
Begtitu melihat siapa yang saat itu sedang dalam video call, wajah Jafar langsung berubah pucat. Ia tidak menyangka jika King bisa melihat satu kelemahannya ini, karena itu seluruh tubuh gemetar dan bergidik ngeri.
King yang tadi di kata-katainya sebagai remaja ingusan yang tidak menjadi pemimpin dirinya dan semua orang-orang besar yang ada dalam ruangan ini. Memainkan sebuah permainan licik dan menakutkan seperti ini.
Siapa yang menyangka, dibalik usia dan penampilannya yang masih remaja. King bisa memainkan sebuah rencana yang begitu kejam dan tidak mungkin bisa terbayangkan oleh orang seusianya. Biasanya mereka yang sudah memiliki pengalaman dan usia matang yang bisa memikirkan untuk melakukan rencana semengerikan ini.
Pertanyaannya, kapan King mempersiapkan rencana ini?
Apa King telkah mencurigainya sebelum ini? Sehingga menyiapkan jebakan untuk menyudutkan Jafar dan juga Anke?
Atau, King menyiapkan rencana secara acak dan membidik semua orang yang dicurigainya sebagai pengkhianat? Lalu, memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi mereka semua, termasuk siapa-siapa saja orang terdekat mereka.
Sehingga begitu salah satu dari orang yang King curigai mulai menunjukkan warna aslinya, orang kepercayaannya langsung melakukan tindakan lebih lanjut.
Dipikirkan dari sudut manapun, tetap saja King adalah orang yang sangat menakutkan karena bisa memiliki rencana seperti ini.
Disinilah Jafar baru menyadari satu kenyataan baru, bahwa kematangan usia tidak selalu bisa menjadi patokan untuk membuktikan bahawa seseorang layak disebut sebagai orang besar. King berhasil membuktikan konsep tersebut.
Terbukti, tidak hanya Jafar. Bahkan banyak para pemimpin senior dari empat aliansi ini dibuat terperangah dengan rencana King. Bahkan mereka sendiri tidak pernah terpikirkan akan membuat rencana sedetail itu.
Meski dengan mengabaikan fakta, bahwa rencana King tidak hanya menyasar Jafar tapi membidik semua orang. Mereka sadar, butuh perencanaan dan keberanian yang besar untuk melakukan hal itu. Karena mencari seorang pengkhianat dalam sebuah kelompok besar, sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Seseorang harus siap membalikan seluruh jerami untuk menemukannya.
Semakin mereka memikirkannya, semakin mereka dibuat kagum pada King.
Sekarang Jafar tidak lagi berani menatap King dengan tatapan penuh hinaan seperti sebelumnya. Sebaliknya, kini Ia menatap King dengan raut penuh ketakutan.
"K-king, tolong lepaskan kami! A-aku akan memberitahu apa yang diinginkan oleh Abdi dan juga anaknya, Ryo Batubara." Ucap Jafar tidak berdaya.
Melihat sikap Jafar yang mulai melunak, King berkata acuh tak acuh, "Baiklah! Pilihannya cuma satu, informasimu ditukar nyawamu atau nyawa keluargamu."
Ekspresi Jafar menjadi semakin muram, King tidak memberi banyak pilihan untuknya.
Kuswoyo menendang kepala Jafar dan dengan kejam berkata, "King sudah terlalu baik, masih memberi pilihan untukmu, Jafar. Katakan, apa yang direncanakan musuh?"
Jafar memejamkan matanya, dia sudah tidak lagi memiliki masa depan yang baik. Namanya sudah terlanjur rusak dengan melakukan pengkhianatan ini. Namun tidak dengan kedua anaknya, mereka masih memiliki masa depan yang panjang. Namun, jika dia mati siapa yang akan menjaga mereka.
"Baiklah, Silahkan ambil nyawaku, Aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang rencana mereka. Tapi, sebelum itu, kumohon anda mengabulkan satu permohonanku."
"Katakan!" Ucap Zaha datar.
"Tolong jaga anak dan istriku." Ucap Jafar memohon.
"Baiklah, Aku akan memerintahkan seseorang untuk menjaga keluargamu." Jawab King bijak.
Dia sudah terlanjur mengambil langkah yang salah, jika tahu sedari awal jika Ia akan berakhir seperti ini, maka Jafar akan berfikir seribu kali untuk mengkhianati King. Dia sadar, jika Ia telah menaiki kapal yang salah. Namun, apa yang sudah dilakukannya, harus siap Ia pertanggung jawabkan.
