
Baaaammmm Bugghhhhh
Dengan santai keduanya menghindari serangan mentah lawan, lalu dengan teknik tingkat tinggi masing-masing mereka menghadiahi lawan dengan sebuah tendangan dan hantaman tepat ke arah dada. Membuat kedua lawan tersebut langsung terhempas mencium tanah, keduanya menggelepar dengan kondisi mulut menyemburkan darah segar.
Melihat itu, ketiga pemimpin dari barisan lawan meringsek maju ke depan berhadapan langsung dengan Indra CS.
Baaamm baaammm baammm
Akhirnya pertarungan antara masing-masing pemimpin distrik pun pecah. Kulup dan Indra tampak bisa mendominasi masing lawan-lawannya. Sementara itu, Inggek sejauh ini masih bisa mengimbangi lawannya yang berbadan paling besar.
Melihat dua pemimpin lawan keteteran, muncul dua orang bantuan dari barisan yang sedang bertempur. Kedua bantuan yang muncul bukan sembarang bantuan, tampaknya Ia memiliki kemampuan lebih diantara yang lainnya karena berhasil menumbangkan beberapa anak buah tiga pemimpin distrik dari Kelompok Timur.
Baaammmm
Wossshhhh
Bughhhhh
Sekarang posisinya 1 lawan 2, membuat keadan kembali berbalik. Kini, justru Kulup dan Indra yang sedikit kewalahan menghadapi serangan ganda lawan mereka.
"Apa kalian perlu bantuan Gue ?" Sindir Inggek yang wajahnya sudah mulai mengeluarkan darah, begitupun dengan lawannya.
"Anjriiitt.. Muka dah berdarah-darah gitu, sok-sok an mau bantu Kita.." Ujar Indra tersengal tapi Ia justru tersenyum karena keadaannya sekarang justru membuat Ia semakin bersemangat.
"Hah haahh.. Matiin dulu lawan lu tuh Gek kalau mau bantuin Kita. Tapi, kayaknya juga percuma. Karena mereka sudah keburu mati ma kita-kita." Ujar Kulup tersenyum bengis.
"Hahaha, anjing masih sombong juga mereka." Tawa lawan mengejek.
"Hahh haahh.. Kita matiin aja cepat." Ujar lainnya dengan nafas tersengal.
"Matiin Kita ? hehehe, gimana mau nyentuh Ketua Kami, jika mengalahkan Kami berdua saja kalian tidak sanggup." Tawa Kulup mengejek lawan.
"Anjinggg.. Seraanng.." Teriak lawan memberi komando. Keempatnya pun kompak menyerang secara serentak Indra dan Kulup.
Wossshh baaammm baammm
Tidak ada satupun diantara mereka yang saling mengendurkan serangan. Disisi lain Inggek tampak mulai terbiasa dengan pola serangan lawan.
Wossshhh wossshhh
Badan yang besar menjadi keunggulan tersendiri, namun juga menjadi kelemahan sang lawan yaitu gerakan yang tidak terlalu gesit. Sadar akan hal itu, Inggek memanfaatkan kelincahannya dalam menghindari serangan-serangan lawan. Inggek bukan petarung kemarin sore, kemampuannya dalam membaca serangan lawan patut diacungi jempol. Mungkin karena itu pulalah, Ia berhasil menjadi salah satu pemimpin distrik di Kelompok Selatan.
Inggek sengaja membuat lawan seolah tampak berhasil mendominasi dirinya di awal-awal, lalu karena merasa diatas angin, lawannya jadi semakin bernafsu untuk cepat-cepat mengalahkan dirinya. Tanpa disadari, justru stamina sang lawan semakin tergerus sehingga membuat gerakannya semakin melambat.
Saat itulah Inggek mengambil momentum, dengan memanfaatkan kelincahannya, Inggek berhasil menghindari serangan maut lawan lalu bergerak kebelakang lawan. Inggek mengunci bagian pinggang sang lawan, lalu dengan memanfaatkan berat tubuh lawan, Inggek mengangkat tubuh lawannya dan membantingnya ke arah belakang sambil tetap mengunci bagian pinggang lawan.
Kraaakkkkk
"Arrgghhhhhhh.."
Leher lawanpun patah seiring dengan jeritan terakhir sang lawan, menemui ajalnya.
