
Bulu kuduk Cici kembali meremang, merasakan sentuhan tangan seseorang yang menyentuh bahu kanannya.
"Criiing.... criiing.... criiing...."
Perjalanan dimulai...
Cici memasuki sebuah pintu bersama Inyiak Rampai. Memasuki dunia yang sangat berbeda. Dunia yang hanya ada dalam pikiran halu Cici dalam menonton sebuah film, kini mesti dia berada nyata disebuah Kerajaan kuno, kerajaan entah berantah yang tidak pernah dia ketahui.
"Dimana ini? Kenapa banyak sekali bangunan usang, bahkan sangat menyeramkan!"
Cici tidak ingin mengeluarkan suara, dia hanya melihat sisi kiri dan kanan menyesiasati situasi agar tidak menjadi bala petaka bagi dirinya sendiri saat kembali pulang menuju jalan yang sama.
Cici melihat tumpukan emas kuno, seperti harta karun ada dihadapannya, dia kembali menutup matanya agar tidak membawa apa-apa kecuali suaminya Akmal.
Jantungnya berdetak kencang, keringatnya mengucur deras membasahi kepala hingga wajah.
"Aku dimana..? Kenapa saat ini aku dibawa ketempat seperti ini?"
Memikirkan kemunculan suara aneh dari atas, yang memberi pertanda biasanya muncul menjelang kematian seseorang atau tanda akan ada orang meninggal, Cici tiba-tiba merasakan semua bulu kuduknya kembali merinding.
Cici mengusap tengkuk lehernya yang berkeringat deras dan dia bertanya tergagap.
"Nek, apa Nenek mendengar suara burung pemakan bangkai?"
Cici melihat gagak hitam terbang bersuara sangat keras, bahkan sangat memekakkan telinga yang berada dibawahnya, mendekati mereka yang semakin lama semakin banyak, ketiga gagak hitam tersebut sudah siap menerkam kepala Cici, jika tidak tertutup selendang yang menempel dikepalanya.
"Aaaaaagh....!!!"
Seekor gagak hitam menghampiri wanita itu, melintasi kepala Cici semakin mendekat.
"Awas....!"
Inyiak Rampai mengayunkan ranting kayu yang ada ditangan kanannya, untuk mengusir gagak hitam yang berkali-kali melintas dikepala mereka bolak balik.
"Buruang pamakan bangkai, manandoan ado kematian bisuak disiko!" (Burung pemakan bangkai, memberi tanda akan ada kematian besok hari disini!)
Mendengar kalimat yang keluar dari Inyiak Rampai, Cici kembali memikirkan Akmal suaminya.
"Abi, bertahanlah... Ami jemput Abi!" Cici kembali menangis dalam hati, karena kekhawatiran yang dia rasakan saat ini.
Cici menoleh kesebelah kirinya melihat seorang wanita paruh baya, menatap sinis kearahnya. Cici hanya menunduk hormat, tidak ingin mengeluarkan suara ataupun memperlihatkan rasa takut diwajahnya.
"Inyiak... kau tibo mambaok urang baru, berarti bisuak awak bararak gadang, manyambuik urang baru! Tapi manga batino yang kau baok? Manga ndak jantan supo Upiak Rayo baok patang?" (Inyiak, kamu hadir membawa orang baru, berarti besok kita akan berpesta besar, menyambut kedatangan orang baru! Tapi kenapa perempuan yang kamu bawa? Kenapa tidak laki-laki seperti yang dibawa Upiak Raya seperti kemaren?)
Mendengar kalimat itu, Cici meyakini, bahwa yang dibawa oleh wanita bernama Raya itu adalah suaminya Akmal.
Cici menutup bibirnya, tidak ingin bertanya banyak pada wanita yang tidak suka menatapnya. Dia lebih memilih diam tanpa banyak bicara, sesuai yang diarahkan Datuak Mangkuto Malin padanya.
Inyiak Rampai hanya tersenyum, kembali meniti jalan memasuki pasar yang sangat ramai dan sangat mengejutkan Cici sebagai manusia biasa.
"Bali apo ni... piliah lah ni, ado kue lapi, kalamai," teriak wanita muda yang sangat cantik memandang kearah Cici. (Beli apa Uni, pilihlah... ada kue lapis, kelamai,)
Cici yang melihat bahan dagangan mereka sangat tidak masuk akal. Kue lapis yang ditawarkan, berupa batu bata merak, kelamai seperti tanah liat coklat, dan ada beberapa yang sangat menjijikkan, berupa seonggok cacing dan daging busuk, yang mereka anggap segar.
Bau amis menyeruak kembali masuk ke hidung Cici, kembali mengingat kejadian yang sangat menakutkan dikediamannya. Dia benar-benar hanya mengikuti langkah Inyiak Rampai menuju suatu istana yang sangat besar dan luas.
