita telah memiliki seorang anak. Tapi... kamu tidak memberitahuku kami sama sekali."
"Bagaimana kamu bisa percaya jika remaja jelek sepertiku tiba-tiba mengaku sebagai Zaha yang kamu kenal. Tidak! Kamu tidak mungkin akan percaya. Tapi, melihatmu dan putri kita, Aku sudah puas."
Anna mencibir dan memanyunkan bibirnya, "Paling tidak kamu bisa meyakinkanku dengan cerita masa lalu kita, dimana hanya kita saja yang tahu."
Zaha semakin tertunduk malu, Ia tidak memungkiri semua ucapan Anna. Alasan sebenarnya kenapa Ia tidak pernah meyakinkan Anna adalah karena Ia berniat meninggalkan Anna dan seluruh masa lalu dibelakangnya.
Anna memegang dagu Zaha dengan lembut dan menegakkan wajahnya. Seolah Anna mengatakan, Ia sudah bisa menerima alasan Zaha dan memaafkannya. Anna sangat bersyukur dan bahagia mendapati orang yang dicintainya masih hidup, meski dalam raga yang berbeda.
Dengan memejamkan matanya, perlahan wajah Anna mendekat.
Zaha tampak ragu, "An-anna." Zaha coba menahannya.
Tapi wajah cantik bak bidadari itu semakin mendekat, nafas Anna bahkan mulai terasa hangat diwajah Zaha, lalu.
Cup
Sebuah kecupan hangat singgah dibibirnya. Sebuah rasa lembut yang dulu pernah diadakannya, kini kembali dinikmatinya.
Jantung mereka berdegup kencang dan tanpa bisa ditahan lagi, tubuh keduanya sudah terbaring diranjang.
Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi kesedihan. Semua kerinduan dalam diri Anna selama ini, dilampiaskannya dalam pergumulan panjang. Bibir tipisnya mengerang panjang, merasakan setiap kelembutan sentuhan Zaha disetiap jengkal tubuhnya.
"Sayang, aku mencintaimu.." Erang Anna dipenghujung rasa nikmat yang menderanya.
Ia pun terhempas tidur dengan bibir tersenyum bahagia.
Zaha memeluk Anna dan menutupi tubuh telanjang mereka, yang tanpa sadar langsung menjadikan dadanya sebagai bantal. Ia tampak begitu nyaman berada dalam pelukan Zaha.
Melihat Anna tertidur dengan ekspresi begitu damai, Zaha menjadi tenang, "Aku juga mencintaimu." Bisiknya pelan.