"Sebelumnya, silahkan lihat video yang baru saja dikirim oleh Abdi Batubara pada anda, King."
Zaha menatap bungkusan dalam amplop ditangannya, Ia memberikannya pada Virangel, "Mbak Vira, tolong diputar disk didalamnya."
Virangel melakukan apa yang diminta oleh Zaha.
Beberapa orang dengan cepat membawa sebuah layar televisi dan juga video player, tidak lama didalam layar tampil sebuah pemandangan dalam sebuah gudang yang tidak terurus. Namun belum ada satu menit video tersebut tayang, terdengar suara kasak-kusuk di depan pintu. Lalu Alex, salah seorang pemimpin junior di kelompok selatan sebelumnya, masuk ke dalam ruangan.
"King, diluar ada juragan Chintung dan istrinya, memaksa untuk bertemu dengan anda."
King menghela nafas dalam sambil mengurut kening, sebenarnya Ia tidak ingin lagi berurusan dengan juragan Chintung setelah kejadian di masa lalu. Namun, masalah Chintya pasti akan membuatnya berurusan kembali dengan juragan mesum tersebut. Karena bagaimanapun, Chintya adalah putrinya juragan Chintung.
Apalagi penyebab hilangnya Chintya ada hubungannya dengan dirinya. Secara tidak langsung, Zaha bertanggung jawab secara moril untuk memberi penjelasan pada Juragan Chintung.
Tidak punya pilihan lain, Zaha melambaikan tangannya pada Alex, "Ya, sudah suruh dia masuk."
Alex berbalik dan membawa Juragan Chintung dan istrinya masuk ke dalam ruangan.
Tiara, istrinya juragan Chintung langsung terisak dan syok begitu melihat ke arah layar TV yang saat itu sedang menampilkan sebuah video. Meski sedang di pause, tapi dalam layar tampak kondisi Chintya, putrinya yang sedang di ikat ditengah ruangan dan beberapa pakaiannya sobek.
"Tidaakk, put-putri kita, mas!"
Juragan Chintung yang juga sedang memandang ke layar TV, juga tampak syok. Namun, masih bisa bersikap lebih tenang. Dengan cepat, Ia menenangkan istrinya sebelum beralih ke arah Zaha.
"Na-Nak Zaha, eh ma-maksud saya, King." Ucap Juragan Chintung gugup. Pemuda didepannya ini adalah King, ketua gengster paling berkuasa di daerahnya. Tidak, tidak hanya wilayah selatan, bahkan akan jadi penguasa tertinggi untuk empat wilayah besar Ibu Kota, bagaimana dirinya tidak gugup ketika bicara dengan Zaha saat ini?
Kondisi ini, bahkan tidak pernah terbayangkan oleh seorang juragan kaya seperti Chintung. Dulu, Ia begitu jumawa ketika menekan keluarga Zaha dan bahkan tanpa malu meminta kakak perempuan Zaha untuk menjadi istri kelimanya. Teringat itu, Juragan Chintung merasa sangat malu untuk bertemu dengan Zaha saat ini.
Namun, putrinya sudah dua hari menghilang tanpa kabar berita sama sekali. Ia dan keluarganya sudah membuat laporan orang hilang di kepolisian, namun hasilnya nihil. Satu-satunya cara yang terpikirkan oleh juragan Chintung adalah meminta bantuan pada Kelompok Selatan.
Sepertinya, idenya untuk datang menemui Zaha dan Kelompok Selatan yang sebentar lagi akan menjadi kekuatan gabungan empat kelompok penguasa bawah tanah, sudah tepat. Apalagi, dilayar jelas-jelas menampilkan Chintya putrinya.
Awalnya, ketika masuk ke dalam ruangan ini, Juragan Chintung sempat mencurigai Zaha sebagai pelaku penculikan putrinya, namun karena Zaha sendiri sedang menyaksikan video tersebut, membantah kecurigaan juragan Chintung.
"Maksud kedatangan kami kesini, karena putri kami... Chintya." Ucap juragan Chintung dengan suara lemah tidak berdaya.
"Anda- Anda tahu dimana keberadaan putri kami, King? To-tolong selamatkan dia."
"Iya, tolong selamatkan putri kami. Anda bisa minta apapun dari kami, apapun! kami rela. Asal anda bisa menyelamatkannya." Sambung istri juragan Chintung terisak. Chintya merupakan putri satu-satunya, Tiara, Istri ketiga juragan Chintung. Wajar Ia merasa begitu kehilangan, apalagi melihat kondisi Chintya yang begitu menggenaskan dalam layar TV.