Bunian

Bunian
BAB 49



Abdi Batubara, salah seorang konglomerat ternama di Negeri ini, terlihat begitu emosinya mendengar apa yang dilaporkan oleh anggotanya.


"BANGSAATT.." Maki pria tersebut geram, membuat kedua anggota yang ada didepannya itu semakin tegang dan bersiap menanti amukan amarah sang Big Bos.


Raut muka Abdi tampak merah padam menahan emosi, begitu mendengar semua saksi kunci untuk bisa menemukan pembunuh kedua anaknya telah tewas oleh orang yang tidak dikenal.


"Bagaimana bisa orang itu selalu mendahului dan menggagalkan rencana Kita ?" Ucap Abdi, entah bertanya pada siapa. Lalu, tanpa ada yang menduga Abdi berjalan ke balik meja kerjanya dan mengambil sepucuk senjata api dalam lacinya dan tanpa komproni sedikitpun, Abdi langsung mengarahkan corong senjatanya pada kepala kedua anak buahnya.


Dooorrr doorrrrr


Darahpun langsung berhamburan keluar dari batok kepala keduanya, tampak wajah tegang dari anggotanya yang lain begitu melihat kekejaman sang Big Bos. Itu sekaligus peringatan bagi semua anak buahnya, bahwa yang namanya Abdi tidak bisa menerima yang namanya kegagalan, gagal berarti sama dengan mati.


Lain halnya dengan putra tertuanya, Rio serta seorang tangan kanan andalan Abdi selama ini, Cakra. Keduanya tampak tenang dan menyaksikan dengan dingin semua kesadisan yang dilakukan oleh pengusaha besar batubara teresebut.


"Tenang Pa. Kali ini, mungkin Kita kecolongan. Sepertinya, ada orang yang sengaja membantu pembunuh Ronal dan Roy, untuk menutupi jejaknya." Ujar Rio santai.


"Tapi, kehilangan para wanita itu, sama saja Kita kehilangan petunjuk tentang siapa pembunuh Adik-adikmu." Geram Sang Ayah masih emosi.


"Saya dapat petunjuk lain, sehari sebelumnya Roy terlibat perselisihan kecil dengan salah seorang temannya di Sekolah."


"Biar Saya yang menyelidikinya. Kalau perlu, saya siksa dulu Dia." Sela Cakra dengan ide sadisnya.


"Hehehe, belum perlu sampai seperti itu Om. Saya sudah melihat orangnya, cuma siswa culun biasa yang berbadan kurus kerempeng. Aneh rasanya kalau Dia tidak bisa diselesaikan oleh Roy. Tapi, ada kemungkinan lainnya..."


"Kemungkinan apa maksudmu ?" Tanya Abdi penasaran.


"Kemungkinan jika yang membunuh Adik-adik adalah musuh Ronal sendiri. Kabarnya, Ronal memiliki pacar dan pacarnya itu sampai saat ini tidak pernah lagi masuk ke kampus. Mungkin Kita bisa memulai dari gadis itu."


"Siapa nama gadis itu ?"


"Zanna Kirania Fitri. Gadis itu, juga berteman dengan Vina, saksi Kita yang meninggal di rumah sakit jiwa tempo hari." Jawab Rio tersenyum bengis.


"Baiklah. Cari Dia." Perintah Abdi tegas dengan mata menyala-nyala, seolah belum akan terpuaskan sampai Ia bisa menemukan dan membalaskan kematian kedua putranya.


***


"Yeaayy Zaahhaa..." Angel langsung menghambur dalam pelukan Zaha begitu melihat pemuda itu masuk ke dalam rumah. Saking senangnya, Angel bahkan tidak sungkan untuk duduk di pangkuan Zaha begitu cowok itu duduk di ruang tamu rumahnya.


Angel


"Hmnnn Kangen banget tau gak!" Hera melepaskan rasa rindunya yang tidak bertemu dengan Zaha selama dua pekan terakhir.


"Hmnn Kamu kok diam aja ? Gak kangen denganku ?" tanya Angel merajuk manja.


"Zaha, Kamu kenapa ? Lagi ada masalah ?" tanya Angel lagi karena Zaha masih saja diam dan tidak meresponnya.


"Hmnn, Aku kesini karena ada yang ingin kutanyakan." Ucap Zaha tanpa basa-basi.


"Ihh Kamu gak asik." Angel malah merengut dan langsung bangun dari pangkuan Zaha dan duduk agak menjauh dari Zaha, gadis cantik itu tampak kesal karena ucapan Zaha dan membuat moodnya berubah jadi jelek.


