
"Haahhh haahhh.." Desah Kami bersamaan untuk meredakan efek ******* yang baru saja Kami raih bersamaan. Peluh sudah sama-sama membasahi tubuh Kami, tapi rasanya teramat sangat puas. Berbeda sekali dengan sebelumnya, karena kali ini Aku berada dalam kesadaran penuh. Kami seolah tidak pernah cukup dan tidak pernah puas menggapai puncak kenikmatan itu, selalu ingin lagi, lagi dan lagi. Tubuh Angel bagaikan candu yang membuatku tidak pernah cukup untuk menikmatinya sekali saja, selalu membuatku ketagihan mengulang untuk mendayung mencapai kenikmatan itu terus menerus, sampai akhirnya Kami berdua terkapar tidak bedaya, akibat kelelahan. Rasanya sungguh berbeda dari kenikmatan yang pernah kuraih selama ini, itu karena Angel yang melayaniku dengan totalitas. Atau mungkin karena Angel yang memiliki ketahanan fisik diatas rata-rata wanita yang pernah mendayung kenikmatan denganku selama ini, sehingga rasanya sungguh berbeda dan lebih lama, sehingga kenikmatan yang Kudapatkan bisa menjadi lebih maksimal.
Angel membaringkan tubuhnya miring disamping tubuhku dan menyandarkan kepalanya ke dadaku sambil sesekali tangannya dengan jahil mengelusi dadaku.
Masih bisa kurasakan detak jantungnya yang masih memburu kencang, karena tubuh Kami yang berdempetan dengan lekatnya tanpa penghalang apapun. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Kami.
"Sayang.." Panggil Angel lirih sembari meredakan nafasnya.
"Hmnnn.."
"Maaf, jika Aku telah menghabisi mereka semua tanpa meminta persetujuanmu." Tanpa Kuminta, Angel bercerita begitu saja dan mengakui kalau Ia yang telah menghabisi Vina dan 4 wanita lainnya.
Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya, karena telah Kuduga sebelumnya. Cuma yang belum Aku mengerti, alasan Angel menghabisi mereka semua. Apa cuma sekedar melenyapkan saksi kunci semata ? dan untuk melindungiku dari musuh-musuh yang mungkin akan menuntut balas atas kematian Ronal, Roy ataupun yang lainnnya.
"Tapi kenapa harus sampai menghabisi mereka semua ?" Tanyaku sambil mengelus lembut kepala Angel dan menghapus keringat dikeningnya dengan jari-jariku.
"Vina sudah diawasi oleh anak buah Abdi Batubara. Walau kondisi kejiwaannya sedang terguncang, lambat laun mereka akan menemukan cara untuk membuatnya normal kembali, dan itu akan membawa mereka padamu. Begitupun keempat wanita lainnya. Walau mereka tidak mengenalmu, tapi bisa saja kesaksian mereka akan membahayakan dirimu ataupun keluargamu saat ini. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Aku bisa merasakan detak jantung Angel sangat tenang, justru itulah yang membuat Angel sangat berbahaya karena itu artinya Angel sangat serius dan jujur dengan ucapannya.
"Apa itu artinya, Kamu akan melenyapkan Kak Nia juga ?" Tebakku. Aku tidak bisa membayangkan jika Angel juga akan berencana seperti itu. itu artinya, Kami akan..
"Semula iya." Jawab Angel sambil menegakan kepalanya menghadapku. Angel mengucapkannya sambil tersenyum diantara peluh yang membasahi wajahnya, reflek tanganku membersihkan peluh yang masih menempel di wajah cantiknya, membuat Angel memejamkan matanya menikmati sentuhanku.
"Tapi, Aku melihat kalau dia sangat sayang padamu dan Kamu terlihat bahagia bersama mereka, karena itu Aku mengurungkan niatku untuk menghabisinya. Aku tidak ingin merenggut kebahagiaan itu dari kalian. Aku ingin, tetap menjadi seorang Angel bagimu." Angel tampak sangat tulus mengucapkan semua itu.
