
"Eh, kemana ini Bang ?" tanya Anna khawatir, karena Bekti membawa mereka melalui ke jalan sepi lewat area pinggir perumahan. Memang jalan itu akses cepat menuju stasiun lama.
"Katanya Mbak berdua mau menemui King."
Namun melihat Anna dan Silvi tampak ragu-ragu, "Jangan khawatir, Mbak berdua aman kok. Cuma King emang lagi ditempat yang Kita tuju saat ini." Mendengar itu, baru Anna dan Silvi berani melanjutkan langkah mereka.
Saat dijalan, Bekti menjelaskan keadaan disana sekaligus mengingatkan keduanya untuk tidak menganggu King sebelum Ia selesai latihan.
"Emang, Zaha latihan untuk apa Bang ?" tanya Anna penasaran.
Namun Bekti hanya menggelengkan kepala, tanda Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Anna barusan, atau tepatnya tidak mau lancang menjawab pertanyaan tersebut. Walau Ia sendiri sudah tahu permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Tidak lama, mereka sudah sampai di stasiun lama. Benar saja, disana tampak Zaha sedang latihan. Tidak hanya Zaha, tapi juga ada belasan pemuda lainnya yang juga sedang latihan bersamanya.
"Mbak disini dulu aja yah. Jangan kesana dulu sebelum King yang datang kesini menghampiri. Tar biar saya yang menyampaikan pada King kalau kalian mencarinya." Ujar Bekti sambil berlalu meninggalkan keduanya.
"Gila, itu beneran Kak Zaha yah Kak ?" Tanya Silvi kagum begitu melihat Zaha yang sedang menarik gerbong kereta yang sudah usang seorang diri.
Anna sendiri hanya terperangah antara kagum dan perasaan yang bercampur aduk melihat latihan berat yang dilakukan Zaha.
"Latihan begitu, Kak Zaha mau berantem toh Kak ?" Tanya Silvi lagi.
"Eh, Kamu kok bisa menyimpulkan begitu ?"
"Kan biasa itu Kak. Lihat aja film IP Man, kan sebelum melawan musuh beratnya, Dia harus latihan dulu, buat meningkatkan kemampuannya."
"Ah, sok tahu Kamu, Dek." Ujar Anna coba menolak pendapat Adiknya. Tapi, Anna diam-diam jadi terpikir kembali, apa benar yang diucapkan oleh Adiknya itu ? kalau Zaha akan bertarung dengan musuh kuat. Apalagi melihat kekhawatiran di mata Bekti seperti tadi. Tidak seperti biasanya saat dulu Ia mengantar mereka ke rumah Zaha, ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Apalagi Zaha terlihat sangat serius dengan latihannya saat itu, begitupun belasan pemuda yang sedang latihan bersamanya. Seperti sedang latihan pasukan tempur yang biasa dilihatnya di televisi.
***
Keesokan siangnya.
Para petinggi kelompok selatan sedang berkumpul di sebuah ruko yang masih belum selesai. Tampak para petinggi senior seperti Cak Timbul, Cak Nawi, Hiukali, Jarwo, Kobang, Mang Lipay, dan para junior yang sudah mulai memiliki anggotanya masing-masing, ada Virangel, Alex, Acera, Hari, Sam, Indra, Kulup, Inggek, Rio dan Arman (mantan anak buahnya Codet dulu, yang memilih bergabung dengan kelompoknya Zaha, setelah dikalahkan oleh Zaha, keduanya memutuskan setia pada Zaha) dan terakhir Zulham yang mewakili preman di komplek Zaha tinggal, walau ada preman senior lainnya, tapi Zulham dipilih memimpin daerah sana karena faktor kedekatannya dengan Zaha dan keluarganya.
"Cak, cerita dong tentang pemimpin pertama di Kota ini sebelum terpecah seperti sekarang ?" Tanya Acera pada Cak Timbul begitu mereka selesai rapat siang itu.
"Memang dulu Kita gak terpecah-pecah kayak sekarang Bang ?" Tanya Inggek, salah satu preman yang paling muda diantara mereka saat itu.
