Bunian

Bunian
BAB 36



POV Zaha


Suasana pagi yang dingin membuatku terbangun dari tidurku yang rasanya baru beberapa saat, pandanganku menatap kesekeliling ruangan karena ruangan ini terasa sangat asing bagiku. Setelah coba mengingat kejadian semalam, baru Aku mulai sadar sepenuhnya. Kalau saat ini berada dalam kamarnya Hera a.k.a Angel.


"Astaga!" Aku tersentak kaget, begitu menyadari kalau saat ini Aku sedang tidur dibawah selimut, namun didalamnya benar-benar naked. Tidak lama Angel masuk kedalam kamarku membawa segelas susu hangat, hanya dengan mengenakan kemeja putihku dulu. Bukan pakaiannya yang membuatku kaget, namun penampilan Angel saat itu yang membuatku jadi terpana lama menatapnya.


Angel hanya mengenakan kemeja putih transparan dan didalamnya Ia hanya mengenakan ****** ***** berwarna hitam sebagai dalamanya, bagian atasnya tubuhnya tanpa penutup apapun sama sekali dan itu semua tampak membayang dari balik kemeja yang dikenakannya.


Glek


"Sampai kapan Kamu akan terdiam begitu melihatku. Mau nambah ?" ujar Angel menatapku dengan senyumannya yang sangat menantang, begitu Ia meletakkan minuman dimeja kecil samping tempat tidur.


"Nambah ?" tanyaku bingung. Namun begitu melihat, adanya bekas noda merah diatas kasur membuatku menjadi tambah gugup. Kilasan bayangan kejadian semalam kembali berputar di otakku, Aku masih ingat dengan sangat jelas ketika Aku yang sudah kelelahan pulang ke rumah Angel menggunakan mobilnya, dan karena emosiku yang masih belum terlampiaskan sepenuhnya, walau sudah membantai Ronal dan komplotannya. Angel membantu membuang sisa emosiku dengan..


"Ah tidaakk.." Ucapku gugup sambil memegang kepalaku. Astaga! Apa yang telah kulakukan ? Aku bukan hanya melampiaskan amarahku, tapi juga membuat Hera sampai kehilangan kesuciannya.


Lain halnya dengan Angel, Ia justru malah terlihat sangat tenang dan santai karena kejadian semalam. Ia naik keatas kasur dan mengenggam lembut kedua tanganku.


"Sekarang Kamu tidak akan bisa lagi menjodohkanku dengan pria manapun lagi, karena Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi semalam, hihihi." Angel tersenyum senang sekaligus menampakan keseraman bagiku, karena jelas Ia pastinya akan menuntut pertanggung jawabanku.


Glek


"A-Angel, Kamu sengaja membiarkanku hilang kendali semalam yah ? agar bisa memanfaatkanku ?" tanyaku cemas.


Angel malah tersenyum senang melihat reaksiku. Lalu tanpa merasa jadi korban, malah seolah Ia telah berhasil memegang kartuku, Angel dengan seenaknya membaringkan tubuhnya dalam pelukanku.


"Peluukk.." Ucap Angel dengan manja. Tidak sadarkah Ia berbaring dalam pelukanku, dan akibat gerakannya itu, pakaiannya ikut terangkat naik, huffttt.


"Angelll... aisshhh.." Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya Angel. Ini gila namanya! Aku telah merenggut kesuciannya, dan itu bukan dalam keadaan sadar. Dan kesalnya, Angel seperti tidak ada masalah dengan itu semua dan malah terlihat seperti memanfaatkan apa yang telah kulakukan padanya sebagai kunci untuk mengikatku.


Angel hanya menertawakan kepanikanku, "Kenapa ? Apa masih mau nambah lagi ?" tanyanya dengan senyum yang menggoda.


"Kamu kok malah santai begitu ? Kamu tahu, apa yang akan dikatakan oleh suamimu kelak, jika tahu Istrinya sudah tidak perawan lagi ?" tanyaku kesal.


