
"Eh, itu..." Zaha terlihat kebingungan untuk menjawabnya.
Disaat bersamaan, ternyata supir Anna juga baru datang untuk menjemputnya.
"Tuh, supir Kakak sudah datang menjemput. Kakak pulang duluan saja sana, karena Kak Zaha sudah janji buat pulang bareng dengan Gue." Ucap Chintya tersenyum licik.
"Eh gak bisa gitu yah. Zaha itu pulangnya sama Gue, Dia juga sudah janji pulang bareng Gue, iya kan Za ?" Ucap Anna tidak mau kalah.
Kini giliran Zaha yang kesulitan harus memutuskan pulang dengan siapa. Bodohnya Ia langsung mengiyakan untuk pulang dengan Anna, padahal tadi pagi Ia juga sudah terlanjur berjanji untuk pulang dengan Chintya. Cowok tersebut hanya bisa garuk-garuk kepala dan bingung memutuskas bagaimana harusnya.
"Zaha pulang sama Anna, iya kan Za ?" Tanya Anna lagi sedikit memaksa.
"Tadi Kakak sudah janji pulang bareng Chintya loh."
Kedua cewek cantik tersebut seakan tidak ada yang mau mengalah, membuat posisi Zaha semakin tersudut dan kebingungan untuk memilih pulang dengan siapa.
"Dia pulang sama Gue." Ucap seseorang tiba-tiba datang menyela kedua gadis yang saling berdebat tersebut.
Saat mereka bertiga melihat ke arah wanita tersebut, selain Zaha, Anna dan Chintya tampak terkejut melihat ke arah wanita cantik yang berusia sekitar 30 an tersebut. Bagaimana tidak terkejut, wanita tersebut berpenampilan cukup seksi dengan hanya mengenakan rok sepaha dan bagian atasnya hanya mengenakan rompi ketat, menampakan keseksian tubuhnya yang menggoda kaum Adam tersebut.
"Mbak Virangel ?" Ucap Zaha pelan, membuat kedua gadis tersebut semakin terkejut dan menatapnya tidak percaya.
"Kamu kenal Dia, Za ?", "Kakak kenal Wanita ini ?" tanya Anna dan Chintya disaat bersamaan sambil menunjuk Virangel.
"Saya teman Kakaknya Zaha. Maaf yah, Saya pinjam Zahanya dulu. Urusan keluarga, emergency ! lain kali saja kalau Kalian mau jalan dengan Zahanya yah." Ujar Virangel sambil menarik tangan Zaha, membuat pemuda tersebut mau tidak mau menurut saja. Daripada dia semakin kebingungan dengan keinginan dua cewek yang sama-sama tidak mau mengalah untuk memaksa jalan dengan dirinya tersebut.
Anna dan Chintya saling melirik kesal satu sama lain, begitu Zaha sudah pergi menjauh bersama perempuan yang mengaku teman Kakaknya tadi. Tanpa berucap keduanya pun berlalu meninggalkan tempat tersebut, walau ada kekesalan karena tidak bisa jalan hari itu bersama Zaha. Tapi, karena yang menjemput Zaha adalah teman Kakaknya, sehingga merekapun jadi tidak punya alasan untuk mencegah Zaha pergi.
"Hufftt untung Mbak datang. Kalau gak, Aku juga bingung bagaimana cara menghadapi keduanya sekaligus seperti tadi." Ucap Zaha sambil menghela nafas senang.
"Gue gak nyangka kalau King sampai diperebutkan oleh dua cewek cantik tadi. Kenapa gak diembat aja keduanya sekaligus ?" Tanya Virangel dengan santainya.
"Hah ?"
"Hihihi. Berarti Kamu emang cocok jadi King. Biasanya kalau seorang Raja itu, emang udah biasa kan ditemani banyak wanita di sekelilingnya." Tambah Virangel tersenyum nakal.
"Aduh Mbak. Jangan nambahin masalah deh. Btw, thanks udah nyelamatin tadi."
"Hmnn, kalem aja King."
"Oh ya ini." Mbak Vira mengulurkan sebuah map yang diambilnya dari dalam dashboard mobil.
"Apa ini ?"
"Itu, data semua unit usaha dan bisnis Kita selama ini. King bisa pelajari dulu."
"Terimakasih Mbak, nanti Aku pelajari pas dirumah. Oya, urusan kemarin bagaimana ?" tanya Zaha sambil memasukan map tersebut ke dalam tas cangklungnya. Bukan karena Ia tidak tertarik membahas bisnis mereka, melainkan ada hal penting yang sangat ingin diketahuinya saat itu.
Virangel memelankan laju mobilnya, Ia melirik Zaha sesaat.