"Iya, dulu kabarnya kota ini di kuasai oleh satu orang. Dia itu legend, Gue pun dengarnya dari cerita babe aja. Cak Timbul noh yang pernah jumpa, makanya Gue jadi penasaran dan nanya langsung sekarang, mumpung ingat, hehehe." Jawab Acera.
"Beneran Cak ? Cerita ke Kami dong Cak." Ucap yang lainnya penasaran.
"Benar tuh, apa yang dibilang sama Acera. Gue aja yang dah seumuran gini, gak sempat ketemu sama orangnya. Gue gabung saat 'Ia' sudah tidak lagi memimpin. Dan tidak lama setelah itu, Kota ini jadi terpecah jadi beberapa kelompok seperti sekarang." Sela Mang Lipay sambil menghisap cerutunya.
"Aisshh cerita lama itu, Gue sendiri juga sudah hampir lupa." Ucap Cak Timbul sambil menghela nafas dalam.
"Cerita aja Paman, mungkin Kita yang muda-muda ini bisa belajar dari kisah legenda itu." Ujar Virangel sedikit manja sambil mengelus lengan kanan Pamannya itu.
"Hahaha, Kamu paling pintar kalau soal membujuk orang yah Vi." Tawa Cak Timbul sambil mencubit pipi ponakannya itu gemas.
"Dia orang paling mengerikan sekaligus paling penyayang yang pernah Gue kenal." Ujar Cak Timbul mengawali ceritanya tentang sang legenda penguasa pertama di Kota ini.
"Dia bukan asli orang sini, dia berasal dari daerah Sumatera sana. Gue juga kurang tau Sumatera nya dimana. Orangnya biasa-biasa saja, bahkan ketika pertama datang kesini, Kami mengenalnya hanya sebagai pedagang biasa, jualan di Tanah Abang sono. Dulu, keadaannya jauh lebih parah dari sekarang. Lu kalau gak disukai sama orang-orang sini, bakalan langsung dibunuh atau bahkan disiksa dulu hidup-hidup. Hukum yang berlaku saat itu hanya hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang berkuasa."
"Saat itulah, nama orang itu tiba-tiba muncul kepermukaan. Dia muncul berdua dengan Adik angkatnya, namun Nama'nya' lebih dikenal orang. Hanya mereka berdua bisa menaklukkan para preman kelas kakap waktu itu. Waktu itu, paling terkenal Cak Sami'un. Siapa yang tidak kenal dengannya, siapa yang dinginkannya untuk mati, pasti akan mati hari itu juga. Begitupun kalau Ia suka dengan perempuan, tinggal tunjuk, maka para anak buahnya akan mendapatkan gadis tersebut, bagaimanapun caranya. 'Dia dan Adiknya' berhasil mengalahkan Cak Sami'un berikut dengan kaki tangannya. Tapi, kuat dan hebat tidak membuat 'dia' jadi sombong dan menindas semaunya seperti halnya Cak Sami'un. 'Dia' malah hadir sebagai penyeimbang dan membawa kedamaian bagi seluruh orang di Kota ini. Sejak itu, tidak adalagi tindak kejahatan di Kota ini. 'Dia' menjadi idola bagi banyak pemuda, termasuk Gue pada saat itu. Kami sampai bermimpi untuk menjadi kuat dan membela yang lemah seperti halnya 'Dia'."
"Dia ? Siapa namanya Paman ?" Tanya Virangel mewakili rasa penasaran yang lainnya.
"Namanya Midun. Entah kalian akan percaya atau tidak, gayanya sangat mirip sekali dengan ketua muda Kita yang sekarang. Santai dan tenang, namun jika keluarganya diganggu atau disakiti, maka Dia bisa menumpahkan darah bahkan nyawa dari musuh yang menganggu keluarganya. Codet sudah merasakan sendiri akibatnya." Ucap Cak Timbul sambil melirik kearah Rio dan Arman, mereka hanya menunduk malu mengingat masa lalu mereka.
