
Segelas kopi ditambah dengan obrolan santai dengan orang-orang baru menjadi sebuah rutinitas baru dalam jadwal harian Bastian. Biasanya setelah minum kopi buatan Ibunya di pagi hari, Bastian langsung beraktivitas di kebun kopi milik keluarganya. Sekarang dengan adanya Mahasiswa KKN di Kampungnya, Bastian jadi memiliki aktivitas baru yang sedikit berbeda, walau hanya sekedar berbagi informasi tentang Kampungnya serta bertukar pengetahuan dengan para mahasiswa tersebut.
Hari ini merupakan hari kelima para Mahasiswa itu berada di Kampung Bastian, para Mahasiswa juga sudah mulai akrab dengan Bastian dan teman-temannya, khususnya penduduk Kampung. Demikian juga sebaliknya, Bastian dan teman-temannya juga sudah mulai dekat dengan para Mahasiswa tersebut. Wajah-wajah cantik para Mahasiswi membuat teman-teman Bastian jadi betah dan lebih bersemangat untuk duduk berlama-lama di pos ronda untuk menemani mereka mengerjakan tugas prakteknya.
Herannya, para Mahasiswa tersebut justru paling kepo dengan Bastian. Mungkin karena level pendidikannya yang berbeda dengan pemuda lainnya, sehingga seringkali para Mahasiswa tersebut malah merasa sangat terbantu dengan ide-ide segar Bastian yang memudahkan mereka dalam menerapkan program mereka selama praktek lapangan disana. Sehingga, Bastian selalu menjadi buah bibir saat para Mahasiswa itu sedang berkumpul, khususnya di antara para wanita. Namun Rahma seperti memiliki keunggulan tersendiri, karena disamping Ia juga bagian dari kelompok mahasiswa yang sedang KKN, Gadis itu juga berasal dari desa ini dan tentunya lebih mengenal Bastian lebih dekat dibanding yang lainnya, tak ayal Rahma pun sering ditanya-tanya oleh para cewek tersebut tentang Bastian.
"Kok Uda Bas bisa tahu banyak tentang ilmu manajemen lapangan ?" tanya Herman salah satu Mahasiswa, saat mereka sedang berkumpul santai di dalam pos ronda. Disana ada Bastian dengan dua orang temannya, Joko dan Deki yang kebetulan sedang tidak ada kegiatan di ladang mereka. Para Mahasiswa cowok sendiri komplit berkumpul disana, kecuali para wanita yang sedang membahas program kegiatan di dalam rumah kepala Kampung. Mereka sendiri dibagi dalam dua kelompok, para wanita menginap di rumah Rahma dan para Mahasiswa cowok menginap di rumahnya Hanung, baru saat mulai kegiatan mereka akan bergabung kembali sesuai dengan program kegiatan yang telah mereka buat sebelumnya.
Ke delapan pemuda tersebut juga luwes dan bisa cepat mengakrabkan diri dengan para penduduk, khususnya para pemuda disana.
"Hahaha, kalian salah kalau bertanya begitu padanya." Tawa Joko menjawab pertanyaan Herman.
"Kok begitu Da ?" tanya Herman heran.
"Lah iyalah. Dia itu lulusan luar Negeri, otaknya belajar terus itu mah si Bastian. Kalau kalian belajar sama Dia, nah itu baru cocok." Ucap Joko memuji sahabatnya tersebut.
"Eh, benaran Uda ? Lulusan mana Uda ?" Tanya Bekti takjub.
"Hahaha, jangan didengerin ucapannya si Joko itu. Biasa saja, Saya cuma pemuda Kampung sini kok." Jawab Bastian merendah.
"Tapi, Ambo kok percaya kalau Uda Bas memang bukan orang biasa. Selama ini, justru malah Kita yang banyak terbantu dalam membuat program-program baru, dan itu berkat masukan dari Uda Bas." Ujar Kalek, Mahasiswa lainnya ikut membenarkan ucapan teman-temannya tersebut.
"Seharusnyo, Kalian jangan hanya tanya tentang perkuliahan. Tanya tentang wanita, Bastian itu juga ahlinyo. Untung sajo, Bastian itu bukan playboy. Kalau ndak, sudah habis cewek satu Kampuang ko di pacarinya, hahaha." Canda Joko yang membuat semua orang jadi ikut tertawa karena guyonannya.
"Eh, benar juga itu, Uda Joko. Teman-teman cewek Kita kalau lagi ngumpul bahas kegiatan, pasti selalu nyebut nama Uda Bas." Zai salah seorang Mahasiswa malah ikut mengaminkan apa yang diucapkan Joko.