"Semua wanita yang King perintahkan pada Kami untuk menjaganya tersebut, mereka semua.." Virangel terlihat ragu,
"Kenapa Mbak ?" Sela Zaha seolah sudah bisa menebak apa yang akan dilaporkan oleh Virangel padanya.
Deg
"Bagaimana bisa ? Kalian lihat siapa pelakunya ?" Tanya Zaha memastikan.
"Justru itu King. Tidak ada seorang pun dari Kami yang menyadari dan melihat siapa pembunuhnya. Kami hanya tahu, begitu mendengar teriakan dari keluarga korban di pagi hari. Saya turun langsung menyelidiki wanita pertama. Saya tidak menemukan keganjilan sama sekali disana. Orang yang melakukannya sangat profesional, atau mungkin Ia sudah menyadari ada kami disana sebelumnya dan mengeksekusi korban saat Kami semua lengah."
Zaha terlihat mengerutkan keningnya, menganalisa keterangan Virangel barusan. Beberapa hari sebelumnya, Ia sempat memerintahkan Virangel untuk menjaga empat wanita yang malam itu ikut jadi korban kebiadaban Ronal dan komplotannya. Zaha berfirasat, kalau ada indikasi untuk melenyapkan semua orang yang masih hidup di malam itu.
"Apa Anda ada masalah dengan kelompok lain, King ?" Pertanyaan Virangel membuat Zaha menatap serius ke arahnya.
"Aku belum tahu." Jawab Zaha singkat.
"Atau semua ini ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa Kakak King kemarin ?" Tebak Virangel lagi. Tidak heran, beberapa petinggi dari kelompok selatan mengetahui peristiwa yang menimpa Nia, Kakaknya Zaha. Karena alasan itu juga, tanpa diminta oleh Zaha, mereka semua secara bergantian menjaga Nia dan bahkan Ibunya Zaha.
"Bisa jadi. Tapi, Aku belum bisa menyimpulkan siapa pelakunya saat ini." Ucap Zaha pelan.
"Anda harus hati-hati King." Virangel mengingatkan.
"Iya, tenang saja." Ujar Zaha sambil menghela nafas pelan.
"Kalau ada hubungannya dengan musuh-musuh Kita selama ini, Kami semua siap turun demi Anda, King." Tambah Virangel lagi sambil satu tangannya ditempatkan diatas paha kanan Zaha.
"Tenang saja. Aku akan bilang kalau seandainya butuh kalian nantinya."
"Bisa turunkan Aku di depan. Pinta Zaha sambil mengangkat tangan kiri Virangel dari pahanya. Takutnya keenakan malah jadi keterusan ke area lain, bisa tambah enak hidup Zaha nantinya, hehehe.
"Kok disini King ?" tanya Virangel menutupi rasa kecewanya, karena pancingannya tidak berhasil dan ditanggapi biasa oleh Zaha.
"Aku ada urusan sebentar. Oya, bisa tolong bawakan tasku pulang dan sekalian jenguk Kak Nia yah Mbak." Perintah Zaha halus.
"Eh, iya. Baik."
"King.." Pangil Virangel sebelum pemuda itu turun dari mobilnya.
"Hati-hati ya.." Ucap Virangel tersenyum penuh arti.
Zaha sengaja menyuruh Virangel membawakan tas sekolahnya dan sekalian agar bisa menjaga Kakaknya dirumah, saat Ia sedang menjalankan misinya.
Zaha mengkhawatirkan Kakaknya tersebut, jika seandainya Ia juga akan dijadikan target oleh pelaku yang telah membunuh semua korban dan saksi dari kejadian malam itu. Namun, Zaha tidak akan bisa menemukan pelaku pembunuhan tersebut jika masih berada di dekat Kakak dan Ibunya. Dengan mempertimbangkan kemampuan Virangel, paling tidak wanita itu akan bisa membantu untuk menyelamatkan nyawa sang kakak jika bahaya datang mengancamnya.
Selain itu, Zaha juga ingin lebih leluasa mencari pelaku pembunuhan semua saksi malam itu. Ia sudah memiliki satu nama dalam pikirannya, tapi perasaannya membuat Zaha ragu dan ingin membantah semua petunjuk yang telah didapatnya.
***
Abdi Batubara, salah seorang konglomerat ternama di Negeri ini, terlihat begitu emosinya mendengar apa yang dilaporkan oleh anggotanya.
"BANGSAATT.." Maki pria tersebut geram, membuat kedua anggota yang ada didepannya itu semakin tegang dan bersiap menanti amukan amarah sang Big Bos.
Raut muka Abdi tampak merah padam menahan emosi, begitu mendengar semua saksi kunci untuk bisa menemukan pembunuh kedua anaknya telah tewas oleh orang yang tidak dikenal.