"Padahal Dia gak tahu musuh seperti apa yang akan dihadapinya, tapi tetap saja Ia nekat bikin perhitungan. Begitulah penguasa Kota ini dahulu, tidak peduli seberapa kuat musuh yang akan mereka hadapi, tapi jika sudah menganggu keluarga mereka, maka Cak Midun akan turun langsung menghabisi musuh-musuhnya. Sayang, Gua yang waktu itu seumuran dengan kalian, hanya dua kali pernah bertempur bersama-sama dengannya."
"Terus, apa Ia masih hidup Cak ? Kenapa ia meninggalkan Kota ini ?"
"Hmnn, Gue gak tahu apa Ia masih hidup atau tidaknya. Dulu, seingat Gue Cak Midun menyerahkan posisi ketua pada Adik angkatnya itu. Katanya, Dia mau hidup tenang bersama keluarganya. Gue tahunya, Cak Midun merantau ke Jawa Tengah sana, tapi gue gak tahu kemana tujuannya. Sejak dipimpin oleh Adiknya Cak Midun, mulai terjadi perpecahan. Adik angkatnya Cak Midun terlihat terlalu rakus dengan kekuasaan. Tidak seperti Abang angkatnya, Dia tidak segan-segan membantai orang yang menentangnya. Lama-lama, Ia terlihat sama seperti Cak Sami'un. Karena itu juga, mulai banyak timbul perselisihan dan konflik internal. Sampai pada puncaknya, beberapa petinggi memutuskan memberontak dan menghabisi ketua. Ujung-ujungnya, sampai kayak sekarang. Kota ini terpecah berdasarkan distrik masing-masing. Ada empat kelompok besar, Selatan, Timur, Barat dan Utara. Masing-masing memiliki keunggulan dan juga sering terjadi konflik kekuasaan diantara empat kelompok ini. Jadi gak usah heran, konflik diantara empat kelompok besar ini sudah dari sononya."
"Gila! Kita terpecah jadi empak kelompok ini saja sudah bisa sekuat ini. Hukum saja tidak ada yang berani macam-macam dengan kelompok Kita. Apalagi dulunya jadi satu kekuatan dibawah Cak Midun itu yah ?" Ujar Sam kagum.
"Seperti yang ketua bilang, jangan sombong dengan kekuatan Kita. Tetaplah taat hukum, kekuatan bukan untuk membuat Kita bisa berlaku semena-mena." Sela Hiukali bijak.
Saat mereka sedang asik berdiskusi saat itu, tiba-tiba hapenya Zulham berdering. Zulham menatap ragu pada para senior, takut dikira lancang jika mengangkat telpon saat mereka sedang bicara.
"Udah, angkat aja. Siapa tahu penting." Izin Cak Timbul.
Mendapat ijin, Zulham langsung menjawab panggilan telpon tersebut.
Entah Siapa yang menelponnya, tiba-tiba wajah Zulham terlihat tegang dan emosi.
"BANGSAAT.. Kalian tunggu disitu, Kami segera kesana." Kata Zulham dengan penuh emosi, membuat yang lainnya jadi penasaran tentang siapa yang menelpon.
"Ada apa Zul ?" Tanya Acera begitu Zulham menutup panggilan telponnya.
Zulham masih sesak, coba menahan emosinya, "Pos Ronda komplek diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal barusan."
"Anjing, siapa yang berani cari gara-gara dengan Kita ? Bangsat!" Ujar Indra ikut emosi, Ia sampai langsung berdiri dari tempat duduknya. Begitupun dengan yang lainnya.
"Langsung Kita kesana. Hiukali dan Kobang tetap di posko yah! Biar Kami yang kesana duluan, mesti ada yang jaga disini, siapa tahu mereka akan langsung kesini. Vi, Kamu jagain Ibunya Zaha ya!" Cak Timbul dengan cepat mengambil inisiatif membagi tugas diantara mereka.
"Zaha, diberi tahu gak Paman ?"
"Jangan dulu. King pasti lagi sekolah saat ini." Ujar Cak Timbul sambil melirik jam di tangannya, Ia tidak mau berita itu sampai menganggu waktu sekolahnya King.
"Sementara Kita selesaikan dulu dilapangan." Lanjut Cak Timbul lagi.
