
Mendengar suara-suara aneh dari balik bilik yang tertutup terpal plastik tebal, Sida melihat seorang pria hitam yang berlumuran darah, bahkan sangat menyeramkan. Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat ketakutan saat melihat bayangan parang panjang memotong kasar sesuatu.
PRAAAAK...!
KREEK....!
TAK.....
TAK....
Apa itu? Kenapa aku seperti melihat anak dan suamiku sendiri tengah berdiri disana?
Sida mengusap kedua bola matanya, memastikan apa yang telah dilakukan oleh dua pria yang masih sibuk memotong-motong, bahkan seperti tengah merobek-robek bagian perut binatang.
Betapa terkejutnya Sida, melihat sosok orang yang sangat dia sayangi, tengah memotong-motong tubuh Mori. Bahkan sangat menyakitkan lagi, mereka telah mencongkel kedua bola mata menantu Jepang-nya tersebut.
Sida berteriak keras, bahkan sangat menggelegar di malam yang mencekam itu.
"Ujang....!!!" teriak wanita paruh baya saat melihat tubuh anaknya bersimbah darah.
Ujang tersentak mendengar suara Sida yang menyaksikan kekejamannya sebagai seorang suami.
"Aaaaagh..... Amak....! Amak....!"
Teriak Ujang terjaga dari tidurnya. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya bercucuran keringat mengingat mimpi buruknya di malam yang mencekam itu, bahkan sangat menakutkan saat kedua bola mata Mori di congkel oleh Uman sang Ayah yang jatuh menggelinding ke lantai.
"Aaaaagh.....!!!" Ujang kembali berteriak sekeras-kerasnya, sehingga membangunkan kedua orang tuanya yang tengah terlelap pulas di rumah gadang yang hampir roboh tersebut.
Sida menghampiri putra kesayangannya, memberikan segelas air putih untuk menenangkan Ujang, "Ado apo, Jang? Manga ang?" (Ada apa, Jang? Kenapa kamu?) tanya Sida sedikit penasaran dan terkejut mendengar suara teriakan anaknya.
Ujang berusaha meminum air yang di berikan Sida, menenggak tanpa menarik nafas, karena perasaan takut bahkan wajahnya tampak sangat pucat, "Hmm.... anu Mak, eeee.... antahlah...! Ujang mimpi buruk saja mungkin. Karena mengingat Mori istri Ujang," jelasnya masih tampak ketakutan.
Ujang mengusap wajahnya kasar, berkali-kali menyeka keringat yang masih membasahi wajahnya, "Kenapa aku seperti sedang di hantui dengan hilangnya Mori? Apa yang terjadi? Apakah aku tidak aman berada disini?" batinnya melihat sosok kedua orang tuanya yang kembali tampak tenang.
Mereka kembali ke ruangan yang telah dijadikan tempat tidur selama Ujang berangkat ke Jepang, dan kini masih tetap memilih tidur disana dari pada di dalam kamar yang tampak telah di huni sarang laba-laba, karena sudah lama tidak di tempati.
Ujang sedikit penasaran, dia mendekati kedua orang tuanya yang kembali mendengkur, memandang kedua wajah paruh baya terlihat kelelahan karena kegiatannya sehari-hari tampak sangat melelahkan.
Ujang menarik nafas panjang, memilih kembali ke kamar, tempat semula, duduk di pinggir dipan kayu yang tampak reot karena sudah lusuh dan tua.
Berkali-kali Ujang memperhatikan suasana rumah gadang yang sudah hampir roboh, namun masih saja tampak kokoh. Dia melihat kondisi kayu yang sudah lapuk, bahkan sangat tidak pantas di huni oleh kedua orang tuanya.
Kenapa orang tua malah betah tinggal di rumah seperti ini? Bukankah rumah keluarga mereka ada di kampung sebelah? Kan bisa tinggal disana sementara rumah ini di perbaiki atau di robohkan?
Hanya itu dalam benak Ujang, karena merasa sedikit bersalah tidak memperhatikan kedua orang tuanya semenjak pergi merantau ke Jepang.
Ujang kembali merebahkan tubuhnya di kasur tipis yang sudah banyak di hinggapi kepinding atau kutu yang berada di kasur kapuk, sesekali menggaruk karena perasaan gatal yang sangat menggangu istirahat malamnya.
Ujang menutup matanya pelan, wajah hitam manis yang telah membius mata hati Mori, membuat dia kembali mendengar suara jeritan perempuan yang merintih.
Ujang seperti mencari keberadaan Mori yang merupakan istri tercintanya. Wanita kaya yang tidak pernah mengakui bahwa dia keturunan anak Sultan di negaranya, membuat dia seperti berlari kencang mencari keberadaan Mori.
