Bunian

Bunian
BAB 82



Mungkin jika antar empat kelompok penguasa, mereka masih menggunakan aturan lama yaitu bertarung dengan tangan kosong dan maksimal hanya menggunakan senjata tajam. Namun, tidak akan sama jika mereka berhadapan dengan aparat atau kelompok mafia lainnya. Mereka tidak akan segan-segan menggunakan senjata api. Besarnya jaringan ke empat kelompok besar penguasa Ibu Kota tersebut, membuat aparat sengaja menghindari konfrontasi secara langsung dengan mereka.


Namun sekarang, AKBP Erik dihadapkan dengan kondisi pelik yang mengharuskannya dan satuannya untuk berkonfrontasi secara langsung dengan ketiga kelompok itu sekaligus. Jelas itu beresiko besar, bukan hanya sangat berbahaya namun bisa membuatnya kehilangan jabatan karena melibatkan urusan pribadi dalam tugasnya. Namun keputusan harus segera diambil, bagaimanapun setiap detik yang berlalu akan semakin mengancam keselamatan kedua putri kakaknya.


"Ada apa Ndan ? Apa ada hal yang urgent disana ?" Tanya sang ajudan begitu melihat sang kapolres terdiam cukup lama.


"Iya, siapkan 5 kompi yang ada saat ini serta 10 orang pasukan elit kita. Dan juga, hubungi TNI untuk backup." Ucap AKBP Erik dengan tekat bulat.


"Ndan ?" Giliran ajudan yang kaget mendengar perintah sang pimpinan dengan wajah serius seperti orang yang siap berperang.


"Sekarang." Tegas AKBP Erik.


"Siap Komandan."


"Surat perintah nanti saja." Lanjut AKBP Erik.


Lalu, tampak kesibukan di kantor pusat kepolisian daerah selatan tersebut. Begitu pasukan mereka sudah siap ditambah dengan pasukan elit, merekapun meluncur menuju Pasar Tanah Kuda. Ditengah jalan, tampak beberapa kompi pasukan TNI yang ikut bergabung dengan iringan kompoi kendaraan dari Kepolisian. Jelas, itu akan menjadi berita heboh nantinya. Apalagi melihat besaran iring-iringan pasukan militer dengan persentaan lengkap menuju pasar tanah kuda yang sebentar lagi akan menjadi medan pertempuran tiga kekuatan besar penguasa ibu kota.


***


Kobra, seperti julukannya 'The Snake' sangat licik. Begitu tau jika Kelompok Selatan dan Timur bertarung habis-habisan di Markasnya Kelompok Timur, langsung bergerak memanfaatkan situasi dengan menyerang markas Kelompok Selatan yang pastinya dengan penjagaan yang jauh berkurang.


Bukan tanpa alasan, kenapa Kelompok Utara yang menjadi kekuasaannya sampai menyerang markas Kelompok Selatan dan bukannya Kelompok Timur yang pasti sudah luluh lantak akibat serangan dari Kelompok Selatan. Itu semua, semata-mata karena apa yang ada dalam markas Kelompok Selatan. Sebuah warisan dari pendiri 'Naga', kelompok mafia pertama sebelum mereka menjadi empat bagian seperti saat ini. Konon kabarnya, siapa yang memiliki 'warisan' tersebut akan bisa menguasai keempat kelompok kuat yang ada saat ini.


Namun, tidak semua orang tahu rahasia apa yang ada dalam 'warisan' tersebut. Makanya, tidak sembarangan orang pula yang bisa menguasai warisan tersebut. Rahasia itupun hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Namun, Kobra yang mendapat bocoran akan adanya 'warisan' yang tersimpan di dalam markas utama Kelompok Selatan sepertinya berniat mencuri start terlebih dahulu dan ingin menguasai 'warisan' tersebut untuk dirinya sendiri, yang pada dasarnya memang sangat haus dengan kekuasaan.


Bahkan dengan penuh rasa percaya diri, Kobra dan anak buahnya sengaja masuk melalui gerbang depan sebagai tantangan terbuka untuk Kelompok Selatan. Tidak kurang dari 10 menit, anak buah dibarisan terdepannya berhasil mengalahkan para preman Kelompok Selatan yang hanya berjaga sedikit orang dengan mudahnya.


"Langsung ke dalam aja kita Bos! Langsung bantai aja semua Kelompok Selatan hari ini." Ujar salah seorang anak buahnya yang baru saja membunuh salah seorang anak buah Kelompok Selatan.