Istana kuno, yang terbuat dari emas bertuliskan Bahasa Arab, bahkan terlihat seperti bangunan yang sudah ditinggalkan selama beribu-ribu tahun.
Cici melihat kembali kearah Inyiak Rampai, menelan salivanya sedikit ragu.
Inyiak Rampai tidak menjawab, dia hanya terus berjalan tanpa ada perasaan takut.
BRAAAK....!!!
Terdengar suara hempasan pintu dari arah dalam, namun tidak dapat terlihat karena mereka masih berada diluar.
Tiga kali Inyiak Rampai menghentakkan ranting pohon yang ada ditangan kanannya ketanah, membuat Cici semakin membelalakkan matanya, ketika melihat pintu semua ruangan terbuka dengan lebar.
Cici melihat dihadapannya, terdapat sarang laba-laba yang tampak tebal, bahkan bau amis yang semakin menyengat, "Ya Tuhan, apakah aku berada di kerajaan jaman dulu? Kenapa semua ini ditinggalkan oleh para penduduk disini!"
Inyiak Rampai membuang beberapa kembang ke sudut ruangan, untuk mensterilkan dari serangan Upiak Rayo.
"Nak, capek cari laki kau didalam kamar tu... pariso sadonyo... capek...!!!" (Nak, cepat cari suami mu didalam kamar itu, periksa semuanya... cepat...!)
Cici berlari kencang, memeriksa semua ruangan yang berada dilantai bawah, matanya sangat awas mencari keberadaan Akmal.
"Abi... Abi dimana? Ami disini, Bi!"
Jantung Cici semakin berdegup kencang, bahkan semakin tampak ketakutan, dia menghentikan langkahnya, "Nek, nggak ada!"
"Cari capek..... jan banyak ngecek!" (Cari cepat, jangan banyak bicara!)
Mendengar kalimat tegas itu, Cici kembali mencari keberadaan Akmal. Berlari sekuat tenaga di istana yang luas, mengelilingi semua pekarangan yang diselimuti awan hitam pekat, menandakan akan turun hujan deras.
Saat kaki mulai terasa lelah, semangat yang awal menyala tanpa ingin berhenti, Cici terhenti di lantai tiga, yang sangat besar.
Tampak Akmal tengah meringkuk disudut ruangan yang luas seorang diri, bahkan seperti tengah menunggu seseorang untuk menjemputnya.
"Abiii..... Abiii...!!!"
Cici berteriak, berlari mendekati Akmal yang tampak kebingungan, bahkan ketakutan saat melihat kehadiran Cici ada dihadapannya.
Cici memeluk erat tubuh Akmal, "Cepat, Bi... kita keluar dari sini! Kita tidak memiliki waktu banyak!"
Isak Cici dengan suara serak, bahkan menangis, karena masih menemukan suami tercinta. Dia mengikat tangannya dengan sehelai kain berwarna kuning keemasan, agar genggaman Akmal tidak terlepas, saat akan melarikan diri dari kerajaan Datuak Rajo Omeh tersebut.
"Abi... kita pulang...!"
Akmal tampak kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya mengikuti langkah Cici yang menarik kuat tangan mereka yang sudah terikat.
Cici menuruni anak tangga menuju lantai dua dengan sangat cepat, hingga dia berhasil menuruni anak tangga ke lantai dasar.
Namun mereka dikejutkan dengan kehadiran sosok pria tegas yang tampak seperti penghuni istana yang cukup lama.
"Sia kau...! Nio kamano kau baok Datuak Rajo Mudo! Inyo laki Upiak Rayo anak ambo! Inyo lah ambo nikahkan disiko!" (Siapa kamu! Mau kemana kamu membawa Datuk Rajo Mudo! Dia suami anakku Upiak Raya! Mereka sudah saya nikahkan disini!)
Bentak Datuak Rajo Omeh, dengan suara bergemuruh, bahkan sangat menakutkan.
"Jan, diambiak laki anak ko Tuak! Carilah panggantinyo...!" (Jangan diambil suami anak ini, Datuk! Cari yang lain penggantinya!)
Tak menunggu lama, suara Datuak Rajo Omeh, kembali menggegerkan istana tua yang tampak megah bagi mereka, sehingga beberapa orang keluar dari dalam istana dengan wajah yang sangat menyeramkan.
"Naaak..... copek, lariiii...!" (Nak, cepat lari!!!)
Cici menarik kuat tangan Akmal berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar. Tangan yang masih menyatu karena sudah terlilit kencang dengan kain pemberian Datuak Mangkuto Malin, memperkuat keyakinan Cici untuk segera meninggalkan istana tua Datuak Rajo Omeh.