Bastian sendiri yang menjadi objek candaan malah terlihat santai sambil sesekali menyeruput kopinya.
"Tuh kan, orangnya malah adem ayem kayak orang tidak dengar apa yang kita bicarakan." Sindir Joko sambil geleng-geleng kepala.
"Lah, terus Aku harus jawab apa ? Kalian gosipin diriku didepan orangnya langsung soalnya." Jawab Bastian santai.
"Asem, malah bilang kita bergosip. Tuman nih anak. Hahaha."
"Hahaha, emang keren Uda Bas. Ajari Kita sekalian ilmu tentang mendapatkan hati wanita Uda." Seloroh Andi, salah satu mahasiswa lainnya.
"Aku juga mau lah berguru sama Uda Bas." Ucap Gandi ikutan bersemangat.
"Hoi hoi, Kalian sudah pada punya pacar, mau nambah kayak gimana lagi ? Andi, tak laporin Gina po ? atau, Ang Gandi, sekalian tak panggilin Beti kah ?" Ujar Naldi wakil ketua kelompok Mahasiswa KKN.
"Ah, gak asik Ang, Naldi." Ucap keduanya kompak dengan wajah masam.
"Hahaha. Makanya kalau sudah punya pacar itu jangan masih jelalatan lihat yang lainnya, kecuali kalau dah siapin mental buat ditindas para Istri." Ledek Pitro menertawakan penderitan dua orang temannya yang telah memiliki pacar di kelompok KKN mereka. Sebenarnya, ada juga diantara para Mahasiswa, khususnya para cowok yang menjadikan teman cewek dalam kelompok KKN mereka sebagai target. Tapi, mungkin karena malu atau bahkan pernah di tolak sebelumnya, sehingga perasaan mereka banyak yang menggantung dan dipendam dalam hati. Makanya, pas saat kelompok para cowok berkumpul seperti ini, topik mereka tak lepas dari yang namanya wanita.
Ada dua Mahasiswi yang cukup menonjol dari kelompok KKN tersebut. Pertama, Wina sang ketua kelompok, mungkin karena karakternya yang tegas dan juga karena salah satu Mahasiswi terpintar diangkatannya menjadikan Dia salah satu wanita yang banyak diincar oleh para Mahasiswa cowok, sekaligus disegani karena karakternya itu. Satu lagi ada nama Rahma, satu-satunya gadis yang berasal dari Kampung tersebut. Karakternya yang ramah dan wajahnya yang cantik dan teduh, membuat para Mahasiswa di kelompoknya banyak yang menginginkan Rahma untuk dijadikan kekasih mereka, tidak hanya di kelompok tersebut, bahkan juga di Kampungnya. Tapi, Rahma yang sudah lama mencintai Bastian dalam kesederhanaannya, membuat para cowok hanya bisa gigit jari.
"Tapi, kalau saingannya Uda Bastian, yah sulit bersaing kita yang masih anak kuliahan ini. Udah kalah ganteng duluan, hahaha." Ucap Adam, Mahasiswa lainnya ikut menimpali.
"Iyo, betul itu." Ucap teman-temannya kompak mengaminkan ucapan Adam.
"Salah kalau kalian menganggap fisik jadi satu-satunya alasan seorang cewek memilih pasangan." Ucap Bastian kalem.
"Nah ini! Kita para junior ini siap mendenar wejangan dari Suhu." Ucap Adam bersemangat sambil sedikit membungkukan badan, jadilah Bastian sebagai Guru dadakan dalam urusan percintaan saat itu.
"Betul itu Suhu, Kami siap mendengar petuah darimu." Ucap temannya yang lain kompak.
Bastian malah tertawa melihat kekonyolan para Mahasiswa tersebut, tapi tetap saja Ia menuruti permintaan mereka. Anggap saja candaan untuk mengisi waktu kosong, biar lebih akrab saja, pikir Bastian.
"Kalau se-usia kalian ini, usia 10-20 tahun itu biasanya cewek melihat siapa kalian, ketampanan, kepopuleran atau tajir gak nya kalian." Para Mahasiswa termasuk dua teman Bastian terlihat sangat serius mendengarkan.
"Nah, kalau sudah usia 20 hingga 30 tahun nanti, biasanya cewek itu melihat karakter dan kepribadian kalian." Bastian melirik kedua temannya, tampak Joko dan Deki mengangguk serius sambil mendengarkan penjelasan darinya. Padahal Bastian hanya sekedar bicara, tapi mereka malah menanggapinya dengan sangat serius, yang membuat Bastian menahan tawa dalam hatinya.