"Mori....! Mori.... tunggu aku... jangan tinggalkan aku, Mori...!!" teriak Ujang, saat berhasil meraih tangan istrinya.
Mori menoleh ke arah Ujang, menatap kosong kedua bola mata yang mampu membius mata hati pria berdarah Minang tersebut, "Tinggalkan kampung halaman mu, sayang!! Kedua orang tua mu telah mati...!!"
Mendengar penuturan Mori seperti itu, Ujang seperti tidak terima. Membuat kemarahannya kembali memuncak.
"Apa maksud mu? Mengatakan kedua orang tua ku telah mati? Mereka masih hidup! Mereka masih ada di sini. Ini kampung ku, tanah kelahiran ku! Kenapa kamu tega memfitnah dan mengatakan bahwa kedua orang tua ku telah mati, Mori! Katakan padaku!! Dimana kamu, Mori.... Mori.... Mori...!!"
Ujang tersentak, mengusap kembali wajahnya dengan sangat kasar, bergegas meninggalkan kamar, mencari keberadaan Sida dan Uman.
"Amak, Apak.....!!!"
"Amak..... Apak....!!!"
Teriak Ujang di dalam rumah gadang yang tampak sunyi dan senyap.
Nafas Ujang terasa sesak, bahkan sangat membingungkan, matanya melihat kearah pintu yang masih tertutup, namun tidak menemukan keberadaan kedua orang tuanya.
"Kemana mereka? Apakah yang dikatakan Mori itu, benar? Tapi Amak yang telah memasakkan makanan beberapa hari ini. Baru tiga hari aku sampai disini, sehingga aku kehilangan istriku. Masak aku harus percaya dengan semua ini. Tidak-tidak-tidak.... semua ini hanya mimpi! Tidak mungkin Amak sudah meninggal! Aku pasti bisa menemukan keberadaan Mori. Pasti....!!" kesal Ujang menoleh kearah belakang.
Namun, saat dia menoleh kebelakang, betapa terkejutnya Ujang melihat sosok Sida telah berdiri di hadapannya.
Ujang tampak seperti linglung, membuat tubuhnya terpental ke dinding kayu.
BRAAAK....!!
Ujang berkali-kali mengusap wajahnya, meyakini hati atas apa yang dia lihat. Memastikan telapak kaki Sida, yang menapak di lantai, sehingga melihat sosok wajah wanita paruh baya tersebut dengan sangat lekat.
"Amak....!?" tanya Ujang memastikan, berkali-kali menelan ludahnya kasar.
Sida yang berada dihadapan Ujang mendekati sang putra, sedikit berbisik, "Manga ang, Nak? Manga muko ang takajuik mancaliak Amak?" (Kenapa kamu, Nak? Kenapa kamu terkejut melihat Amak?)
Ujang kembali mengusap dadanya pelan, tampak seperti memikirkan sesuatu, bagaimana mungkin dia seperti melihat Mori, dan mengatakan bahwa orang tuanya telah tidak ada. Siapa yang berdiri di hadapannya? Tidak mungkin hantu, atau bahkan arwah yang gentayangan.
Ujang menelan salivanya asal, "Ujang rasa, kita lebih baik pindah dari sini, Mak? Sa-sa-sampai kita me-me-menemukan keberadaan Mori. Kita bisa ke kampung sebelah, atau bisa tinggal di Payakumbuh, sementara rumah ini Ujang renovasi," jelasnya dengan terbata-bata.
Sida menautkan kedua alisnya, "Lai ado piti ang tuh? Kok yo banyak tabungan tu bolian Amak ameh!" (Memang banyak uang kamu? Kalau memang banyak, belikan Amak emas!) pintanya seperti memberi perintah.
Ujang berusaha tersenyum, berdiri tegap dihadapan sang Bunda, menjawab pertanyaan Sida dengan senyuman bahagia, "Uang kami banyak, Mak! Dan kita akan membeli kebutuhan Amak untuk disini!"
Sida menepuk pundak Ujang, agar tidak terlalu lama bermimpi, karena semua hanyalah semu.
"Jagolah ang! Pai ka Jakarta.... jan dipikia bana bini ang tuh!" (Bangunlah kamu! Pergi ke Jakarta, jangan dipikir kan istri mu itu!)
Ujang kembali berfikir, dia tampak kebingungan, "Bagaimana mungkin aku harus pergi sendiri, tanpa Mori? Dan bagaimana aku harus meninggalkan mereka dalam kondisi seperti ini?" batinnya.