Bunian

Bunian
Rumor Kelok Sembilan



Cici berulang kali melihat jam tangan yang melingkar ditangan kanannya, berkali-kali bertanya pada Cardo, "Masih jauh, Do? Masih lama?"


Hanya pertanyaan itu yang dapat keluar dari bibir tipisnya, sembari tangan kanannya mencari nomor kedua Abang kandungnya. Menurut Cardo lebih baik memberi kabar, kepada keluarga, sebelum terjadi sesuatu.


Setelah melewati perjalanan yang berliku, melewati perbukitan dan pepohonan yang tinggi dan menjulang, Cici tiba di kelok sembilan. Terlihat disana sudah tampak mobil pihak kepolisian dan Team SAR untuk mencari keberadaan suaminya.


Bergegas Cici membuka pintu mobil yang terparkir disamping bus tiga perempat yang membawa suaminya, mencari keberadaan Dony.


Tampak Pak Sukoco yang mengalami pembengkakan pada lututnya, karena asam urat yang kambuh, membuat dia sulit untuk bergerak menghampiri Cici.


"Mana Dony, Pak?" Cici tampak panik bahkan matanya masih mencari keberadaan Dony.


Pak Sukoco yang masih memegang lututnya, sedikit meringis menunjuk kearah luar, sudut kelok sembilan. Anak tangga yang menjadi jalan setapak untuk menuju arah sungai.


"Oogh, baiklah Pak! Saya cari Dony dulu!"


Cici meninggalkan Pak Sukoco, mencari keberadaan Dony ataupun rekan lainnya, yang tengah sibuk mencari keberadaan Akmal.


Terdengar dari kejauhan suara sahabat-sahabat Akmal berteriak memanggil nama suaminya.


"Akmaaaaaal....!"


Cici menuruni anak tangga, seketika dia dikejutkan dengan keseraman tempat yang menjadi pusat perhatian orang-orang dalam mencari keberadaan suaminya.


"Kak, hati-hati!"


Cardo yang sejak tadi mengikuti langkah kaki Cici dari belakang, kembali mengagetkan wanita cantik itu saat meniti anak tangga yang berlumut dan terasa licin. Aroma lembab dan hawa dingin, membuat bulu kuduk Cici meremang.


Cici melihat Dony tengah duduk di sebuah batu besar, meringkuk dan membawa topi Akmal dalam genggamannya.


Bergegas Cici mendekati Dony, melihat topi Akmal, membuat hatinya kembali menangis.


"Don, bagaimana Abang Akmal?"


Kehadiran Cici mengejutkan lamunan Dony yang tampak kelelahan setelah melakukan pencarian sepanjang malam.


"Ci...! Akmal lagi di cari, karena kita memang tidak menemukan keberadaannya sama sekali. Sony terluka, kakinya patah. Kami hanya menemukan topi Akmal!"


Dony memberikan topi Akmal pada Cici, kembali berdiri dihadapan wanita istri tercinta Akmal.


Cici melihat suasana yang sangat menakutkan bagi wanita sepertinya, "Bagaimana mungkin Abi bisa kesini?"


Hanya pertanyaan itu yang terlintas dikepalanya, mengingat bahwa tempat itu merupakan tempat yang angker dan sangat menyeramkan. Hutan dengan bebatuan diselimuti lumut, bahkan hanya tampak jalan setapak yang curam untuk mendaki, namun jarang dilewati oleh manusia karena tidak akan mungkin didaki oleh manusia.


Rumor kelok sembilan bukanlah hal yang baru didengar telinga Cici. Banyak kejadian aneh yang sering terjadi disana. Kematian, hingga kehilangan salah satu keluarga karena melanggar larangan didaerah tersebut.


Kejadian-kejadian yang pernah terdengar ditelinga Cici itulah, menjadi satu ketakutan besar baginya. Membayangkan kematian yang selalu disangkut pautkan dengan datangnya kereta kencana, kekediaman korban yang hilang disana.


Suara kerabat, pihak kepolisian dan Tim SAR, masih terdengar dari arah sungai. Pencarian yang dilakukan hingga jarak jauh untuk mencari keberadaan Akmal, namun tidak ada tanda-tanda akan ditemukannya sosok Akmal, dalam keadaan hidup ataupun tidak bernyawa.


Cardo dan Dony masih ikut mencari keberadaan Akmal, disekitar area sungai yang sangat deras.


Cici masih menangis memanggil suaminya, "Abiiiiiii.... !!!!"


Suara Cici terdengar serak bahkan sangat memilukan.


Cardo dan Dony menghampiri Cici yang masih meratapi kehilangan suaminya, sambil mencium topi yang masih meninggalkan aroma khas seorang Akmal untuk Cici.