"Nah kalau usia sudah diatas 30 tahun.." Bastian sengaja menggantung ucapannya sambil memasang wajah serius.
"Kenapa kalau udah diatas 30 tahun Uda ?" Tanya Rendi kepo, dia dan rekannya yang lainnya terlihat semakin antusias mendengar penjelasan Bastian.
"Kalau diatas usia segitu, sudah susah." Ucap Bastian sambil menghela napas dalam, sehingga yang mendengar jadi semakin penasaran.
"Kenapa Bas ? Jangan bikin penasaran lah Ang." Tanya Joko dengan tidak sabaran.
Bastian melirik ke arah Joko sejenak, "Kalau sudah diatas usia itu, Siapa saja boleeeh, udah gak pakai syarat neko-neko, siapa saja bisa masuk. Udah mendekati kadarluasa soalnya, masuk Pak Jokooo.. hahaha.."
"Ondeehhh,, lah serius pulo Kami mendengarnyo." Gerutu salah seorang Mahasiswa.
"Eh, tapi benar apa yang dibilang Bastian itu." Sela Deki dengan wajah seriusnya, tapi bedanya sambil melirik ke arah Joko.
"Perasaan Ambo mulai gak enak ini." Sungut Joko.
"Itu artinya, Kau harus segera melamar Yeni, Jo. Jangan sampai tunggu lewat usia 30 dulu, kalau ndak bisa dapat Tek Ros, Ang Nantinyo." Lanjut Deki, yang sontak membuat Bastian tergelak. Namun tidak dengan Joko yang malah tambah masam wajahnya.
"Kalera Ang, Dek! Tek Ros lah 40 lebih umurnyo. Bisa encok tiap malam kalau Ambo samo tek Ros. Jangan Ang sumpah-an lah." Ucap Joko merengut.
"Hahaha." Deki dan Bastian tertawa kompak.
"Yang mana Tek Ros itu Uda ?" tanya Rendi kepo.
"Jangan lah Ang tanyokan ituu. Fokus sajo kalian belajar disini." Ucap Joko sewot, malah membuat para Mahasiswa itu tertawa geli melihat ke arahnya, cuma karena segan sehingga mereka tidak berani ikut menertawakan Joko, seperti halnya Bastian dan Deki.
"Asik banget ceritanyo. Biar semakin enak, tambah goreng pisang nih, Uda-uda." Ucap Gina sambil menghidangkan goreng pisang ditengah pos ronda tempat para pemuda itu sedang berkumpul.
"Wah pas banget ini." Ucap Joko girang.
"Siapa dulu tuh, cewek Ambo tuh Uda." Ujar Andi menepuk dadanya bangga, Gina sendiri hanya tersenyum malu karena ucapan spontan kekasihnya tersebut.
"Sekarang bilang kekasih, padahal tadi sajo mau minta tamb.. hmphhh.." Mulut Adam langsung di sumpal dengan tangan oleh Andi.
"Hahaha.." Gandi tertawa melihat tingkah teman yang duduk disebelahnya itu karena hampir dibuka belangnya oleh Adam.
"Jangan tertawa aja, Ang Gan. Tadi Ang juga beg... hmphhh.." Belum sempat Zai menyelesaikan ucapannya, giliran Gandi yang ikutan menutup paksa mulutnya.
"Ohh,, jadi kalian begitu!" Ujar Gina dan Bety sambil mengangguk dan menyipitkan matanya melihat ke arah Gandi dan Andi.
"Hahaha, modar kalian berdua." Ledek Joko tertawa senang.
"Ang jangan tertawa sajo Jo. Ingat pesan Bastian tadi tu, jangan sampai usia Ang lewat 30." Ucap Deki mengingatkan sambil tertawa.
"Asem, malah Ambo baliak (kembali) yang kanai (kena) ." Ucap Joko merengut.
"Emang kenapa kalau usia 30 Uda Deki ?" tanya Wina yang baru bergabung diantara mereka, diikuti oleh beberapa Mahasiswi lainnya yang ikut membantu menghidangkan gorengan. Karena pos ronda yang lumayan besar, sehingga bisa dimanfaatkan untuk berkumpul para Mahasiswa dan beberapa pemuda atau petinggi kampung disana untuk membahas program kegiatan mereka selama disana.