"Terimakasih." Ucapku tulus sambil meraih wajahnya dan mencium keningnya lembut.
Angel kembali menyanderkan kepalanya kedadaku, bahkan sebelah kakinya juga ditopangkan ke atas pahaku.
"Tapi, disaat bersamaan Kamu menjadi Devil bagi orang lain." Gumamku sedih atas tindakan kejam Angel terhadap Vina dan saksi lainnya.
"Tidak apa-apa. Jadi Devil atau apapun namanya itu, Aku rela. Asal tidak ada yang berani menyakitimu dan merenggut kebahagiaan Kita nantinya." Ucapan Angel terdengar tanpa ada keraguan sedikit pun. Layaknya para pejuang yang sudah siap mati di medan tempur.
Tanpa terasa, malah Aku yang bersedih mendengar ucapannya.
"Sayang, cukuplah jadi Angel bagiku. Jangan kotori lagi tanganmu dengan darah, cukup sudah Aku yang menanggung semua itu, Kamu jangan." Ucapku getir.
Angel pun sepertinya merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan, Ia mengeratkan pelukannya ke tubuhku.
"Tidak. Cukup dulu Aku tidak berani membantahmu, sampai Aku harus kehilangan dirimu. Cukup sudah semua rasa sakit itu. Kali ini, Aku hanya ingin menjadi jadi egois. Kamu memanggilku Angel, maka Aku akan selalu menjadi Angel bagimu. Tapi tidak bagi musuh-musuhmu, karena Aku akan menjadi Iblis yang siap mencabut nyawa mereka." Angel bersikeras dengan prinsipnya.
"Oh, iya sebentar." Ucap Angel bangkit dari rebahannya, namun ketika Ia hendak berjalan dari tepian kasur, Angel tampak sedikit meringis dan membuatnya menggigit pelan bibir bawahnya.
"Kenapa ?" tanyaku khawatir.
Angel malah seperti mengulum senyum, gayanya terlihat sangat menggoda.
"Hihihi, masih terasa mengganjal dibawah." Ucapnya sambil memegang bagian bawah perutnya tanpa malu padaku sama sekali, Ia lalu berlalu begitu saja menuju lemari pakaiannya, padahal Ia masih dalam keadaan naked abis. Membuatku hanya bisa meneguk saliva dan sesuatu dibawah sana ikut terbangun melihat gaya polosnya Angel.
"Ihh sudah bangun aja..? Sebentar yah bebeb imut, kasih Aku waktu istirahat dulu bentar ya." Angel berbicara pada Zaha junior dengan gayanya yang sangat menggemaskan.
"Ini, sayang.." Angel memberikan sebuah amplop berukuran A4.
"Hmnn, matanyaa..." Angel mendorong pipi kiriku pelan.
"Abis dibiarin terbuka begitu." Ucapku sambil meneguk saliva begitu melihat bagian atas tubuh Angel yang sengaja dibiarkannya terbuka.
"Ihhh nanti yah say! Masih lemas ini." Rajuk Angel. Yah wajar sih, sampai beberapa ronde kami lewati dengan gila-gilaan seperti tadi, gimana gak lemas. Namun tubuh indah Angel, sangat-sangat menggoda dan selalu membuat hasrat terdalamku selalu ingin terjaga.
"Siapa ini ?" Tanyaku bingung begitu mengeluarkan beberapa foto dari dalam amplop yang disodorkan oleh Angel sebelumnya.
"Itu yang paling atas, namanya Abdi Batubara. Ayahnya Ronal dan Roy yang telah Kamu bunuh sebelumnya. Dia itu pengusaha Batubara dan salah satu Konglomerat yang berpengaruh di Negeri ini, dan juga memiliki banyak kelompok mafia yang jadi kaki tangannya. Salah satunya adalah Cakra." Angel menunjuk foto kedua, foto yang menampilkan seorang pria bertampang seram khas orang timur.
"Cakra itu salah satu anak buah andalannya Abdi, dan Dia adalah pemimpin kelompok Timur."