"Ngapain harus pusing. Kan Kamu yang akan jadi Suamiku, hehehe." ucap Angel sambil menowel hidungku.


"Aissshhhh.." Malah Aku yang gemes dengan sikapnya kalau begini ceritanya.


Hera mengendarai mobil dengan tenangnya, begitu sampai di rumahnya yang ada di daerah puncak, Angel memintaku untuk membersihkan badanku yang banyak kena darah, bau amis darah sangat kental menyengat penciuman.


Setelah mandi, rasa gelisahku masih belum hilang, membuatku jadi nanar dan mengerang tidak jelas. Aku sendiri belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, bahkan disaat Aku masih aktif dulu, tapi kenapa tubuhku yang sekarang seakan meronta dan seolah meminta lebih banyak darah. Apa ini ada hubungannya dengan reinkarnasiku ? Karena ini bukan tubuhku yang sebenarnya sehingga menimbulkan efek seperti ini ? kalau iya, kenapa justru membuatku seakan menjadi moster yang haus darah ?


"Ini, diminum dulu." Kata Angel sambil memberikan minuman dalam gelas kecil padaku.


"Hmnnhh.." Aku mengernyitkan kening begitu meneguk minuman tersebut, rasanya sangat menyengat dan membuat kepalaku menjadi sedikit lebih ringan dan disisi lain tubuhku jadi terasa lebih panas.


"Suka ?" tanya Angel tersenyum kalem.


"Red Wine ?"


"Iya, minuman kesukaanmu dulu kan ?"


"Tapi, kok rasanya ada yang aneh ?" tanyaku sedikit curiga. Karena baru segelas meminumnya, tubuhku seakan terasa memanas walau rasa gelisahku jadi sedikit berkurang. Bukannya menjawab pertanyaanku, Angel malah sengaja bangkit dari duduknya sambil mengandeng tanganku dan membimbing tubuhku untuk mengikuti langkahnya.


"Kemana ?"


Angel tersenyum dan membisikkan sesuatu ke telingaku lembut, "Istirahat di Kamar yah." ucapnya dengan suara sedikit mendesah.


Suara Angel terdengar sangat lembut, menggoda dan membangunkan hasrat ke lelakianku. Membuatku hanya bisa mengikuti langkahnya. Angel terlihat jauh lebih mempesona saat ini, ada hasrat dalam diriku untuk melihatnya lebih menggoda dari ini.


Astaga, apa yang kupikirkan ? Namun, Aku juga tidak bisa untuk melawan perasaan yang semakin kuat menguasai nalarku saat ini. Tubuhku justru semakin memanas, membuat tanganku dengan reflek memeluk pinggang Angel dan merapatkannya ke dalam pelukanku.


"Sabar Sayang! Kita ke kamar yah!" Kata Angel coba menahan tubuhnya.


Tidak sabar, Akupun langsung mengendongnya ke dalam pangkuanku dan melangkah dengan tergesa ke arah kamar Hera yang ada di lantai dua rumah ini.


"Hihihi, Sayang, Kamu udah gak sabar yah." Tawa Hera manja.


Aku tidak menjawabnya, hanya fokus untuk bisa segera sampai dalam kamarnya dan menuntaskan hasrat yang sudah sangat menggebu dalam diriku. Berulang kali Aku coba menepis emosi dalam diriku, semakin keras Aku menolaknya, justru semakin kuat emosi itu menguasai diriku.


Bahkan teriakan kesakitan Angel yang berada dalam tindihanku, tidak juga membuatku sadar, malah dengan tempo yang semakin cepat, Aku semakin menggebu untuk meluapkan semuanya. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali hingga semua rasa itu keluar dari tubuhku. Angel pun, yang semula kesakitan karena permainan kasarku, malah ikut menikmati dan mengimbangi gerakanku, walau pada akhirnya Ia pun terkapar duluan karena kelelahan yang mendera tubuhnya.