"Hahaha, gak ada Dek Wina. Cuma candaan Kami saja tadi." Ucap Deki jadi salah tingkah.
"Oohh." Ucap Wina singkat.
Itulah Wina, cewek yang menjadi ketua kelompok KKN mahasiswa tersebut. Orangnya cantik namun karena pembawaannya yang lebih banyak seriusnya dan ketegasan sikapnya membuat orang jadi segan untuk bercanda dengannya, tidak terkecuali para pemuda di Kampung itu. Sehingga, suasana saat itu langsung berubah, auranya menjadi serius dan tidak ada lagi yang berani bercanda.
"Oh iya, apa masih ada yang bisa Kami bantu untuk program kegiatan Kalian ?" tanya Bastian basa-basi saat melihat semua kelompok mahasiswi itu sudah berkumpul disana.
"Iya, Uda Bas. Kami sudah membentuk kelompok terpisah yang nantinya akan ke Kampung Tuo. Bisa Uda atau teman-teman Uda menemani dan memandu Kami ke Kampung itu ?" Tanya Wina.
Bastian agak terdiam mendengar permintaan Wina padanya, lalu melirik ke arah dua sahabatnya.
"Tapi, kalau Uda tidak bisa gak apa-apa. Nanti biar Kami saja yang kesana atau minta bantuan Pak Abdul, kepala Kampung sini." Ujar Wina begitu melihat keraguan Bastian yang terlihat lama menjawab pertanyaannya.
"Bukan begitu Dek." Bastian melirik ke arah Rahma sejenak. Tampaknya Rahma belum menceritakan perihal Kampung yang ditanyakan oleh Wina tadi. Atau mungkin Rahma menginginkan Bastian sendiri yang menjelaskan langsung tentang Kampung yang akan mereka tuju tersebut.
"Rahma belum cerita tentang Kampung itu yah ?"
"Eh, ma.maaf belum sempat Rahma cerita ke teman-teman, Uda. Rahma kira, Wina gak jadi kesana." Ucap Rahma menunduk malu, masih tidak berani menatap wajah pemuda yang dicintainya tersebut.
"Oh iya, Wina belum sempat diskusikan dengan teman-teman lainnya. Karena yang kesana nantinya Kelompok Wina, nanti dibantu oleh 7 orang lainnya. Emang ada apa disana Uda ?" Tanya Wina penasaran.
"Assalamu'alaikum." Ucap Hanung yang baru saja datang.
"Wa'alaikusalam."
"Mungkin Uda Hanung sajo yang lebih tepat bercerita." Ucap Bastian sambil memberi kesempatan pada senior sekaligus Kakak sepupunya Rahma itu untuk terbiasa bicara di depan para Mahasiswa tersebut.
"Ada apa emangnya ?" Tanya Hanung kaget karena tiba-tiba diminta bicara oleh Bastian.
Bastian sedikit menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Wina dan rekan-rekannya tadi.
"Oh itu." Hanung juga terlihat agak gugup dan ragu sejenak begitu tahu kalau para Mahasiswa itu juga ingin mengunjungi Kampung Tuo yang tempatnya agak terpencil dan berada paling ujung di daerahnya tersebut.
"Begini, jarak dari sini ke Kampung tuo ada sekitar 6-8 kilo-an, hanya ada jalan setapak untuk bisa menuju kesana dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan."
"Tapi, bisa dilewati oleh orang kan Uda ?" Tanya Wina menyela karena penasaran, sepertinya Ia tipe orang yang kalau sudah menetapkan sebuah tujuan dan akan bersikeras untuk bisa mencapai tujuannya. Tapi, sikapnya itu yang justru membuat Hanung malah ragu untuk menjelaskan situasi disana, yang mungkin akan sulit diterima nalar oleh orang-orang kota dan berpendidikan seperti mereka.
"Bisa sih, tapi.." Ucap Hanung bingung menjelaskannya.
"Kalau begitu berarti Kita bisa kesana kan Uda ? atau kalau Uda dan abang-abang yang lainnya tidak ada waktu menemani Kami nantinya, cukup tunjukan saja jalannya, nanti biar Kami yang akan kesana. Karena tambahan data disana akan sangat membantu untuk pembuatan laporan KKN Kami selama disini." Ucap Wina bersikukuh dan terdengar sedikit memaksa.