Merekapun langsung meluncur ke lokasi, sementara yang lainnya kembali ke posko masing-masing.
"BANGSAATT!" Umpat Zulham dengan penuh emosi, begitu sampai di pos ronda Ia melihat teman-temannya sudah pada tergeletak di tanah dengan kondisi sudah babak belur. Belum lagi keadaan pos ronda yang sudah hancur berantakan, seperti habis kena gempa.
Disana sudah ada warga yang coba membantu memberi pertolongan pertama.
Cak Timbul beserta yang lainnya langsung coba membantu teman-teman mereka yang jadi korban. Hanya ada 9 orang yang masih selamat dari penyerangan mendadak saat itu, karena mereka sedang latihan di stasiun lama saat penyerangan itu terjadi.
"Bek, siapa yang lakuin ini semua ?" Tanya Zulham pada Bekti yang baru sadar dari pingsannya.
"Ahkk.. Gu.gue kagak tau Bang. Siang tadi saat Kami sedang santai-santai seperti biasa, tiba-tiba ada puluhan orang yang menyerang ke dalam pos ronda. Hukk.. Kami kalah jumlah, mereka sudah mengepung Kami dari sekeliling pos ronda, sehingga gak sempat memanggil bantuan."
"Lu gak kenal satupun dari mereka ?"
Bekti hanya bisa menggeleng lemah sambil memegangi tubuhnya yang sakit.
"Mereka mencari Mbak Nia, Kakaknya King." Ujar Bekti lirih.
"Ada apa ini ?" Zaha tiba-tiba masuk ke dalam pos ronda, dan terlihat marah begitu melihat kondisi teman-temannya yang sudah babak belur dan terbaring lemah. Entah siapa yang memberitahunya.
"King." Panggil orang-orang disana kompak sambil memberi jalan.
Zaha sendiri walau marah melihat kondisi anak buahnya sampai babak belur seperti itu, namun masih terlihat tenang. Padahal Baik Zulham dan para pemimpin yang masih muda seperti Zulham, Alex, Acera, Hari, Sam, Indra, Kulup, Inggek, Rio dan Arman terlihat sangat emosi.
"Siapa yang melakukan ini semua ?"
Hampir semuanya terdiam, karena mereka rata-rata memang tidak mengenal siapa penyerang mereka. Tiba-tiba Hiukali menunjuk sebuah tiang listrik yang ada disebelah pos ronda.
"Itu.." Ucap Hiukali sambil menunjuk sebuah simbol yang disemprot dengan cat pilox putih ditengah tiang.
"Tanda berbentuk salip putih, itu kan simbolnya kelompok timur." Ujar Jarwo.
Zaha terlihat menghela nafas dalam, sebelum mengambil keputusan yang membuat semangat semua orang disana menjadi mengebu-ngebu.
"Kelompok selatan bukanlah sebuah kelompok yang taunya hanya berbuat kejahatan, kelompok yang boleh siapa saja bisa merendahkannya atau Kelompok yang orang-orang bisa menindasnya seperti ini. Tidak! Kelompok Selatan adalah keluarga. Saat keluarga Kita ada yang berani menyakitinya, pilihannya cuma dua, Darah atau Nyawa. Hari ini juga, Kita berangkat ke markasnya Kelompok Timur. Kita akan membuat mereka membayar mahal karena telah berani menyakiti keluarga Kita." Ujar Zaha dengan dingin. Matanya terlihat tajam dan berapi-api, siapapun yang menatapnya saat itu mungkin akan langsung menciut nyalinya karena aura membunuh yang terpancar kuat dari tubuhnya.
Mendengar ucapan King, entah siapa yang memulai. Semuanya mengangkat tangan keatas..
"YAAA... UNTUK KELUARGA KITA, KITA BANTAI MEREKA SEMUA."
"BANTAI.. BANTAI.. BANTAII..." Teriak yang lainnya.
"Cak, kasih tahu Mbak Virangel, untuk mengeksekusi rencananya." Perintah Zaha sebelum berangkat memimpin pasukannya untuk menyerbu kelompok timur.