Bunian

Bunian
BAB 43



"Bang, Aku nitip Ibu dan Kakak dulu sebentar ya." Pesan Zaha pada Zulham dan beberapa temannya yang saat itu sedang berkumpul di depan rumahnya. Setelah mengantar Kakak dan Ibunya pulang ke rumah, Zulham dan kawan-kawannya berinisiatif mencari seorang Dokter. Dan setelah dikasih obat penenang, Nia sudah bisa tenang dan tertidur pulas. Namun Dokter tersebut mewanti-wanti untuk tidak membuat Nia teringat tentang apa saja yang bisa membuatnya teringat kembali dengan trauma yang dialaminya, karena kondisi emosinya yang masih labil.


Melihat kondisi Kak Nia yang sudah tertidur, maka Zaha pun berinisitif untuk mengantar Silvi sesuai dengan janjinya pada gadis tersebut sebelumnya. Walau Zulham dan kawan-kawannya bisa saja dimintanya untuk mengantar gadis tersebut, namun ada suatu urusan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu dan tidak bisa diwakili oleh siapapun.


"Tenang saja. Percayakan saja Ibu dan Nia pada Kami. Selesaikan saja urusan Lu, King. Kalau ada yang bisa Kami bantu, Lu tinggal perintahkan aja sama kita-kita." Ucap Zulham meyakinkan.


"Kalau begitu Aku tinggal dulu Bang." Ujar Zaha pamit.


Zulham dan teman-temannya mengangguk dan mengangkat jempolnya tanda siap melaksanakan perintah Zaha.


"Yuk Vi!" Ajak Zaha pada Silvi yang sedari tadi hanya diam berdiri disampingnya.


Tanpa banyak bicara, gadis remaja tersebut hanya mengikuti langkah Zaha. Zaha sendiri tidak banyak bicara dan terlihat seperti sedang banyak pikiran, hingga selama berada diatas taksi jalan menuju rumahnya, keduanya hanya diam membisu. Silvi tidak tahan lagi menyimpan pertanyaan yang sedari tadi menggantung dalam pikirannya.


"Sebenarnya Kak Nia kenapa Kak ?" Tanya Silvi lirih.


"Eh, Gak ada apa-apa. Wanita yang meninggal dalam surat kabar itu, teman dekatnya Kak Nia." Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Zaha. Namun justru menimbulkan tanda tanya lainnya dalam benak Silvi, "Kenapa Kak Nia bisa sehisteris itu ? Pasti ada yang disembunyikan oleh Kak Zaha ?"


"Sudah, jangan dipikirkan. Nanti Kak Nia bisa baik sendiri kok." Ucap Zaha lagi kalem, karena melihat Silvi seperti masih menyimpan banyak pertanyaan yang tergambar jelas diwajahnya. Zaha sendiri juga sedang tidak ingin membuka masalah keluarganya pada siapapun, karena dalam pikirannya saat itu justru memikirkan berbagai kemungkinan terkait kematian Vina. Akibat dari kejadian tempo hari, Zaha sangat yakin akan menimbulkan efek psikologi yang berat bagi Vina, karena pertimbangan itu Zaha memutuskan untuk tidak membunuh Vina ketika itu. Tapi, Ia tidak menyangka justru gadis itu akan mati juga pada akhirnya, entah itu dilakukan oleh teman atau justru oleh musuhnya.


Zaha sedikit terkesiap begitu merasakan sebuah tangan lembut memegang lengannya dari samping, "Kakak meminta Silvi untuk tidak memikirkannya, tapi justru Kakak sendiri yang terlihat menyimpan banyak pikiran saat ini." Ujar Silvi tersenyum lembut padanya.


"Hmnn, maaf. Aku lagi kepikiran Kak Nia saja dirumah." Ucap Zaha beralasan.


"Sudah sampai Dek." Ucap Supir taksi mengingatkan saat mobilnya berhenti di depan gerbang perumahan tempat Silvi tinggal.


"Kakak, mau mampir dulu ?" Tanya Silvi dengan wajah berharap kalau Zaha mau memenuhi ajakannya.


"Lain kali saja yah! Aku langsung balik." Ujar Zaha singkat.


"Hmnn, ya udah." Silvi tampak sedikit kecewa, karena Ia seperti masih ingin berlama-lama dengan Zaha.


"Terimakasih sudah mengantar Silvi yah Kak." Silvi tersenyum menatap Zaha penuh arti.


"Biasa aj.."


Cupppp


Belum sempat Zaha meneruskan ucapannya, Silvi memberikan sebuah ciuman lembut di pipinya, membuat Zaha jadi terdiam dan menatap gadis itu cukup lama sambil memegangi bekas tempat ciuman Silvi barusan.


"Hmnn.. itu buat pertolongan Kakak siang tadi. Bye, Kak Zaha.." Gadis itu langsung turun dengan semburat merah dipipinya. Dalam hati ia juga bertanya-tanya sendiri, karena kenekatannya mencium Zaha secara langsung seperti tadi, tapi tidak sedikitpun Ia menyesalinya dan berharap ciuman tersebut bisa membekas sampai ke dalam hati Zaha.