Deg
"Iya, dia berseberangan dengan kelompok yang Kamu pimpin sekarang." Lanjut Angel seperti membaca apa yang Kupikirkan saat ini.
"Dari segi kemampuan dan ketahanan fisik, Cakra lebih tangguh dari Codet yang pernah Kamu kalahkan sebelumnya. Mungkin Dia akan jadi lawan yang berbahaya bagimu nantinya. Tapi, ada satu orang yang wajib dan harus lebih diwaspadai. Ini.." Angel menunjuk foto ketiga.
Aku menatap dengan seksama foto yang ditunjuk oleh Angel. Foto seorang pemuda, tubuhnya tampak proporsional dan berotot. Daun telinga sebelah kirinya tampak robek dibagian tengahnya, raut wajahnya tampak keras dan tegas, menandakan betapa kerasnya pelatihan ataupun tugas yang pernah dijalaninya. Itu artinya, Ia orang militer ataupun mantan militer terlatih.
"Namanya Rio. Dia anak tertua Abdi Batubara, kakaknya Ronal dan Roy..."
"Dia orang militer ?" Tanyaku menyela keterangan Angel.
Angel mengangguk kecil membenarkan dugaanku, "Ya dan masih aktif. Salah satu Pasukan elit TNI dan kali ini Ia sengaja mengambil cuti panjang, khusus untuk memburu pembunuh Adik-adiknya, yaitu Kamu." Lanjut Angel.
"Kemampuannya ?"
"Dia salah satu prajurit terbaik dari pasukan super elit Kopasus TNI AD. Tidak banyak informasi yang bisa Kudapat, karena itu kenapa Kukatakan jika Kita harus lebih mewaspadai dirinya. Karena secara background Ia tidak jauh berbeda dengan dirimu." Kali ini Angel tampak sangat serius. Aku sendiripun tidak bisa menebak seperti apa Rio yang dimaksud oleh Angel, karena Akupun tidak mengenal begitu banyak para pasukan elit TNI karena memang Kami berbeda kesatuan, dan dari nama dan fotonya, Aku merasa asing sehingga Aku perlu mewaspadai pemuda tersebut.
"Aku harus lebih banyak latihan lagi kalau begitu." Gumamku lirih. Kalau benar apa yang diucapkan Angel, dengan kemampuanku sekarang akan sangat percuma. Aku harus mencapai kemampuan beberapa tingkat lebih cepat dari waktu seharusnya, walau dengan itu Aku harus memaksa kemampuan tubuh ini melebihi batas dari yang seharusnya.
"Tenang saja. Aku akan membantumu untuk meningkatkan kemampuan tubuhmu dengan cepat." Ujar Angel sambil meraba lembut dada bidangku. Cuma karena ucapan Angel juga yang membuatku tidak bisa lagi konsen untuk menanggapi sentuhan mesranya.
"Aku suka perkembangan tubuhmu. Sudah nampak lebih berisi sekarang, hihihi.." Ucapnya lagi sambil menekan pelan lingkar otot di lengan dan dadaku.
"Oya, satu lagi.." Ujar Angel mengingatkan.
"Sepertinya mereka sudah menemukan petunjuk yang mengarah pada Kakak kesayanganmu itu."
Deg
Tiba-tiba saja Aku jadi tegang dan mencemaskan keadaan Kak Nia. Saat ini, cuma Ada Mbak Virangel dan Bang Zulham dan beberapa teman lainnya yang menjaga Kak Nia. Kalau lawannya sesuai seperti informasi yang diberikan Angel tadi, maka mereka semua berada dalam bahaya.
"Astaga, kenapa gak bilang informasi segenting itu dari awal ?" Ucapku panik. Lalu dengan terburu-buru mengenakan pakaianku.
"Semoga saja masih sempat.." Bathinku cemas.
Tanpa mempedulikan panggilan Angel, Akupun berlari keluar rumah dengan cepat seolah sedang berlomba dengan waktu.