"Bukan masalah waktu sebenarnya. Tapi, ada syarat yang harus kalian patuhi kalau kalian memaksa mau kesana juga." Ucap Hanung akhirnya, walau terlihat masih ada keraguan besar dalam dirinya untuk membiarkan para Mahasiswa itu untuk kesana, tapi melihat keinginan kuat Wina dan teman-temannya yang ngotot untuk pergi, maka Hanung pun memberi solusi dan menjelaskan segala resiko yang mungkin akan mereka hadapi jika nekat juga pergi ke kampung tersebut.
"Syarat apa maksud Uda ?" Tanya Wina dan rekan-rekannya penuh tanya.
"Jadi begini! Karena kalian sudah 5 hari berada di Kampung ini. Jadi, tidak ada salahnya kalau Saya menjelaskannya pada kalian tentang Kampung ini dan sekitarnya. Mungkin Kalian sudah pernah dengar juga dari masyarakat disini sebelumnya."
"Maksud Uda ?"
"Kalau nanti kalian Kami antar ke Kampung Tuo. Maka syaratnya, sebelum matahari terbenam Kalian semua harus sudah kembali ke Kampung ini." Ucap Hanung dengan wajah serius.
"Emang harus seperti itu ya Uda ?" Tanya Silvi heran.
"Kalau seandainya, Kita pulang kemalaman bagaimana Uda ?" Tanya Zainab ikut menimpali karena ikut penasaran.
Hanung menghela nafas sejenak, "Karena kalau sudah lewat dari waktu matahari terbenam, Kalian bisa saja tidak akan pernah kembali ke Kampung ini lagi."
Tampak keterkejutan dan rasa penasaran di wajah Wina dan kawan-kawannya.
"Kita bisa tersasar maksud Uda ? Bukankah Uda asli daerah sini, kenapa harus khawatir Kita bisa nyasar ?" Tanya Wina sambil mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan alasan yang dikemukakan oleh Hanung.
"Ha.hantu maksud Uda ?" Tanya Zai dengan wajah tegang.
Hanung mengangguk pelan, namun dari semua yang mendengar penjelasannya, ada juga yang meragukannya. Seperti halnya Wina, karena dia tipikal orang berpikir dengan mengedepankan logika, sehingga tidak mempercayai hal-hal yang berbau mistis seperti keterangan Hanung tersebut.
"Apa karena itu juga, alasan kenapa Kami tidak pernah menjumpai kendaraan yang masuk ataupun keluar dari Kampung ini kalau malam hari Uda ?" Tanya Kalek penasaran.
"Iya. Dan kalau kalian pernah mendengar suara wanita yang menangis ataupun meminta tolong di malam hari. Maka, saran Saya jangan pernah mendatanginya."
"Emang, kenapa kalau didatangi Uda ?" tanya Zainab lagi yang saat itu duduk disebelah kanannya Wina.
"Karena yang menangis itu, mahkluk halus. Kami menyebutnya Dewa atau Bunian." Jawab Hanung dengan suara sedikit pelan, seperti khawatir kalau ada yang 'lain' ikut mendengar ucapannya saat itu.
Tampak wajah tegang diantara para Mahasiswa, "Bulu romaku kok berdiri begini yo." Bisik salah seorang dari mereka sambil memegang tengkuknya.
"Iya, kemaren Aku seperti mendengar suara tangis Wanita. Suaranya terdengar sangat jauh dan sayup-sayup, seperti berasal dari dalam hutan sana." Sela Bety ikut bergidik membayangkan kejadian malam sebelumnya yang dialaminya, sebenarnya beberapa temannya yang lain juga mendengar suara tersebut, namun mereka lebih memilih diam dan menyimak penjelasan Hanung.
Pembicaraan malah saling bahas tentang cerita mistis.
"Sudah, sudah.. Kita harus fokus ke program kegiatan Kita dulu nih. Waktu Kita cuma 2 bulan loh disini." Ucap Wina coba mengambil alih pembicaraan dan Ia tidak ingin pembicaraan tentang makhluk halus dan semacamnya itu jadi berlarut-larut dan membuat fokus mereka teralihkan.
"Ya sudah, kalau Kalian masih ingin ke Kampung Tuo juga. Berangkatnya siang saja, karena perjalanan kesana lebih kurang 60 menit, kalau belum terbiasa bisa jadi akan memakan waktu lebih lama. Jadi sorenya kita bisa langsung pulang sebelum matahari tenggelam." Ucap Bastian menengahi.
"Maksud Uda Hanung tadi, biar Kita bisa selamat pulangnya. Karena kalau hari sudah gelap, suka banyak binatang liar dan mungkin bisa membahayakan Kita dalam perjalanan balik kesini nantinya." Tambah Bastian memberi jawaban yang lebih bisa diterima oleh logika.