"Iya, Kita bantai saja mereka semua. Sekalian sama bosnya, siapa tuh namanya.."


"King.."


"Iya, si King itu..."


"Hahaha, Kingkong itu.."


"Sekalian aja kita bikin hancur, biar bos kita yang jadi rajanya disini.." Yang lain ikut menimpali dengan sombongnya.


"Hahaha.."


Anak buahnya saling bersahutan, karena keberhasilan mereka menumpas para penjaga gerbang depan Kelompok Selatan.


Kobra dengan santainya sambil menghembuskan asap cerutunya, "Kalian santai saja, tidak usah terlalu terburu-buru. Biarkan mereka menikmati ketakutan dan kengerian yang akan menimpa mereka, semakin mereka ketakutan, akan semakin nikmat untuk membantai mereka semua, hehehe.." Ujar Kobra santai namun tidak mengurangi kebengisan di wajahnya yang culas.


"Hmnn, Bos kita memang menakutkan. Sekarang pastinya mereka yang didalam sudah terkencing-kencing dalam celana, hahaha." Ujar anak buahnya.


"Ayo, sekarang jalan lagi. Mok, lu pimpin anak buah lu di depan. Ingat, jangan ada satupun yang terlewat. Habisi semua!" Perintah Kobra pada salah satu anak buahnya yang berada dibarisan terdepan.


"Siap Bos!"


Mereka pun dengan penuh percaya diri berjalan ke bagian terdalam pasar. Seperti apa yang diperintahkan Bosnya, setiap anak buah Kelompok Selatan yang masih tersisa dan berusaha menghalangi jalan mereka, benar-benar mereka habisi tanpa rasa kasihan sedikitpun. Membuat siapapun yang melihatnya akan mati ketakutan duluan.


Situasi Kelompok Selatan semakin terjepit dan terdesak, Kelompok Utara dengan sadisnya membantai siapa saja yang masih berani menghalangi jalan mereka. Mereka terlihat senang dengan apa yang mereka lakukan, membantai lawan seperti itu memberi kenikmatan tersendiri bagi mereka.


Sampai akhirnya mereka tiba dibagian tengah pasar yang menjadi pusat komando dari markas Kelompok Selatan.


Disana tampak Cak Timbul yang dibantu oleh beberapa orang Kelompok Timur dan sisa pasukan Kelompok Selatan dengan Hiukali dan juga Kobang yang berdiri tegap dibagian depan.


Tidak seperti apa yang diucapkan oleh Kobra alias Snake sebelumnya. Tidak tampak ketakutan sedikitpun diwajah Cak Timbul dan kawanannya seperti yang disombongkan oleh Kobra dan anak buahnya, justru yang ada adalah tatapan penuh murka dan siap mati yang membuat heran semua anak buah dari Kelompok Utara.


"Bajingan Kau, Kobra! Sifat busukmu masih belum juga berubah dari dulu." Geram Cak Timbul yang marah melihat Kobra membantai anak buahnya.


Bukannya menjawab, Kobra justru tersenyum sinis pada Cak Timbul.


"Kobra, apa yang kau lakukan itu telah melanggar perjanjian lama." Kata Komar ikut menimpali. Diapun merasa geram melihat perbuatan Kobra dan anak buahnya yang telah membantai lawan dengan menghabisinya dan itu melanggar perjanjian tidak tertulis dari empat Kelompok.


"Cuih, persetan dengan perjanjian lama. Lagian, itu semua perjanjian lama antara pendiri empat kelompok terdahulu dan Gue gak ikut dalam perjanjian tersebut, hehehe."


"Dan Komar, sepertinya Kelompok Timur sudah berubah jadi anjingnya Kelompok Selatan ya! Apa karena kalian sudah dikalahkan ? Terus berubah jadi budaknya Kelompok Selatan, hahaha." Sindir Kobra yang merendahkan Komar dan Kelompok Timurnya.


"Hahaha.." Anak buah Kobra pun ikut tertawa merendahkan Kelompok Timur, membuat Komar emosi. Namun begitu melihat Cak Timbul yang belum bergerak Ia pun terpaksa menahan diri.


"Lalu, dimana bocah yang kalian panggil King itu ? Sepertinya Ia tidak berada disini atau jangan-jangan si Cakra sudah berhasil menghabisinya ?" Tanya Kobra sembari memperhatikan barisan Kelompok Selatan.