Bunian

Bunian
BAB 88



"Benar, saya juga berpikiran seperti itu. Bedanya mungkin pada ketahanan fisik mereka saja, si wanita terlihat seperti telah terlatih belasan tahun, mengingat dari kekuatan dan juga serangannya yang jauh lebih tajam dibanding King kita." Imbuh Cak Timbul membenarkan.


"Atau jangan-jangan wanita itu gurunya King, Paman?" Tanya Virangel penasaran.


Semua orang terdiam dan merenungkan kemungkinan yang sama.


"Kalau benar wanita misterius itu adalah gurunya King, kita bisa lega dan mempercayakan keselamatan King padanya. Adapun ketidakhadiran King sekarang, bisa jadi karena masih dalam pemulihan. Bukankah cidera King sangat parah terakhir kali? Itu pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk pemulihannya." Komentar Komar yang bisa diterima kebenarannya oleh semua orang dan itulah alasan yang paling masuk akal saat ini.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lipay.


"Hmn untuk mengisi waktu luang, bagaimana kalau kita basmi Kelompok Utara saja? Kemarin kami tidak ikut pesta dalam pesta kalian, jadi kami bisa bersenang-senang dengan Kobra nantinya." Orang yang bicara dengan penuh semangat dan membuat para pemimpin junior di Kelompok Selatan seakan terkena serangan jantung mendadak mendengarnya adalah Samson, pimpinan kedua di Kelompok Barat.


Bahkan Alex juga turut bersemangat mendukung gagasannya dan setiap orang terpana seakan tidak percaya. Bagaimanapun ini adalah topik tentang penyerangan satu kelompok penguasa jalanan dan mereka mengucapkannya dengan begitu santainya, seolah mereka akan pergi berpesta dan bersenang-senang.


"Setuju, ide yang bagus! Kita bisa menyiapkan potongan kue yang besar untuk menyambut kepulangan King nanti. Adapun pria yang bernama Rio itu akan kita hadapi bersama, kalaupun dia punya Yakuza dibelakangnya, akan kita hancurkan sekalian." Padri ikut mengipasi api yang dikobarkan dua saudaranya.


Cak Timbul dan yang lainnya saling menatap untuk mengatasi keterkejutan diantara mereka. Semula ini hanyalah rencana dalam Kelompok Selatan dan Kelompok Timur yang memutuskan bergabung dalam komando Kelompok Selatan, setelah mereka dikalahkan. Siapa yang menyangka, sekarang mereka juga disokong oleh Kelompok Barat, bahkan kalau rencana penyerangan yang diusulkan oleh Kelompok Barat berhasil, maka sekali lagi mereka akan jadi satu komando seperti masa kejayaan mereka dulunya.


"Apa itu artinya, kalian sudah memutuskan bergabung dalam satu aliansi dengan kami saat ini?" Tanya Mang Lipay memastikan.


"Tentu saja, kami sudah capek harus berbagi perintah satu sama lain.." Ucap Padri sambil menatap dua saudaranya.


"Iya, saatnya kita bergabung kembali dalam satu komando." Sokong Samson membenarkan pendapat saudara pertamanya.


"King adalah profil yang cocok untuk memimpin kita semua. Mungkin kami belum bertemu dengannya secara langsung, tapi kami tidak ragu dengan pilihan kalian." Kata Alex.


 "Ya, itu benar. Tidak peduli berapapun usianya saat ini, atau apapun latar belakangnya. Siapa yang peduli itu semua, yang penting dia punya kemampuan untuk menjadi pemimpin kita. Maka Kami akan mendukungnya! Siapa yang menentangnya, kami Kelompok Barat akan melibasnya tanpa ampun... Sekarang, si Kobra dan Kelompok Utaranya berani menghadapkan taringnya untuk menentang King, maka dia dan semua yang mendukungnya harus bersiap menghadapi kemurkaan kami, Kelompok Barat." Tambah Padri berapi-api, membuat Cak Timbul dan yang lainnya jadi tertegun, tidak tahu harus berkomentar seperti apa.


Pertemuan hari ini dimaksudkan untuk menemukan King awalnya, siapa yang menyangka jika arahnya akan berubah secepat ini.


Menggulingkan Kelompok Utara?


Bukankah itu sama saja mengambil paksa kelompok penguasa dunia bawah lainnya?


Tapi disaat semuanya sudah mengambil kata sepakat untuk menggabungkan diri dalam satu komando, siapa yang peduli dengan satu kelompok tersisa. Lagian mereka sendiri yang memulai bermain api awalnya, jadi langkah penyerangan kelompok utara kali ini bisa dianggap sebagai pembenaran.