"Hem hem... ini mau kemana lagi tujuannya Dek ?" Pertanyaan dari supir taksi yang tidak sengaja melihat adegan barusan menyadarkan Zaha dari keterpakuannya.


"Eh, iya pak ?" jawab Zaha sedikit tergagap karena masih tidak menyangka jika Silvi akan nekat menciumnya seperti itu.


"Oh, ke daerah puncak Pak."


Tidak lama mobil taksi itupun meluncur menuju arah yang di tuju oleh Zaha.


"Kamu dari mana Dek ? jam segini baru pulang ? malah senyum-senyum begitu ?" Cecar Anna begitu melihat Silvi masuk ke dalam rumah.


"Adaa deehh.." Jawab Silvi sambil tersenyum bahagia dan membuat Anna jadi semakin kesal sendiri melihat sang Adik. Wajah Silvi terlihat sangat ceria, senyum bahagia seakan tidak lepas dari bibir tipisnya.


"Kamu tuh yaa. Udah membuat orang cemas karena pulang sampai larut begini, bukannya memberi jawaban yang jelas, malah begitu. Mau Kakak laporin sama Papa ?" Ancam Anna kesal.


"Ih Kakak gak asik ah. Dikit-dikit laporin Papa." Ucap Silvi merengut sambil memanyunkan bibirnya.


"Makanya kalau ditanya itu jawab yang jelas." Ujar Anna sewot.


"Hihihi.. Tau gak Kak? Silvi baru dianter sama Kak Zaha loh." Ucap Silvi sambil senyum-senyum senang.


"Zaha ?" Anna jadi terdiam begitu Silvi menyebut nama Zaha. Entah kenapa, setiap mendengar nama Zaha, dada Anna jadi sesak. Itu dikarenakan sudah lebih dari seminggu ini Anna tidak pernah ngobrol lagi dengan Zaha.


"Loh Kakak kenapa ? kok malah diam ? biasanya kalau bahas Kak Zaha, Kakak paling bersemangat."


"Sok tahu Kamu, Dek. Udah ah, Kakak mau tidur dulu. Kamu kalau mau makan, itu sudah disiapin sama Mbok Nah di atas meja." Anna buru-buru ke kamarnya, karena tidak ingin kesedihannya sampai terlihat oleh Adiknya.


Silvi sendiri jadi heran sendiri dengan sikap Kakaknya yang lain dari biasanya, "Tumben, Kak Anna tidak semangat begitu dengar tentang Kak Zaha ya ? apa mereka lagi ada masalah ?" Gumam Silvi lirih.


Tanpa diketahui oleh Silvi, Anna langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis terisak sambil menelengkupkan dirinya diatas tempat tidur.


"Zaha, maafin Anna.." Isak Anna lirih.


***


Sudah satu jam Zaha berdiri dalam gelap sambil bersandar di balik pagar rumah Hera a.k.a Angel. Bukan karena Ia tidak ingin masuk begitu saja ke dalam rumah tersebut, tapi Zaha mempertimbangkan suatu hal yang membuatnya jadi mengurungkan niat untuk masuk ke dalam rumah itu.


Setelah mengamati keadaan rumah tersebut secara mendetail, Zaha tahu kalau Angel sedang tidak ada di rumah. Padahal, Zaha bisa saja masuk ke dalam rumah karena ia tahu password dan tempat rahasia kunci rumah tersebut. Justru karena tidak adanya Angel dirumah, membuat Zaha tidak jadi masuk ke dalam rumah, karena jarang-jarang Angel meninggalkan rumah dalam keadaan seperti itu, jika bukan karena sebuah misi yang begitu penting. Jika seandainya Zaha nekat masuk, maka bisa jadi akan menganggu konsentrasi Angel nantinya. Pastinya, Angel juga sudah meninggalkan pelacak untuk memantau kondisi rumah, apalagi jika Angel tahu yang masuk saat itu adalah Zaha dan itu bisa membuat konsentrasinya jadi terpecah.


"Apa yang Kamu rencanakan Angel ?" Gumam Zaha pelan.


2 jam lebih Zaha menunggu, namun Angel masih belum juga kembali ke rumah tersebut. Akhirnya Zaha pun memutuskan untuk kembali keesokan harinya.


Zaha hanya ingin memastikan jika Angel tidak terlibat dalam peristiwa kematiannya Vina, karena bagaimana pun Angel satu-satunya orang yang mengetahui sepak terjang Zaha malam itu. Apalagi Angel pernah mengucapkan, "Apapun, akan kulakukan untukmu."


Ucapan itulah yang membuat Zaha jadi selalu kepikiran dengan Hera. Bisa jadi maksud ucapannya saat itu, semua yang bisa membahayakan Zaha akan langsung disingkirkan oleh Angel.


"Semoga saja pelakunya bukan Kamu, Angel." Lirih Zaha pelan sebelum meninggalkan rumah Angel.