Benar saja, Wina jadi tidak banyak tanya lagi setelahnya.
Akhirnya disepakati, kalau mereka akan berangkat ke Kampung Tuo dengan ditemani oleh Bastian dan Joko yang saat itu memang sedang tidak ada kerjaan. Kalau pemuda lainnya sibuk di ladang dan disawah di siang hari, sehingga tidak bisa menemani Wina dan teman-temannya.
Total kelompok Mahasiswa yang berangkat ada 8 orang yang diketuai oleh Wina untuk program lapangan ke Kampung Tuo. Zai, Rinto, Gandi, Andi, Bety, Gina, Zainab dan Wina sendiri, diluar Bastian dan Joko.
"Uda Bas.." Panggil Rahma sebelum Bastian dan teman-temannya berangkat.
"Ya Rahma ?"
"Hati-hati ya Uda.." Ucap Rahma menunduk malu.
"Iya, doakan Kami. Uda berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa.walaikumsalam." Jawab Rahma melepas kepergian Bastian, sambil memberanikan dirinya untuk menatap kepergian pemuda tersebut.
Tepat jam 10 siang dengan dipandu oleh Joko sebagai penunjuk jalan dibagian depan, dan Bastian di urutan paling belakang untuk memastikan agar tidak ada satupun dari mereka yang tertinggal atau tersasar. Mereka berangkat dengan berjalan kaki menuju Kampung Tuo. Perjalanan itu sendiri melewati tepian sawah, jalan setapak dan lereng bukit. Lalu dipertengahan jalan, mereka harus melewati sebuah jembatan gantung yang sudah agak tua, melintasi sungai yang arusnya lumayan deras dibagian bawahnya.
Setelah jembatan itu, hanya ada jalan setapak dalam hutan yang biasanya hanya dilewati oleh orang-orang yang mau ke ladang (kebun) ataupun dari dan menuju Kampung Tuo. Suasananya sangat sepi dan hanya terdengar suara-suara binatang hutan.
Teringat dengan ucapan Hanung waktu sebelum berangkat tadi, membuat mereka tidak berani sembarangan bicara di hutan yang sangat kentara dengan nuansa mistisnya tersebut. Apalagi kabut sudah nampak di sepanjang perjalanan mereka ketika memasuki hutan ini, padahal masih belum masuk tengah hari.
Lain halnya dengan Wina, Dia yang sedari tadi diam, bukan karena takut karena nuansa mistis hutan tersebut, melainkan karena kecapekan dan nampak butiran peluh yang sudah mulai membasahi tubuhnya. Sesekali Ia menyeka keringat di wajahnya.
"Istirahat dulu sebentar. Silahkan minum dulu dan jaga tenaganya, kalau ada yang kebelet bilang ke Saya atau Bastian yah!" Ucap Joko memberi instruksi begitu melihat banyak diantara rombongan tersebut kelelahan karena belum terbiasa dengan medan yang lumayan berat seperti itu. Tidak seperti Joko ataupun Bastian yang masih terlihat bugar.
Tidak lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Benar apa yang dikatakan oleh Bastian sebelumnya, setelah menempuh 80 menit perjalanan, kelebihan 20 menit dari perkiraan sebelumnya, mereka akhirnya sampai juga di Kampung Tuo, itu karena banyak diantara mereka yang kelelahan dan harus beristirahat beberapa kali sehingga sedikit terlambat dari perkiraan waktu sebelumnya.
Mereka semua terpesona dengan keasrian kampung tersebut, sebuah Kampung yang masih kental dengan adat istiadat dan kearifan lokalnya. Kehidupan disana sangat sederhana namun masyarakatnya sangat ramah dan menyambut mereka semua dengan hangat layaknya keluarga sendiri.
Setelah diperkenalkan oleh Bastian pada para petinggi Kampung, Wina beserta teman-temannya mulai mendata penduduk disana. Walau tidak banyak jumlah penduduknya, sekitar 30 Kepala Keluarga, namun cukup menghabiskan waktu untuk mendata mereka satu persatu. Dan hanya untuk mendata saja, walau sudah dibagi beberapa kelompok, mereka sudah menghabiskan waktu hingga jam 5 sore.
"Sudah selesai ?" Tanya Bastian pada Wina.
"Baru selesai mendata penduduk Uda. Tinggal penyuluhan dan menerapkan beberapa program dari Kampus." Jawab Wina sambil tersenyum, walau masih tampak gurat kelelahan di wajahnya karena harus mendatangi rumah penduduk satu persatu.