Kesepakatanpun sudah diambil oleh tiga kelompok bawah tanah penguasa ibu kota. Jika sudah begitu, kuburan satu kelompok penguasa lainnya sudah ditentukan.


Disaat lainnya, dua orang pria dewasa tampak duduk dalam satu ruangan. Keduanya memiliki kharisma kuat dan sama-sama memiliki posisi yang kuat dalam divisinya masing-masing.


Meski begitu, keduanya tampak bicara begitu akrab satu sama lainnya. Mereka adalah dua orang saudara dan juga senior di Kepolisian, Brigjen Endris dan juga AKBP Erik.


AKBP diskusi tentang operasi terakhir mereka yang melibatkdan dua putri kakak sepupunya itu, "Aku merasakan keanehan dalam operasi sebelumnya, Bang."


"Coba jelaskan." Ujar Brigjen Endris dengan ekspresi serius.


"Semula, saya mengira ini hanya kebetulan semata ketika Anna dan Silvi berada di Pasar Tanah Kuda, mereka berada ditempat dan waktu yang salah. Ternyata ini semua ada sangkut pautnya dengan seorang pemuda yang bernama, Zaha."


"Zaha?" Gumam Brigjen Endris sambil mengernyitkan kening. Nama itu pernah disinggung oleh Anna, putri sulungnya. Waktu itu Ia tidak terlalu memperhatikan, karen Ia menganggap putrinya hanya sekedar memperkenalkan sosok cowok yang menarik perhatiannya.


"Cowok yang bernama Zaha tersebut satu sekolah dengan Anna. Sekelompok preman menyerang sekolah, hanya untuk menargetkan cowok ini. Abang tahu apa yang terjadi?"


"Semua preman tersebut berasal dari Kelompok Timur pimpinannya Cakra, tapi mereka semua berhasil ditumbangkan. Bukan oleh keamanan sekolah, melainkan oleh Zaha."


"Mereka adalah para preman terlatih dan terbiasa bertarung dijalanan, sangat mengejutkan jika seorang anak sekolahan bisa menundukan 10 orang preman sendirian. Namun semua jadi terlihat masuk akal setelah saya mengetahui latar remaja yang bernama Zaha ini. Dia adalah pimpinan tertinggi di Kelompok Selatan."


"Seorang remaja menjadi pimpinan Kelompok Selatan? Bagaimana mungkin? Bukankah dunia bawah tanah punya aturan tersendiri dalam memilih pemimpin mereka?" Tanya Brigjen Endris terkejut.


"Iya, seseorang harus bisa mengalahkan pimpinan terpilih dalam duel langsung. Siapapun bisa mati, namun pemenangnya adalah siapa yang berdiri paling akhir dan dialah yang berhak. Saat itu, yang menjadi pemimpin Kelompok Selatan adalah Codet. Siapa yang menyangka, orang ini akan berhadapan dengan seorang remaja bernama Zaha ini."


"Codet bermaksut menggunakan kekuasaannya untuk mengambil seorang wanita cantik untuk juragan Chintung. Kebetulan wanita itu adalah kakaknya Zaha. Mungkin Abang tidak akian percaya, sebelum Zaha menumbangkan Codet, Ia telah menumbangkan para jagoannya terlebih dahulu. Sebuah kemampuan yang sangat sulit dipercaya, jika itu adalah seorang remaja." Terang AKBP Erik.


Brigjen Endris mengernyitkan keningnya, seolah sedang membayangkan sosok yang disebutkan oleh adik sepupunya tersebut. Sama halnya dengan dugaan adiknya, dilihat dari sisi manapun, kasus seperti ini benar-benar aneh dan sulit untuk dipercayai.


'Seorang remaja berhasil mengalahkan seorang pimpinan gengster? Bahkan dia harus mengalahkan semua jagoannya terlebih dahulu. Monter seperti apa dia? Benarkah Ia seorang remaja biasa?'


"Tidak lama setelah itu, semua petinggi yang ada di Kelompok Selatan mengakuinya sebagai ketua dan bahkan mereka menjulukinya sebagai King. Bahkan saya curiga, pertempuran antara Kelompok Selatan dengan Kelompok Timur sebelumnya, ada sangkut pautnya dengan King."


"Maksudmu karena adanya keterlibatan Abdi Batubara sebagai penggerak Kelompok Timur?"


"Iya, benar Bang. Abdi menggerakan salah satu pion terkuatnya, bahkan anak tertuanya juga ikut berperan didalamnya."


"Rio Batubara? Bukannya dia masih dalam militer aktif?" Seru Brigjen Endris terkejut.