Baammmm
Wosshhhhhh
Baaaaammmm Baaammmm
Lagi-lagi kombinasi pertahanan Indra dan Kulup berhasil mementahkan serangan lawan, lalu dengan cerdik keduanya membalas ke titik vital lawan. Membuat dua lawan jatuh tersungkur, namun dua serangan lainnya datang menyusul dari arah berseberangan. Indra dan Kulup saling tersenyum. Sepertinya, keduanya sudah memperkirakan serangan itu. Dengan teknik yang cukup tinggi keduanya menghindarinya, lalu dengan memanfaatkan gerakan cepat lawan kedua menarik dan membanting kedua lawannya dengan sangat keras sehingga saling bertabrakan ditengah.
Baaaaaaammmmm
"Aarrggghhh.." Teriak keduanya, karena kepala mereka saling berbenturan dengan sangat kerasnya. Membuat keduanya jatuh pingsan seketika. Tersisa dua lawan yang sedang sekarat, baik Indra maupun Kulup tidak memberi ampun sedikitpun. Keduanya langsung menghampiri keduanya dan menghajar mereka dengan beringas.
Bughhhh bughhhhh bughhhhh
Terakhir, Indra menginjak dada lawannya dengan sangat keras. Lain halnya dengan Kulup, Ia mengangkat lawan melintang diatas pundaknya, lalu dengan gerakan smackdown, Ia membanting lawannya ke tanah.
Kedua musuh mereka pun tampak tidak bergerak sama sekali, entah mati atau pingsan.
"Hahaha, Gue sempat berpikir akan membantu kalian tadi. Kelamaan.." Terdengar celetukan Inggek yang saat itu sedang duduk diatas tubuh lawannya.
"Anjir, lawan satu orang aja belagu." Kata Indra terengah sambil menetralkan nafasnya.
"Hahaha. Tapi hebat juga lu bisa mengalahkan dia. Badannya besar, pasti enak tuh tusukannya." Kata Kulup.
"Kampret, Gue bukan maho yah! Gue berantem oi, bukan main zoro-zoroan."
"Hahaha.." Ketiganya tertawa puas. Disaat bersamaan, anak buah ketiganya berhasil menumbangkan semua anak buah lawan. Walau yang masih tampak berdiri tidak sampai separoh dari anak buah mereka bertiga sebelumnya.
"HUU YAAA.." Teriak Indra sambil mengangkat tangannya keatas, diikuti oleh kedua rekan dan masing-masing anak buah mereka dengan suara lantang tanpa kenal takut sedikitpun. Walau pada awalnya mereka kalah jumlah.
Diluar gedung masih ada sepertiga dari pasukan lawan dengan dua pemimpin di depan mereka, tapi anehnya mereka tidak ikut menyerang seperti teman-teman mereka. Justru mereka tampak menunggu dan lebih memperhatikan lawan.
"Kalian ? Apa yang kalian tunggu ? Kami masih sanggup untuk melayani kalian beberapa ronde lagi." Tantang Kulup, begitu mereka sudah berhasil menarik anak buah mereka yang terluka kebagian belakang dan membiarkan pasukan lawan terbaring ditempatnya.
"Hehehe.." Indra dan Inggek tertawa kecil, walau dibibir mereka sudah basah oleh darah. Keduanya pun dengan santai mengeluarkan rokok dan menikmatinya.
"Habis bertarung kayak gini, emang paling enak tuh menikmati rokok." Ujar Inggek.
"Tambah kopi dan wanita,, uhh makin enak tuh." Kata Indra sambil menghembuskan asap rokoknya.
Kulup yang memang tidak merokok hanya geleng-geleng melihat kedua rekannya.
Salah seorang pemimpin lawan maju ke depan, namun tidak diikuti oleh rekan satunya maupun anak buah mereka.
"Perkenalkan, Saya Dion pemimpin distrik 7 Kelompok Timur dan itu rekan saya, Badak. Ia pemimpin distrik 8." Ujar Dion memperkenalkan diri. Herannya, tidak ada sikap permusuhan sama sekali dirinya ataupun rekan-rekannya.
"Bisa saya bicara dengan pemimpin Kelompok Selatan ? Mewakili teman-teman saya." Tambah Dion dengan sikap bersahabat.
Kulup yang berdiri paling depan, tentu tidak semudah itu saja percaya dengan ucapan lawan. Dia tampak waspada, begitupun dengan Indra dan Inggek.