"Ya, udah Kita lanjut besok kalau begitu yah. Sudah sore soalnya, biar gak kemalaman di jalan." Saran Bastian.
"Baik uda." Ujar Wina langsung menyetujui begitu saja. Padahal tadi ketika bicara dengan Hanung Ia sempat tidak sependapat, tapi begitu Bastian yang mengajak malah langsung disetujuinya. Zainab dan Gina yang saat itu ada didekatnya hanya tersenyum geli melihat sikap ketua kelompok mereka tersebut.
Walau cuma berhasil mendapatkan data penduduk, sudah membuat Wina dan teman-temannya sangat senang. Apalagi, Wina yang sepertinya sengaja menjadikan Kampung Tuo itu sebagai tujuan kelompoknya untuk mengimplementasikan program kerjanya. Seperti telah diperkirakannya sejak awal, kalau Bastian akan ikut menemani mereka kesana, itu artinya dua misi Wina berjalan dengan baik.
Setelah berpamitan pada kepala Kampumg disana, Bastian dan yang lainnya melanjutkan langkah mereka untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan pulang itu, Wina seperti sengaja agak memperlambat langkahnya agar bisa lebih dekat lagi dengan Bastian.
"Kenapa Win ? Capek ?" Tanya Bastian karena melihat jalan Wina yang lebih lambat dibanding teman-temannya yang lain.
POV Bastian.
"BAS, AMAN ?" tanya Joko setengah berteriak dari arah depan, Kami tertinggal cukup jauh dari rombongan.
Kuangkat jempolku dan memberi kode kalau semuanya baik-baik saja, Joko tampak senyum-senyum melihat ke arahku, "Amankan Bas!" Mungkin itu maksud senyum Joko dari caranya melihatku.
"Sedikit Uda. Mungkin karena belum terbiasa saja jalan kaki jauh begini." Ucap Wina sambil membersihkan keringat di wajahnya.
"Ya udah, Kita istirahat dulu aja kalau begitu." Ucapku memberi saran. Mungkin karena jalan yang Kami tempuh ini sedikit menanjak, bagi orang yang belum terbiasa seperti Wina dan teman-temannya mungkin akan terasa sangat menguras stamina.
Sekilas Kulihat jam tanganku, 10 menit lagi sudah jam 6 sementara Kami belum sampai menempuh separuh perjalanan. Ada sedikit rasa cemas menyusup ke dalam diriku.
"Uda kenapa ? kok gelisah begitu ?"
"Gak apa-apa. Kita harus segera melanjutkan perjalanan Win. Sebentar lagi gelap soalnya." Ujarku beralasan.
"Ya, Uda. Uda haus ? Minum dulu aja, nih." Ujar Wina menyodorkan tabung minumannya ke arahku, namun malang karena pijakannya yang dekat ke bibir lurah (jurang) membuat langkah Wina jadi oleng, kakinya terperosok ke tepi jurang.
"Aaaaa."
Taappp
Brrukkkh
Dengan sigap kupegangi tangannya, sehingga Wina tidak jatuh ke dalam jurang. Tapi, tabung minumannya tidak sempat ku tangkap dan meluncur deras ke dalam jurang.
"Hahh haahhh..." Wina tampak pucat dan tubuhnya terasa gemetar. Aku menarik tubuhnya pelan dan mendudukannya agak menjauh dari tepi jurang.
"Kamu gak apa-apa ?"
"G.gak apa-apa Uda. Tapi, tabung minumnya ?" tanya Wina masih sedikit syok akibat insiden barusan.
"Kenapa Win ?" tanya Gandi yang sudah berdiri di belakang Wina, rupanya Ia disuruh oleh Joko karena melihat Kami yang tertinggal jauh dibelakang mereka.
"Gak apa-apa Gan. Wina hampir saja jatuh ke jurang barusan."
"Beneran Win ? Kamu gak apa-apa ? Masih bisa lanjut kan ?" tanya Gandi yang ikut khawatir dengan rekannya itu.
"Iya, gak apa-apa kok. Untung tadi ada Uda Bas yang menyelamatkan, cuma tabung minumnya yang jatuh ke bawah."
"Ya, sudah. Kamu tunggu disini yah Win. Biar Uda saja yang mengambil tabung minum ke bawah sana." Ucapku sembari menyusuri lereng jurang dengan pelan-pelan.
"Gak usah Uda, bahaya!" Ucap Wina mengingatkan.
