
"Arrggghhhhhhh.." Cakra tampak melotot dengan mata terbelalak begitu pisauku tepat menancap di lehernya.
Tidak berhenti sampai disitu, Aku langsung menggeser posisi pisau ke arah bawah sehingga pisau tersebut membelah leher Cakra sampai putus bagian depan.
Begitu pisau ditangan kiriku berhasil membelah leher Cakra, Aku langsung menusuk paha kiri orang yang membelitku.
Crasshhh
"Argghh.."
Terasa kunciannya dileherku merenggang, waktunya hanya sepersekian detik, dan Aku benar-benar memanfaatkannya seoptimal mungkin.
Bughhhhhhh
Karena kunciannya agak longgar Aku menghentak perutnya dengan sikutku dari atas, sehingga kunciannya jadi terlepas.
Akupun cepat berguling kesamping kiri, lalu dengan gerakan memutar ala kapoera, Aku langsung melayangkan tendangan memutar kearahnya. Sayang jaraknya yang sedikit sempit, hanya mengenai bahunya. Dan Itu membuatnya berhasil menjauh dariku.
Akupun tidak buru-buru langsung menyerangnya kembali, dan lebih memilih untuk menetralkan nafasku yang tersumbat. Saat itu, Aku baru sadar kalau lengan kananku tidak bisa digerakan. Ternyata saat terkunci tadi, menyebabkan bahuku dislokasi. Otomatis Aku hanya bisa menggunakan bahu kiri saat ini dan jelas sangat merugikan bagiku. Untungnya kondisi lawanku saat ini juga tak kalah parahnya denganku.
Akupun berjongkok ke lantai dan menekan tangan kanan dalam posisi tegak lurus ke arah lantai, lalu...
Kraakkk Kraaakk
Aku memutar lengan kananku dengan cukup kuat dua kearah saling berlawanan, sehingga bahuku kembali ke posisi semula. Aku sampai menahan nafas karena sakitnya, lawan sendiri menatapku terpana karena kenekatanku.
"Haahhh Haaahhh.." Nafas Kami sama-sama tersengal.
Ia menatap pisau yang ada di tangan kiriku, mungkin Ia ragu untuk menyerang karena Aku menggunakan senjata tajam. Akupun membuang pisau yang ada ditanganku dan itu membuatnya heran.
Tidak sama dengan Cakra, Aku cukup menghargai musuhku yang satu ini karena sikap sportifitasnya yang tidak memanfaatkan kesempatan saat Cakra membokongku sebelumnya. Sementara diantara posisi Kami berdiri saat ini, ada mayat Cakra yang sudah tidak bergerak lagi dalam posisi tertelungkup. Lantai dibawahnya sudah banjir oleh genangan darah yang keluar dari lehernya.
Melihat apa yang kulakukan, tanpa Kuduga justru lawanku malah menurunkan kuda-kudanya dan dalam seketika hawa membunuhnya juga ikut mereda.
"Kenapa?" Tanyaku heran melihat sikapnya.
Ia menghela nafas sejenak, "Gue gak nyangka akan menemui lawan yang semenarik ini. Tapi Gue juga gak bisa menerima jika dalam duel ada kecurangan seperti apa yang telah dilakukan oleh itu." Tambahnya sambil menunjuk mayat Cakra.
"Huft, Gue jadi mkehilangan semangat untuk bertarung hari ini."
Aku jelas heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah begini.
"Oke, anggap aja pertarungan Kita ditunda dulu untuk sementara. Tapi, suatu saat Gue akan nantangin lu lagi. Tapi itu bukan karena Gue dibayar, tapi semata-mata karena Kita harus menentukan siapa yang terbaik diantara Kita."
"Tapi, kenapa?" Tanyaku ingin lebih memastikan.
"Sekarang bukan Gue yang harus lu khawatirin, tapi Dia.." Tunjuknya ke arah rio.
Pemandangan itu membuatku terbelalak, karena disana Rio dengan brutalnya sedang menghajar tiga orang-orangku yang sudah tidak berdaya.
"Dia yang bayar Gue untuk bunuh lu. Tapi sepertinya lu bakal butuh kekuatan penuh lu buat ngalahin tuh orang."
"Tapi, dengan kondisi lu saat ini..." Dia menghentikan ucapannya dan justru menatapku penuh keraguan.
"Yah, Gue harap lu paling tidak bisa melukainya. Walau itu mustahil, karena dengan penuh aja, lu belum bakalan tentu bisa ngalahin dia."
"Dia itu, bahkan jauh lebih kuat dari Gue."