Pihak kepolisian mendekati wanita cantik itu, "Selamat siang Bu, kami sudah melakukan pencarian sepanjang sungai dan sekeliling hutan, namun tidak dapat menemukan dimana keberadaan Bapak Akmal! Kami akan terus melakukan pencarian, selama tiga kali dua puluh empat jam. Saya harap ibu tetap tenang dan terus berdoa."


Cici kembali menangis sejadi-jadinya, memeluk Cardo yang berdiri disamping wanita cantik tersebut.


Tangis Cici meratapi kehilangan suami tercinta, yang selama empat tahun menemaninya sangat memilukan hati dan relung jiwanya sebagai seorang istri.


Cardo menenangkan Cici, terus mengusap lembut punggung wanita cantik itu, "Tenang Kak, kita pasti akan menemukan keberadaan Abang! Kakak tenang dulu yah."


Cici mengalihkan pandangannya, melihat sosok seorang nenek tua yang berdiri dibelakang Dony. Nenek tua, yang hanya menggunakan pakaian compang camping, menggenggam ranting pohon, bahkan terlihat sangat menakutkan.


"Don...!"


Cici mengusap berkali-kali kedua bola matanya, kembali meyakinkan pandangan untuk sosok nenek tua yang menunjukkan wujudnya.


Namun nenek tua yang berdiri dibelakang Dony, tiba-tiba menghilang.


"Apa Ci?"


Dony memperhatikan diri sendiri, bahkan merinding dengan suara Cici yang menyebut namanya.


"Siapa itu?"


Cici hanya bertanya dalam hati, namun tidak bisa menyampaikan apa yang dia lihat pada Cardo dan Dony masih memperhatikan Cici dengan wajah sedikit penasaran dan semakin kebingungan.


Tim SAR kembali mendekati pihak keluarga, yang masih menunggu di area pinggir sungai dengan wajah sedikit khawatir.


"Kami tidak menemukan apapun disana Pak!" tunjuk salah satu ketua kepada komandan kepolisian.


Cici kembali mendekati Cardo, menangis dengan suara yang sangat keras.


"Dimana Abang Akmal, Do! Kenapa dia meninggalkan Kakak!!" Cici menangis.


Dony hanya bisa menenangkan Cici, "Sabar dulu Ci, yang pasti pihak kepolisian terus melakukan pencarian, kita tunggu dulu yah."


Mendengar penuturan semua pihak yang ikut dalam mencari Akmal, Cici semakin kalud.


"Bantu Ci, Pak! Cici nggak tahu mesti bagaimana! Dimana keberadaan Abang, Don....!" raungan Cici semakin menggema di dalam hutan yang semakin gelap, karena cuaca mendung dan sudah dituruni rintik hujan.


Cardo berusaha berfikir tenang, walau sesungguhnya pikirannya tidak tenang, namun dia tidak bisa mengungkapkan pada Cici, karena melihat kondisi Cici yang semakin rapuh.


Raungan Cici kembali terdengar, kembali berteriak memanggil nama suaminya.


"Abii..... Abii.... Ami disini Abii...! Ami jemput Abii...! Abii dimana? Jangan tinggalkan Ami, Bii....!"


Suara isak tangis Cici menjadi kepiluan tersendiri bagi semua orang yang berada disana. Bagaimana tidak, kehilangan suami tercinta itu merupakan satu pukulan keras bagi seorang istri.


"Abiii.... kasihan Mira, Bi...!!!!"


Kalimat Cici yang terakhir, semakin membuat suasana mencekam. Petir menggelegar, angin berhembus kencang, bahkan hujan turun semakin deras membasahi hutan tempat mereka berdiri.


Bergegas Cardo dan Dony membawa Cici untuk naik keatas, dengan sangat hati-hati, karena jalan yang semakin licin karena dibasahi hujan yang semakin lama semakin deras.


Kembali Cici melihat sosok nenek tua, dipinggir tangga kecil yang tidak dihiraukan oleh siapapun yang melewatinya.


Cici yang dirangkul erat oleh Cardo kembali merinding saat kembali melihat sosok nenek tua yang menghilang.


Dony tampak sangat kelelahan, bahkan semua warga setempat turut membantu dalam proses pencarian Akmal yang hingga kini belum ditemukan.


"Siapa nenek tua itu?" Cici kembali dibuat bingung atas apa yang dia lihat dalam pencarian suami tercinta, namun kembali ditepis karena hanya Akmal yang ada dikepalanya saat ini.


"Abi dimana? Jangan tinggalkan Ami, Bi...!"


Kalimat itu kembali keluar dari bibir Cici, dan kembali terdengar sangat mengiris hati kaum ibu-ibu yang ada di kelok sembilan.