"Udah gak apa-apa, sayang kalau tabung minumnya tertinggal disini."
"Gan, jaga temanmu dulu ya. Uda kebawah dulu." Ucapku lagi sebelum melanjutkan langkahku menuruni lereng jurang arah tabung minuman Wina terjatuh sebelumnya.
Dengan berpegangan pada pohon-pohon kecil dan batu karang yang ada di sepanjang bibir jurang, Aku turun semakin jauh ke bawah. Akhirnya, Aku melihat tabung minuman Wina yang tergeletak tak jauh didasar jurang dekat sungai.
Tabung minuman Wina tergeletak diantara akar pohon beringin yang cukup besar, sedikit kotor akibat jatuh tadi tapi masih bisa digunakan. Aku membilasnya sedikit dengan air sungai untuk membersihkan tanah yang menempel.
Saat sedang membilas tabung minuman tersebut, ekor mataku menangkap sebuah gerakan dari dalam semak yang ada di seberang sungai.
Sreegg sreeggg.
Aku tersentak kaget dan dengan cepat mengambil posisi waspada, karena sedang berada di hutan, bisa jadi ada hewan buas yang bisa membahayakan.
Tidak lama, dari rimbunnya semak di seberang sungai, tampak seekor hewan berekor panjang melompat ke dalam sungai.
"Astaga, ternyata cuma biawak. Mengagetkan aja." Lirihku lega.
Saat Aku hendak berbalik, sebuah pemandangan yang tak jauh dari tempat biawak keluar tadi, membuatku terpaku.
Disana ada seorang wanita yang sedang berjalan keluar dari bibir sungai. Karena teralihkan oleh gerakan biawak tadi, membuatku tidak menyadari jika tidak jauh dari sana, ada sebuah telaga dekat air terjun yang biasa di pakai untuk mandi. Disamping itu, juga ada sebuah batu lumayan besar yang menghalangi pandanganku, sehingga Aku tidak melihat sebelumnya jika ada orang disana. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang, tanpa melihat ke arahku Ia berjalan keluar, semakin jauh membelakangi arah tempatku berdiri saat itu.
"Cantik." Tanpa sadar bibirku bergumam lirih mengagumi pesona kecantikannya.
Posisi Kami yang dibatasi oleh sungai membuatku tidak dapat terlalu jelas menangkap kecantikannya ditambah dengan hari yang sudah mulai gelap dan berkabut, namun Aku bisa memastikan kalau wanita tersebut sangatlah cantik dan sangat anggun.
Waktu seakan berhenti berputar beberapa saat, Aku benar-benar terpesona dengannya. Siapa gadis itu ? Apa Dia warga Kampung Tuo juga ? Tapi, Aku tidak pernah melihatnya selama berada di Kampung Tuo tadi. Lalu, apa yang dilakukannya di sungai sore-sore begini?
Entah kenapa, jantungku seakan berdetak dengan semakin cepat. Aku benar-benar terpesona dengannya. Duniaku seakan teralihkan karena semua inderaku seakan terpaku menatap keindahan dan kecantikannya.
Tanpa sadar, Kakiku melangkah dengan sendirinya hendak menyusul gadis tersebut.
"UDAA BASSS.." Teriak Wina yang memanggil namaku dari atas tebing menyadarkanku.
"Astagfirullah!" Aku tersentak kaget. Apalagi saat melihat sebelah kakiku yang sudah masuk ke dalam tepi sungai, padahal arus sungai lumayan deras saat itu.
Dengan cepat, Aku mundur beberapa langkah.
Aku kembali melayangkan pandangan ke seberang sungai, namun tidak lagi kutemukan jejak bayangan gadis misterius tersebut, hanya hutan yang mulai gelap serta kabut yang mulai semakin pekat.
Entah kenapa, tanpa terasa Aku seperti merasa sangat kehilangan dirinya dan sebuah rasa dan keinginan yang kuat untuk bisa berjumpa dengan gadis itu lagi. Aneh ?
Apa Aku telah jatuh cinta padanya ?
Tidak mungkin, Aku bahkan belum mengenalnya. Bagaimana bisa semudah ini perasaanku terpaut padanya ?
***
Siapakah wanita cantik itu ya ? pantengin terus cerita ini..
Tetap SEHAT dan SEMANGAT! Semoga Kita semua bisa melewati cobaan ini dengan baik.
Selamat menyambut bulan Suci Ramadhan.
Salam Persaudaraan dan Salam Rendang, Caayoooo :)