"Ya udah, Gue cabut dulu. Semoga lu selamat. By the way, nama Gue Drake. Sebaiknya lu ingat, karena suatu saat kalau lu masih hidup, Gue akan nemuin dan nantangin lu lagi." Lanjutnya sambil melambaikan tangan dan berbalik kanan berjalan ke arah tangga.
Baaaammmm
Terdengar sebuah pukulan yang cukup keras. Ternyata itu adalah bunyi pukulan Rio ke arah Cak Nawi. Gila, ketiga pasukan seniorku itu sudah tidak bergerak lagi. Aku tidak melihat kondisi ketiganya dengan jelas, yang jelas apa yang telah dilakukan Rio pada orang-orangku membuatku sangat emosiku meledak kembali.
Dia hanya menatapku dingin, tampak sebuah bara dendam terpancar jelas dari matanya.
Oke, Fine! Dia datang kesini karena ingin membalaskan dendam kedua saudaranya. Aku jelas tidak peduli lagi, apapun latarnya ingin menghadapiku. Bagiku saudara-saudaranya sudah pantas menerima hukuman dari kesalahan yang telah mereka lakukan karena telah berani memperkosa Kakakku. Dan sekarang Kakaknya sudah melakukan kesalahan yang fatal karena telah berani menyakiti tiga orang yang sudah menjadi bagian dari keluarga baruku, tepat di depan mataku.
Wossshhhh
Bughhhhhh
"Arggghhhh.."
Gila, gerakannya sangat cepat. Ia berhasil menghindar dari pukulan tangan kananku, bahkan entah darimana datangnya, satu pukulannya masuk dengan telak ke arah perutku.
Bughhhhhh
Disusul dengan sebuah lutut yang tepat menghantam dahiku, membuat tubuhku terjungkal ke belakang.
Saat tubuhku terhempas dilantai, Rio langsung menginjam dadaku dengan sangat keras.
Bughhhh
"Arggghhh.."
Tidak cukup sekali, bahkan berkali-kali.
Bughhh Bughhh Bughhh Bughhh
Bughhh Bughhh Bughhh Bughhh
"Arggghhhh.." Aku mengerang keras begitu injakan terakhirnya tepat menyerang luka dipinggangku. Membuat tenagaku semakin habis akibat banyak pendarahan dari pinggang kananku, pandanganku mulai berkunang.
Hah! Apa hanya sampai disini batasku ?
Seperti tidak puas, Rio menarik rambutku dan menarinya keatas untuk memaksaku berdiri.
Bughhhhhh
Rio menghantam wajahku dengan kuat. Membuat kesadaranku sepereti direnggut paksa, tapi Aku coba bertahan agar tidak pingsan.
Benar apa yang diucapkan oleh pria yang bernama Drake tadi, orang ini jauh lebih kuat darinya. Bobot pukulannya terasa jauh lebih mematikan. Tidak heran tiga orang seniorku bisa dikalahkannya.
Rio tersenyum dingin lalu menarik rambutku keatas untuk memaksa tubuhku tegak lagi. Lalu Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tampak wajah-wajah tegang dari semua orang-orangku. Ada Komar dan Cak Timbul yang berada tidak jauh dariku, sepertinya mereka berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Tapi, mereka juga seperti kehabisan tenaga. Sempat Kulihat Cak Timbulo hendak berdiri untuk membantuku namun berkali-kali terjatuh kembali karena kehabisan tenaga dan juga akibat cideranya.
Rio sendiri tersenyum bengis melihat semua tatapan kemarahan orang-orangku padanya. Seolah-olah Ia hendak memamerkan kekuatannya pada semua orang dan sengaja melecehkanku yang sudah tidak berdaya.
Hmnn, Aku tidak akan membiarkannya bisa berlaku seenaknya. Dengan mengumpulkan semua tenaga yang tersisa. Aku mengangkat kedua tangan dan menahan lengannya, Aku memaksakan sekuat tenaga untuk berdiri, dan
Bughhhhh
Akhirnya dengan sisa tenaga Aku berhasil meninju wajahnya, tapi hasilnya! Hanya bisa membuat wajah Rio oleng kesamping. Lalu seolah tidak terjadi apa-apa, Ia menatapku dan tersenyum meremehkan.
Bugghhhhh
Rio menghajar wajahku dengan kuat, membuat kepala terdongak ke atas tapi tidak membuat tubuhku terhempas karena Rio masih mengenggam kuat rambutku. Lalu disusul dengan beberapa pukulan kuat yang semakin menggila wajahku dan njuga dadaku.
Bughhhhh Bughhh Bughhh Bughhh
Bughhh Bughhh Bughhh Bughhh
Kesadaranku benar-benar berada diambang batas, bahkan mataku sudah tidak bisa dipakai untuk melihat karena kelopak mataku yang sudah membengkak. Wajahku sudah terasa sangat basah oleh darah.