"Sok atuh, mau tanya apa ?" Tanya Angel dingin.


"Tentang Vina dan 4 orang perempuan lainnya." Ucap Zaha sambil meletakkan foto ke empat perempuan yang juga ikut tewas di atas meja depan Angel, foto yang diberikan oleh Virangel sebelumnya.


"Kamu.."


"Apa ? Kamu nuduh Aku yang membunuh mereka semua ? Begitu ?" Sela Angel tampak tidak senang.


"Hanya Kamu yang tahu kejadian malam itu."


"Terus kenapa ? Setelah Kamu tidak berani menyelesaikan semuanya, dan sekarang Kamu melimpahkannya padaku ? Kamu gak fair." Angel tampak sangat kesal, lalu Ia berjalan begitu saja meninggalkan Zaha seorang diri, menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Hffttt.. beginilah kalau menghadapi makhluk yang namanya perempuan." Bathin Zaha sambil menghela nafas dalam. Namun dalam sepersekian detik, Zaha seakan tersadar begitu merenungkan kembali ucapan Angel barusan.


"..Setelah Kamu tidak berani menyelesaikan semuanya, dan sekarang Kamu melimpahkannya padaku ? Kamu gak fair." Zaha mengulang ucapan Angel dengan suara pelan, tiba-tiba saja Zaha tersentak begitu memahami mkaksud ucapan Angel barusan.


POV Zaha


Aku pun melangkah ke kamar atas, menyusul Angel.


"Angel.." Sapaku pelan sambil menyentuh pundaknya dari belakang.


Angel tetap tidak bergeming dan tetap tidur dalam posisi miring membelakangiku. Ia tampak masih marah karena ucapanku sebelumnya.


Aku jadi bingung bagaimana menghadapi Angel dalam kondisi seperti ini, atau lebih tepatnya bingung bagaimana menghadapi perempuan yang sedang ngambek seperti ini, mungkin lebih baik bertarung menghadapi musuh ketimbang harus menghadapi satu perempuan yang sedang ngambek.


Sejenak kuperhatikan Angel yang malam itu hanya mengenakan sebuah lingerie hitam sepaha, astaga! Aku tidak pernah memperhatikan Angel menggunakan pakaian seksi seperti ini jika sedang ada tamu, apa itu artinya Ia sengaja berpenampilan seperti malam ini karena tahu kalau Aku akan datang kesini ? Dan Aku malah langsung mencercanya dengan pertanyaan seperti tadi.


"Sayang, maaf ya." Ucapku lembut. Benar saja, Angel tampak mulai bereaksi dengan panggilanku. Tubuhnya terlihat mulai rileks, mungkin Aku harus lebih lembut lagi memperlakukannya.


Kusentuh pundaknya yang terbuka dengan lembut, "Hmpnnh.." terdengar lenguhan pendek tertahan dari mulut Angel.


Aku jadi tersenyum sendiri, ternyata cara ini berhasil untuk melumerkan hati keras Angel.


Akupun membaringkan tubuhku disamping tubuhnya Angel sambil memeluk tubuhnya dari belakang. Kukecup belakang kepalanya pelan, lalu beralih mencium lembut daun telinganya, "Sayang, Kamu masih marah yah ?" Bisikku pelan, dengan sedikit meniup pelan telinganya. Bisa kurasakan tubuh Angel menggeliat manja dalam pelukanku.


"Kamu.. Ihhh." Angel mendesah manja.


"Masih marah ?"


"Hmnnhhh.." Angel menganggukan kepalanya pelan, tapi sambil menggigit bibir bawahnya.


Cupppp,


"Masih marah ?" Tanyaku lagi sambil menciumi daun telinga dan pipi putihnya.


"Zaahhhhaaa..." Angel berteriak manja dan langsung membalikan badannya dan mendorong tubuhku hingga telentang. Sekarang Ia menduduki tubuhku dari atas. Mata indahnya terlihat sayu dengan nafas yang mulai berat.


"Kamu.. ihh. Orang lagi pengen disayang malah ditanya aneh-aneh. Aku gak mau tahu, pokoknya malam ini Kamu harus muasin Aku." Ucap Angel memaksa.


"Eh, tapi.. hmpnnhhhh." Belum sempat kuselesaikan ucapanku, Angel sudah menyumpal bibirku dengan ciuman panasnya.


"Haahhh haahh... gak ada tapi-tapian. Kamu harus tanggung jawab." Ujar Angel dengan nafas sesak begitu bibir Kami terlepas.


"Angel... hmnnnhh aahhh.." Angel semakin liar. Berulang kali bibir Kami saling bertaut dan saling mencumbu dalam.